
Sesampainya di dalam ruangan, Jelita memukul dada Wiliam. "Dasar pria menyebalkan, tidak tahu malu!" umpatnya kesal karena kejadian tadi di dalam lift.
"Untuk apa malu, aku kan calon suamimu. Toh kita akan menikah juga nantinya," balas Wiliam sambil mencekal kedua pergelangan tangan Jelita agar berhenti memukulnya.
"Setidaknya jangan melakukan hal memalukan itu di depan banyak orang," gerutu Jelita.
Wiliam tersenyum lalu mendekatkan wajahnya kepada Jelita. "Oh jadi kau tidak ingin berciuman ditempat umum ya. Hem ... Bagaimana kalau kita melakukan nya lagi disini, diruanganku yang tertutup ini," balasnya dengan tatapan penuh damba.
Sedangkan Jelita langsung gelagapan ditempat.
"Tidak! Sudah cukup, aku tidak ingin kau menciumku atau sejenisnya itu. Ingatlah janjimu Wiliam, kau tidak akan menyentuhku sampai kita menikah nanti bukan," tolaknya.
Wiliam menghela nafas dan menarik diri. "Kau benar sekali dan aku harus bersabar untuk itu."
"Nah kau benar Wiliam, jadi tolong bersabarlah," balas Jelita sambil menghela nafas leganya.
Tak lama kemudian asisten Wiliam datang mengetuk pintu, meminta ijin untuk masuk.
"Bos! Ayo keluar, tamunya sudah datang. Urusan ehem-ehem sama calon bini bisa dirumah kali!" ejek asisten Wiliam yang bernama Riko.
"Cih! Kalau sirik bilang," balas Wiliam sambil mengambil beberapa berkas untuk dibawa.
Sebelum pergi, Wiliam menghampiri Jelita. "Jelita ... Selama aku mengurus klien, kau tunggulah aku disini dan setelah urusanku selesai aku akan mengajakmu pergi jalan-jalan," ucapnya.
"Iya Wiliam," balas Jelita dan mengangguk.
"Bagus, kalau begitu aku akan tinggal sebentar. Oiya ... Kau bebas melakukan apa pun yang kau mau disini dan jika butuh sesuatu, minta saja sama Siska oke," ucap Wiliam dengan salah satu kedipan matanya yang genit.
"Iya Wiliam, sudah sana pergi!" balas Jelita.
Pria itu kemudian pergi untuk menemui klien, dengan ditemani oleh sang asisten kepercayaannya yang bernama Riko.
...***...
Selama menunggu Wiliam mengurusi pekerjaannya, Jelita memandangi ruang kerja calon suaminya itu. Lalu berdiri dari tempat duduknya dan mencoba melihat-lihat ke sekitar ruangan.
Dia memutari ruangan tersebut, melihat bahkan menyentuh sesuatu yang menarik perhatiannya.
__ADS_1
Jelita berdiri di salah satu foto keluarga yang cukup besar pada dinding ruang kerja Wiliam.
"Ini sepertinya opa Wijaya sewaktu muda dan yang disamping opa ini siapa ... Apakah ini kedua orang tuanya Wiliam?" tanya Jelita menerka-nerka.
Jelita memandangi cukup lama foto tersebut. "Tidak disangka ibunya Wiliam sangat cantik dan ayahnya juga begitu tampan. Mereka terlihat seperti orang baik, tapi apa yang menyebabkan mereka tiada? Apa aku harus bertanya kepadanya?" tanyanya pada diri sendiri.
Jelita menggeleng. "Ah tidak! Sebaiknya tidak usah ku tanyakan padanya, aku takut dia akan berubah sedih jika ku tanyakan tentang keluarganya yang telah tiada," gumam Jelita. Lalu kembali berjalan melihat-lihat suasana ruang kerja Wiliam.
Kali ini dia tertuju pada kain gorden besar yang berada di belakang bangku kebesaran Wiliam.
Jelita menyibak kain tersebut dan seketika itu pula dia tercengang. Ketika melihat pemandangan menakjubkan di depan mata kepalanya sendiri.
Sebuah pemandangan, dimana seluruh kota dapat terlihat jelas dari atas gedung tempat dirinya berada sekarang.
"Tinggi sekali ... Jadi beginikah pemandangan kota jika dilihat dari atas. Ternyata padat juga," celotehnya.
Jelita mengedarkan pandangannya kesekeliling, melihat gedung-gedung tinggi pencakar langit di depan mata dari yang terdekat hingga yang berada di kejauhan.
Tiba-tiba sekelibat terlintas dalam benaknya, merasa ingin tahu. Dari sekian banyaknya gedung tinggi di depan matanya itu, gedung manakah yang merupakan gedung perusahaan milik keluarga Chandra Putra.
Jelita menempelkan kedua telapak tangannya di dinding kaca dan dia mendadak murung, hatinya kembali merindukan sesosok pria yang tidak lain dan tidak bukan ialah Michael.
