Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 26. Anak asuh pribadi


__ADS_3

Sejam kemudian.


Nyonya Caca mendapat kabar dari anak buahnya yang paling setia dan dapat diandalkan, dengan menjadi tukang siomay dia mampu mendapat informasi lebih banyak dari pada isi di pancinya.


Tukang siomay gadungan itu harus membuang malu, perintah dadakan membuat dirinya tidak sempat berganti pakaian. Masih lengkap dengan jas dan kacamata hitam.


Informasi dia dapatkan dari pembeli yang berkumpul disana. Siapapun dia tanyakan tanpa pandang bulu. Bulu apapun itu.


Kemudian informasi yang dia dapat langsung dilontarkan bertubi-tubi dalam ponsel, membuat Nyonya besar hanya mangut-mangut dan bergeming saat mendengar perkataannya.


"Ternyata Miki ku disana sendirian. Lantas, siapa teman yang dimaksud oleh Miki saat ku tanyakan kemana almamaternya tempo lalu?" gumam Nyonya Caca saat mengetahui anaknya tidak bergaul dengan yang lain.


Nyonya itu juga menggigit kuku jari saat mengetahui Michael terlibat pembullyan terhadap Jelita. "Miki mengapa kau jahat sekali Nak," pikir Nyonya itu.


Pembicaraan terjeda sebentar saat ada seorang bocah yang ingin membeli siomay. "Om ganteng mau beli siomay satu porsi!" ucap bocah ingusan itu terdengar oleh telinga Nyonya melalui ponsel. "Pare semua!" pinta anak itu terdengar kembali.


"Bah!" pekik Sandy terheran-heran, takut yang memakannya terkena darah tinggi.


Nyonya menutup panggilan tersebut, saat dirasa sudah cukup mendapatkan informasi dari Sandy pengawal pribadi sekaligus mata-mata kepercayaannya sewaktu Nyonya itu muda dulu.


Dirinya bersumpah akan mewawancarai Michael selepas putranya itu pulang kuliah.


Sementara itu Sandy menyerahkan kembali gerobak siomay kepada pemilik aslinya sambil menyerahkan uang segepok. "Hah kosong!" ucap kang siomay terheran-heran saat membuka dan menempo isi panci. Sudah di borong tentunya.


"Ini untuk Nona mudaku yang nitip siomay tadi," Sandy menenteng kantong kresek hitam berisi sebundel siomay lengkap dengan bumbunya.


……………………………………………………………………………


Di Kampus.


Seperti biasa Jelita merapihkan peralatan bersih-bersih sebelum pulang untuk melihat sang ibu. Dirinya dibuat penasaran saat mendengar suara raungan keras di dalam toilet.


Suara itu makin ke dalam makin nyata di telinganya, suara seorang wanita yang tengah meracau tak karuan.


Raung demi raungan terdengar menusuk indera pendengaran Jelita, namun dengan polosnya gadis itu menganggap hal yang lain.


"Ya Tuhan, ada yang kesurupan!"

__ADS_1


Jelita pun panik, sebab pintu tertutup rapat dan dikunci dari dalam. Dengan segera dia memanjatkan doa agar wanita di dalam itu baik-baik saja. Yang dia pikir sedang kerasukan.


"Oh My God, I'm coming ... I'm comming ..."


Jelita membuka mata, dirinya bersyukur wanita itu masih mengingat menyebut Sang Pencipta. Dia segera menggedor pintu dan jawaban dari dalam membuat Jelita terdiam kembali.


"Ah, jangan ... lagi nangung!" Entah apa yang dilakukannya di dalam sana, namun Jelita menunggu dengan sabar. Tak meninggalkan toilet takut terjadi apa-apa padanya.


"Oh Yes maju! ... Oh No mundur! ...."


Hantu itu keluar masuk pikir Jelita. Sedikit takut tapi penasaran juga dirinya.


Tak berselang lama, Jelita mendengar suara pekikan panjang yang amat dahsyat. "Aarrghh!" Suara itu lambat laun sirna.


"Apa hantunya sudah keluar?" tanya Jelita pada diri sendiri. Telinganya dia tempelkan rapat-rapat pada daun pintu.


Bersamaan dengan itu, seorang wanita yang juga dosen cantik keluar sambil mengelap jari tengahnya yang basah. Dia terlihat acak-acakan, namun dengan segera merapihkannya.


