
"Sudah jangan menangis lagi," Wiliam mengusap lembut punggung Jelita dalam pelukannya.
"Wiliam, tolong jangan hentikan aku menangis," pinta Jelita.
Wiliam menghela nafas dan hanya bisa memeluk Jelita dengan erat. "Huft ... Baiklah, menangislah sebanyak yang kau mau, kali ini aku tidak akan melarangmu menangis."
Jelita terisak lalu membenamkan wajah pada dada pria yang sedang mendekap, sambil terus mencengkram kuat kemeja Wiliam hingga lusuh tidak beraturan.
...***...
Mansion Wijaksana.
Tuan Wijaksana baru saja pulang selepas memenuhi undangan dari tuan Nael, dia melonggarkan dasi dan menghempaskan tubuhnya diatas sofa.
Tuan Wijaksana menghela nafas panjang, hingga Nyonya Berta bertanya karena heran.
"Kenapa sayang, kenapa kau tidak semangat seperti itu? Apa rencanamu berhasil?" tanya Nyonya Berta.
Tuan Wijaksana menghembus nafasnya kasar. "Gagal!" geramnya.
"Kenapa bisa gagal, apa Wiliam tidak membuat onar disana?" tanya Nyonya Berta kembali.
"Anak itu, tidak ku sangka dia bisa tenang menghadapi semua hinaan dan juga makian para orang suruhan kita di depan umum saat acara pertunangan tadi," balas Tuan Wijaksana.
Nyonya Berta berdecak kesal. "Lalu bagaimana dengan pesta pertunangannya?" tanyanya kembali.
"Acara itu juga lancar jaya, dua keluarga itu sudah bersatu sekarang," balas Tuan Wijaksana.
Nyonya Berta mencebik. "Bagaimana dengan nasib anak kita sayang, dia pasti akan sedih jika mendengar semua rencana kita telah gagal total."
Tuan Wijaksana berdengus kesal. "Sudah cukup! Aku tidak ingin mengurusi percintaan anak kita yang tidak penting itu. Karena yang terpenting bagiku sekarang adalah, memikirkan bagaimana cara untuk menurunkan Wiliam dari kursi jabatannya."
Tuan Wijaksana menghempas jasnya karena kesal, lalu pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Sementara itu Nyonya Berta merasa marah, karena tidak berhasil mendapatkan apa yang putrinya inginkan.
...----------------...
Setelah puas menangisi mantan kekasihnya yang telah mengikat hubungan dengan gadis lain, Jelita akhirnya memutuskan untuk memakan makanan apapun yang berada dipinggir jalan dan membeli apapun yang dia suka.
"Wiliam, aku ingin makan itu. Belikan aku roti bakar pisang coklat keju dan es capucino." Jelita menunjuk sebuah kedai yang menjual roti bakar dan makanan lainnya.
Wiliam mengangguk mengerti. "Baiklah, kau tunggu aku disini. Biar aku pesankan," balasnya lalu berjalan menuju kedai tersebut.
"Iya Wiliam," balas Jelita dan menunggu dibangku yang tidak terlalu banyak pengunjung namun lumayan jauh dari kedai tersebut, karena keinginannya untuk menyendiri sejenak.
Selama menunggu Wiliam datang, Jelita tidak menyadari jika ada beberapa pria yang sedang mengincar dirinya sejak dari tadi.
Ketiga pria bergaya preman itu berjalan menghampiri Jelita, yang sedang duduk sendiri dan langsung mendaratkan bokongnya begitu saja tanpa permisi.
"Gadis manis, sedang sendiri ya. Bagaimana kalau kita-kita yang tampan ini yang menemanimu duduk disini agar tidak sendiri lagi." Ketiga pria itu tertawa lalu menyeringai menatap Jelita yang gemetaran.
"Siapa kalian? Aku tidak mengenal kalian semua dan aku juga sedang tidak sendiri, jadi pergilah kalian semua dari sini," sahut Jelita dan memberanikan diri menepis tangan pria yang ingin menyentuhnya.
