
"Aku mau ambil mobil di parkiran dulu, kamu tunggulah disini," perintah Jason kepada Jelita untuk menunggu dirinya mengambil mobil.
"Baik Kak," balas Jelita dan mengangguk patuh.
Jason lalu berjalan cepat menghampiri kendaraan roda empat miliknya yang terparkir di halaman belakang.
Sementara itu Michael baru saja sampai, dengan nafas tersengal dia menghampiri Jelita yang sedang berdiri menunggu Jason datang.
Hosh hosh ....
Michael menghirup udara disekitarnya sebanyak mungkin, untuk mengisi oksigen didalam paru-parunya yang sedikit mengempis.
"Aish beginilah resikonya jika punya rumah terlalu luas," celoteh Michael meraup keringat di dahi dengan kasar.
Jelita hanya terdiam, melihat kelakuan anak pemilik rumah di sampingnya. "Dia berbicara dengan siapa?" tanya Jelita pada diri sendiri.
***
Tin!
Mobil yang sedang di kemudikan oleh Jason telah menampakkan bumpernya, kendaraan berbadan besi kokoh itu melaju dengan kecepatan rendah, menghampiri dua manusia berbeda latar belakang. Yang tengah berdiri menunggu kedatangannya.
"Ayo naik Jelita!" pinta Jason, tapi tidak menyuruh Michael untuk masuk ke dalam mobil. Karena memang tidak tahu jika pria muda itu ingin menumpang dengannya.
Jelita membuka pintu depan mobil, tapi dengan cepat Michael menepisnya. Mereka berdua pun perebutan kursi depan, hingga membuat Jason terheran-heran.
"Mike ... kenapa kamu yang masuk?" tanya Jason setelah melihat Michael duduk manis di samping dirinya dan melihat Jelita yang hanya bisa diam terpaku. Merasa bingung dengan pria yang tidak di ajak tapi tiba-tiba ikut masuk begitu saja.
"Aku ingin ke toko buku, sekalian nembeng denganmu saja karena Mamy tidak mengijinkanku membawa motor sendiri," balas Michael sambil memakai safety belt.
Jelita dan Jason serempak membulatkan bibirnya sedikit maju. "Oh begitu." Jelita lalu duduk di kursi belakang.
"Tapi Mike. Lebih baik kamu duduk dibelakang, biar Jelita yang duduk disini," ucap Jason saat melihat wajah Jelita yang sudah mulai sedikit pucat.
"Why?" tanya Michael dengan sedikit meninggikan kepalanya.
Jason menghembus nafasnya lembut. "Jelita mabuk darat, jika dia duduk di belakang sana akan membuat mabuknya itu lebih parah. Kau ingin dia muntah di dalam mobilku?" balas Jason dan memberi kode kepada Michael untuk menoleh ke belakang.
__ADS_1
Michael menoleh ke belakang dan seketika itu pula tubuhnya bergidik, merasa jijik saat membayangkan jika itu sampai terjadi. Dia lalu menatap tajam Jelita merasa kesal dengan wanita itu.
"Hei cepat turun!" titah Michael, lalu dia menghempas safety belt dengan kasar.
Jelita pun langsung mengangguk patuh dan segera keluar dari mobil. Sedangkan Michael, yang merasa memiliki harga diri tinggi. Secara sengaja menabrak sisi bahu Jelita, hingga gadis itu pun terhuyung dan hampir terjatuh.
"Mike kenapa kamu kasar sekali, dia hampir terjatuh. Kamu pasti sengaja menyenggolnya kan?" ucap Jason merasa tidak suka dengan perilaku Michael.
"Aku tidak menyenggolnya, dia sendiri yang menghalangi jalanku. Tidak perlu kasihan padanya, salah sendiri dia begitu lemah," ucap Michael sambil sedikit mengangkat sudut di bibir atasnya.
Jelita menunduk dan bergumam. "Huh, sudah jelas-jelas dia yang salah, tapi masih saja tidak mau mengaku," balas Jelita berucap pelan, agar tidak terdengar oleh Michael.
Namun nampaknya telinga Michael begitu tajam, dia memukul pelan jok mobil di hadapannya itu. Dimana Jelita yang sedang duduk didepannya pun terperanjat kaget dari kursinya.
"Aku mendengarmu, jika tidak suka bicara langsung di depanku saja," ucap Michael sedikit memajukan badan dan mensejajarkan dirinya dengan Jelita.
Jelita menggeleng cepat. "Ah tidak! aku tidak bicara apapun," Jelita buru-buru merapatkan mulutnya.
