
Beberapa bulan kemudian.
Hari sabtu, pukul 17.00 WIB.
Mansion Chandra Putra.
Nyonya Caca begitu senang ketika melihat putranya telah kembali ceria, dia juga begitu senang saat mendengar pernyataan Michael yang telah berjanji akan belajar dengan serius, agar bisa menjadi penerus perusahaan hebat seperti suaminya.
Hal tersebut membuat Nyonya Caca yakin, jika Michael putranya telah melupakan Jelita.
Dan itu menambah keberanian Nyonya Caca untuk memberitahu tentang rencana perjodohkan Michael dengan wanita pilihan keluarganya dalam waktu dekat ini.
Karena dia berpikir jika suasana hati anaknya sudah membaik, maka sudah pasti Michael tidak akan menolak atau marah saat mendengar kata-kata perjodohan dengan gadis pilihannya.
Namun yang membuat Michael kembali semangat dan ceria adalah tidak lain dan tidak bukan, yaitu hubungannya dengan Jelita yang telah membaik bahkan semakin dekat.
Mereka saling mengucap kata cinta, saling bertukar cerita, bahkan mengirim kecupan via online diselingi tawa dan canda.
Seperti saat sekarang ini ketika mereka sedang menatap satu sama lain, melalui layar ponsel mereka masing-masing di dalam kamar yang telah terkunci rapat.
Keduanya saling bersembunyi, melakukan panggilan video call. agar tidak ketahuan oleh Wiliam maupun keluarganya Michael.
"Jelita ... Bulan depan kau akan lulus SMA, beritahu padaku. Kau akan berkuliah dimana?" tanya Michael.
"Aku belum tahu Michael, Wiliam belum memberitahuku akan kuliah dimana," balas Jelita.
"Kalau begitu kuliah saja di kampus ku, jadi kita bisa bertemu setiap hari," saran Michael.
"Mana bisa begitu, aku harus patuh kepada Wiliam jika masih ingin terus tetap aman disini dan aku harus menerima dimanapun dia menyekolahkanku nanti," balas Jelita.
"Kau benar sekali, ya sudah. Jika kau sudah tahu akan kuliah dimana, jangan lupa beritahu aku ya. Siapa tahu kita bisa lebih sering bertemu atau jalan-jalan sepulang kuliah," gurau Michael.
Jelita tersenyum. "Baiklah, nanti aku bertanya kepadanya setelah dia pulang dari Amerika," balasnya.
"Oiya Jelita, kapan Wiliam akan kembali ke kota?" tanya Michael.
"Sepertinya dua hari lagi, dia akan kembali ke rumah," balas Jelita.
"Oh begitu ya ... Jelita, bagaimana kalau hari ini kira keluar bersama. Aku ingin sekali mentraktirmu makan malam, nonton bioskop berdua. Bagaimana apa kau mau?" tanya Michael.
"Michael, sudah pasti aku mau. Tapi kau tahu kan aku dijaga begitu ketat disini, bagaimana caraku keluar dari sini. Belum lagi aku harus melewati ibu," balas Michael.
"Hem ... Bilang saja kau pergi dengan temanmu, lagipula tidak akan lama. Sebelum jam 10 malam, aku akan mengantarmu pulang ke rumah," saran Michael.
"Tapi Michael, mereka pasti tidak akan percaya padaku begitu saja dan jika ketahuan oleh Wiliam. Aku bisa tamat hari ini juga," balas Jelita.
__ADS_1
"Ayolah Jelita mumpung pria itu masih belum pulang dari luar negeri dan aku ingin sekali menghabiskan malam minggu berdua denganmu. Kau tahu kan, sulit sekali bagi kita untuk bertemu jika ada Wiliam," mohon Michael.
"Kau benar sekali Michael. Baiklah, kalau begitu aku akan berusaha meminta ijin kepada semua orang disini termasuk Ibu, akan ku kabari padamu jika berhasil ya," balas Jelita.
"Baiklah, kabari aku secepatnya dan aku akan mengirimkan alamatnya ke WA mu," ucap Michael.
"Oke Michael, ya sudah aku bersiap-siap dulu ya. Bye," balas Jelita.
"Bye," balas Michael beserta ciuman onlinenya.
...***...
Beberapa jam kemudian.
Jelita begitu senang ketika mendapat ijin dari semua orang, termasuk ijin dari ibunya sendiri. Untuk pergi keluar meninggalkan Mansion, sesuai dengan rencana sebelumnya.
Gadis itu pergi membawa tas berisi buku pelajaran sebagai alasan agar dirinya bisa pergi bersama Michael.
