Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 37. Tidak enak hati.


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Jelita, ini adalah seragam sekolah dan juga satu set peralatan sekolahmu yang baru, karena besok kamu sudah mulai belajar disana," ucap Nyonya Caca sambil menyerahkan sepaket peralatan sekolah untuk Jelita.


"Terima kasih Bu," balas Jelita dan menerima pemberian tersebut.


"Sama-sama ... Mengenai pergi sekolah besok, minggu pertama kamu akan di antar jemput oleh Roy, supir pribadi Ibu dan minggu selanjutnya kamu bisa menggunakan transportasi umum," ucap Nyonya Caca memberikan penjelasan.


"Baik Bu ..." balas Jelita patuh.


Nyonya Caca kemudian memberikan sejumlah uang. "Ini uang transport dan juga uang saku untuk kamu senilai 300 ribu rupiah, dimana uang itu untuk enam hari sekolah dalam satu minggu. Jadi setiap minggunya kamu harus datang kesini untuk mengambil uang tersebut."


Jelita mengangguk dan menerima uang dari Nyonya Caca. "Baik Bu, terima kasih." Jelita kemudian merenung, membuat Nyonya Caca bertanya, "Ada apa Jelita, kenapa kamu diam saja?"


"Hem ... Bukankah satu minggu ini, Jelita akan diantar jemput. Jadi lebih baik uang transportnya dipotong saja Bu," balas Jelita.


Nyonya Caca mengulum senyum. "Tidak apa Jelita, itu sudah menjadi hak mu. Jadi terima lah, kamu bisa gunakan uang tersebut untuk keperluan lain saja atau setidaknya di tabung."


"Baiklah," balas Jelita, kemudian Nyonya Caca mengulurkan sebuah buku untuk di tandatangani. "Tanda tangan disini, untuk bukti kamu telah menerima uangnya."


Jelita mengangguk dan membubuhkan tanda tangan miliknya pada halaman di sebuah buku, dimana telah berisi nama, tanggal dan juga sejumlah uang yang diterima oleh Jelita. Sebagai bukti penerimaan dan juga untuk arsip lainnya.


"Sudah Bu," ucap Jelita sambil mengembalikan buku tersebut kepada Nyonya Caca.


"Terima kasih ... Oiya Jelita apa kamu bisa tidur semalam?" tanya Nyonya Caca.


Jelita menggeleng dan Nyonya Caca segera bertanya. "Kenapa, apa kurang nyaman?"


"Bukan begitu Bu, tempatnya sangat nyaman. Mungkin karena bukan rumah sendiri, jadi tidak terbiasa. Tidur di kasur empuk, ruangan yang dingin. Jelita tidak terbiasa dengan semua itu, di tambah lagi tidak ada pekerjaan rumah ...." Jelita terdiam memikirkan sesuatu.


Nyonya Caca menghela nafas dan mengerti dengan keinginan anak asuhnya itu yang merasa tidak enak hati. "Baiklah, kamu bisa bekerja di rumah ini. Apa saja yang bisa kau lakukan, maka kerjakan lah. Nanti bicarakan dengan Bi Sari ya, dia yang akan mengatur pekerjaanmu disini."


Jelita mengembangkan senyumannya dan menggenggam kedua tangan Ibu asuhnya itu tanpa permisi. "Terima kasih Ibu, Jelita berjanji akan bekerja disini dan melayani keluarga ini dengan baik."

__ADS_1


Nyonya Caca mengulum senyum melihat anak asuhnya yang kembali semangat. "Sama-sama."


Jelita terkejut dan segera menarik kedua tangannya itu, saat menyadari dirinya secara tidak sengaja menggenggam erat tangan sang Nyonya Besar. "Ah maaf Nyonya ... Ah tidak maksud ku Ibu, maaf Jelita tidak sengaja."


Nyonya Caca pun terkekeh. "Tidak apa sayang, hanya saja tanganmu sedikit kasar," ucap Nyonya Caca sedikit menyindir anak asuhnya itu.


"Maaf Ibu, tanganku memang kasar, tapi ... ini lah bukti kerja kerasku." Jelita tersenyum dan memandangi kedua telapak tangannya, membuat hati sang Nyonya terenyuh.


"Kau anak yang baik, aku hanya bisa mendoakanmu. Semoga suatu hari nanti kau bisa sukses dan hidup bahagia. Amin!"