Tak terasa air matanya mengalir begitu saja. "Mengapa rasanya berat sekali melupakanmu Michael," isak Jelita beberapa saat.
Dia lalu menggeleng karena teringat akan janjinya. "Tidak boleh, aku sudah berjanji kepada semua orang, tidak akan mengingat dia lagi," gumamnya.
Dengan segera Jelita menghapus air matanya, sebelum Wiliam datang kembali ke ruangan ini dan mendapati dirinya sedang menangis karena memikirkan pria lain.
"Wiliam benar, aku tidak boleh larut dalam kesedihan terlalu lama. Aku harus segera melupakan Michael, karena dia sudah punya calon pendamping pilihan keluarganya sendiri dan aku juga harus menetapkan hati agar selalu bersama dengan Wiliam dan mulai membuka hatiku untuknya."
Jelita berbalik dan menatap foto keluarga Wiliam. "Putra keluarga kalian sangat baik padaku, dia juga begitu menyayangiku dan juga selalu menjagaku. Aku dan kalian memang tidak saling mengenal, tapi aku dan anak mu memiliki hubungan."
"Tuan ... Nyonya ... Jika Wiliam memang berjodoh denganku, maka tolong restuilah hubungan kami berdua," ucap Jelita, dia menangis dengan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Bersamaan dengan hal tersebut, suara langkah kaki terdengar mendekat ke arahnya dan Jelita segera menghapus air matanya itu, yang masih saja terus mengalir.
Wiliam yang melihat Jelita menangis pun, langsung berhadapan dengannya. Menangkup kedua sisi wajah Jelita dan mengarahkan ke atas agar ia dapat menatap jelas wajah Jelita yang sedang menangis.
__ADS_1
"Sudah berapa kali ku bilang padamu, jangan menangis lagi. Kenapa kau sangat sulit untuk mengerti, jika kau masih menangis, maka aku merasa telah gagal membahagiakanmu Jelita," ucap Wiliam lalu menghapus air mata Jelita dengan kedua ibu jarinya.
Jelita terisak lalu memeluk Wiliam dengan erat. "Wiliam ... Aku sudah siap menikah denganmu, aku menerimamu seutuhnya. Aku bersedia menjadi milikmu," ucap Jelita dengan penuh keyakinan.
Sementara itu Wiliam begitu terkejut dengan pengakuan Jelita, entah ada angin apa hingga gadis itu tiba-tiba membuat pengakuan yang begitu indah baginya.
Hal yang dinanti-nantikan oleh Wiliam pun akhirnya telah tiba, hari bahagia dimana Jelita berkata telah siap menikah dan bersedia untuk hidup bersama dengannya.
Wiliam mengurai pelukan Jelita dan menatap gadis itu dengan serius. "Apa kau yakin? Kau serius dengan ucapanmu itu Jelita?" tanyanya memastikan.
Jelita mengangguk. "Aku serius," balasnya.
Wiliam tersenyum dan begitu senang mendengar hal tersebut, lalu memeluk Jelita dengan erat dan tidak lupa mengecup lembut kening calon istrinya.
Pria itu menatap Jelita sekali lagi. "Apa kau tahu, Aku sangat senang sekali mendengar kau telah siap menikah denganku. Terima kasih Jelita ... Terima kasih."
"Sama-sama Wiliam," balas Jelita.
"Kalau begitu kita akan menikah tahun depan, bagaimana?" tanya Wiliam menggebu.
Jelita tersenyum dan mengangguk. "Boleh, semakin cepat semakin bagus," balasnya.
"Yes!"
Wiliam meluapkan semua rasa kebahagiaannya dengan menarik tengkuk Jelita, lalu mendaratkan ciuman mesranya secara bertubi-tubi. Hingga Jelita pun dibuat kewalahan oleh aksi Wiliam.
Jelita mendorong dada Wiliam agar menjauh darinya lalu mengambil oksigen sebanyak mungkin sebelum dia mati kehabisan nafas.
"Sudah Wiliam, sudah ... Kalau kau menciumku terus seperti ini, aku bisa mati olehmu. Kau juga membuat bibirku seperti mati rasa," ucap Jelita.
Wiliam tersadar akan aksinya dan berhenti menyosor. "Maaf Jelita, aku terlalu senang. Sampai aku tidak bisa mengontrol emosiku sendiri. Baiklah Aku akan memberitahu Opa secepatnya, dia pasti sangat senang mendengar hal ini."
Dia memeluk Jelita sekali lagi dan tersenyum. "Terima kasih Jelita. Aku mencintaimu," ucapnya lalu mencuri kesempatan dengan mengecup bibir Jelita sekali lagi.
"Wiliam! Kau nakal sekali!" Jelita membalas dengan mencubit lengan Wilian.
.
__ADS_1
.
Bersambung.