Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 145. Kehancuran Wijaksana.


__ADS_3

Perusahaan Wijaya Group.


"Wil, semua sudah siap!" seru Riko mengabari semuanya telah selesai.


Wiliam tersenyum smirk. "Bagus, kita jalan sekarang!"


Mereka pergi mengunjungi tempat proyek dan mulai menyerang Wijaksana.


...***...


Setibanya dikantor pemerintahan pusat, Wiliam segera mendatangi surat perjanjian untuk menyumbangkan tanah pembelian seluas 15 hektar sebelumnya untuk dijadikan tempat pembuangan sampah warga sekitar.


Langkahnya begitu tegas dan tergolong berani, walaupun ia sendiri tahu akan resiko dari perbuatan beraninya itu, yaitu kerugian besar pada perusahaan Wijaya Group.


Wiliam menatap bangunan besar proyek Wijaksana yang sudah hampir jadi, namun pria itu masih tetap kukuh pada pendiriannya.


Menghancurkan mahakarya Wijaksana dalam waktu dekat ini.


"Wil, apa langkahmu selanjutnya? Bagaimana kau akan menghadapi semua kemarahan orang-orang yang terlibat pada pembangunan proyek ini nantinya? Mereka pasti mengutukmu karena telah mengalami kerugian besar," ucap Riko.


Wiliam menaikkan kedua bahunya dan menggeleng. "Entahlah," balasnya singkat. Lalu menepuk pundak Riko. "Tenanglah kawan, aku yang akan bertanggung jawab atas semua kejadian ini. Lebih baik kita pulang sekarang, karena aku sangat merindukan keluarga kecilku di rumah."


Riko menatap Wiliam dari kejauhan, entah mengapa dia begitu mengagumi kewibawaan sahabatnya sendiri. Pria itu lantas menggeleng jika mengingat aksi berani Wiliam. "Dia benar-benar gila," gumamnya.


"Kau masih berdiri disitu! Sebenarnya kau ingin pulang atau tidak!" teriak Wiliam.


"Ya, tunggu aku!" sahut Riko lalu berlari menghampiri sang bos.


...----------------...


Mansion Wiliam.


Mengunjungi proyek Wijaksana yang letaknya cukup jauh, membuat Wiliam akhirnya pulang larut malam. Dan ketika dirinya tengah memasuki ruangan kamar, ia mendapati sang istri telah tertidur pulas di atas sofa.


"Kenapa dia bisa tidur disini?" gumam Wiliam, kemudian membopong raga Jelita agar berpindah ke atas ranjang.



"Hmm ..." Jelita terbangun dan mendapati Wiliam sudah berada di atasnya, lalu menatap jam diatas nakas.


"Kau baru pulang kerja, tumben sekali pulang sampai larut malam begini?" tanya Jelita dan terduduk.


"Aku ada urusan di perusahaan dan kau kenapa bangun? Tidurlah kau pasti kelelahan," pinta Wiliam.


Jelita menggeleng. "Tidak juga, apa kau sudah makan?" tanyanya.


"Sudah sama Riko tadi," balas Wiliam sembari membuka pakaiannya.


"Wil, kenapa kau terlihat murung. Apa ada masalah di kantor?" tanya Jelita.


Wiliam menghela nafas. "Tidak ada, aku hanya sedikit lelah."


"Dia lelah? Tumben sekali," gumam Jelita lalu bangkit dari tempat tidur. "Mari sini ku bantu kau membersihkan diri," ucapnya.

__ADS_1


Wiliam menahan tangan Jelita agar berhenti menyentuhnya. "Tidak perlu sayang, aku bisa sendiri. Kau istirahatlah, bagaimana jika si kecil bangun. Kau juga harus menyusuinya bukan," ucapnya menasehati lalu berjalan sendiri ke kamar mandi.


Jelita mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali, karena merasa aneh dengan tingkah laku Wiliam. "Apa apa dengannya, tidak biasanya dia pulang dalam keadaan lemas seperti itu. Apa benar dia sedang lelah atau sedang ada masalah di perusahaan?" pikirnya.


Jelita kembali merangkak naik ke atas kasur dan mengurungkan niatnya untuk memejamkan mata, karena ia masih menunggu Wiliam benar-benar keluar dari kamar mandi.


Dia menarik selimut sambil menengok keadaan si kecil yang masih tertidur pulas sehabis menyusu.


...***...


Beberapa saat kemudian, Wiliam keluar dari kamar mandi. Dia bergegas memakai pakaian tidurnya dan merangkak naik ke atas kasur lalu memeluk Jelita tanpa banyak bicara.


Jika biasanya pria itu ada saja bujuk rayuan mautnya, namun kali ini dia benar-benar diam tidak bersuara. Hal itu pun membuat Jelita terheran-heran, terlebih Wiliam menunjukkan sikap tidak biasanya semenjak pulang bekerja.


"Dia kenapa?" tanya Jelita dalam hati. Lalu membalikkan tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Wiliam dan menangkup kedua sisi wajahnya. "Kau kenapa sayang, kenapa berubah tidak semangat seperti itu? Ceritalah padaku," ucapnya.


Wiliam menatap Jelita lalu membenamkan wajah tampannya di antara kedua bukit kembar kesukaannya. "Sayang, aku telah membuat perusahaan Opa rugi besar dan bagaimana menurutmu itu? Aku yakin semua orang pasti akan kecewa dengan tindakan balas dendamku ini?"


Jelita terdiam sejenak, merasa bingung dengan apa yang telah diucapkan oleh suaminya. "Apa maksudmu sayang, apa kau melakukan kesalahan?"


