
Mansion Wiliam.
Setelah beberapa hari berlibur untuk melakukan sesi foto untuk prewedding di Bali, akhirnya Wiliam dan Jelita tiba juga di kediaman.
Semua orang di rumah pun langsung menyambut kedatangan mereka, saat keduanya baru saja menapakkan kaki turun dari mobil.
"Ibu!" seru Jelita lalu memeluk Ibu Maria yang sudah menunggunya pulang sedari tadi.
"Bagaimana dengan liburanmu?" tanya Ibu Maria.
Jelita menatap tajam Wiliam dan mengingat kejadian beberapa hari selama dirinya menginap bersama di dalam hotel.
Pria itu selalu saja mencuri kesempatan, jika mereka sedang berduaan apalagi kalau dirinya tengah lengah sedikit saja.
"Liburanku baik, kami juga sudah selesai melakukan sesi foto," balas Jelita.
"Syukurlah," balas Ibu Maria lalu menatap Wiliam.
"Wiliam ... Apa putriku ini menyusahkanmu selama liburan disana?" tanya Ibu Maria.
"Tidak Ibu, Jelita tidak menyusahkanku disana. Bahkan dia membuat tidurku lebih nyenyak dimalam hari," balas Wiliam.
"Tidur mu lebih nyenyak? Apa yang Jelita lakukan sampai membuat tidurmu lebih nyenyak Wiliam? Apa dia memijat kepalamu sebelum tidur? " tanya Ibu Maria bertubi-tubi.
Wiliam menggeleng dan melirik Jelita dengan ekor matanya. "Tidak Ibu, dia tidak melakukan itu. Dia hanya memelukku seperti bantal gulingnya saat tidur dan sebab itulah aku tidur nyenyak sampai pagi," balasnya.
"Jadi kalian sudah tidur bersama?" tanya Ibu Maria dengan ekspresi terkejutnya.
Jelita tersedak ludahnya sendiri, mendengar jawaban Wiliam seenak lidah. Lalu menatap ibunya dan menggeleng.
"Tidak Ibu jangan dengarkan dia, kami tidak tidur bersama. Aku di sofa, eh maksudku. Aku tidur di kasur dan Wiliam tidur di sofa, begitu. Jadi Ibu jangan berpikir macam-macam ya, kami tidak melakukan apapun," bantah Jelita.
Ibu Maria mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali. "Jadi, kalian tidur bersama dalam satu kamar?" tanyanya lagi.
"Kami tidur satu kamar, tapi tidak satu kasur. Maaf Ibu Maria aku hanya asal bicara padamu," serobot Wiliam sebelum Jelita berubah gila.
"Kalau tidur bersama memangnya kenapa, toh kalian juga akan menikah dua minggu lagi," sahut Opa Wijaya yang baru saja datang ke Mansion cucunya.
Semua menoleh serempak.
__ADS_1
"Opa," sahut Wiliam dan Jelita bersamaan.
"Tuan besar," sapa Ibu Maria beserta para Maid disana.
Mereka semua kemudian masuk ke dalam rumah dan duduk bersama dalam ruangan.
"Iya Nyonya Maria, jangan terlalu dipikirkan. Mereka sebentar lagi akan menikah, biarkan saja mereka menjalin hubungan agar lebih dekat lagi," tutur Opa Wijaya.
"Bukan maksud saya berpikir macam-macam Tuan Besar, saya hanya terkejut mendengarnya. Mereka belum resmi menikah, alangkah baiknya jangan bersatu dulu," balas Ibu Maria.
"Aku percaya kepada cucuku Wiliam, dia tidak akan berani macam-macam kepada putrimu selama mereka belum resmi menikah. Jadi Nyonya Maria, anda juga harus percaya kepada putri anda," ujar Opa Wijaya menenangkan kegelisahan hati Ibu Maria.
"Anda benar Tuan besar, saya harus percaya kepada mereka berdua," balas Ibu Maria.
"Saya malah senang kalau selama liburan kemarin, mereka sudah melakukan itu. Biar semakin cepat punya cicit," gurau Opa Wijaya diiringi gelak tawanya.
"Tidak Opa, aku mana berani melakukan itu. Karena aku sudah berjanji kepada Jelita dan juga Ibu Maria sebelumnya," serobot Wiliam.
"Kau benar cucuku, bagus jika kau menepati janjimu. Tapi setelah menikah nanti jangan lupa segera berikan cicit untuk Opa ya," balas Tuan Wijaya membuat Jelita terkena sawan saat itu juga.
Wiliam tersenyum dan melihat ke arah Jelita yang sedang meremass remaas tangannya karena panik, pria itu seakan mengerti kecemasan wanitanya jika membicarakan hal-hal berbau sensitif di ranjang.
