
Jelita segera menarik lengannya dari genggaman Michael.
"Maaf!" Michael meminta maaf.
Jelita tersenyum. "Tidak apa, lagi pula kamu tidak sengaja," balas Jelita.
Mereka berdua lalu terdiam, dan saling menunduk.
"Jelita ..."
"Ya." Jelita menoleh ke arah Michael.
"Floren ... Dia berencana mau datang ke sini hari minggu," ucap Michael membuat Jelita terkejut.
"Benarkah, lalu untuk apa dia datang ke sini? Apa dia sudah tahu kalau aku dan ibu tinggal disini?" tanya Jelita.
Michael menggeleng. "Tidak ... Dia belum tahu, kamu tidak usah takut, dia kesini hanya sekedar berkunjung," balas Michael.
"Tapi ... Bagaimana jika dia sampai melihatku sedang tinggal disini? Selama ini, aku tidak mempermasalahkan dia yang selalu mengganguku, tapi aku tidak ingin dia sampai mengganggu ibuku juga," Jelita mulai sedikit khawatir.
"Jangan khawatir, sebisa mungkin aku akan menahan dia agar tidak bertemu dengan mu dan juga bu Maria. Percayalah padaku," balas Michael dengan sungguh-sungguh.
Jelita menatap Michael yang menatapnya juga, "Baiklah, aku percaya."
Michael tersenyum. "Bagus ... terima kasih karena telah percaya kepadaku."
"Sama-sama ... Hm ... Tapi ...." Jelita terdiam sejenak.
"Kenapa diam, tapi apa?" tanya Michael merasa penasaran.
"Heh ... Ya tapi aneh saja, kenapa juga aku harus takut padanya? aku kan sudah berhenti bekerja disana seharusnya dia juga berhenti membenciku," balas Jelita.
"Selama ini kurasa dia hanya salah paham denganku, menganggap aku selalu berusaha untuk mendekatimu. Padahal keadaan saja yang membuat kita terus bertemu. Sepertinya lebih baik jika aku bertemu dengannya, dan menjelaskan jika aku dan kamu itu tidak ada hubungan apapun. Mungkin dengan begitu, dia tidak berpikiran buruk lagi kepadaku. Ya kan," ucap Jelita menimpali.
__ADS_1
Michael seketika terdiam dia mengingat sewaktu dulu dia membenci Jelita, bahwa Floren pernah berniat menyingkirkan ibu Maria demi bisa bersama dengan dirinya.
"Kau tidak tahu sifat buruk Floren, dia selalu menganggap dirinya itu benar. Mana mungkin dengan penjelasanmu yang seperti itu dia akan mengerti dengan mudah. Pokoknya dia tidak ingin ada satu wanita pun berada di sisiku," balas Michael.
"Dia mengerjaiku juga karena ada alasannya kan, dan alasannya itu adalah karena dia ingin memenuhi permintaanmu agar aku berhenti bekerja disana," balas Jelita.
"Dan yang lebih membuat dia bersemangat mengusirku adalah karena kamu telah menjanjikan suatu hubungan kepada Floren ... Ah tidak! kau juga bahkan menjanjikan kepada semua orang disana."
"Kau menjanjikan suatu hubungan yang mereka inginkan darimu yaitu ingin menjadi seorang pacar dan juga ingin menjadi temanmu. Semenjak saat itu mereka gencar mengerjaiku hingga berani melakukan hal jahat hanya demi hubungan tersebut."
"Jadi Michael, kurasa itu bukan sepenuhnya kesalahan Floren atau siswa yang lainnya. Seharusnya kau bisa menerima mereka sebagai teman tanpa syarat atau memilih pacar bukan dari siapa yang menang. Kau seharusnya menggunakan hati dan pikiranmu terlebih dahulu sebelum bertindak. Agar tidak ada orang-orang yang merasa dirugikan."
"Jadi ... Maaf Michael aku harus mengatakan ini kepadamu, ini juga semua adalah kesalahanmu," ucap Jelita dan Michael seketika merasa bersalah.
"Maaf, jika saja aku tidak menjanjikan sesuatu kepada mereka, mungkin kau masih bekerja dengan tenang sampai sekarang, dan tidak harus merasa takut pada siapapun termasuk Floren," balas Michael.