Dia terkejut dan panas dingin saat melihat Jelita menatap dirinya bak bocah kecil terkena sawan. Bengong sambil memikirkan sesuatu.


"Bu Ros kerasukan hantu apa sampai menyebut rujak mangga mengkel ku?" Jelita terheran-heran, berpikir tak mungkin juga kalau Bu Ros ngerujak buah di dalam toilet.


…………………………………………………………………………


Mansion Chandra Putra.


Selepas pulang kuliah Michael di panggil untuk bertemu Maminya. Diapun berjalan masuk menuju ruang kerja Nyonya besar itu.


Sesampainya di dalam, Michael melihat Mamy sudah duduk di bangku sambil melipat satu kaki bertumpu pada satu kaki lainnya. Dia menatap sangar putranya dan menyuruh untuk duduk segera.


"Miki, duduk sayang!" perintahnya dan Michael langsung duduk.


Nyonya Caca menanyakan sesuatu, yang sudah pasti Michael lah yang bisa menjawab pertanyaannya itu.


"Miki, apa benar kamu tidak bergaul dengan siapapun disana? ... Mengapa?" tanya Nyonya Caca sambil mematuk siomay legendaris seharga 10 juta sekantong plastik sebagai cemilan.


Michael dengan santai menjawab, "Iya Mamy. Mike merasa mereka semua itu adalah penjilat, tidak ada yang tulus berteman dengan Mike." Michael menunduk rasanya kesal jika dirinya diperebutkan oleh banyak gadis disana.

__ADS_1


Mami mengerti perasaan anaknya, tapi dirinya masih penasaran. "Lalu siapa teman yang kamu sebut tempo dulu, saat Mamy tanya dimana almamatermu?"


Michael menghela nafas, dengan cepat dia menjawab. "Maaf Mom, Mike hanya bohong sama Mamy. Sebenarnya dia bukan teman Mike, dia cuma ---"


"Cuma petugas kebersihan?" serobot Nyonya Caca. Michael seketika mendelik dan menatap bingung. Bagaimana Mamy bisa tahu?


"Pembullyan dan lain sebagainya, kepada gadis itu ... Yang bernama Jelita, petugas kebersihan. Yang dahulu kamu bilang jelek dan tidak punya mata. Yang mendapat hinaan dari mahasiswa disana saat penyambutan siswa baru? Haaah," Nyonya Caca menarik nafas dalam-dalam.


Michael menggaruk tangannya yang tidak gatal, dia bingung harus jujur atau tidak kepada Ibu nya itu. "Mom ...."


"Hem ... Jujurlah sayang kepada Mamy, ceritakan semuanya. Mamy tidak akan marah kepadamu." Nyonya Caca menyodorkan siomay kepada Michael sebagai bentuk kepeduliannya. Percayalah siomay ini enak loh, sorot matanya berbicara seperti itu.


***


Setelah dibujuk lama, akhirnya Michael bercerita kepada Maminya. Dia bercerita dan menjelaskan panjang lebar tentang Jelita kepada Maminya itu.


Bagaimana dia memberikan almamaternya, pembullyan yang masih dilakukan oleh siswa dikampus karena dirinya juga. Bagaimana Jelita berjuang untuk ibunya dan juga hutang yang telah di lunasi oleh Michael sebagai penebus kesalahan dimasa lalu.


Dan juga video yang menghebohkan satu kampus belakangan ini, Michael ceritakan semua kepada Maminya yang tegas itu.


"Begitulah Mom.. Dia tidak seperti yang diceritakan oleh Floren dan keluarganya itu."


Nyonya Caca merasa iba, dia prihatin dengan Jelita. Perlakuan Michael membuat dirinya gusar, namun dia segera memaafkan, karena Michael menyadari kesalahannya sebelum terlambat.


"Mommy, Mike memang salah. Tapi percayalah Mike sudah tidak melakukan hal itu lagi."


Michael menunduk takut dan menunggu reaksi Maminya itu sambil terus memutar-mutar kedua ibu jarinya. Dia menghembuskan nafasnya kasar dan pasrah menerima hukuman apapun untuk dirinya.


Namun bukannya memberi hukuman, Nyonya Caca langsung berdiri. Dia menatap Michael dan tersenyum samar lalu dibusungkan dadanya itu agar berdiri tegak.


"Mulai sekarang, Jelita akan ku jadikan sebagai anak asuh pribadiku!" Pernyataan Nyonya Caca menggema di ruangan kerjanya.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2