Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 90. Bukan anak asuh lagi.


__ADS_3

Jelita terus berjalan tanpa arah dikegelapan malam, meninggalkan dua pria tampan yang sedang kelimpungan mencari dirinya yang menghilang begitu saja.


Di sepanjang jalan keluar perusahaan, gadis itu selalu merenung dan memikirkan semua kegaduhan yang telah terjadi. Langkah kakinya begitu lunglai dengan tatapan kosong di kedua netranya.


Dia berhenti melangkah dan duduk di pinggir halaman perusahaan, sambil menangis dan terus menyalahkan dirinya sendiri.


"Harusnya aku menolak semuanya, aku yang salah. Ini semua salahku, aku tidak pantas menjadi anak asuh Nyonya Caca bahkan aku tidak pantas menjadi milik siapapun. Aku hanya wanita pembawa masalah," ucapnya terisak dalam tangisnya yang pilu.


...***...


Sementara itu sebuah mobil mewah yang ditumpangi oleh Floren dan Nyonya Berta baru saja tiba dan berhenti di tepat depan lobi perusahaan.


Mereka berjalan begitu tergesanya agar tidak melewatkan momen berharga, namun langkah kaki itu terhenti ketika Floren melihat sesosok wanita yang sudah tidak asing lagi baginya.


"Mami tunggu sebentar, sepertinya aku kenal wanita itu. Ah benar itu dia si gembel," ucap Floren memberi tahu Ibunya sambil menunjuk seorang wanita yang sedang duduk termenung di tepi taman.


"Iya, sepertinya itu dia," balas Nyonya Berta.


"Mamy, kau duluan saja. Aku ingin bertemu dengannya," ucap Floren.


"Terserah kau saja," balas Nyonya Berta kemudian memasuki gedung perusahaaan untuk bertemu sang suami.


Floren tersenyum sinis sambil terus berjalan mendekat ke arah Jelita. Dia berhenti dihadapan Jelita yang sedang duduk, sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Wanita seperti mu memang pantas duduk di jalanan," sindir Floren.


"Kau benar, aku memang pantas berada di jalanan," balas Jelita ngelindur lalu melamun kembali.


Merasa diabaikan Floren pun berdecak kesal. "Bangun dasar cewek murahan!" bentaknya meminta Jelita agar bangun untuk menatap wajahnya sambil menarik kasar tangan Jelita dan mencengkramnya begitu kuat.


Akan tetapi Jelita yang kala itu sedang melamun, mengira jika Wiliamlah yang sedang menariknya secara paksa, hingga dia pun mulai naik pitam.


Jelita menghentak tangannya sekuat tenaga dari cengkraman kuat Floren dan akibatnya kuku panjang nan tajam pada jari-jemari gadis itu pun berhasil melukai pergelangan tangan Jelita.


Meninggalkan goresan luka yang cukup panjang hingga berdarah.


"Lepaskan! Aku tidak ingin ikut denganmu!" bentak Jelita. Dia mendorong tubuh Floren yang dia kira adalah Wiliam hingga terjatuh.


Brug!


Alhasil wanita cantik itu pun meringis kesakitan. "Aw sakit sekali," rintih Floren sambil mengusap bagian belakangnya dan menatap Jelita penuh dengan kebencian.


"Beraninya kau!" umpat Floren hendak berdiri dan ingin membalas. Namun dia mengurungkan niatnya itu, ketika melihat kedatangan Nyonya Caca yang berjalan mendekat kearahnya.


Floren pun enggan bangun dari duduknya, dia melanjutkan aksi drama tertindasnya dengan pura-pura bersedih agar mendapat perhatian dari Nyonya Caca.


"Kau kasar sekali padahal aku hanya ingin menanyakan keadaanmu saja. Aku peduli dengan mu, karena aku melihat kau sedang duduk sendirian disini. Tapi apa yang ku dapat, kau malah mendorongku."


Sedangkan Nyonya Caca begitu terkejut dan tidak menyangka dengan kelakuan Jelita yang begitu kasar kepada orang lain.


"Jelita!" bentak Nyonya Caca dan seketika itu pula Jelita tersadar dari lamunannya.


Dia terkejut bukan main ketika melihat Floren tengah terduduk sambil meringis kesakitan, akibat dirinya yang telah mendorong Floren tanpa sengaja.


"Kau ... M-maaf aku tidak sengaja, apa kau tidak apa-apa?" tanya Jelita lalu membantu Floren untuk berdiri.


