
Kedua lutut kakinya mendadak lemas, ingin lari pun rasanya susah.
"K-kau ... S-sejak kapan?" tanya Jelita terbata, mengingat jarak dari pintu kamar dengan ranjangnya Wiliam lumayan jauh.
Tau-tau sudah berdiri di depan mata.
"Ingin menghubungi siapa, hem?" tanya Wiliam sekali lagi lalu mematikan ponsel Jelita dengan satu tangannya.
"Kembalikan ponselku!" pinta Jelita, dia berusaha meraih ponsel dari tangan Wiliam yang terangkat tinggi, hingga gadis itu pun harus berjinjit untuk mendapatkan ponselnya kembali.
"Kembalikan!" pintanya sekali lagi.
Namun Wiliam tidak menghiraukan permintaan Jelita, dia menyeringai sambil melangkahkan kaki mundur ke belakang.
"Ambillah kalau kau bisa, aku berjanji akan melepaskanmu jika berhasil," ucap Wiliam memberi tantangan.
"Pria brengs*k," umpat Jelita kesal. "Baiklah, jika aku berhasil, maka kau harus menepatinya," balasnya.
"Hem ... Janji," balas Wiliam.
Jelita kembali berjinjit hingga mendesak tubuh Wiliam, dengan satu tangan terangkat tinggi ke atas dan satu tangannya lagi dia gunakan untuk berpegangan pada tubuhnya Wiliam.
Terkadang berpegangan pada bahu, lengan dan bagian tubuh lainnya yang bisa dia pegang atau jamah.
Sungguh bodohnya si Jelita, mengapa tidak dijenggut saja rambut gondrongnya si Wiliam atau tendang saja titik kelemahannya biar tahu rasa. Tapi jangan tanya kenapa dia tidak melakukan hal tersebut, karena gadis itu sedang tidak berpikir ke arah sana.
Dan sekarang yang ada di dalam dipikirannya itu hanyalah satu, yaitu harus berhasil mengambil ponselnya terlebih dahulu agar bisa terbebas dari belenggu pria menyebalkan dihadapannya.
Namun nampaknya Wiliam berpikir lain, dia melakukannya dengan sengaja, agar gadis itu masuk ke dalam perangkapnya untuk membawa raga Jelita lebih mendekat kearah peraduan.
Perlahan tapi pasti, selangkah demi selangkah, Wiliam menggiring Jelita untuk terus maju sebanyak langkah kakinya yang terus mundur kebelakang.
Wiliam tersenyum puas. "Sedikit lagi," batinnya.
Dirasa kedua kakinya telah menyentuh sisi ranjang, Wiliam berhenti mundur dan menatap Jelita sejenak, yang sedang terengah-engah menarik oksigen sekitar.
Naluri kedewasaaan Wiliam menuntun netranya untuk menatap kedua gundukkan menantang dihadapannya yang sedang naik turun dengan cepat mengatur nafas.
Pandangannya beredar pada seragam Jelita yang sudah basah terkena keringat, menampakkan sebuah bentuk, lekuk tubuh sempurna dari seorang wanita. Dan nampaknya hal itu, membuat Wiliam semakin bergairah.
"Masih belum berhasil hem," ejek Wiliam.
"Menyebalkan sekali, kau anggap aku mainan hah!" ucap Jelita kesal.
Wiliam terkekeh. "Baik jangan marah, gadis manis cobalah sekali lagi."
Dengan sengaja dia sedikit merendahkan posisi lengannya. Berpura-pura seperti orang yang sedang lengah, agar Jelita mau mendesaknya kembali untuk meraih ponsel jadul tersebut.
Melihat kesempatan itu, Jelita pun memasang kuda-kuda untuk melompat setinggi mungkin demi merampas ponselnya sendiri dari tangan orang asing.
Namun karena saking seriusnya menatap ke atas, Jelita tidak menyadari jika salah satu lengan besar Wiliam sudah melingkar erat pada pinggang rampingnya.
"Heh! Kena kau," gumam Wiliam.
