Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 28. Membersihkan sepatu


__ADS_3

Sementara itu, Nyonya Caca baru saja sampai. Dia meminta supir pribadinya untuk menepi di pinggir jalan.


"Roy, berhenti disini saja!" perintah Nyonya itu.


"Tapi Nyonya, kampus tuan muda masih di depan sana," balas Roy masih memegang kemudi.


"Tidak apa, saya mau turun disini, biar sisanya saya berjalan kaki. Kau tunggu saja di mobil, jika ada sesuatu, saya akan cepat menghubungimu."


"Baik Nyonya!" patuh Roy.


Roy pun menepikan mobil tersebut dan membiarkan Nyonya besarnya itu untuk turun.


Nyonya Caca lalu membuka pintu mobil dan berjalan kaki menuju kampus anaknya. Merapihkan penampilannya, menyamar menjadi Ibu PKK.


***


Di dalam kampus.


Michael menghadang Jelita, dia mengambil alih pegangan kursi roda itu dan mendorongnya sendiri ke arah taman.


Dan sesampainya mereka disana, Michael berjongkok dihadapan Bu Maria. Menatap wajah seorang ibu, yang anaknya ingin dia usir dari sana.


Ibu Maria menatap Michael, matanya berkaca-kaca dan hatinya bertanya, "Pria ini tampan dan baik, tapi siapa dia?"


Michael menyesal, membuat Jelita menangung susah akibat ke egoisannya. Diapun meraih tangan Bu Maria berniat untuk meminta maaf.


"Bu Maria, aku Michael," ucap Michael lalu melihat wajah Jelita yang ketakutan.


Michael kembali menatap Ibu Maria, namun seseorang datang menggagalkan dirinya mengucapkan permintaan maaf.


"Mike, kau sedang apa disini?" tanya Floren yang datang sambil membawa dua cuncung es krim rasa vanila dan strawberry.


Michael dan Jelita melihat ke arah Floren yang menjilat es krim dengan santai dan seketika itu pula Jelita mendadak gemetar. Dia tidak ingin sampai Floren menindasnya di depan sang Ibu.


Jelita secepat kilat melarikan diri bersama Ibunya, namun secepat itu juga Floren menahannya dengan kaki.


"Kau mau kemana?" tanya Floren menatap sinis Jelita.


"Maaf, saya harus kembali bekerja, Permisi ..." balas Jelita.


"Kenapa begitu terburu-buru? aku hanya ingin melihat ibumu," balas Floren.

__ADS_1


"Biarkan dia kembali bekerja," ucap Michael dengan segera.


Michael lalu berdiri dan menahan Floren agar tidak bertindak macam-macam, membiarkan Jelita pergi agar Floren tidak menganggunya.


Namun kesempatan itu malah dia pakai untuk menjerat Michael.


"Aku tidak akan menganggunya Mike, tapi gandenglah tanganku ini dulu dan jadikan aku seperti pacarmu. Bertindak lah mesra kepadaku Mike," bisik Floren di telinga Michael, lalu dia tersenyum menatap Michael yang kesal kepadanya.


Michael menghela nafas panjang, lalu menarik Floren yang mencegal kursi roda dengan kaki kanannya agar terlepas.


Kesempatan itu pun di manfaatkan oleh Jelita untuk kabur.


"Baik," balas Michael dan seketika itu juga Floren tersenyum sumringah.


"Ini untukmu," ucap Floren sambil memberikan es krim bekas tersentuh lidahnya kepada Michael.


Michael menatap tak sudi, membuat Floren kembali mengancam pria itu dengan sorot matanya yang tajam.


"Oh baiklah Mike, aku akan menunjukkan sesuatu kepadamu," ucap Floren membuat Michael kembali ketar ketir.


"Jelita tunggu!" teriak Floren memanggil Jelita untuk berhenti.


Jelita mendadak berhenti ketika dirinya dipanggil, tapi dia tidak berani berbalik badan. Lalu Floren berjalan cepat menghampiri Jelita dan Michael dengan segera mengikutinya.


"Lihat saja, nanti juga kamu tahu," balas Floren sambil menyentak bahunya.


Kini akhirnya Floren berhadapan dengan Jelita, dia tersenyum samar. Menatap Jelita yang tertunduk takut dan gelisah.


Jelita meneguk ludahnya kasar, berharap siswi cantik itu tidak melakukan sesuatu kepada dirinya di depan Ibu. Hal menyedihkan yang selalu Floren lakukan setiap hari, dimana Jelita dibuat tidak tenang oleh tingkahnya.


