
Sepulang kuliah Wiliam menyempatkan diri untuk menjemput Jelita, seorang CEO muda mau direpotkan masalah antar jemput seorang gadis muda, demi apa coba.
Sudah pasti demi Jelita sang calon istrinya yang semakin hari semakin cantik itu, memastikan agar tidak ada pria lain yang berani atau mencoba menggoda wanitanya.
Wiliam setia menunggu di depan gerbang kampus, padahal semua karyawan kantornya sedang kelabakan karena si bos tiba-tiba menghilang begitu saja. Dikarenakan ada jadwal bertemu dengan klien yang akan dimulai kurang lebih 10 menit lagi.
"Kemana si bos, hei ada yang lihat dia tidak!" teriak si asisten kepada seluruh staf. Setelah beberapa kali menghubungi nomor Wiliam tapi tidak ada jawaban sama sekali.
Wiliam yang mengetahui hal tersebut dengan segera menghubungi asistennya dan meminta mereka tidak panik karena dirinya sedang menjemput Jelita.
"10 menit lagi ya, oke dalam waktu lima menit aku akan tiba disana," jawabnya penuh percaya diri.
Membuat si asisten pribadi Wiliam tidak menyangka. "Dia pasti sedang membual," umpat kesal si asisten. Mengingat jarak kampus dengan kantor lumayan jauh.
Bersamaan dengan hal itu Jelita mulai menampakkan batang hidungnya, Wiliam pun tersenyum sumringah mendapati calon istrinya juga tersenyum kepadanya.
Sungguh kepedean sekali si Wiliam ini, karena yang sebenarnya adalah Jelita sedang tersenyum kepada teman-temannya.
Wiliam mencebik ketika mengetahui ternyata Jelita sudah mempunyai banyak teman pria dan yang membuatnya panas adalah ketika para lelaki muda tersebut sedang asyik mengobrol di sekeliling wanitanya.
Bercanda dan juga tertawa ria bersama.
"Beraninya para kecebong kecil itu bergerumul di dekat wanitaku," umpat Wiliam, lalu tanpa banyak kata pria itu segera menghampiri Jelita sebelum dirinya habis kesabaran.
Wiliam meraih tangan Jelita. "Ayo kita pulang sayang," ucapnya dengan penuh kemesraan lalu menatap tajam sekumpulan para lelaki disana.
"W-wiliam, kau menjemputku," ucap Jelita tidak menyangka kalau Wiliam datang untuk menjemput dirinya.
"Hei paman ... Siapa kau ini, berani-beraninya melingkarkan tangan di pinggang teman kami," ucap salah satu teman Jelita begitu berani.
Jelita terkekeh melihat Wiliam sedikit kesal saat dipanggil paman oleh teman-temannya.
"Aku calon suaminya," balas Wiliam lalu mengecup pipi Jelita tanpa ijin.
"Oh siallan! Ternyata dia sudah punya orang lain. Untung aku belum menembak Jelita, kalau tidak, si paman itu pasti akan mencekik ku sampai mati! Ayo kita pergi saja," gerutu kumpulan para kecebong muda tersebut lalu berhamburan pergi meninggalkan Jelita.
Wiliam berdecih, lalu tersenyum memandangi Jelita yang sudah memerah karena menerima kecupan dadakan darinya.
"Kau nakal sekali Wil!" cebik Jelita. Sambil memukul lengan Wiliam kemudian berlalu pergi meninggalkan Wiliam.
"Salahmu sendiri asyik sekali mengobrol sampai tidak melihatku datang kesini," balas Wiliam seraya mensejajarkan langkah kakinya dengan Jelita.
"Mereka kan temanku, sudah pasti aku mengobrol dengan mereka jika sedang diajak bicara," balas Jelita.
"Heh! Mereka tidak lebih dari sekumpulan penjahat kecil bagiku. Mulai sekarang jangan ada teman pria lagi, yang boleh hanya ada teman wanita," ujar Wiliam lalu membuka pintu mobil untuk Jelita.
__ADS_1
"Mana bisa seperti itu Wiliam, bagaimana jika aku dapat tugas kelompok atau tugas lainnya dan aku kebagian sekelompok dengan pria," balas Jelita tidak habis pikir.
Wiliam menggeleng. "Tidak mau tahu, pokoknya tidak ada teman pria. Hanya ada teman wanita titik!"
Jelita mendengus kesal di kursi mobil, merasa kalau Wiliam semakin lama semakin posesif kepadanya.
"Cepat pakai sabukmu, aku sedang tergesa, karena sebentar lagi ada klien yang ingin bertemu denganku," ucap Wiliam.
"Klien ... Itu berarti aku harus ikut kau ke kantor?" tanya Jelita.