Wiliam tersenyum dan menunggu gadis itu untuk melompat, agar terjatuh bersama-sama diatas peraduan.
Hap.
Jelita melompat tinggi dan Wiliam dengan cepat menghempas ponsel itu ke belakang, agar kedua lengannya bisa bebas melingkar manja pada pinggang Jelita dan memanfaatkan desakan tubuh gadis itu, agar tubuhnya terdorong ke belakang.
__ADS_1
Lalu dengan senang hati dia menjatuhkan dirinya sendiri ke atas kasur yang empuk, dengan tidak lupa membawa Jelita untuk ikut jatuh bersama ke dalam pelukkannya.
"Brug!"
Mereka pun terjatuh dan kini keduanya telah berada diatas peraduan.
Wiliam tersenyum smirk sambil menatap Jelita yang tercengang, sedangkan gadis lugu itu, hanya bisa terdiam sambil mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali.
Masih berusaha mencerna kejadian yang telah terjadi barusan.
"Kenapa jadi begini?" batinnya.
"Kita lanjutkan posisi yang tertunda kemarin," ucap Wiliam begitu maut sekali, lalu mengeratkan pelukkan agar tubuh Jelita lebih mendekat ke arahnya.
Mengunci setiap pergerakan Jelita, agar gadis itu tidak bisa pergi kemana-mana.
"Jangan! Lepaskan aku!" pekik Jelita, sebisa mungkin dia berusaha menahan kekuatan Wiliam yang sangat besar dengan menumpu kedua tangan diatas dada pria berotot itu.
"Mendekatlah kepadaku," ucapnya lembut.
Jelita memalingkan wajah. "Tidak akan!" bantahnya.
"Heh! Tidak patuh sekali," balas Wiliam, lalu mulai menunjukkan keahliannya.
Dia menyingkap bagian belakang seragam Jelita, lalu kedua telapak tangannya tanpa ragu merayap naik ke atas punggung mulus gadis itu, demi mencari sebuah pengait pada kain penyangga.
"Ketemu," seru Wiliam.
"Akh jangan sentuh itu! Jangan dilepas!" pekik Jelita.
"Terlambat," ucap Wiliam berbisik, tangannya begitu lihai melepas pengait pada kain penyangga, melemparnya jauh ke sembarang arah dan itu dia lakukan tanpa menemui kesulitan sama sekali.
Kini kedua gunung sintal nan menggiurkan itu telah berayun bebas tanpa penyangga, walau masih tertutup oleh seragam sekolah. Namun Wiliam masih bisa merasakan sentuhan hangat dan guncangan lembut dari kedua bukit tersebut, melalui dadanya.
"Dasar brengs*k!" pekik Jelita. "Lepaskan aku!" teriaknya lagi.
Jelita berusaha menarik diri, tangisannya mulai pecah saat Wiliam ingin membuka kancing kemejanya.
"Jangan!" pekik Jelita, dia segera memukul wajah Wiliam dengan sekuat tenaga.
Akan tetapi gerakan Wiliam tidak kalah cepatnya, dia mencekal pergelangan tangan Jelita sebelum kepalan tangan gadis itu mendarat tepat di pipinya.
"Kasar sekali." Wiliam menghentikan sejenak aksi buka membuka, sadar jika posisi seperti itu menyulitkan ia untuk menguasai Jelita sepenuhnya.
Dengan segera Wiliam membalik tubuhnya dan berguling, dengan terus memeluk Jelita agar bisa berganti posisi dan kini Wiliam telah berada diatas dan Jelita berada dibawah.
"Pria brengs*k, aku membencimu!" bentak Jelita.
"Apa yang bisa kau lakukan jika seperti ini hem?" Wiliam tersenyum kembali, senyuman yang sulit untuk diartikan. Matanya mulai tertutup kabut hasrat, tidak peduli dengan suara tangisan wanita yang sedang berada dibawah kungkungannya.
"Akh apa yang kau lakukan, menjauhlah dariku!"
Wiliam mengunci kedua pergelangan tangan Jelita di kedua sisi agar tidak bisa memukuli tubuhnya lagi.