"Singkirkan lenganmu!" bentak Nyonya Caca, dia menepis tangan Jelita, hingga gadis itupun menarik kembali uluran tangannya.


Dengan segera Nyonya Caca membantu Floren untuk berdiri. "Kau baik-baik saja Floren?" tanyanya sambil memandangi seluruh tubuh Floren, takut ada yang terluka.


"Aku baik-baik saja, Tante. Hanya luka sedikit," balas Floren seraya menunjukkan luka lecet di telapak tangannya yang hanya sepanjang satu centi.

__ADS_1


"Syukurlah," ucap Nyonya Caca lalu menatap tajam anak asuhnya yang masih berdiri tidak berdaya.


"Jadi ini kah sifat aslimu, kau begitu kasar jika tidak ada orang lain disekitarmu hah! Apa ini yang ku ajarkan kepadamu, mendorong orang lain hingga terluka," sesal Nyonya Caca.


"Ibu ... Aku tidak sengaja, aku pikir dia orang lain," jawab Jelita.


"Orang lain? Jadi walau dia orang lain, kau akan tetap mendorong nya jika sedang kesal, hem?" tanya Nyonya Caca, dia menarik Jelita untuk menatapnya.


"Maaf Ibu ... Aku benar-benar salah," balas Jelita.


"Tatap mataku jika sedang bicara!" bentak Nyonya Caca pada Jelita yang terus saja menunduk.


"Aku begitu malu mempunyai anak asuh seperti dirimu, apa kau tidak malu, ribut di depan tempat umum seperti ini? Atau itu memang sudah menjadi kebiasaanmu, suka memancing keributan dan membuat keluargaku malu di depan banyak orang?" tanya Nyonya Caca, dia berubah kesal kepada Jelita.


Sedangkan Floren hanya tersenyum puas, saat melihat Jelita tengah dimarahi habis-habisan oleh Nyonya Caca.


"Tante ... Dia tidak sengaja mendorongku, mungkin karena dia sedang sedih jadi pikirannya tidak jernih. Jangan marahi dia lagi, kasihanilah dia, walaupun begitu dia adalah anak asuhmu juga," ucap Floren berusaha mengambil hati Nyonya Caca.


"Dia sudah salah, mana mungkin aku tidak menghukumnya," ucap Nyonya Caca masih kesal.


Jelita tertunduk dan menangis kembali, dia menyembunyikan luka goresan di tangannya yang mulai terasa perih.


"Ibu maaf ... Aku salah," ucapnya lirih.


...***...


Tak berapa lama kemudian Michael berhasil menemukan Jelita yang tidak jauh dari tempatnya berada.


Dia menghampiri keributan tersebut dan dirinya begitu syok saat melihat Jelita tengah dimarahi habis-habisan oleh ibunya.


"Mom! Sadarlah, apa yang kau lakukan?" ucap Michael sambil menahan tangan Nyonya Caca yang hampir saja mengenai wajah Jelita.


"Jangan hentikan Mamy Miki, anak ini telah membuat kita malu. Dia begitu kasar kepada orang lain dengan terus membuat keributan di depan umum," geram Nyonya Caca.


"Ibu benar, aku telah salah. Aku tidak pantas menjadi anak asuhnya, aku telah bersalah. Maafkan aku, pukulah aku Ibu," isak Jelita dan siap menerima pukulan tersebut.


"Mamy! Jika kau memukul Jelita, aku tidak akan memaafkanmu!" bentak Michael tanpa sadar.


Nyonya Caca terdiam dan menurunkan lengannya. Dia menatap Michael tidak percaya, "Kau berani membentakku hanya karena gadis ini?"


"Mamy ... Maaf aku lepas kendali," balas Michael.


"Kau mendapat pengaruh buruk darinya dan aku selalu saja membela kesalahannya itu," ucap Nyonya Caca dan dia menggeleng.


"Kali ini tidak akan lagi Miki, aku tidak akan diam saja." Nyonya Caca mulai menitikkan air mata.


"Mommy ..." lirih Michael.


Nyonya Caca menjauh dari Michael dan mulai mendekati Jelita. "Baiklah Jelita, kau sering melanggar peraturan, kau juga selalu saja mengabaikan perintahku. Kau begitu sulit untuk diatur, bahkan kau membawa masalah besar bagi keluargaku."


"Ibu ... Jangan," lirih Jelita menggeleng.


"Maka dengan ini aku nyatakan ... Kau bukan anak asuhku lagi!" bentak Nyonya Caca menggema, sambil menatap tajam Jelita dan mengacungkan jari telunjuk di depan wajah anak asuh pribadinya.


