Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 142. Berbincang.


__ADS_3

Jelita segera melambaikan tangannya kepada Michael dan juga Clara yang berada di sudut sana, saat mereka berdua melihat dirinya.


"Michael, Clara!" sapa Jelita dari kejauhan.


Michael yang mengenali pun menghentikan sejenak aktifitasnya dan tersenyum.


"Clara ... Itu Jelita dan Wiliam," ucap Michael menunjuk ke arah Jelita.


Clara mengangguk. "Benar, itu mereka!" serunya lalu mengajak Michael untuk menghampiri meja dimana Jelita dan Wiliam tengah duduk.


"Jelita!" seru Clara.


"Clara!" sahut Jelita lalu mereka berdua tersenyum dan saling berpelukan.


Begitu pula dengan Wiliam dan juga Michael. Kedua pria itu saling berjabat tangan dan saling melemparkan senyuman antar sesama pria.


"Duduklah!" titah Wiliam kepada dua anak muda dihadapannya dan mereka semua pun duduk bersama dalam satu meja. Kemudian saling berbincang dan membicarakan kabar satu sama lain.


Clara menatapi Wiliam dengan tatapan takjubnya, merasa kagum dengan pria yang bukan hanya tampan namun juga terlihat dewasa.



Sedangkan Michael senantiasa menatapi Jelita yang tengah berbadan dua. Sinar keibuan yang lembut dan hangat terpancar jelas di wajah cantik mantan kekasihnya itu.



"Kau sedang hamil?" tanya Michael. Dia sedikit terkejut ketika mengetahui kenyataan yang ada, bahwa mantan kekasih terindahnya itu sedang mengandung anak dari pria lain.


Jelita mengangguk pelan dan tersenyum, saat Michael bertanya hal itu kepadanya. "Iya," balasnya singkat.


"Sudah berapa bulan dan kapan perkiraan lahirnya?" serobot Clara penasaran.


"Sudah bulan ke 8, perkiraan akhir bulan depan lahirannya," jawab Jelita.


"Hebat sekali, kalian baru menikah tapi sudah mau punya anak. Aku yakin Kak Wiliam berusaha keras setiap hari," celetuk Clara.


Jelita tersedak ludahnya sendiri hingga terbatuk-batuk saat mendengar pernyataan dari Clara, membuat dua pria tampan yang berada di dekatnya dengan segera menyodorkan segelas air minum.


Namun karena Jelita yang lebih dekat dengan Wiliam, segera menyambar gelas dari uluran tangan suaminya sendiri.


"Kau tidak apa?" tanya Wiliam memastikan.


"Tidak apa aku baik," jawab Jelita. Lalu menengak air minum perlahan.


Michael menarik uluran tangannya dan sedikit kecewa melihat kejadian tersebut, namun pria itu segera menyadarkan diri, jika Jelita bukanlah kekasihnya lagi.


Dia hanya bisa menegur Clara yang tidak berhati-hati saat berbicara. "Clara ... Apa yang kau bicarakan, mereka telah resmi menikah sudah pasti akan punya anak setelah melakukan itu."


"Kau benar Michael, aku salah bicara. Maaf Jelita, aku hanya asal bicara tadi, apa kau tidak apa-apa?" balas Clara meminta maaf dan bertanya kepada Jelita.


"Aku baik-baik saja, salahku juga yang tidak berhati-hati saat makan," balas Jelita.


"Ah maaf, aku benar-benar minta maaf." Clara merasa tidak enak hati terlebih melihat wajah Wiliam yang tiba-tiba berubah datar.


"Tidak apa Clara, kau tidak perlu meminta maaf, karena ucapanmu itu menurutku tidak ada salahnya. Kau benar, setelah kami menikah, aku selalu berusaha keras bermain setiap hari agar segera memiliki keturunan dan aku bersyukur hari ini, karena Tuhan memberikan aku kepercayaan begitu cepat," ujar Wiliam lalu menatap Michael.


"Michael, segeralah menikah dengan kekasihmu ini. Agar kau bisa merasakannya juga," goda Wiliam.

