
Mansion Wiliam.
Setibanya di rumah, Wiliam langsung membawa Jelita ke dalam kamar Ibu Maria yang berada di lantai bawah. Semua orang di dalam rumah pun begitu cemas, mendapati Jelita pulang dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Mereka pun berbondong-bondong masuk ke dalam kamar Ibu Maria untuk melihat keadaan Jelita.
"Tolong kalian bawakan pakaian ganti untuk Jelita," titah Wiliam, kepada siapapun maid yang berada disana.
"Baik Tuan Muda," patuh salah satu maid disana, lalu bergegas pergi mengambilkan beberapa potong pakaian untuk Jelita.
Sementara itu Wiliam segera keluar dari kamar tersebut, selama para maidnya mengurus dan mengganti pakaian Jelita.
Dia terduduk dibangku yang berada tidak jauh dari kamar Ibu Maria dan memikirkan sesuatu, tentang kejadian yang baru saja terjadi.
"Ini sudah kelewatan dan aku tidak akan memaafkan semua perbuatanmu kali ini. Kau boleh saja menyakitiku, tapi tidak kepada orang-orang terdekat yang ku cintai."
"Sudah waktunya aku bertindak tegas, membalas semua kejahatan yang pernah dilakukan oleh orang jahat itu sejak dulu," gumam Wiliam menuntut balas dalam hati.
Menghukum orang yang telah menghancurkan keluarganya terdahulu, dengan caranya sendiri.
...***...
Ibu Maria yang kala itu sedang berada di dapur bersama Bi Nina pun begitu heran, karena mendapati Wiliam tengah duduk melamun di depan kamarnya.
"Nina ... Sepertinya itu Wiliam, ada apa dengannya itu. Ayo kita ke sana," ucap Bu Maria.
"Iya Bu Maria itu Tuan Muda, mari kita lihat ada apa sebenarnya." Bi Nina menuntun Ibu Maria berjalan menuju kamar.
Setibanya disana, Ibu Maria segera menghampiri Wiliam yang sedang terduduk diam di depan kamarnya, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Wiliam, kau kenapa. Mana Jelita dan kenapa tanganmu bisa berdarah seperti ini?" tanya Ibu Maria begitu cemas lalu meminta Bi Nina mengambil kotak P3K.
"Nina, tangan Wiliam berdarah, cepat ambilkan kotak obat segera!" titah Ibu Maria lalu duduk disamping Wiliam.
"Baik Ibu Maria, sebentar saya ambilkan." Bi Nina langsung bergegas menjalankan perintah.
"Aku tidak apa-apa Ibu, Jelita ada di dalam kamarmu," balas Wiliam.
"Kenapa Jelita ada di dalam kamar Ibu, apa kalian sedang bertengkar?" tanya Ibu Maria kembali dan mengambil peralatan P3K dari tangan Bi Nina yang baru saja tiba.
"Ibu, maaf aku telah lalai menjaga putrinya dan sekarang dia sedang terbaring diatas kasur dalam kondisi tidak sadarkan diri," balas Wiliam.
"Apa maksudmu Wiliam?" tanya Ibu Maria, menghentikan sejenak aktifitasnya karena tidak mengerti.
Kemudian Wiliam menceritakan kepada Ibu Maria dan juga Bi Nina tentang kejadian yang terjadi pada Jelita saat dirinya pulang tadi.
__ADS_1
Dan sontak saja semua orang yang mendengar pun langsung syok, namun bersyukur karena Wiliam berhasil menyelamatkan Jelita tepat pada waktunya.
"Jangan cemas Ibu, dia baik-baik saja. Sebentar lagi Jelita pasti siuman," tutur Wiliam menenangkan Ibu Maria agar tidak panik.
"Kau benar, terima kasih karena telah menyelamatkan putriku," balas Ibu Maria.
"Jangan sungkan kepadaku Ibu, Jelita adalah calon istriku. Mana mungkin aku diam saja jika terjadi sesuatu kepadanya," balas Wiliam.
Ibu Maria tersenyum. "Ibu percaya kau bisa menjaga Jelita dengan baik, tapi Wiliam siapa yang telah berani melakukan hal itu kepada kalian?" tanyanya bingung karena selama ini tidak pernah terdengar adanya musuh.
"Dia adalah orang yang sama, orang terdekatku yang telah merenggut kebahagiaan keluargaku waktu dulu saat aku masih kecil. Aku memang tidak mengerti apapun saat itu, namun sekarang aku telah mengerti dan mengetahui siapa orang yang harus bertanggung jawab atas semua kejahatan ini," balas Wiliam.
"Orang terdekatmu ... Tapi apa tujuan dia melakukan semua itu? Ibu takut sekali dia akan melakukan kejahatan itu kembali kepada kalian," cemas Ibu Maria.
Wiliam menatap Ibu Maria dan tersenyum, kemudian meraih kedua tangannya dan berkata. "Ibu, kau tidak perlu khawatir, karena aku tidak akan membiarkan orang jahat itu menyakiti Jelita lagi. Tapi untuk saat ini, karena dia telah berani menyakiti orang yang aku cintai dan kusayangi, maka sudah pasti dia akan mendapatkan hukuman yang setimpal."
Wiliam kembali gemas saat mengingat wajah tuan Wijaksana.
Ibu Maria menghela nafas dan menggeleng samar. "Wiliam ... Ibu memang tidak mengetahui tentang semua masa lalumu dan Ibu juga turut bersedih atas kedua orang tuamu yang telah lama tiada. Tapi Wiliam, membalas seseorang dengan cara kekerasan adalah hal yang tidak baik."