Takut memang, tapi apalah daya. Jelita dan Michael tidak memperdulikan hal tersebut. Karena mereka kini telah bersama dalam satu ruangan.
Bioskop.
Mereka berdua menonton layar lebar bersama, menghilangkan kejenuhan sejenak, selama berada di dalam Mansion masing-masing.
Michael begitu senang, begitu pula dengan Jelita. Keduanya saling malu-malu dan saling tersenyum, jika ada adegan romantis pada film yang mereka pilih sedang melintas.
"Jelita ..." panggil lembut Michael.
"Hem ..." Jelita menoleh.
Dengan segera Michael menahan wajah Jelita agar tidak berpalingnya darinya.
"M-michael ... Kau ingin apa," Jelita begitu gugup saat pria di sebelahnya terus saja mendekat dan terus menangkup kedua sisi wajahnya.
Michael tersenyum, lalu melabuhkan sebuah kecupan hangat dan lembut pada bibir Jelita.
Rasa rindu dan juga cintanya membuat pria itu memberikan sebuah ciuman mesra. Bahkan Michael juga tidak membiarkan Jelita melepaskan pertautannya itu walau hanya untuk sejenak saja.
"Michael," gumam Jelita.
Pria itu terus bermain dan begitu menikmati pertautan tersebut. Sangat menghayati mencium Jelita, yang sudah lama ia nantikan karena merasa sayang jika melewatkannya barang sesaat.
Sedangkan Jelita yang terbelalak karena terkejut, benar-benar tidak menyangka dengan serangan Michael yang mendadak. Jantungnya terus saja mempompa hebat, hingga berdebar tidak karuan.
Namun karena ciuman hangat nan lembut dari Michael, berhasil meruntuhkan ketakutan Jelita. Perlahan gadis itu mulai terpejam dan mencoba untuk menikmati permainan yang sedang disuguhkan oleh Michael.
__ADS_1
"Jadi beginikah rasanya berciuman, begitu indah," gumam Jelita dalam hati.
Jelita mulai membalas ciuman tersebut, dengan mengikuti naluri penasarannya. Michael yang menyadari akan hal itu pun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
Ciuman yang hangat dan lembut kini berubah menjadi semakin panas, karena Michael berhasil membuka rongga mulut Jelita dan mulai menyesapnya hingga ke dalam.
Menyusuri setiap rongga mulut, hingga membelit lidah demi mendapatkan sensasi kenikmatan yang sedang mereka cari.
Bunyi decapan mengiringi pertautan mereka, keduanya terbuai dan larut dalam suasana. Tidak memikirkan tempat dan juga layar lebar yang sedang mereka tonton, kini berbalik menonton mereka berdua.
"Aku mencintaimu Jelita," ucap Michael disela aksi menciumnya.
"Aku juga mencintaimu Michael," balas Jelita. Lalu menyambut kembali ciuman dari Michael.
"Hmpp ...."
Sepanjang di putarnya sebuah film pada layar lebar hingga habis, maka selama itu pula Michael dan Jelita berciuman. Menghabiskan waktu menonton film dengan melakukan aksi liar dan gila namun nikmat dan indah.
Sungguh gila memang, tapi mereka akan melakukannya lagi jika ada kesempatan.
...----------------...
Mansion Wiliam.
Sesuai janji, Jelita telah tiba di rumah tepat jam 10 malam. Gadis itu langsung ke dalam kamar, karena melihat sang ibu telah tertidur pulas.
Dirinya begitu bahagia hari ini, mengingat kencannya dengan Michael berhasil tanpa hambatan. Jelita tersipu malu, setiap kali mengingat dirinya saat berciuman dengan Michael.
Gadis itu juga berbunga-bunga saat Michael mengirimkan pesan singkat berisi kata cinta.
"Aku akan selalu mencintaimu, aku menginginkanmu Jelita. Tunggulah aku, suatu hari nanti, aku akan membawamu pergi dari sana. Hidup bersama denganmu, melakukan hal yang lain selain berciuman seperti tadi."
Jelita tersenyum dan membalas pesan tersebut. "Aku juga mencintaimu Michael, aku akan selalu menunggumu membawa ku pergi dari sini."
Jelita menatap cermin dan dia menunduk malu sambil menyentuh bibirnya yang telah dicium oleh Michael.
"Tidak disangka rasanya begitu berbeda saat pertama kali dia menciumku, bahkan aku tidak bisa menolak ciumannya itu," gumam Jelita.
Lalu gadis itu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh dan berganti pakaian sebelum dirinya tidur. Sambil terus tersenyum memikirkan hal tadi, saat kencan rahasianya bersama dengan Michael.
.
.
Bersambung.
__ADS_1