__ADS_1


Clara dan Michael berubah salah tingkah dan tertunduk malu. "Kau bilang apa Kak Wiliam, aku dan Michael tidak pernah ada berpikiran ke arah sana."


"Kenapa harus malu, ku dengar dari nyonya besar jika kalian berdua akan menikah tahun depan. Jadi segeralah bermain setelah menikah nanti agar bisa seperti diriku dan Jelita ini," balas Wiliam tanpa di saring dulu.


"Benar kan sayang," sambungnya lagi sambil merangkul istrinya.


Jelita hanya mencubit lengan Wiliam, merasa malu dengan ucapan suaminya yang begitu blak-blakan. "Kau nakal sekali Wil, lihatlah mereka jadi malu."


"Aku tidak salah, yang aku ucapkan memanglah benar." Wiliam menunjukkan kemesraannya di depan dua anak muda polos hingga keduanya seketika menganga.


"Sudahlah, aku malu sekali!" Jelita menyingkirkan wajah Wiliam dari wajahnya.


Kebiasaan!


Clara tersenyum. "Kau benar, kami akan menikah tahun depan. Tapi aku tidak tahu, Michael mau melakukan itu denganku atau tidak," jawabnya berubah lesu.


Michael terenyuh lalu meraih kedua tangan Clara dan membalas, "Kau bicara apa Clara, sudah pasti aku mau melakukan itu denganmu. Jika kita telah resmi menikah nanti, kau pasti akan mendapatkan hakmu itu."


Clara tersenyum kembali dan menatap Michael. "Benarkah, apa ucapan mu itu serius?" tanyanya.


Michael mengangguk pasti dan menyakinkan Clara. "Benar, aku kan calon suamimu."


"Terima kasih," balasnya lalu memeluk Michael.


Jelita menghela nafas dan tersenyum, melihat kedekatan keduanya yang sudah sama-sama menerima kehadiran pasangan baru.


"Makanannya sudah datang lebih baik kita makan malam bersama," ajak Jelita dan menyudahi pembicaraan yang semakin lama semakin menyimpang saja.


Selama menyantap makan malam, Jelita terpikir satu hal lagi.


Michael menoleh cepat " Ada apa Jelita?" tanyanya.


"Bagaimana dengan kabar kak Jason. Apa dia baik-baik saja dan sudah menemukan pasangan?" tanya Jelita penasaran.


Michael tersenyum. "Pria itu, dia akan segera menjadi adik iparku."


Jelita dilanda kebingungan, bagaimana bisa Jason yang umurnya jauh lebih tua dari Michael bisa menjadi seorang adik ipar. "Apa maksudmu?"


"Jason ternyata suka dengan Shan san adikku dan berniat untuk melamarnya dalam waktu dekat ini. Dan itu sudah pasti dia akan menjadi adik iparku walau usianya jauh di atas kita." Michael terkekeh, jika memikirkan hal aneh tersebut.


Jelita mengerjapkan kedua matanya berkali-kali dan ikut terkekeh. Tidak disangka jika jodoh pria hebat itu tidak jauh-jauh dari lingkungan mereka kenal.


"Syukurlah, kalau begitu. Aku turut senang mendengarnya," balas Jelita.


"Sudah jangan banyak bicara, makan makananmu yang banyak. Aku tidak ingin anakku kelaparan karena ibunya terlalu banyak bergosip," serobot Wiliam menghentikan Jelita yang keasyikan mengobrol.


"Kak Wiliam cemburu ya?" ledek Clara.


"Dia istriku, sudah pasti aku cemburu jika terlalu banyak berbincang dengan pria lain. Clara sebaiknya kau juga harus menjaga Michael agar tidak terlalu banyak berinteraksi dengan cinta pertamanya," cebik Wiliam menjauhkan kursi Jelita dari Michael.


Clara terkekeh, tidak disangka jika pria berwajah sangar dan keras seperti Wiliam bisa merasa cemburu.


"Maaf Kak Wiliam, tapi aku percaya pada Michaelku ini dan aku yakin dia tidak akan kembali kepada cinta pertamanya," balas Clara.