Wiliam tersenyum kembali dan menatap Ibu Maria. "Aku tidak akan melakukan hal bodoh, aku juga tidak akan membalasnya dengan memakai kekerasan. Karena aku tidak ingin kalian semua menanggung semua penderitaan akibat dari ulahku sendiri."
"Syukurlah, karena kalian akan segera menikah, maka jauhilah segala bentuk kekerasan jika tidak diperlukan, karena Ibu tidak ingin terjadi hal buruk kepada kalian berdua," balas Ibu Maria.
Wiliam mengangguk mengerti. "Tenang Ibu ... Aku akan menuruti saranmu itu."
"Sudah selesai," ucap Ibu Maria.
"Terima kasih," balas Wiliam dan menatap tangannya yang diperban rapi.
"Sama-sama," sahut Ibu Maria seraya membelai lembut wajah Wiliam.
Wiliam pun tersenyum lembut, tidak dapat dipungkiri jika pria itu begitu menikmati sentuhan seorang ibu yang sudah lama tidak ia rasakan.
Sementara itu Bi Nina begitu senang, melihat Tuan Mudanya mendapat kasih sayang dari seorang Ibu, walau bukan dari ibu kandungnya sendiri. Dia juga hanya bisa berharap, akan selalu ada kebahagiaan dalam keluarga baru tuan mudanya.
...***...
Beberapa saat kemudian, Jelita mulai menunjukkan tanda-tanda kesadarannya. Gadis itu mengernyitkan dahi, lalu membuka matanya sambil memegang tengkuk lehernya yang terasa sakit akibat pukulan keras sebelumnya.
"Ukh sakit sekali..." rintih Jelita, kemudian berusaha bangun untuk duduk.
Dia melihat sekeliling. "Dimana ini?" gumamnya. Lalu teringat kejadian tadi di jalan. "W-wiliam!" pekik Jelita.
Semua yang mendengar suara jeritan Jelita pun segera menghampiri termasuk Wiliam. Mereka mendapati Jelita tengah terduduk sambil mengeluarkan keringat dingin.
__ADS_1
Wiliam pun memghampiri dan duduk disisi Jelita, lalu mengulurkan salah satu lengannya untuk menggapai bahu Jelita yang sedang meringkuk.
"Jangan sentuh aku!" pekiknya.
"Jelita ini aku, jangan takut kau sudah selamat," sahut Wiliam.
"Benar, Nak kamu sudah aman sekarang," ucap Ibu Maria.
Jelita menoleh karena mengenal suara Wiliam dan juga Ibunya. "W-wiliam ... Ibu ..." lirihnya lalu melihat ke sekeliling dan merasa lega karena telah kembali ke dalam rumah.
"Ibu ..." Jelita memeluk Ibunya dan terisak jika mengingat kejadian sebelumnya.
Ibu Maria mengusap bahu Jelita. "Jangan menangis, Wiliam sudah menolongmu dan menceritakan semuanya kepada Ibu."
Jelita mengurai pelukannya lalu menatap Wiliam. "Wiliam ... Terima kasih, karena kau sudah datang menolongku."
"Sama-sama," balas Wiliam.
Jelita terkejut saat melihat luka ditangan Wiliam. "Kau terluka! Apa ini karena tadi saat menolongku dari pria jahat itu?" tanyanya.
Wiliam mengangguk dan mengusap puncak Kepala Jelita. "Benar, tapi ini tidak seberapa. Karena yang terpenting bagiku, kau sudah aman dan tidak terjadi apapun kepadamu."
Jelita berlinang air mata kembali, tidak disangka Wilaim berani menghadapi tiga orang berandal hanya demi menyelamatkan dirinya.
Gadis itu pun terisak kembali lalu memeluk Wiliam dengan erat, dia melupakan rasa malu jika disekitar mereka ada begitu banyak orang yang sedang menyaksikan.
"Hei, kau kenapa?" tanya Wiliam merasa canggung dan tidak enak hati. Walau sebenarnya dia begitu senang karena Jelita mau memeluknya.
"Terima kasih, aku pikir aku akan mati tadi."
"Dasar bodoh, sudah ku bilang kau itu punya pendamping yang luar biasa hebatnya." lalu mengurai pelukannya itu dan menatap Jelita yang terkekeh.
"Kau benar, aku punya calon suami yang luar biasa hebat. Kau pria ku yang terhebat. Terima kasih," balas Jelita.
Pengakuan jujur Jelita membuat hati Wiliam kembali berbunga-bunga, hingga pria itu menjadi salah tingkah.
Kejadian itu pun tertangkap mata oleh semua orang di dalam sana dan mereka semua tersenyum, bahkan ada yang tertawa kecil ketika melihat kejadian manis nan langka dihadapan mereka sendiri.
Ibu Maria dan Bi Nina memutuskan untuk meninggalkan Wiliam dengan Jelita di dalam kamar sejenak tanpa menutup pintu, lalu menunggu di depan teras agar keduanya bisa berbincang lebih leluasa terlebih dahulu hingga selesai.
"Semoga mereka bisa lebih dekat lagi," harap Bi Nina.
Ibu Maria mengangguk. "Kau benar Nina, aku juga berharap begitu. Karena mereka juga pantas untuk bahagia."
.
__ADS_1
.
Bersambung.