Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 148. Menyelamatkan Floren.


__ADS_3

"Apakah namamu Floren dan apa kau karyawan baru disini?" tanya Riko sang asisten Wiliam yang kebetulan sedang mampir ke kafe favoritenya.


"Iya aku Floren dan aku karyawan baru dikafe ini. Aku tidak mengenalimu, kau siapa. Bagaimana bisa tahu namaku?" tanya Floren merasa aneh.


"Aku Riko, apa kau bisa duduk dan berbincang sebentar denganku?" balas Riko mencegah Floren pergi.


"Maaf Riko, tapi aku sedang bekerja dan tidak ada waktu untuk berbicara denganmu." Floren menjauhi Riko, lalu kembali melayani pengunjung yang baru saja masuk ke dalam kafe.


Pria itu hanya bisa menatap Floren dari kejauhan dan menghela nafas sambil menyesap kopi hangat miliknya yang masih tersisa setengah lagi hingga habis.


"Kasian sekali nasibnya," gumam Riko merasa prihatin dengan keadaan terbaru dari sepupu tiri sang bos.


...***...


Floren bergegas mengambil nota kecil lengkap dengan pulpen untuk mencatat pesanan, lalu menghampiri pengunjung yang baru saja datang.


"Kalian ingin memesan apa?" tanya Floren kepada sekumpulan pria yang baru saja duduk di dalam satu meja.


Namun bukannya menjawab, sekumpulan pria itu malah asyik memandangi Floren dari atas hingga ke bawah dengan tatapan penuh damba.


"Jika memesanmu satu malam boleh tidak," ucap nakal salah satu pria tersebut dengan diiringi gelak tawa pria yang lainnya.


Floren merasa tidak senang, namun dia harus menahan emosi jika masih ingin terus bekerja disini. "Maaf, disini hanya menjual minuman ringan, kopi dan beberapa cemilan ringan lainnya."


"Wah ... Kalian dengar itu, gadis cantik ini tidak menjual diri. Lalu untuk apa dia bertanya ingin memesan apa pada kita, ya kan? Haha!" gelak tawa pria itu semakin menjadi-jadi.


Salah satu dari mereka bahkan berani mengelus pergelangan tangan Floren, hingga gadis itu melotot dan gusar.


"Beraninya kalian menyentuhku!" bentak Floren lalu melempar nota di tangan ke arah muka pria cabull yang berani menyentuh tangannya.


Pria itu pun nampak tidak senang, begitu pula dengan yang lainnya, merasa tidak puas jika belum memberi pelajaran kepada gadis cantik yang telah berani melempar sesuatu ke arah wajahnya hingga merah.


"Cih! Wanita rendah, apa kau tidak tahu siapa dia hah. Cepat minta maaf!" bentak salah satu anak buahnya.


"Bagiku dia adalah seorang bejat lebih tepatnya pria mesum," jawab Floren tegas lengkap dengan senyuman smirk nya.


"Siall! Berani sekali dia berbicara begitu kepada bos kita!" ucap salah satu pria mulai berulah.


Bersamaan dengan hal tersebut, sang pemilik kafe mencoba meredam keributan dan meminta agar Floren meminta maaf kepada para pelanggannya.


"Cepat minta maaf! Jika tidak, kau akan ku pecat sekarang juga!" ancam sang pemilik kafe.


Sekumpulan pria itu tersenyum smirk dan mulai menggoda Floren yang hanya bisa terdiam dan menunduk saat di marahi oleh sang bos.


"Kenapa cantik, takut ya?" serobot si pria mesum tadi.


"Hei cepat minta maaf!" tegas si bos kafe.


Floren mengepal erat kedua tangannya lalu menampar pipi sang bos kafe karena kesal, dia melupakan status miskinnya sekarang, karena sudah muak dan ingin melampiaskan amarahnya sedari tadi.

__ADS_1


"Pecat saja! Aku tidak takut!" bentak Floren lalu membuka celemek dan melemparnya ke wajah sang bos.


"Beraninya kau menampar ku, pergi sekarang juga dan jangan pernah kembali!" bentak sang bos sembari menyeret Floren ke depan kafe dan mendorongnya hingga tersungkur ke jalan.


Floren meringis kesakitan saat kedua lututnya harus mengalami luka ringan.


Namun sekumpulan pria menyebalkan tadi malah menertawai dan menunjuk-nunjuk ke arah Floren. "Bagaimana rasanya hah, makanya jadi perempuan jangan galak-galak. Lebih baik ikut kita-kita saja dan jangan berontak."


"Pergi kalian, aku tidak sudi di sentuh oleh pria mesum seperti kalian semua!" sentak Floren.


Penolakan Floren membuat sekumpulan pria tersebut semakin gencar memeganginya, sementara orang-orang yang ada di sekitar sana hanya bisa menunduk takut dan memilih menutup mata mereka tanpa mau membantu sama sekali.


Sementara itu Riko yang berada diujung sana langsung berdecak kesal, ketika melihat pemandangan tidak pantas di depan mata kepalanya sendiri.


Pria itu bangkit dari kursinya dan segera menghampiri sekumpulan lebah jantan yang sedang mengerumuni sekuntum bunga.


Tanpa banyak kata Riko menghajar sekerumpulan pria cabul yang berusaha menyeret Floren di depan umum, lalu memintanya untuk menyingkir dari tempat panas tersebut.


"Sialann, hei bangs*t jangan ikut campur!" bentak si bos cabul.


