Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 38. Ikut bersama.


__ADS_3

Tak berapa lama kemudian, Pria berkarakter kuat itu menampakkan diri, membuat Jelita tak bisa mengalihkan pandangannya. Kedua netranya itu senantiasa mengikuti kemanapun pria matang itu melangkahkan kaki.


Jason yang baru tiba dengan segera menghampiri Nyonya Caca.


"Siang Ibu, ada apa tiba-tiba memanggilku kesini?" tanya Jason dengan tangan kanan yang masih menggenggam kunci mobil, dan Nyonya Caca langsung tak berdiam diri. Dia segera menyambut Jason layaknya putra sendiri.


"Siang Jason anakku. Marilah duduk dulu sayang," ucap Nyonya Caca meminta Jason untuk duduk.


"Begini Jason, Ibu minta tolong kamu antarkan Jelita ke optik untuk ganti kacamatanya yang sudah tidak layak itu ya," ucap Nyonya Caca menunjuk-nunjuk kacamata Jelita.


Lensa tebal berbentuk bulat, bergagang hitam itu sudah miring tidak karuan, terkadang lepas sendiri dari tempatnya. Ditambah goresan pada kedua lensa, menambah kesempurnaan dari tidak layaknya kacamata Jelita.


Jason menatap Jelita dan mengangguk mengerti. Sementara itu, gadis yang sedang ditatap oleh Jason langsung tertunduk menyembunyikan wajah. Merasa tidak percaya diri jika ditatap langsung oleh lelaki berbadan tegap dan berkharisma dihadapannya itu.


"Baiklah Ibu, aku akan mengajak dia ke optik yang paling bagus di kota ini," balas Jason.


"Ah terima kasih Jason. Pilihkan kacamata yang bagus untuknya dan kalau bisa jangan yang terlalu tebal. Aish lihatlah kacamata dia itu, sungguh jelek sekali!" ucap Nyonya Caca berbisik di telinga Jason, tapi terdengar juga oleh Jelita.


Wajah Jelitapun memerah karena malu, sementara itu Jason hanya tersenyum kecil.


"Tenang Ibu, aku tidak akan mengecewakanmu," balas Jason. Kemudian dia mengatakan sesuatu kepada Jelita, "Jelita ... sebelum kita pergi, tukar dulu pakaianmu. Karena optik itu berada di dalam supermall."


"Mall ...." ucap Jelita lalu menunduk, menatapi penampilannya dari tengah hingga ke ujung kaki. "Baiklah, tunggu sebentar," balas Jelita kemudian bergegas menuju kamarnya untuk bertukar pakaian.


***


Sesampainya di dalam kamar, Jelita langsung mengobrak-abrik isi lemari pakaiannya. Mencoba mencari pakaian yang sesuai, namun tidak ada yang pantas.


"Pakai baju apa? aku tidak punya baju bagus. Selama ini hanya ada kaos biasa dan celana jeans panjang, yang paling bagus juga hanya ada satu. Sudah butek lagi," Jelita menghela nafas lalu memakai pakaian seadanya.


Setelah selesai bertukar pakaian, dia berpamitan kepada ibunya dan juga suster Desi.


"Ibu Jelita pergi sebentar ya," Jelita mencium dan memeluk Ibunya," dan Ibu tersenyum.


"Sus, Jelita titip Ibu sebentar ya."

__ADS_1


Suster Desi mengulum senyum. "Iya Jelita, hati-hati ya."


***


Jelita berlari menuju dapur belakang, dimana dapur itu adalah tempat terdekat dari kamar Jelita dan jika dirinya ingin masuk ke rumah utama, Jelita hanya tinggal melewati dapur tersebut.


Gadis itu berlari dan saking terburu-burunya dia tidak melihat Michael yang baru saja masuk ke dalam dapur.


Brugh!


Tabrakan tanpa disengaja itupun tak terelakkan, membuat keduanya terjatuh bersama. Namun tidak sampai terguling-guling.


"Auwh ... Hei, mata mu kemana!" pekik Michael ketika tubuhnya tertimpah Jelita.


"Ah maaf!" Jelita segera merangkak, mencari-cari kacamatanya yang terjatuh, "Dimana ... dimana kacamataku?" Jelita meraba sekeliling lantai.


Michael lalu bangkit sambil mengusap pantatnya yang terasa ngilu. Dia kemudian berjongkok membantu mencari dan saat menemukannya, Michael segera memberikan kacamata itu kepada Jelita dalam kondisi rusak total.


"Sudah remuk ... Maaf sepertinya terinjak olehku tadi," ucap Michael merasa bersalah.


Jelita berdiri perlahan, lalu disusul oleh Michael. "Tidak apa, memang sudah seharusnya diganti," balas Jelita.


