Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 87. Wiliam VS Michael.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Jelita dan Michael telah melakukan janji, bersama-sama akan mengunjungi perusahaan Wijaya Group setelah pulang sekolah nanti.


Menemui Opa Wijaya untuk menjelaskan segalanya kepada sang pemilik perusahaan itu untuk mengadu, tentang dirinya yang sebenar-benarnya kepada Opa Wijaya.


Tentang statusnya, ketidak berdayaan dan juga kelakuan Wiliam terhadap dirinya. Demi melepaskan kebimbangan Jelita agar terbebas dari salah satu pilihan yang menyulitkan hidupnya.


Untuk itu, Jelita tengah berupaya meminta ijin kepada ibunya, jika hari ini dia akan terlambat pulang ke rumah lagi.


Dia merayu sang Ibu yang sedang marah kepadanya karena kejadian kemarin, saat dirinya tidak memberi kabar sehingga membuat semua orang di landa kepanikan.


"Ibu, maaf kemarin aku membuatmu cemas karena pulang terlambat dan aku juga minta maaf, karena aku tidak meminta ijin dan tidak memberi kabar terlebih dahulu padamu, kalau aku sedang pergi ke suatu tempat," ucapnya sambil bersimpuh di kaki sang Ibu.


"Ibu, aku juga mau minta ijin padamu, hari ini aku akan pulang terlambat lagi, karena ada sesuatu yang harus ku selesaikan. Tapi aku tidak akan lama Bu, jadi jangan terlalu mencemaskan aku ya dan setelah selesai dengan urusanku itu, aku akan kembali dan kita bisa berkemas untuk pulang ke rumah besok."


"Ibu ... Ibu maukan memaafkanku dan memberiku ijin untuk pulang terlambat hari ini?" mohon Jelita kepada Ibu yang masih tidak sudi juga menatap dirinya.


Bagaimana tidak, Ibu Maria begitu menaruh banyak harapan kepada putrinya, untuk tidak mengecewakan keluarga Chandra Putra. Mematuhi segala kewajiban dan juga tanggung jawabnya sebagai seorang anak asuh.


Akan tetapi Jelita selalu saja melanggar peraturan tersebut, walaupun dia tahu yang sebenarnya adalah pelanggaran itu, bukan sepenuhnya kesalahan sang putri kandung.


Ibu Maria menatap Jelita yang masih bersimpuh di kedua kakinya, dia meraih wajah sang putri dan mengajaknya untuk bangun dan duduk.


"Duduklah," titah sang Ibu dan itu membuat Jelita segera mendongak menatap Ibunya.


"Ibu ... Ibu kau sudah bisa bicara," ucap Jelita tidak menyangka.


Dia berubah menjadi haru, bersyukur dan senang bercampur menjadi satu.


Jelita meraih tangan Ibunya. " Ibu katakan sekali lagi, katakan sesuatu padaku. Setidaknya sebutlah namaku, sebut namaku Ibu," pintanya sambil menggenggam erat tangan sang Ibu.


"Jelita ... Putriku, putri kesayangan Ibu," ucap Ibu Maria terdengar lirih.


"Ibu ...." Jelita memeluk Ibunya dan menangis. "Akhirnya kau bisa menyebut namaku lagi." ucapnya penuh syukur.


Tidak sia-sia doanya selama ini, yang selalu berharap kesembuhan sang Ibu dan itu semakin memantapkan dirinya, menjatuhkan pilihan kepada keluarga Chandra Putra untuk berbakti kepada Ibu asuh maupun keluarganya.


Karena jika bukan karena pertolongan dari Nyonya Caca beserta keluarga Chandra Putra, ibunya itu belum tentu bisa sehat seperti sekarang ini. Mengingat dirinya yang dulu, ketika kesulitan ekonomi.


"Aku tidak akan mengecewakan mu lagi!" gumamnya dalam hati bertekad untuk terus teguh pada pendiriannya.


...----------------...


Perusahaan Wijaya Group.


Michael dan Jelita akan memasuki perusahaan besar dihadapannya untuk menemui Opa Wijaya.


"Kau sudah siap?" tanya Michael, dia menggenggam erat tangan Jelita.


"Aku sudah siap," jawabnya yakin.

__ADS_1


Mereka kemudian melangkah bersama-sama, masuk ke dalam perusahaan Wijaya Group.


Semua mata pun memandang keduanya, melihat Jelita bersama pria lain membuat semua terkejut. Hingga menimbulkan beragam pertanyaan dari semua pekerja di dalam sana.


"Bukankah itu Nona Jelita, mengapa dia datang kesini dengan pria lain. Bukankah gadis itu milik Tuan muda Wiliam?" bisik-bisik mereka disana-sini.


"Jangan hiraukan ucapan mereka," saran Michael dan Jelita mengangguk. "Hem," balasnya.


Kedatangan mereka berdua pun sampai juga di telinga Wiliam dan pria itu segera meminta resepsionis kantor untuk menemui dirinya jika ada sesuatu yang penting.


...***...


"Maaf Nona, tuan besar sedang tidak ada di tempat, jika ada keperluan penting kalian bisa menemui Tuan Wiliam dan berbicara langsung dengannya."


"Kemana Opa?" tanya Jelita.


"Maaf Nona Jelita, saya tidak bisa memberitahu anda," jawab resepsionis.


Michael dan Jelita pun saling memandang.