"Sudah bos jangan ragu-ragu kita keroyok saja dia!" ajak salah satu anak buahnya.


Riko berdecih. "Cih! Maju sini kalian semua, kalau sudah merasa bosan hidup!" gertaknya tanpa takut.


"Banyak bacot! Ayo hajar!" keroyok mereka.


Oleh karena itu, ketika melihat ada yang hal yang berbau-bau menegangkan seperti ini, Riko begitu bersemangat sekali.


Pria pemberani yang bukan hanya seorang kaki tangannya Wiliam itu tengah bergulat demi memberi pelajaran kepada sekumpulan lebah pengganggu dan menunjukkan jika dia mampu menghajar lima orang pria sekaligus sendirian.


Teknik bela dirinya bisa di bilang tidak kalah jauh dari Wiliam, sehingga Riko mampu menghajar mereka hingga babak belur dan pergi lari sampai tunggang langgang.


Keberhasilan Riko menghajar sekumpulan pria tidak bermoral tersebut mendapat tepuk tangan dari semua orang yang menyaksikan dan mereka memuji keberanian Riko dalam membela kebenaran.


"Terima kasih," ucap Floren kepada Riko.


"Sama-sama," balas Riko lalu memberikan jas nya untuk menutupi tubuh Floren yang sedikit terbuka.


Floren hanya terdiam mendapat perlakuan manis dari pria yang tidak dia kenal, namun dia tidak dapat memungkiri jika aksi Riko saat menyelamatkannya tadi sungguh heroik sekali.


Riko akhirnya mengajak Floren untuk berbincang sejenak dan membawanya menyantap beberapa makanan ringan bersama di salah satu kedai di dekat sana.


...----------------...


Perusahaan Wijaya Group.


Sementara itu Wiliam tengah kesal karena sang asisten tidak memberi kabar kepadanya sama sekali. Hot Daddy ini berdecak kesal dan mengutuki Riko yang tidak balik-balik ke kantor sedari tadi dan sulit sekali untuk dihubungi.


"Anak buah sialann, sedang kemana dia!" umpatnya kesal sembari meremas ponsel miliknya yang berlogo apel somplak.

__ADS_1


Wiliam terus menggerutu karena ada dokumen penting yang masih belum disetor kepadanya dan masih berada di tangan Riko.


...***...


Sementara itu Riko malah sedang keasyikan berbincang dengan Floren dan melupakan Wiliam yang sudah menunggunya sejak dari tadi, untuk menyerahkan laporan penting tentang perkembangan proyek pembangunan.


Sehingga sang bos langsung berubah garang di kantornya karena terlalu lama menunggu.


Riko meraih ponselnya dan menepuk jidat karena lupa jika selulernya itu sedang dalam mode nonaktif. Dia bergetar hebat dan menelan ludahnya susah payah saat mengetahui jika Wiliam telah menghubunginya berkali-kali.


Riko menghubungi Wiliam dan dia langsung didamprat habis-habisan oleh sang bos.


"Cepat datang kesini, jika tidak aku akan mematahkan batang lehermu itu!" ancam Wiliam melalui ponselnya.


"Siap bos!" balas Riko sembari menelan ludahnya susah payah.


Pria itu menyudahi perbincangannya dengan Floren karena harus kembali ke perusahaan untuk bertemu dengan Wiliam sebelum bosnya itu berubah menjadi monster mengerikan.


Sebelum pergi Riko menyempatkan diri mengantar Floren pulang ke rumahnya dan akan mengunjungi gadis itu jika ada kesempatan di lain waktu.


...***...


Floren begitu cemas ketika melihat pintu rumahnya tergembok dari luar, dia juga bingung karena kondisi rumah yang sepi dan tidak ada orang di dalam.


Tidak memiliki ponsel menyulitkan dia menghubungi seseorang atau mendapatkan info penting mengenai keluarganya akhir-akhir ini.


Gadis itu segera berlari menemui sang tetangga untuk menanyakan sesuatu dan berharap tidak terjadi hal buruk yang menimpah kedua orang tuanya.


Alangkah terkejut dirinya ketika mengetahui jika kedua orang tuanya dibawa ke rumah sakit tadi siang dan yang lebih membuatnya terkejut adalah saat mengetahui kebenaran tentang sang ibu yang berubah menjadi orang gila.


Floren segera mengunjungi rumah sakit jiwa tempat dimana ibunya di rawat sekarang, tidak memiliki uang yang cukup membuat ia berjalan kaki ke tempat tujuan.


Selama perjalanan Floren menangis terisak, dia tidak menyangka jika kehidupannya akan menyedihkan seperti ini. Terlebih ketika mendengar kondisi kedua orang tuanya yang tiba-tiba berubah sangat memprihatinkan, membuat dia menjadi putus asa.


Kemana lagi dia harus meminta pertolongan selain kepada keluarga Wijaya.


"Iya, aku harus meminta tolong pada Wiliam. Dia pasti akan membantuku," gumam Floren menyempatkan diri mengunjungi perusahaan Wijaya Group terlebih dahulu sebelum bertemu dengan ibunya di rumah sakit jiwa dan ayahnya di rumah sakit yang berbeda.


.


.


Bersambung.


...----------------...


Bagaimanakah nasib Floren, apakah Wiliam masih sudi membantu sepupu tirinya itu ketika dia mengetahui bahwa Nyonya Berta berniat jahat pada putranya tadi siang?


Nantikan di bab selanjutnya, terima kasih dan selamat membaca.

__ADS_1


__ADS_2