Wiliam menceritakan semua rencananya kepada Jelita untuk menghancurkan anak perusahaan Wijaya Group, dia juga menceritakan alasan mengapa ia tega melakukan hal tersebut.


"Sayang, aku rasa om tiri jahatmu itu memang pantas mendapatkan hukumannya. Aku akan selalu mendukung apapun keputusanmu," ucap Jelita.


"Benarkah? Kau akan mendukungku bagaimana hem?" tanya Wiliam menatap Jelita.


"Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi satu hal yang pasti aku tidak akan meninggalkanmu dalam kondisi apapun. Aku akan berusaha menemanimu setiap saat, tidak peduli apa yang dikatakan orang lain tentang dirimu. Aku akan tetap bersamamu dan membantumu keluar dari masa sulit," balas Jelita.


Jelita mengangguk. "Iya," jawabnya pasti.



Wiliam tersenyum dan menatap Jelita, setidaknya ucapan dari istrinya itu memberikan ia kekuatan lebih dan juga membuatnya semangat kembali.


"Terima kasih, aku sedikit lega hari ini. Sekarang tidurlah," ucapnya lalu menyandarkan kepala Jelita diatas dadanya.


"Sayang ... Kapan kita bisa main lagi?" tanya Wiliam mulai menyimpang.


Jelita menarik kepalanya dan menatap Wiliam. "Kau ini, kenapa yang ada dipikiranmu itu selalu begituan terus hah?"


Wiliam tersenyum. "Karena aku menyukainya dan aku senang melakukan itu bersamamu," balasnya.


"Begitukah? Kau suka melakukan itu denganku. Tapi sayangnya kau harus menunggu sampai aku selesai masa nifas," balas Jelita.


"Lama sekali," balas Wiliam merasa tidak suka.


"Ya setidaknya 3 bulan lah sampai punyaku benar-benar sembuh," ucap Jelita.


Wiliam menghela nafas lesu dan merengek seperti bayi, mengalahkan rengekan putranya sendiri, membuat Jelita menjadi serba salah. "Sudah jangan merengek seperti itu, aku akan memuaskan ular python bawel mu itu sekarang."


Jelita meremas si ular python Wiliam dengan kasar, lalu melakukan senam lima jari di tengah malam sampai suaminya itu benar-benar puas sebelum tidur.


"Oowwh ... Euhh ... " racau Wiliam sebelum akhirnya melakukan pelepasan.

__ADS_1


"Terima kasih sayang, love you. Aku mencintaimu."


"Iya aku juga mencintaimu. Sudah! Sekarang lebih baik kita tidur," ucap Jelita setelah membersihkan tangannya.


...----------------...


Keesokan harinya.


Perusahaan Wijaksana.


Seorang pria lari tergopoh-gopoh hanya demi memberi berita penting kepada sang atasan.


Dia membuka pintu dengan kasar. "Maaf Pak Wijaksana, ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepada anda."


Tuan Wijaksana menghentikan sejenak aktifitasnya. "Apa yang terjadi? Beritahu padaku cepat," balasnya.


"Tuan, semua investor kita menarik semua investasinya dan mereka menuntut ganti rugi untuk semua biaya yang pernah di keluarkan!" balas sang asisten.


"Apa maksudmu, kenapa mereka melakukan hal itu. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Tuan Wijaksana merasa tidak mengerti.


"Itu semua karena ulah tuan muda Wiliam, dia membuat tempat pembuangan sampah di tanah kosong seluas 15 hektar sebelah hotel dan restoran kita!" jawab sang asisten tergesa.


"Apa!" Tuan Wijaksana terkejut ketika mendengar perkataan dari sang asisten, dia begitu geram dengan ulah Wiliam yang bertindak semaunya.


"Dasar anak bodoh! Apa dia tidak berpikir, aksinya itu bisa menghancurkan perusahaan!" geram Tuan Wijaksana kemudian bergegas mengunjungi Wiliam.


Namun sebelum ia pergi ke perusahaan utama, dia harus menghadapi semua rekan bisnisnya yang datang silih berganti untuk menuntut ganti rugi.


"Kerja sama kita batal dan kami ingin kau mengembalikan semua uang-uang kami!" begitulah kira-kira kritikan semua orang disana.


"Tenang semuanya, saya akan membicarakan ini kepada kepala pimpinan pusat terlebih dahulu. Tolong kalian bersabarlah dan jangan menarik uang investasi kalian dari perusahaan ini, karena pembangunan bisnis kita sudah jadi."


"Kami tidak buta Tuan Wijaksana! Perusahaan pusat sendiri yang membuat tempat pembuangan sampah di samping restoran dan hotel kita. Jika begitu, bagaimana bisa menarik pengunjung yang tempatnya telah di kelilingi banyak samoah bau! Pokoknya kami harus menuntut ganti rugi sekarang!" tegas sang rekan bisnis.


Tuan Wijaksana terpuruk, mau tidak mau dia harus mengganti semua kerugian tersebut. Sehingga itu mempengaruhi semua harta kekayaan perusahaannya dan ia akhirnya mengalami kebangkrutan total.


"Wiliam!" pekik Tuan Wijaksana sembari melihat laporan keuangannya yang tiba-tiba menurun dratis.


...----------------...


Sementara itu Wiliam tersenyum, setelah mendapat kabar dari Riko jika perusahaan Wijaksana benar-benar bangkrut.


"Terimalah kehancuranmu tuan Wijaksana!" ucap Wiliam, begitu menggema di ruang kerjanya.


Pria itu tidak main-main dan benar-benar serius dengan perbuatannya dalam menghancurkan orang jahat yang telah membuatnya harus kehilangan keluarga.


Namun walau begitu Wiliam tahu, dia harus menerima konsekuensi buruk akibat perbuatan beraninya.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2