Sedangkan Jelita terpaku, hatinya begitu hancur ketika mendapat pernyataan tidak terduga dalam hidupnya.


"Ibu ..." lirih Jelita.


"Jangan panggil aku Ibu lagi, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi!" bantah Nyonya Caca.


Jelita menggeleng. "Ibu ... Aku belum siap pergi darimu, aku masih belum berbakti kepadamu. Maafkan aku jika salah, tapi ijinkan aku tetap menjadi anak asuhmu. Ibu," ucapnya sambil bersungkur di kedua kaki Nyonya Caca.

__ADS_1


"Pergilah, aku sudah melepasmu. Sekarang kau bebas melakukan apapun yang kau mau, sesuka hatimu," balas Nyonya Caca.


"Mamy! ___"


"Cukup Miki, mamy tidak ingin mendengar apapun pembelaan mu terhadap Jelita dan mengenai hukumanmu, akan mamy putuskan itu di rumah nanti," sergah Nyonya Caca.


"Dan kau Jelita, menyingkirlah dari kakiku!" titah Nyonya Caca. Dia berusaha tidak melihat anak asuhnya itu yang sedang mengiba kepadanya.


"Ibu jangan seperti itu, aku memang salah. Tapi aku melakukannya tanpa sengaja Bu, maafkanlah aku ...." ucap Jelita terisak penuh haru.


"Jelita bangunlah," pinta Michael, dia meminta Jelita untuk berdiri namun dicegah oleh Floren. "Biarkan dia meratapi kesalahannya Mike," cegahnya.


Michael menepis tangan Floren dan berusaha untuk membangunkan Jelita yang terduduk. "Jelita bangunlah," pinta Michael.


"Jangan sentuh aku, aku tidak akan bangun sampai Ibu yang membangunkan ku," ucap Jelita seraya memeluk kaki Nyonya Caca.


"Jelita ... Momy maafkan lah Jelita, aku yang salah Mom," bela Michael. Dia tidak tega melihat cintanya menangis begitu sesak.


Michael yang kesal pun ikut bersimpuh juga dikaki sang Ibu dan tidak akan bangun sebelum memaafkan Jelita dan juga dirinya.


"Miki! Apa yang kau lakukan? Bangunlah!" titah Nyonya Caca.


"Mike, apa-apaan kau ini, hah!" ucap Floren.


Michael menggeleng. "Tidak Mom ... Aku tidak akan bangun sampai kau memaafkan kami berdua," ucap nya memohon.


Nyonya Caca terpejam dan dengan lantang dia meminta supirnya untuk membawa Michael pergi.


"Bawa Tuan muda pergi dari sini!"


"Baik Nyonya besar!" patuh sang supir sambil membujuk tuan mudanya yang selalu memberontak.


...***...


Sementara itu Wiliam segera berlari saat melihat Jelita sedang berada di dalam kerumunan tersebut. Dirinya begitu kesal saat melihat Jelita tengah bersungkur di depan kaki Nyonya Caca sambil menangis sesungukkan.


Tanpa banyak kata Wiliam duduk berjongkok dan mengulurkan kedua tangannya untuk membantu Jelita berdiri.


"Bangun ... Kau tidak pantas berlaku seperti itu," ucap Wiliam.


"Jangan Sentuh aku!" bentak Jelita, dia menolak uluran tangan Wiliam.


"Aku tidak akan membiarkanmu menjadi orang rendah seperti ini," balas Wiliam.


"Jangan sentuh aku ...." Jelita menunduk dan menepis tangan Wiliam yang ingin menyentuh luka ditangannya.


"Kau terluka," balas Wiliam dan segera membalut luka tersebut.


Sontak saja Michael merasa sakit hati, terlebih dia tidak melihat luka tersebut. Ada perasaan sesak di dalam dadanya, saat melihat orang lain yang mengobati luka cintanya.


Michael menghentak kuat tangan sang supir lalu berjongkok. "Kenapa kau tidak bilang padaku jika tanganmu terluka?" tanyanya panik, sedangkan Jelita hanya diam membisu. Deraian air mata yang dapat menjawab akan isi hatinya.


"Siapa dia?" tanya Nyonya Caca.


"Dia sepupuku Wiliam, tunangannya Jelita," balas Floren memanasi.


"Apa, tunangan!" pekik Nyonya Caca tidak menyangka dengan jawaban dari Floren.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2