
Restoran.
Hari ini Wiliam sengaja tidak pergi bekerja ke kantor karena ingin menghabiskan masa liburnya bersama dengan Jelita. Karena tepat di tanggal ini, wanitanya itu baru saja menginjak usia yang ke 20 tahun.
Oleh karena karena itu, Wiliam berencana membuat hadiah kejutan untuk calon istri tercintanya.
Pria itu mengajak Jelita ke restoran miliknya sendiri dan memesan ruangan khusus hanya untuk dua orang di dalamnya. Sebuah ruangan spesial hanya untuk seseorang yang paling istimewa dalam hidupnya.
Setibanya di restoran, Wiliam segera mengandeng tangan Jelita dan membawa nya menuju ruangan tersebut yang berada dilantai paling atas, dengan menaiki sebuah lift.
Melihat ada yang aneh dengan Wiliam, Jelita merasa curiga. Karena selama perjalanan menuju ke tempat ini, pria yang sedang menggandeng tangannya itu selalu senyam senyum sendirian saja.
"Wil, kenapa kau membawaku kesini? Apa yang membuatmu tersenyum sendiri?" tanya Jelita
"Mau makan malamlah, memangnya mau apalagi. Nanti juga kau tahu," balas Wiliam sambil menekan angka pada tombol lift.
"Apa yang sedang kau sembunyikan?" tanya Jelita mulai penasaran.
"Semua jawabanmu ada di lantai atas, di dalam sebuah ruangan khusus," balas Wiliam.
"Di dalam ruangan paling atas?" tanya Jelita kembali.
"Benar, ada yang ingin ku tunjukkan padamu," balas Wiliam.
"Apa itu?" tanya Jelita penasaran.
Wiliam tidak menjawab pertanyaan tersebut, dia terus mengajak Jelita hingga ke tempat yang dituju.
Setibanya mereka di depan pintu ruangan yang dimaksud, Wiliam menghentikan langkah dan melepaskan genggaman tangannya. Dia berjalan dan berdiri tepat dibelakang Jelita.
"Wiliam, kenapa kau malah berdiri dibelakangku?" tanya Jelita.
"Tunggu sebentar," ucap Wiliam lalu meraih sebuah kain panjang dari tangan pelayan hotel yang terulur ke arahnya.
"Untuk apa kain itu Wil?" tanya Jelita sangat bingung dengan tingkah laku Wiliam.
"Sebelum kita masuk, aku ingin menutup dulu matamu," balas Wiliam sambil mengikatkan kain untuk menutup mata Jelita.
"Kenapa mataku ditutup Wil, aku tidak bisa melihat kalau begini," balas Jelita sembari meraba kain penutup pada matanya.
"Tenang saja, aku akan menuntunmu." Wiliam meraih salah satu tangan Jelita dan mulai melangkah masuk, ketika pelayan telah siap membukakan pintu untuk mereka.
"Ayo kita masuk," ajak Wiliam kemudian melangkah masuk bersama-sama ke dalam ruangan tersebut.
Sesampainya di dalam ruangan, Wiliam menghentikan langkahnya. Lalu memberi kode kepada semua pelayan restoran disana untuk pergi meninggalkan mereka berduaan saja di dalam.
Tanpa banyak kata semua pelayan dalam ruangan itu pun pergi, setelah selesai dengan tugasnya dan menunggu di depan ruangan hingga keduanya selesai.
Tidak lupa mereka menutup pintu kembali, sebelum keluar dari ruangan tersebut.
"Wil, apa kain penutup ini sudah boleh ku buka?" tanya Jelita dengan sejuta rasa penasarannya.
__ADS_1
"Tunggu, biar aku saja yang membuka ikatannya," balas Wiliam lalu kembali berdiri di belakang Jelita.
Wiliam perlahan melepaskan ikatan yang menghalangi pandangan mata Jelita, dengan raut wajah tidak sabar ingin sekali melihat reaksi apa yang dikeluarkan oleh wanitanya itu saat pertama kali melihat hadiah pemberian darinya.
"Sudah, sekarang kau boleh lihat," ucap Wiliam lalu memeluk Jelita dari belakang sambil menunggu reaksi dari wanitanya.
Perlahan Jelita membuka mata dan mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali, saat kain penutup tersebut mulai terlepas dari indera penglihatannya. Untuk menyesuaikan sejenak matanya itu dari cahaya yang baru saja ia terima.
Setelah dirasa cukup mengucek matanya, Jelita pun mulai menatap seisi ruangan. Dirinya begitu terkejut ketika melihat ruangan tersebut telah di hias sedemikian rupa untuk dirinya.
Jelita hanya bisa berdiri mematung sambil terus menutupi mulutnya yang menganga.
Matanya seakan tidak bisa berhenti mengedarkan pandangannya ke sekeliling, pada seisi ruangan tersebut. Dan dia terus saja tertegun karena takjub, melihat begitu banyak dekorasi indah disetiap sudut khusus untuk dirinya.
Balon-balon berwarna merah dan pink tersusun rapi, menghiasi salah satu sudut ruangan ruangan. Bahkan balon berbentuk bibir dan juga kata Love terpampang nyata di sudut sana.
"Cantik sekali," ucap Jelita.
Wiliam tersenyum lalu menunjuk salah satu sudut ruangan lagi dengan menggeser sedikit bahu Jelita agar mengikuti kemana arah ia membawanya.
Dan kali ini Jelita kembali takjub, matanya seakan tidak berhenti berkedip, ketika melihat dekorasi bertuliskan Happy Birthday dengan balon berangka 20 cukup besar, berdiri manis diantara banyaknya balon kecil.