Pria itu mendekatkan wajahnya untuk meraih apa yang dia inginkan, menelan semua teriakan gadis itu dengan membungkam mulutnya.
Jelita mengelak, dia memalingkan wajahnya ke kiri maupun ke kanan, berlawanan arah dengan Wiliam.
"Hentikan!" pekiknya. "Aku akan menghajarmu!" ancam Jelita.
__ADS_1
"Heh, cobalah kalau kau bisa," balas Wiliam dengan suaranya yang sudah berat menahan hasrat.
Wiliam melepaskan cengkraman tangannya pada pergelangan tangan Jelita dan berganti menahan pergerakan kepala gadis itu dengan menyelusupkan kedua tangannya pada tengkuk leher Jelita.
"Lep ___"
"Hmpt!"
Wiliam berhasil membungkam mulut Jelita, menyesapnya hingga ke dalam, ciuman yang begitu liar, hingga gadis itu pun kewalahan dengan aksi Wiliam yang brutal.
"Hmmpt!"
Jelita pun meronta meminta dilepaskan, dia memukul bahkan mencakar raga kekar pria di atasnya. Air matanya sudah mengucur deras membasahi seluruh wajahnya yang sudah memerah akibat Wiliam tidak memberi jeda padanya untuk mengambil nafas.
"Brengs*ek!" umpat Jelita dalam hati.
Merasa ada celah, Jelita segera menggigit bibir Wiliam dan pria itu mendesis. Dia berhenti sejenak, merasakan perih pada bibir nya.
"Nakal sekali ..." ucap Wiliam. Dia mengusap darah yang mengalir pada bibir dan tersenyum menatap Jelita yang terengah-engah. Matanya kembali berkabut dengan tangan yang terus bergerak aktif.
"Pergi! Kau mau apa, jangan lakukan itu!" pekik Jelita menahan kemejanya yang ingin di sobek.
Wiliam menyeringai, dia menepis tangan Jelita lalu mengunci kedua pergelangan tangan gadis itu diatas kepala dengan satu tangan dan satu tangan lainnya membuka kemeja Jelita.
"Jangan dasar brengs*k!" pekik Jelita.
Wiliam tertawa. "Sebentar lagi kau akan melihat kebrengs*kan dari ku ini," ucapnya sebelum merobek apapun.
"Si*l!! Lepaskan aku!" Jelita panik, terlebih saat Wiliam mulai membuka celana nya dan merasakan ada sesuatu yang keras mengganjal pada bagian tengahnya itu.
"Jangan!" pekiknya. Saat Wiliam menyingkap rok Jelita dan siap menyerang pertahanan gadis dibawahnya.
"Jangan Wiliam aku mohon jangan ..." ucapnya terisak, namun Wiliam tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
"Heh!"
Namun belum sempat dia melakukan serangan, sebuah pintu diketuk dari luar.
"Tok tok tok!!"
"Siapa!" Wiliam berhenti dari aktivitasnya.
"Maaf Tuan muda, ada telepon dari Tuan besar untuk anda," sahut Bibi dari luar.
Wiliam berdecih, dia mengerang kesal karena hasratnya tertunda padahal sedikit lagi dia bisa mengoyak pertahanan dari gadis kasar dibawahnya itu.
"Syukurlah," gumam Jelita. Dia menghela nafas disisa-sisa tenaganya.
"Tunggu disini sayang, aku akan kembali untukmu dan melanjutkan kembali kegiatan kita yang tertunda," ucap Wiliam mengecup lembut bahu Jelita, lalu memakai kembali celananya.
"Pergi dan jangan pernah kembali lagi," balas Jelita dengan tatapan tajam dan mata yang sudah basah berlinang air mata. Jelita bangun untuk duduk, dia meringkuk menyembunyikan wajahnya dan menangis sesunggukan.
Sedangkan Wiliam tersenyum tipis lalu bergerak menuju keluar kamar untuk menerima panggilan dan secepat mungkin untuk kembali ke dalam kamar.
.
.
Bersambung.
__ADS_1