"Michael, Opa sedang tidak ada ditempat. Bagaimana menurutmu, apa kita pulang saja?" tanya Jelita. Dia tidak ingin jika Michael sampai berhadapan dengan Wiliam.


"Kita sudah datang jauh-jauh kesini, jika kita pulang tanpa hasil bukankah itu namanya sia-sia," balas Michael.


"Lalu apa yang ingin kau lakukan?" tanya Jelita.


"Bertemu dengan Wiliam," balas Michael.


"Michael ... Kita kesini hanya untuk bertemu dengan Opa, kita tidak perlu bertemu dengannya," ucap Jelita.


Jelita menghela nafas. "Baiklah ... Terserah kau saja," balasnya.


"Antarkan aku padanya, pada Tuan muda kalian!" ucap Michael kepada petugas resepsionis.


"Baik Nona ... Tuan, silahkan tunggu sebentar. Saya hubungi Tuan Wiliam terlebih dahulu," balasnya, lalu menghubungi Wiliam


"Antar mereka ke ruanganku!"


"Baik Tuan," patuh sang resepsionis. Dia memanggil Jelita dan juga Michael untuk mengikuti security perusahaan.


"Ikuti bapak security ini, dia akan mengantar kalian berdua ke ruangan Tuan Wiliam," ucap sang resepsionis.


"Terima kasih," balas Michael.


Mereka berdua mengikuti satpam perusahaan menuju ruang Wiliam di atas sana.


Jelita begitu berdebar, apa yang akan terjadi setelah ini. Dia berharap agar Michael dan juga Wiliam tidak bertengkar. Mengingat tempat ini bukanlah kekuasaan keluarga Chandra Putra dan mereka datang kesini hanya berdua.


Seperti mengantarkan nyawa sendiri.


Jelita menatap Michael yang begitu tenang. "Michael ...." panggilnya.

__ADS_1


"Kenapa? Jangan takut. Aku yakin mereka tidak akan menyakiti atau membunuh kita bukan," ucap Michael.


"Kau benar ... Tapi aku punya firasat buruk jika kita menemuinya," balas Jelita.


"Itu hanya perasaanmu saja, jangan takut. Bukankah kau ingin terlepas darinya dan kita juga sudah berjanji akan menghadapinya berdua," ucap Michael menenangkan Jelita.


"Tapi Michael, lebih baik kita tunda saja sampai Opa benar-benar ada disini," pinta Jelita.


Michael memghadap Jelita.."Kita sudah sampai disini, mana mungkin kita mundur begitu saja. Sudahlah lagipula aku ingin bicara dengan pria itu."


"Baiklah, tapi berjanjilah padaku kau akan memgontrol emosimu saat berhadapan dengan Wiliam nanti," pinta Jelita.


Michael tersenyum. "Baiklah, aku tidak akan membuat masalah dengannya. Apa kau puas, hem?"


"Iya," balasnya dengan anggukan kepala.


Disepanjang jalan dia menunduk dan memikirkan apa yang akan terjadi nantinya saat Wiliam dan Michael bertemu.


...***...


Di ruangan Wiliam.


Keadaan di dalam ruangan itu begitu menegangkan, dikarenakan Wiliam dan Michael kini tengah berhadapan. Mereka saling menatap tajam dan memandangi satu sama lain dengan gaya mereka masing-masing.


Jelita bersembunyi di balik tubuh Michael, saat Wiliam menoleh dan menatap tajam dirinya. Dia mengepal erat baju Michael sambil meneguk salivanya berkali-kali.


"Sedang apa kau disini? Apa kau datang kesini karena ingin menemaniku bekerja?" tanya Wiliam pada Jelita.


Pria itu tersenyum tipis sambil terus memperhatikan Jelita yang masih saja bersembunyi dibalik tubuh Michael.


"Jangan ganggu dia! Lepaskan Jelita, biarkan dia hidup bebas tanpa ikatan darimu," titah Michael.


Wiliam berdecih dan menggeleng kepalanya. Pria tampan itu bahkan terkekeh mendengar perkataan Michael. "Heh! Jadi ... Apa saja yang sudah dikatakan oleh gadis itu padamu?" tanyanya sambil menghisap candu.


"Dia telah mengatakan semuanya kepadaku, tentang kelakuan burukmu padanya. Dan aku tegaskan sekali lagi untuk tidak menganggu Jelita, karena dia anak asuh dari keluarga Chandra Putra. Dia memiliki tanggung jawab serta peraturan yang harus dia patuhi dan kau jangan menyulitkannya," ucap Michael mencoba menjelaskan.


Wiliam duduk di sudut meja dan melemparkan pandangannya ke jendela. Dia menghembuskan asapnya itu jauh dari Jelita.


"Aku tidak menyulitkannya, dia sendiri yang mau menyanggupi permintaan Opa ku," balas Wiliam santai.


"Untuk itulah aku datang kesini, memintamu untuk membatalkan pernikahan itu dan permintaan mu yang selalu saja memaksanya agar memenuhi semua keinginanmu itu," ucap Michael.


"Ck! Asal kalian tahu saja, tidak ada satu orang pun yang bisa menarik kata-katanya kembali dariku," balas Wiliam dengan tatapan tajamnya ke arah Jelita.


"Bagaimana jika aku sendiri yang membatalkan semua perkataan gadis itu dan menarik kata-katanya kembali!" ucap lantang seseorang dari depan pintu ruangan.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


...***...


Wah siapa ya orang itu?? 🤔🤔


__ADS_2