"Hem ... Jika aku mengantarmu ke rumah dulu maka itu tidak akan sempat. Lagi pula bukankah kau bosan seharian berada di rumah," balas Wiliam.
"Iya juga sih," balas Jelita.
"Ya sudah temani aku saja bekerja di kantor," pinta Wiliam.
"Baiklah kalau begitu," balas Jelita.
"Bagus ... Sekarang pegangan yang erat," pinta Wiliam.
"Pegangan yang erat?" gumam Jelita.
"Iya benar pegangan, karena ini akan menjadi adegan seru seperti di film-film," balas Wiliam lalu memacu kendarannya dikecepatan penuh.
Vroomm!!
Sementara itu Wiliam hanya terkekeh melihat Jelita yang sedang menjerit ketakutan.
"Percayakan saja padaku, kalau kecepatan ini stabil maka aku yakin, dalam waktu tiga menit saja kita bisa sampai di perusahaan tepat waktu," balas Wiliam.
"Akh Wiliam aku akan menghajarmu setelah ini!" pekik Jelita, ketika Wiliam sempat-sempatnya melakukan drifting alias mengepot dadakan dengan begitu handalnya.
...***...
Perusahaan Wijaya Group.
Jelita memegangi dadanya yang berdebar-debar, karena ulah Wiliam yang mengendari mobil dengan begitu kencangnya.
"Uh! Kau menyebalkan sekali." Jelita memukul lengan Wiliam.
"Maaf, aku membuatmu takut ya," balas Wiliam.
"Sudah tahu pakai tanya," gerutu Jelita.
Wiliam terkekeh lalu menarik pinggang Jelita agar tidak menjauh darinya. "Sudah jangan marah lagi, aku minta maaf," balasnya lalu mereka berdua masuk ke dalam lift.
__ADS_1
Di dalam lift Wiliam selalu memperhatikan Jelita, tangannya begitu gatal, ingin sekali merengkuh gadis disampingnya.
Wiliam berganti posisi agar bisa berhadapan dengan Jelita, lalu mendekat dan menggiring wanitanya itu agar berdiri disudut ruangan lift yanh sempit.
"Wil .. Apa yang sedang kau lakukan, menjauhlah dariku," Jelita menolak untuk didekati.
"Jelita ... Beritahu aku, kapan kau bisa menerima ku sepenuhnya?" tanya Wiliam lalu mengikis jarak dengan menarik pinggang Jelita.
"Wiliam tolong jangan seperti ini, kita kan sudah pernah membahas ini sebelumnya. Aku harus lulus kuliah dulu," balas Jelita dia memalingkan wajahnya, merasa tidak nyaman sekali ditatap begitu lekat oleh Wiliam.
"Kalau begitu berjanjilah padaku, tidak mendekati atau membuka hati untuk pria lain selain diriku," pinta Wiliam.
Jelita tersenyum. "Aku sudah bilang padamu, aku akan selalu bersamamu dan hanya kau pria yang akan menjadi pendampingku dimasa depan," balasnya.
Wiliam tersenyum dan mendekatkan wajahnya. "Kalau begitu buktikan, cium aku sekali saja."
Jelita berdebar kuat apa yang harus ia lakukan di tempat sempit seperti ini, karena dia tidak bisa menghindar atau melarikan diri dari Wiliam yang semakin menghimpitnya dengan kuat.
"Ciumlah aku atau aku tidak akan melepaskanmu begitu mudah dari sini," ucap Wiliam.
"Tidak mau Wiliam aku tidak bisa," balas Jelita.
"Baiklah kalau begitu aku saja yang menciummu," ucap Wiliam tidak sabar, lalu menyambar bibir ranum dihadapannya dengan cepat. Sesekali menyesapnya dengan kuat dan melumaat begitu lembut.
Emph ...
Jelita pun terpejam karena sebuah kecupan liar namun lembut telah mendarat dan menari-nari di setiap lekuk bibirnya.
Bersamaan dengan hal tersebut sebuah pintu lift terbuka, membuat semua mata terbelalak dan meneguk ludah secara bersamaan, melihat aksi Wiliam dan juga Jelita yang begitu berani berciuman di tempat umum.
"OMG bos!" pekik semua orang yang melihatnya sambil geleng-geleng kepala.
Wiliam menarik diri dan tidak menghiraukan seluruh manusia disana yang sudah menyorakinya begitu meriah.
Dia menggandeng tangan Jelita yang hanya bisa menunduk saja karena malu. "Ah malu sekali," gumam Jelita dengan wajah memerahnya.
"Hebat bos!"
"Lanjutkan sikat terus!"
Jelita menarik nafasnya dalam-dalam, entah sudah berapa kali Wiliam selalu berhasil memacu adrenalinnya.
.
.
__ADS_1
Bersambung.