"Benar yang dikatakan Clara, aku memang mencintai Jelita. Tapi itu dulu, saat sebelum dia direbut olehmu. Dan sekarang aku menyadari, aku telah memiliki wanita pengganti yang selalu mencintaiku dan juga selalu ada disisiku setiap saat." Michael tersenyum dan menatap Clara.


"Terima kasih karena telah percaya kepadaku," ucapnya lagi.

__ADS_1


"Sama-sama," balas Clara.


Wiliam dan Jelita tersenyum kemudian saling bersitatap, mereka yakin jika kebahagiaan akan selalu menyertai orang-orang yang selalu mencintai dan juga setia kepada pasangannya.


...----------------...


Mansion Wiliam.


Setelah asyik berbelanja dan juga berbincang dengan teman lama, Jelita dan Wiliam kembali ke dalam rumahnya.


Mereka segera membereskan segala perlengkapan bayi yang telah dibeli tadi dan langsung memasang pernak-pernik tersebut di dekat kamar mereka berada.


"Akhirnya selesai juga," ucap Jelita sambil menatapi hasil penataan Wiliam.


"Benar, ternyata tidak sulit menata semua ini." Wiliam menyombongkan dirinya lalu menatap wajah Jelita.


"Sayang, apa kau yakin akan mengurus bayi kita seorang diri nanti? Apa kau yakin tidak akan kerepotan hem?" tanya Wiliam.


Jelita mengangguk. "Benar, aku akan mengurus anak kita sendiri dan kau tidak perlu khawatir akan hal itu sayang."


"Tapi sayang, kau masih berkuliah. Terkadang tugas mu begitu sulit, belum lagi kau harus melayaniku tiap malam. Aku tidak ingin kau kelelahan dan sakit nantinya," balas Wiliam merasa tidak tega.


Jelita tersenyum dan melingkarkan kedua tangannya di leher Wiliam. "Sayang ... Selain aku ini adalah istrimu, aku juga seorang mahasiswi ditambah sebentar lagi aku akan menjadi seorang ibu. Rasanya memang berat melakukan itu semua, tapi aku tidak ingin melewatkan kesempatan yang ada."


"Jadi percayalah sayang, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan semua tugasku dengan baik."


Wiliam berdecak, merasa kesal karena jika istrinya itu melakukan semua tugasnya. Sudah pasti waktu berduaan dengannya nanti akan berkurang banyak.


"Tapi sayang, kenapa tidak panggil baby sitter saja. Dengan begitu kau bisa fokus melayaniku jika malam nanti," rayu Wiliam merasa sebal kalau tidur bersama sang istri nanti akan terganggu dengan suara tangisan bayi.


"Kau ini, tidak ada puas-puasnya. Apa kau tega jika anakmu nanti lebih menurut dengan orang lain daripada sama orang tuanya hem?" tembak langsung Jelita kepada Wiliam.


"Kau benar juga, tapi apa kau yakin tidak akan lelah?" tanyanya lagi.


"Tenang saja, disini kan banyak orang. Ada Ibu ada Bi Nina, ada banyak pelayan wanita juga yang sudah pasti akan membantuku. Jadi, kau tidak perlu mencemaskan itu sayang," balas Jelita menyakinkan Wiliam.


Wiliam tersenyum dan mengalah saja daripada bertengkar. "Kau benar, tapi berjanjilah untuk selalu melaksanakan tugasmu itu dengan baik."


Jelita tersenyum. "Itu sudah pasti sayang," jawabnya penuh yakin.


Wiliam mendekatkan wajahnya, lalu menyatukan bibirnya kepada Jelita. Kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan diri mereka sebelum beristirahat.


Pasangan suami istri yang tidak ada bosan-bosannya bercinta itu segera naik ke atas peraduan, saling menghangatkan tubuh satu sama lain di kegelapan malam yang dingin.


.


.


Bersambung.


...----------------...


Next \=\=> di bab selanjutnya si baby ular python akan lahir.


Jangan lupa memberi taburan bunga, secangkir kopi atau vote sisa-sisa untuk author receh ini.


Terima kasih.. Salam hangat selalu.

__ADS_1


__ADS_2