"Cewek kurang ajar! Jangan sok jual mahal, ayo ikut!" bentak salah satu pria preman yang diduga ketua genk dan yang lainnya menarik lengan Jelita agar ikut bersamanya.
"Lepaskan aku! Mau apa kalian hah ... Wiliam tolong aku!" pekik Jelita.
"Heh teriak saja sekencangnya, dia tidak akan mendengarmu cantik. Mending kau simpan saja teriakkan dan tenagamu itu untuk pesta kita saat dikamar nanti. Hei kalian, ayo cepat bawa gadis ini!" titah si ketua geng.
"Jangan! Tolong ... Wiliam!" pekik Jelita kembali, kali ini dia mulai takut karena merasa ketiga pria itu akan melakukan hal kotor kepadanya.
"Bungkam mulutnya cepat!" titah si ketua genk pada kedua anak buahnya, lalu menutup mulut Jelita dengan sapu tangan.
"Ya bos!" patuh si anak buah.
__ADS_1
"Wil!" Jelita meronta ingin dilepaskan.
"Ayo cepat pergi sebelum dia datang," ketiga pria itu membawa paksa Jelita, dan membawanya ke tempat yang telah di rencanakan oleh mereka sebelumnya.
...***...
Tak berapa lama kemudian, Wiliam datang seraya membawa semua makanan yang telah di pesan oleh Jelita sebelumnya.
Dia mencari keberadaan Jelita yang sudah tidak ada ditempatnya.
"Jelita," panggil Wiliam.
Pria itu berubah cemas saat melihat tas Jelita tergeletak begitu saja di bawah meja dan beberapa kursi tidak berada pada tempat yang seharusnya.
Secepat kilat Wiliam mencari gadisnya itu, mencari dengan menggunakan insting petarungnya yang tajam.
Berharap dirinya bisa datang tepat waktu untuk menyelamatkan Jelita sebelum terlambat.
Disisi lain, ketiga pria itu masih terus menghadapi pemberontakan Jelita yang tidak ingin menyerahkan diri agar masuk ke dalam mobil.
"Arkh!" pekik salah satu pria, karena pergelangan tangannya terkena gigitan Jelita.
"Lepaskan aku!" Jelita menahan masuk ke dalam mobil dengan menggunakan kakinya.
"Siial! gadis ini sulit sekali dijinakkan," oceh si ketua geng, lalu memukul kepala bagian belakang Jelita agar pingsan. Untuk memudahkannya membawa gadis itu masuk.
"Bagus, cepat masukan dia sebelum ada yang melihat kita."
"Baik bos!"
Sementara itu pencarian Wiliam akhirnya membuahkan hasil, saat mendengar suara-suara mencurigakan tidak jauh dari tempatnya berada.
"Berandal siallan!" decaknya kesal. Ketika mendapati tiga orang pria terlihat sedang sibuk menarik wanitanya untuk masuk ke dalam mobil.
Alhasil mobil itu pun berhenti mendadak, karena ulah Wiliam yang berdiri di tengah-tengah jalan.
Menghadang dengan beraninya sambil menghisap candu dan menatap tajam si supir.
"Hei kenapa berhenti mendadak dasar sialann!" kesal si ketua geng, sambil mengusap kepalanya yang benjol, karena terantuk pintu akibat laju mobil berhenti begitu saja.
"Bos ada yang menghalangi jalan kita," balas si supir.
Si ketua geng menempo dan kesal karena aksinya ketahuan dengan cepat. "Tabrak saja!" titahnya.
"Baik bos!" patuhnya lalu menginjak pedal gas.
Wiliam berdecih, lalu membuang puntung candunya. Refleksnya yang cepat, membuat pria itu dengan mudah menghindari mobil yang sedang melaju.
Lalu berlari sekencangnya dan segera memukul kaca samping mobil itu dengan sekuat tenaga.
Keakuratan tinggi, ditambah tenaganya yang begitu besar, membuat kaca mobil itu pun pecah hingga jebol.
Aksi heroik Wiliam membuat supir mobil itu pun terkejut, dia membanting stir, karena menerima pukulan keras yang diakibatkan oleh Wiliam.
