Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 118. Menghukum Floren


__ADS_3

Mansion Wijaksana.


Nyonya Berta semakin cemas ketika melihat putri kesayangannya hanya mengurung diri di dalam kamar. Dia begitu khawatir karena sesekali mendengar putrinya itu berteriak diiringi suara barang berjatuhan di dalam sana.


"Sayang, jangan mengurung diri terus. Keluarlah," ucap Nyonya Berta di depan pintu kamar Floren yang terkunci.


"Pergi! Kalian tidak menyayangiku, kaian tidak bisa memberikan apa yang aku inginkan!" sahut Floren dari dalam.


Nyonya Berta menangis. "Sayang, jangan menyiksa dirimu. Michael sudah tidak pantas untuk dirimu lagi, lupakan saja dia. Kau itu sangat cantik dan juga sekssi, sudah pasti banyak pria tampan dan kaya lainnya yang akan mau denganmu."


"Tidak mau! Aku hanya ingin Mike seorang!" sahut Floren kembali. Kali ini dia melempar sesuatu di pintu kamarnya hingga Nyonya Berta terjingkat.


Brak!


Nyonya Berta mengusap dadanya karena terkejut dan kembali membujuk Floren. "Sayang jangan seperti itu, keluarlah dari kamar. Kita bisa pergi jalan-jalan atau ke tempat manapun agar kau tidak sedih lagi."


"Pergi! Sebelum kalian membawa Mike untukku, maka aku tidak akan keluar dari kamar ini!" sahut Floren masih tetap dengan pendiriannya yang teguh.


"Baiklah, Mami akan bawakan Michael untukmu. Tapi berjanjilah sayang, untuk keluar dari kamarmu dan berhenti menyiksa dirimu seperti itu sayang," balas Nyonya Berta.


Tak berapa lama kemudian Floren membuka pintu kamarnya dan menatap ibunya yang masih setia berdiri di depan pintu kamar. "Benarkah Mami akan membawa Mike kepadaku?"


Nyonya Berta mengangguk. "Benar sayang, demi kamu. Apapun Mami akan lakukan," balasnya.


Floren memeluk Ibunya. "Terima kasih ... Kau harus menepati janjimu Mam, bawa Mike kepadaku. Aku ingin sekali dia bertekuk lutut dihadapanku dan mengemis cinta kepadaku, dengan begitu aku baru puas menghukumnya."


"Iya sayang. Iya Mami akan membawa Mike untuk berlutut dihadapanmu," balas Nyonya Berta menyakinkan putrinya sendiri.


Walaupun dia tahu itu mustahil, namun mau bagaimana lagi. Nyonya Berta menjanjikan kepada Floren terlebih dahulu dan memikirkan caranya kemudian.


Setidaknya dengan begitu dia bisa melihat putrinya kembali semangat menjalani hidup.


...***...

__ADS_1


Tuan Wijaksana merasa gusar setelah mendengar perkataan Nyonya Berta, mengenai putrinya yang masih bersikukuh menginginkan Michael, yang notabenenya sudah menolak mereka mentah-mentah.


Dia menampar istrinya sendiri karena telah menjanjikan sebuah harapan palsu kepada Floren, mengingat hal tersebut hanya akan menyusahkan dirinya saja.


"Sudah berapa kali ku katakan, jangan memanjakan anak itu! Kau menjanjikan dia sesuatu yang sulit untuk dipenuhi oleh kita. Kau pikir mudah membawa si Michael itu kehadapannya. Bagaimana caranya hem! Bagaimana!" bentak Tuan Wijaksana.


Nyonya Berta meringis dan mengelus pipinya yang terasa panas.


"Sayang mau bagaimana lagi, aku tidak ingin melihat putriku terus saja putus asa seperti itu. Dia baru mau keluar kamar, ketika aku bilang akan membawa Michael kepadanya."


"Sayang bantulah aku untuk mengabulkan semua permintaannya itu," mohonnya sambil berlutut di kaki Tuan Wijaksana.


Tuan Wijaksana menghentak kakinya. "Bodoh! Dasar bodoh! Sudah tahu anak kita tidak boleh dijanjikan sesuatu, karena sudah pasti dia akan terus menerus menangih janjimu!" bentaknya karena kesal.


Nyonya Berta terisak. "Sayang, aku harus bagaimana. Floren adalah anak kesayangan kita, mana mungkin kau tega membuatnya sedih terus seperti itu. Pikirkan lah juga kebahagian dia sayang, aku mohon bantulah Floren anakmu."


Tuan Wijaksana meninju udara disekitar dan menghela nafas meredam rasa kesalnya. "Kurasa sudah cukup, aku tidak mungkin melawan Tuan Besar, karena kekuasaannya yang begitu tinggi. Jika aku membuatnya kecewa lagi, maka bisnisku akan tamat."