"Happy Birthday sayang, selamat ulang tahun untukmu Jelitaku," bisik lembut Wiliam dibelakang telinga Jelita, dibarengi sebuah pelukan dan kecupan hangat yang mendarat tepat di ceruk lehernya.
Jelita tidak menyangka jika Wiliam bisa tahu jika hari ini adalah hari ulang tahunnya, padahal dia sendiri tidak pernah memberi tahu kepada siapapun tentang lahirnya termasuk kepada Wiliam sendiri.
Wiliam mengangguk. "Hem .. Aku tahu semua tentangmu dari Ibu, untuk itulah aku menyiapkan semua ini untukmu," balasnya.
Tak terasa air mata Jelita jatuh begitu saja, membanjiri seluruh pipinya hingga basah. Ada perasaan bahagia bercampur haru menjadi satu di dalam hatinya.
Ketika mendapat perhatian dari Wiliam kepadanya yang luar biasa, terkadang Jelita berpikir kembali. Untuk apa lagi ia takut dengan Wiliam, karena pria itu sudah terbukti sangat baik kepadanya, menyayangi dan juga mencintai dirinya sepenuh hati.
Jelita terus saja menangis dan tidak bisa menghentikan air matanya yang terus berderai.
"Maaf, aku tidak bisa berhenti menangis," isak Jelita.
Wiliam memutar tubuh Jelita agar bisa berhadapan dengannya lalu menghapus air mata yang membasahi pipi gadis itu dengan kedua ibu jarinya.
"Jangan menangis lagi, ini ku buatkan khusus untukmu. Selamat ulang tahun," ucap Wiliam sekali lagi, kemudian mendaratkan sebuah ciuman hangat dibibir wanitanya sekilas.
"Terima kasih Wiliam," balas Jelita tanpa banyak kata-kata.
Karena hanya itu yang bisa dia ucapkan atas pemberian dari Wiliam. Ini kali pertama, Jelita mendapat hadiah terindah dalam hidupnya.
"Terima kasih," ucapnya sekali lagi, lalu memeluk tubuh Wiliam dengan erat.
Wiliam membalas pelukan itu dan menjawab. "Sama-sama."
__ADS_1
Pria itu senang sekali karena berhasil memberikan kejutan untuk wanita yang ia cintai dan yang membuatnya turut bahagia adalah ketika melihat wanitanya itu merasa bahagia.
Wiliam mengurai pelukannya, lalu meraih tangan Jelita dan menuntunnya kembali. Dia menggeser pintu kaca pada ruangan dan menuju area balkon yang berada di depan restoran tersebut.
Pemandangan indah kembali terlihat, ketika suasana sunyi nan temaram dengan ditemani angin malam menerpa lembut wajah mereka berdua.
Wiliam senantiasa menuntun Jelita berjalan, mengajaknya menuju tempat untuk mereka melakukan ritual makan malam. Keduanya saling memandang dan tersenyum satu sama lain, sesekali diselingi tawa kecil menghiasi malam bahagia mereka.
Hingga tibalah mereka di sudut balkon sana, terlihat sebuah meja khusus untuk dua orang telah tertata dengan rapi.
Lilin malam menghiasi atas meja itu dengan taburan kelopak mawar sebagai pemanisnya, ditambah lagi pemandangan malam yang indah, menambah kesan romantis dari makan malam mereka kali ini.
Jelita kembali menganga, karena Wiliam berhasil membuatnya terkejut kembali. Dia hanya menatap Wiliam tanpa bisa berkata-kata lagi.
Wiliam mengangguk sambil tersenyum dan menarik kursi untuk Jelita duduk. "Sekarang duduklah, kita akan makan malam."
Jelita menurut dan duduk. "Terima kasih," balasnya.
"Sama-sama," lalu Wiliam pun duduk.
Mereka mulai menikmati makan malam, namun sebelum itu terjadi. Wiliam kembali memberi satu kejutan untuk Jelita.
Pria itu menjentikkan jari kepada seseorang, untuk membawakan sesuatu ke hadapan mereka berdua.
Tanpa banyak pikir, pelayan itu menundukkan badan tertanda mengerti. Kemudian mengambilkan sesuatu yang telah disiapkan sebelumnya.
"Jelita ... Tutup matamu kembali," pinta Wiliam dan Jelita menurut. Dia menutup kedua matanya sebelum pelayan itu membawakan sesuatu kehadapannya.
Tak berapa lama kemudian lampu dimatikan kembali, hanya seberkas lilin-lilin kecil menerangi mereka dikegelapan malam.
Wiliam tersenyum dan menatap Jelita yang masih terpejam.
"Sekarang bukalah matamu," pinta Wiliam kembali dan Jelita mengangguk.
Gadis beruntung itu pun membuka kedua mata indahnya dan dia kembali tersentuh, karena sebuah kue telah berada tepat dihadapannya dengan untaian kata Happy Birthday dari Wiliam.
"Selamat ulang tahun Jelita," ucap Wiliam sekali lagi, dengan senyuman lembutnya di antara cahaya lilin pada kegelapan malam.
...----------------...
Sementara itu ditempat yang berbeda, Michael memandangi foto Jelita dan dia mengingat tanggal penting dihari ini.
"Selamat ulang tahun Jelita," ucap Michael kemudian menyimpan kembali foto Jelita ke dalam kotak kenangannya.
.
.
__ADS_1
Bersambung.