"Jelita ... Apa kamu sudah pernah makan es krim ini?" tanya Floren.


"B-belum," jawab Jelita.


Floren mengulurkan tangannya dan memberikan es krim kepada Jelita tepat dihadapan ibunya sambil tersenyum.


"Kalau begitu ambillah, ini untukmu."


Jelita mengangguk samar dan menurut, namun saat Jelita hendak menyambut es krim tersebut Floren malah menjatuhkannya dengan sengaja.


"Upss, jatuh! Maaf Jelita, aku tidak sengaja."

__ADS_1


Es krim tidak berdosa itu pun jatuh tercecer kemana-mana dan menodai sepatu mahalnya Floren. Termasuk sedal jepit dan juga jari kaki Jelita yang berada di dekatnya.


Jelita dengan segera berjongkok untuk membersihkan kakinya, menggunakan tisue yang berada di kantung kursi roda. Tisue itu dia bawa untuk ibunya dari rumah.


"Jelita tolong sekalian bersihkan sepatu ku ya, mumpung kau sedang berjongkok," pinta Floren dengan santainya.


Jelita terdiam sejenak dan meremas tisue itu ditangannya. Dia menghela nafas dengan kedua mata yang terpejam erat. Berusaha sabar menghadapi permintaan itu.


Michael tidak suka melihat hal tersebut kemudian menarik Floren untuk tidak melanjutkan permintaannya, dan meminta Jelita lekas pergi serta tidak menuruti keinginan Floren yang berlebihan.


"Tidak perlu Jelita, dia bisa membersihkan sepatunya sendiri. Ayo Floren sekarang kita harus masuk kelas." Michael menarik tangan Floren dengan paksa agar dia menjauh dari Jelita.


Namun Jelita segera berdiri dan menghampiri Floren sebelum dia pergi. Jelita lalu berdiri dihadapan Floren dan berkata. "Tidak apa, biarkan aku membersihkannya." Jelita kemudian berjongkok dan mulai membersihkan sepatu Floren.


Floren tersenyum tipis, merasa dirinya berkuasa dan menjadi besar kepala. Namun Michael terlihat kesal dan menatap Jelita penuh kebingungan. Padahal dirinya telah berhasil menjauhkan Floren dan membantu Jelita agar tidak menuruti permintaan Floren yang aneh. Tapi mengapa gadis itu tidak mengerti juga.


Dalam pikirannya itu, mengapa gadis ini begitu bodoh, mengapa mau saja dia ditindas dan diperlakukan seperti itu oleh orang lain.


***


Beberapa saat kemudian Jelita berdiri karena telah selesai melap sepatu mahal Floren dengan tisue nya.


"Untung lah kau cepat tanggap, sepatuku ini sangatlah mahal, jadi terima kasih ya Jelita. Oiya dengan status mu yang seperti itu, ku harap kau tidak akan marah," ucap Floren sambil melirik Michael.


Jelita mengulum senyum dan menatap ibu yang sedang menunggunya datang kembali, kemudian dia berkata kepada Floren. "Aku tidak marah ... Aku membersihkan sepatumu, bukan karena statusku yang rendah. Melainkan karena dirimu yang meminta tolong kepadaku."


"Ibu ku pernah bilang, menolong orang lain tidak menjadikan kita seorang yang rendah dan hina, karena pertolongan sekecil apapun itu adalah perbuatan yang mulia."


Jelita menunduk, melihat sepatu Floren yang sudah bersih dan melanjutkan kembali perkataannya.


"Aku tidak tahu harga sepatu mu itu semahal apa, tapi benda itu tidak ada bedanya dengan sendal jepitku yang usang. Memiliki fungsi dan juga dipakai di tempat yang sama, yaitu sama-sama berada dibawah, dipakai di kaki dan juga sama-sama diinjak."


Jelita kemudian menatap Floren. "Lagipula akulah yang salah karena tidak memegang pemberianmu dengan benar, membuat es krim itu terjatuh di sepatumu yang berharga mahal."


Jelita kemudian membuang tisue kotor itu ke tempat sampah dan berbalik menghampiri Ibu yang menatap dirinya dengan bangga. Meninggalkan Floren dan Michael yang terdiam dengan mulut ternganga.


"Ayo Ibu, aku akan mengajakmu beristirahat." Jelita kembali mendorong kursi roda sambil bersenda gurau dengan ibunya.


Lalu di sisi lain tidak jauh dari tempat itu, seorang wanita tengah berdiri melihat kejadian tersebut. Dia mengulum senyum, merasa bangga dengan calon anak asuhnya yang baru.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2