Nyonya Berta menggeleng dan memeluk kaki suaminya yang ingin pergi. "Jangan sayang, jangan hukum Floren kita, dia itu masih kecil. Putriku tidak bersalah, yang salah itu adalah Michael dan Mamynya itu, karena telah mencampakan putri kita. Belum lagi keluarga nyonya Stefani yang ikut menusuk kita dari belakang."


Tuan Wijaksana mengepal erat tangannya lalu menatap wajah istrinya karena kesal. "Mereka tidak bersalah, kau yang salah! Kau yang telah bersalah Berta, karena kau yang terlalu memanjakan putrimu sendiri. Kau selalu saja memenuhi permintaannya yang aneh-aneh. Ini semua karena dirimu yang tidak becus mendidik anak!"


Tuan Wijaksana menghentak kakinya agar terlepas dari pelukan Nyonya Berta, lalu pergi ke kamar Floren untuk menasehati putrinya yang keras kepala.


...***...


"Sayang jangan marahi Floren!" Nyonya Berta memeluk Floren yang menangis karena di tampar oleh Ayahnya sendiri.


"Minggir jangan pernah menghalangiku dalam mendidik anak!" bentak Tuan Wijaksana seraya melepas pelukan istrinya.


"Marahi saja aku! Kalian memang tidak menyayangiku lagi, kalian adalah orang tua yang payah. Karena tidak bisa membahagiakan putrinya sendiri!" balas Floren tidak kalah emosinya.


"Diam!" bentak Tuan Wijaksana dengan satu tamparan lagi di pipi Floren sebelah kiri.

__ADS_1


"Tampar saja aku lagi, kalau perlu bunuh saja anakmu ini!" bentak Floren dia menangis dan memarahi Ayahnya sambil menunjuk kedua pipi yang sudah merah.


Nyonya Berta menggeleng dan menahan tangan suaminya yang terangkat ingin memukul putrinya lagi. "Jangan sayang, pukul saja aku. Aku yang bersalah, kau benar aku yang telah gagal mendidik putriku."


"Pukul saja, untuk apa mendengarkan kata orang lain. Aku memang tidak berguna, tidak bisa memenuhi semua ambisimu untuk memperkaya diri dan menambah kekuasaan mu agar jadi orang nomor 1. Tapi itu juga bukan lah salahku, karena kau sendiri juga tidak berguna. Tidak bisa merebut perusahaan Opa dari tangan Wiliam, yang usianya jauh lebih muda darimu! K__"


"Floren!" bentak Tuan Wijaksana, dia benar-benar gusar kali ini.


"Hentikan sayang, jangan pukul dia!" sergah Nyonya Berta kepada suaminya. Dia kemudian menoleh ke Floren. "Sayang, jangan berkata tidak sopan pada Papi mu sendiri. Sekarang minta maaflah padanya, dia pasti akan memaafkanmu dan memenuhi semua keinginanmu."


Nyonya Berta mengangguk untuk menyakinkan putrinya sendiri.


"Aku sudah tidak percaya kepada kalian, aku tidak akan pernah meminta maaf atau menurut kepada kalian lagi sebelum Mike benar-benar jatuh ke dalam pelukanku! Sekarang pergilah dari kamarku!" bentak Floren dan menutup pintunya rapat-rapat.


Tuan Wijaksana menggertakan giginya karena merasa geram dengan tingkah laku Floren yang semakin kurang ajar. Ditambah lagi istrinya yang selalu membela kesalahan-kesalahan Floren.


"Ini semua salahmu! Lihat saja anak itu akibatnya nanti, karena dia telah berani membangkang padaku!" geram Tuan Wijaksana.


"Kau ingin apa sayang?" tanya Nyonya Berta ketika melihat suaminya pergi.


"Aku akan menghukum anak itu ... Dia akan segera ku nikahkan dengan pria pilihanku, dan dia akan ku usir dari sini setelah menikah nanti."


Tuan Wijaksana menunjuk wajah istrinya. "Dan kau jangan pernah ikut campur atau melarangku dalam mengambil keputusan."


"Tapi sayang, Floren hanya mencintai Michael seorang. Dan aku yakin dia pasti akan menolak ajakan pria lain untuk menikah," balas Nyonya Berta merasa tidak setuju dengan keputusan suaminya.


"Cukup! Aku tidak peduli dia mau cinta atau tidak dengan pria lain pilihanku itu. Tapi satu hal yang pasti, aku tidak ingin mendengar kau menyebut nama anak itu lagi!" bentak Tuan Wijaksana.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2