Jason menghela nafasnya kasar. "Sudah jangan bertengkar, Mike duduklah ke posisimu semula. Kita akan berangkat dan Jelita pakai sabuk pengamanmu," perintah Jason kepada dua bocah beda jenis didekatnya.
Jelita celingak celinguk ketika ingin memakai safety belt, ini kali pertama dia memakai benda lentur tersebut. Dia hanya menarik-narik saja, tapi tidak tahu harus dipakai kemana.
Jason membuka safety beltnya terlebih dahulu, lalu mendekatkan diri kepada Jelita, bukan hanya membantu namun pria dewasa itu mengajarkan cara memakai sabuk pengaman itu dengan lembut dan sabar.
"Begini?" tanya Jelita mempraktekkan apa yang telah diajarkan oleh Jason.
"Hem ... benar, coba sekali lagi," balas Jason dan Jelita kegirangan. "Baik ...."
"Bagus!" ucap Jason memuji keberhasilan Jelita, hingga membuat hati gadis itu pun luluh dengan kehangatan pria di dekatnya.
Namun entah mengapa Michael malah kepanasan di kursi belakang, padahal AC mobil telah dipasang di suhu paling terendah. Dia menghentak-hentakkan salah satu pergelangan kakinya beberapa kali dengan cepat, merasa tidak sabaran ingin segera berangkat.
"Hei sudah belum mengajarinya, sebentar lagi jam makan siangku," ucap Michael melipat kedua tangannya di depan dada.
Jason dan Jelita pun serempak menengok ke arah sumber suara, merasa lupa dengan satu makhluk hidup di belakang sana.
"Sudah, ini juga mau berangkat," balas Jason lalu menginjak pedal gas dengan kakinya.
__ADS_1
Kijang besi itu pun melaju begitu kencang, meninggalkan sebuah mansion megah dibelakang mereka.
Hingga kendaraan itu akhirnya telah sampai di jalan raya dan membelah padatnya jalan ibu kota.
***
Tiga puluh menit berlalu, akhirnya mereka telah sampai di Supermall paling megah di ibu kota. Dengan gerak cepat Jason menuju halaman parkir mall dalam basement dan menyisipkan kendaraan pribadinya itu, diantara banyaknya kendaraan lain.
"Ah akhirnya sampai juga," ucap Michael keluar dari mobil, lalu disusul oleh Jelita dan juga Jason.
Mereka bertiga pun melenggang masuk ke dalam Mall, tempat dimana manusia menghabiskan uang untuk bersenang-senang dan belanja berbagai keperluan.
Jelita memandangi sekeliling, merasa takjub dengan kebesaran gedung di depan matanya itu. Dia meneguk ludahnya susah payah, takut tersesat dan tertinggal oleh dua pria idaman wanita di dekatnya.
Di tambah dirinya yang tidak memakai kacamata, menyulitkan dirinya untuk membaca petunjuk dari jauh, huruf dan angka itu serasa kabur ketika dipandangnya begitu lekat.
"Ayo jalan," ajak Jason menepuk pundak Jelita yang sedang berdiri mematung, ketika melihat sekumpulan orang yang berjalan lalu lalang.
"Jason ... Aku ingin ke toko buku, setelah urusan kita selesai nanti kita ketemuan lagi disini oke," ucap Michael namun dengan segera Jason melarangnya.
"Kita makan siang dulu," balas Jason sambil melihat benda yang melingkar di pergelangan tangannya.
Michael menurut apalagi ketika melihat Jelita sedang menjilat bibirnya saat melihat sebuah gambar makanan yang terpampang nyata di depan mata gadis itu.
"Kau ingin makan itu?" tanya Jason kepada Jelita.
"Apa saja Kakak," balas Jelita, padahal dalam hatinya dia ingin sekali memakan segalanya. Memuaskan keinginannya untuk memakan berbagai makanan enak hingga puas sejak lama.
"Baik kita ke atas terlebih dahulu, disana ada food court. Kamu bisa pilih dan makan sepuasnya," ucap Jason lalu menggiring dua manusia muda di hadapannya.
"Ini gratis kan, atau aku harus menggantinya?" tanya Jelita menatap Jason dan Michael dengan tatapan polos secara bergantian.
Jason langsung terkekeh, sedangkan Michael langsung menarik baju Jelita, merasa tidak ada waktu banyak untuk mengurusi pertanyaan gadis lugu itu.
"Gratis!" jawab Michael dengan ketus.
.
__ADS_1
.
Bersambung.