"Opa percaya kepada keperkasaanmu Wil, Opa yakin saat malam pertama nanti. Sekali main pasti jadi," bisik Opa tapi terdengar juga kemana-mana.
Membuat semua orang disana hanya senyum-senyum saja, tapi tidak bagi Jelita.
Gadis itu merinding saat mendengar percakapan tersebut dan panas dingin saat membayangkan malam pertama bersama Wiliam.
Sudah pasti dia tidak akan bisa menghindar lagi dari terkaman pria itu, sekelibat terlintas kembali bayang-bayang saat Wiliam menculik dan ingin memperkosaanya pada tahun lalu.
Jelita kembali cemas, seperti trauma yang muncul kembali dalam dirinya.
WIliam hanya menggangguk. "Tenang Opa, masalah keturunan kita hanya bisa pasrahkan kepada Tuhan. Jika Dia memberi cepat maka aku bersyukur, tapi jika belum diberi kepercayaan, maka kita harus bersabar."
"Kau benar sekali Wiliam, Opa juga tidak bisa memaksa jika Tuhan belum memberikannya," balas Opa Wijaya.
"Iya Opa, aku tidak ingin berjanji memberikan keturunan untuk mu dalam waktu dekat setelah menikah nanti, karena aku tidak ingin mengecewakanmu. Tapi kami berjanji akan memberikan cicit untukmu setelah menikah nanti," balas Wiliam sambil meremas tangan Jelita.
"Terima kasih Wiliam, lebih baik kita sudahi saja membicaraan ini. Opa melihat calon istrimu sudah tegang saja," gelak tawa Opa melihat wajah Jelita yang panik.
__ADS_1
"Tidak apa Opa, aku mengerti," balas Jelita.
"Bagus, kalau begitu. Mumpung ada Opa disini ayo kita makan siang bersama," ajak Wiliam.
"Benar, ayo kita makan siang dulu semuanya." Opa bangkit dari duduk dan menuju ruang makan bersama keluarga barunya.
...----------------...
Setelah selesai makan siang, Wiliam mengajak Jelita pergi jalan-jalan. Pasalnya pria tampan penepat janji ini akan memberi kejutan untuk calon istrinya di hari spesial.
Namun Jelita masih saja murung, sepanjang perjalanan gadis itu memikirkan semua perkataan Opa dan juga Wiliam.
"Mereka benar, jika sudah menikah nanti aku harus menyerahkan semua yang ku punya untuk Wiliam. Untuk keluarga ini, aku tidak boleh egois. Bagaimana pun juga aku harus melayani suamiku setelah menikah, karena itu sudah menjadi tanggung jawab dan juga kewajibanku sebagai istri."
"Wiliam berhak atas diriku, mana bisa aku melarangnya. Tapi ... Kenapa kejadian itu selalu saja terngiang dikepalaku. Akan ketakutanku saat dia ingin melakukan itu, aku takut sekali."
Ketakutan Jelita bukanlah tanpa sebab, karena ia mempunyai trauma ketika Wiliam hampir merenggut kesuciannya waktu lalu dan itu membuat dirinya takut sampai sekarang.
Wiliam senantiasa memperhatikan Jelita yang sedang murung lalu menggenggam tangan wanitanya.
Dia menghentikan laju kendaraan dan menepi sejenak di pinggir jalan untuk berbincang dengan Jelita.
"Jelita ... Apa yang sedang kau pikirkan hem? Apa kau masih takut denganku?" tanya Wiliam.
Jelita mengangguk. "Benar, aku masih takut denganmu Wiliam, ketakutanku selalu muncul disaat kau ingin mendekati ku. Bayangan tentang kejadian waktu itu, perlakukanmu kepadaku selalu terlintas di hadapanku begitu saja."
"Maaf Wiliam, tapi aku juga tidak bisa membohongi diriku mengenai ketakutanku akan dirimu," balas Jelita.
"Jadi itukah yang membuatmu murung. Maaf Jelita, itu semua salahku. Harusnya aku tidak melalukan itu padamu, maaf. Karena diriku kau selalu saja ketakutan jika melihatku," Wiliam mencium punggung tangan Jelita.
Jelita mengangguk lesu. "Tidak apa Wiliam, kejadian itu sudah berlalu cukup lama. Harusnya aku tidak takut lagi denganmu, tapi entah mengapa hatiku selalu saja menolak untuk kau dekati," balasnya jujur.
Wiliam menarik dagu Jelita agar menatap dirinya. "Percayalah padaku, aku akan berusaha mengobati traumamu padaku. Aku berjanji," ucapnya penuh keseriusan.
Jelita tersenyum. "Hem ... Terima kasih. Aku percaya padamu," balasnya.
.
.
__ADS_1
Bersambung.