"Amin ... Terima kasih," balas Jelita.


"Sama-sama, sekarang buatkan Ibu jus tomat!" titah Nyonya Caca dan dengan segera Jelita mengangguk mantap. "Baik Ibu!"


Jelita keluar dari ruang kerja Nyonya Caca dan bergegas menuju dapur dengan suka cita, membuat sepasang mata pria tampan yang sedang menuruni anak tangga menatap heran.


"Ada apa dengan dia, keluar dari ruangan Mamy sambil senyam senyum tidak jelas," ucap Michael lalu berjalan menuju dapur hendak mengambil sesuatu.


***


"Terima kasih Bi Sari, sampai disini biar Jelita saja yang mengerjakannya," ucap Jelita berterima kasih kepada Bi Sari, karena telah mengajarkan gadis itu cara menggunakan sebuah alat yang di sebut Juicer.


"Ya sama-sama Nak Jelita. Kalau begitu Bibi tinggal dulu ya, mau urus pekerjaan yang lain," balas Bi Sari dan Jelita mengangguk. "Baik Bi."


Bi Sari kemudian meninggalkan Jelita sendirian di dapur.


"Oke sudah siap. Hem ... jus tomat," celoteh Jelita lalu membawa jus itu untuk diberikan kepada Nyonya Caca.


Saat dirinya hendak masuk ke dalam dapur, Michael berpapasan dengan Jelita. Mereka saling mengalah memberi jalan, namun sayangnya mereka selalu menghindar ke tempat yang sama. Hingga mereka pun tidak bisa melewati satu sama lain.


"Jangan mengikuti ku menghindar ke arah yang sama. Harusnya jika aku menghindar ke arah sini, kau menghindar ke arah sana agar kita bisa lewat," ucap Michael menceramahi Jelita, namun yang diceramahi malah bengong saja.


"Cih!"

__ADS_1


Michael kemudian menepi membiarkan Jelita lewat terlebih dahulu. "Sudahlah, kau lewat duluan."


"Baik ... Terima kasih Tuan," balas Jelita kemudian menatap Michael yang tidak suka. "Ah Maksudku Michael," balas Jelita lalu melewati pria disampingnya.


"Hem harum sekali," ucap Jelita pelan.


***


Jelita mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruang kerja Nyonya Caca, dengan hati-hati Jelita menaruh jus itu diatas meja.


"Terima kasih," ucap Nyonya Caca tersenyum ke arah Jelita.


"Sama-sama," balas Jelita sambil menaikkan kacamatanya yang merosot.


"Jelita nanti pergilah periksakan matamu dan ganti kacamatamu itu dengan yang baru. Nanti Ibu akan minta seseorang untuk mengantarmu ke optik," ucap Nyonya Caca merasa gemas dengan kacamata Jelita yang sudah tidak layak pakai.


"Baiklah Ibu," balas Jelita.


Nyonya Caca kemudian menghubungi seseorang untuk mengantar Jelita, namun sayangnya tidak ada yang bisa menemaninya untuk pergi ke optik.


Nyonya Caca mendesis. "Ss ... Aku lupa jika semua orang dan supir sedang sibuk mengurus pekerjaan Nael, bagaimana ya? siapa lagi yang bisa membantuku" gumam Nyonya Caca.


"Ibu, jika tidak bisa tidak apa-apa, aku bisa beli lain hari. Kacamata ku ini memang tidak bagus, tapi masih berfungsi dengan baik," ucap Jelita tidak ingin merepotkan Ibu asuhnya itu.


"Tidak apa Nak, kamu besok kan sudah mulai sekolah dan aku ingin kamu tidak ada kesulitan dalam belajar. Karena kacamatamu itu yang terlihat sudah tidak baik akan menganggumu saat melihat pelajaran nanti," balas Nyonya Caca lalu kembali berpikir.


Jelita pun mengangguk samar dan membiarkan Nyonya itu membantu dirinya, karena Jelita telah berjanji sebelumnya akan mematuhi semua perintah dan permintaan ibu asuhnya yang baik hatinya tidak ketulungan.


Tak berapa lama kemudian, Nyonya Caca menjentikkan jari, dia lalu menatap Jelita dan tersenyum.


"Jason ... Ya, dia bisa mengantarmu pergi kesana!" seru Nyonya Caca lalu segera menghubungi alumni anak asuh kebanggaannya itu.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2