Michael menatap wajah Jelita tanpa kacamata dengan lekat. Seperti sayang jika melewatkannya. "Kau ingin pergi kemana?" tanya Michael.


"Hem, aku ingin pergi dengan Kak Jason ke Mall."


"Mall?" ucap Michael menaikkan satu alisnya. Dia kemudian menelisik penampilan Jelita yang tidak ada modisnya sama sekali.


"Kau ingin ke Mall dengan pakaian seperti ini?" tanya Michael dan Jelita mengangguk. "Memangnya kenapa? ini sudah bagus menurutku," balas Jelita lalu menunduk menatapi kembali penampilannya.


Michael mencubit baju Jelita lalu diangkatnya seperti jijik. "Kau mau pakai baju seperti ini, lihat kerah bajunya saja sudah meleber begitu,"


Michael terkekeh lalu menatap celana Jeans Jelita. Diapun melipat bibirnya ke dalam dengan kuat menahan tawa. "Celana tahun berapa itu, sudah ketinggalan jaman sekali dan lebih parahnya lagi kau ingin memakai sendal jepit usang begitu ke dalam Mall. OMG!"


Michael menggelengkan kepala, lalu tak lama kemudian suara tawanya itu pun pecah. Pria tampan itu tertawa lepas sambil memegang perutnya yang terlihat kencang, sesekali satu tangannya bergantian menutup wajah.

__ADS_1


Membuat Jelita merasa malu, wajahnya menjadi semu. Dia perlahan mengangkat kedua bahunya tinggi-tinggi. Ingin rasanya seperti seekor kura-kura yang bisa memasukkan kepalanya ke dalam cangkang.


Ah malu sekali pikir Jelita. Dia hanya bisa melihat Michael tertawa begitu senang ketika meledek dirinya.


"Miki ..." tiba-tiba suara Nyonya Caca terdengar ke dalam gendang telinga Jelita dan seketika itu pula Michael berhenti tertawa.


"Mamy, sedang apa disini?" tanya Michael sambil memegang perutnya yang sakit karena tertawa.


Nyonya Caca mendengus kesal melihat anaknya berlaku tidak pantas. "Kau begitu jahat terhadap seorang gadis," ucap Nyonya Caca lalu mendekati Jelita.


"Ah maaf. Michael hilang kendali Mom," balas Michael lalu bertalak pinggang dan membuang nafas sisa-sisa tertawa.


Nyonya Caca menelisik penampilan Jelita dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Dia lalu menoleh ke arah Jason yang baru saja tiba di dapur.


"Jason ... Nanti setelah sampai disana, sekalian kamu belikan pakaian untuk Jelita ya. Pakai uangmu dulu, besok Ibu ganti. Maaf ya, Ibu sedang tidak ada uang tunai dan kartu Ibu juga sudah limit untuk hari ini," ucap Nyonya Caca dan Jason mengangguk pelan.


"Baik Ibu tidak perlu sungkan," balas Jason lalu menoleh ke arah Jelita. "Jelita ayo kita berangkat."


"Baik Kak ..." ucapnya patuh lalu mengekor dibelakang Jason.


Michael kemudian menghampiri Ibunya, "Mamy ... Mike baru ingat ingin pergi ke toko buku. Ada sesuatu yang harus di beli, boleh Mike pergi naik motor?" tanya Michael meminta ijin.


Nyonya Caca menatap anaknya ragu. "Miki, bukannya Mamy melarangmu naik kendaraan roda dua itu tapi, kamu itu belum punya SIM sayang," balas Nyonya Caca menangkup sisi wajah Michael.


Namun Michael terlihat bingung. "Lalu Mom, Mike pergi dengan siapa? Bukankah semua supir sudah dipakai oleh Daddy untuk mengurus pekerjaannya?" tanya Michael.


Nyonya Caca mangut-mangut lalu menatap putranya. "Sayang ... Jika kamu memang ingin pergi, lebih baik kamu ikut saja dengan Jason. Lagi pula toko buku itu bukan kah ada di dalam Mall besar itu juga. Ya kan," balas Nyonya Caca.


Michael mencebik bibirnya merasa tidak setuju dengan ide Mamynya. Lagipula dia juga merasa malu jika harus ikut dengan mereka, namun mengingat tugas kuliahnya yang tidak bisa dibatalkan diapun akhirnya setuju.


"Baiklah Mom, Mike akan ikut Jason kesana," balas Michael dan Nyonya Caca langsung tersenyum. "Nah gitu donk, kan kalian jadi bisa jalan-jalan bersama. Ingat bantu Jason menjaga Jelita dan jangan menyusahkan anak asuh Mamy itu."


"Oke Mom," balas Michael lalu berlari mengejar mobil Jason agar tidak tertinggal jauh.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2