Jelita mengulum senyum. "Tidak apa Michael, ku rasa itu juga semua sudah di takdirkan. Seandainya saja kejadian buruk sewaktu aku bekerja di sana tidak terjadi, mungkin aku tidak akan bisa bertemu dengan Ibumu yang luar biasa itu."
Michael menatap Jelita sambil merenung, dia tak menyangka dengan penjelasan Jelita yang begitu dewasa.
"Kau berusia di bawahku, tapi pemikiranmu begitu dewasa," ucap Michael dan lamunan Jelita menjadi buyar.
"Heh, pengalaman dan pahitnya kehidupan yang membuatku terpaksa menjadi dewasa sebelum waktunya. Hem ... kurasa kau sekali-kali harus menjadi orang susah agar mengerti pahitnya kehidupan," balas Jelita sambil tertawa.
"Sepertinya boleh dicoba. Haha ... Sudahlah ini sudah malam, lebih baik kamu istirahat. Jangan sampai bangun kesiangan dan terlambat ke sekolah," ucap Michael.
Jelita menepuk dahinya. "Ah iya, kau benar. Aku sampai lupa kalau aku ini seorang pelajar," balas Jelita dan Michael tersenyum.
"Kalau begitu selamat malam," ucap Michael kemudian dia berdiri dari tempat duduknya.
"Selamat malam," balas Jelita.
………………………………………………………………………………
__ADS_1
Mansion Wijaksana.
"Benarkah itu anakku sayang?" Nyonya Berta tertawa begitu senang saat putrinya menceritakan kejadian di kelas hari ini.
"Benar, tidak ku sangka saran dari Kakak sepupu Wiliam benar-benar berhasil. Lelaki sedingin es seperti apapun, pasti tidak akan tahan jika digoda oleh tubuh wanita," Floren ikut terkekeh.
"Saran dari Wiliam walau kotor tapi berhasil juga ya. Eh Floren sayang, terus saja seperti itu ya. Siapa tahu si Michael itu benar-benar akan terpancing oleh rayuanmu dan dia menjadi gelap mata lalu menghamilimu. Jika Michael sampai menghamilimu sayang, maka Mami jamin keluarga itu tidak akan bisa menolak dirimu apapun alasannya," ucap Nyonya Berta.
Floren tersenyum smirk. "Tenang saja Mami, tanpa disuruh juga Flo dengan senang hati akan melakukannya. Lagi pula dia satu-satunya lelaki yang menurut Flo berbeda, dan jika aku bisa mendapatkan tubuh Michael. Wah itu sudah pasti suatu kebanggaan sendiri bagiku Mi," balas Floren.
"Bagus kalau begitu, ya sudah Mami keluar kamar mu ya. Besok ceritakan lagi kepada Mami, tentang kerja kerasmu. Oke," ucap Nyonya Berta menyemangati putrinya yang kegatelan.
Floren mengangguk dan setelah ibunya keluar dari kamar, dia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Floren memejamkan mata sambil terus mengingat saat bersentuhan dengan Michael.
Dia menggigit bibir bagian bawahnya dan meremang saat mengusap bagian sensitifnya hingga mengeliat tidak karuan.
"Oh Mike sayang, aku tidak sabar ingin bercumbu denganmu. Pasti rasanya begitu nikmat," ucap Floren sambil memikirkan hal-hal dewasa bersama Michael menggunakan jari jemarinya.
"Oh tidak Mike, kau membuatku gila!" pekik Floren tiba-tiba, dengan nafas yang begitu menggebu. Dadanya naik turun begitu cepat saat memikirkan dirinya sedang bercinta dengan Michael.
"Ah luar biasa sekali! Oh Mike, aku sungguh tidak menyangka. Hanya dengan membayangkan wajahmu saja, aku dibuat seperti ini. Bagaimana jika itu sampai benar-benar terjadi."
Floren terkekeh dia kemudian memejamkan matanya kembali berusaha mengingat aroma tubuh Michael. Begitu maskulin namun lembut, merusak kewarasan Floren hingga memuncak sampai ke ubun-ubun.
Gadis bernafsu tinggi itu lalu menjambak rambut indahnya sambil meracau tidak karuan.
Gila!
.
.
Bersambung.
__ADS_1