Mau tidak mau mobil itu pun berhenti karena menabrak bahu jalan.
Semua orang di dalam mobil langsung pucat pasi, mereka tercengang dan meneguk ludahnya bersamaan. Mencoba mencerna sejenak kejadian mengerikan yang baru saja terjadi.
"Gila! Kekuatan macam apa itu?" mereka terheran-heran ketika melihat kaca mobil telah runtuh.
"B-bos d-dia datang kemari," ucap salah satu anak buahnya menunjuk Wiliam yang datang.
"Sialll, kalau begitu kita semua turun hadapi dia!" titah ketua geng.
__ADS_1
"Hem!" jawab mereka serentak.
...***...
"Kembalikan wanitaku," pinta Wiliam baik-baik.
"Heh! Ambil saja kalau bisa," mereka tertawa meremehkan Wiliam yang hanya seorang diri.
Ck!
Wiliam mulai berdecak kesal, apalagi melihat Jelita tengah terbaring lemah tidak berdaya. "Kalian apakan wanitaku?" geramnya.
"Kenapa, kita hanya menyimpan tenaganya sebentar. Kau pergilah, sebelum kita semua menghajarmu disini!" ancam si ketua geng.
"Maju saja kalau berani, dan jangan menyesal sesudahnya!" balas Wiliam.
"Banyak bacot! Ayo pukul dia," ajak si ketua geng kepada dua anak buahnya.
Heh!
Tidak butuh waktu lama bagi Wiliam untuk membereskan tiga ikan asin dihadapannya. Karena ketiga pria itu telah berhasil dilumpuhkan dengan satu kali serangan.
Mereka pun meringis kesakitan dan meminta ampun saat Wiliam berusaha mematahkan tangan-tangan lancang yang telah berani menyentuh wanitanya.
"Katakan padaku, tangan mu sebelah mana yang telah berani memukul wanitaku hingga tidak sadarkan diri seperti itu," gertak Wiliam.
"Ampun Tuan, kita mengaku salah. Tolong jangan dipatahkan." Ketua geng merengek seperti bayi.
"Terlambat," balas Wiliam dengan senyuman mematikannya.
"Krak!"
Tulang tangan si ketua geng telah patah, diikuti oleh teriak histeris dari si empunya tangan yang sedang meringis kesakitan.
"Giliran kalian berdua," Wiliam menatap tajam kedua ikan teri di sebelahnya.
"Maaf Tuan, ampuni kami. Jangan sakiti kami Tuan. Biarkan kami pergi dari sini," kedua pria itu memohon ampun.
Wiliam menggila, jiwa petarungnya telah kembali.
Tanpa ragu dia mencekik leher kedua pria dihadapannya itu, dengan menggunakan masing-masing dari kedua tangannya.
Satu tangan kanan dan satu lagi dengan tangan kiri.
"Ampun Tuan," kedua pria itu mengemis meminta ampun saat Wiliam mencekik leher mereka dan menggangkatnya dengan begitu mudah.
Alhasil mereka pun hanya bisa meronta kesakitan.
"Katakan padaku, siapa yang telah menyuruh kalian melalukan ini semua?" tanya Wiliam tanpa melepas cengkraman tangannya pada leher si kedua pria.
"K-kita tidak tahu namanya Tuan, d-dia pria paruh baya memakai jas hitam dan ada luka parut di dahinya," balas salah satu pria itu sengan susah payah karena tercekik.
"Tolong lepaskan kami Tuan, sakit sekali," ucapnya mulai sesak nafas.
Wiliam mengendurkan cengkraman tangan, lalu mengingat pria yang dimaksud tersebut. Dia mengeraskan rahang dan mengepal erat kedua tangannya.
"Om Wijaksana! Kau mulai membuatku habis kesabaran," geram Wiliam lalu menelepon pihak berwajib untuk menangkap ketiga pria yang telah berhasil membuatnya marah.
Wiliam membawa Jelita pergi dari sana dengan mengotongnya ala bride style, karena gadis itu masih belum sadarkan diri akibat menerima pukulan keras dibelakang kepalanya.
.
.
__ADS_1
Bersambung.