
Mansion Wijaksana.
Tuan Wijaksana tengah kesal setelah mendapat kabar dari anak buahnya mengenai acara makan malam di perusahaan Wijaya Group yang tidak mengundang dirinya.
Dia mengebrak meja dan melempar apapun yang berada disekitarnya.
"Si*al! Si tua bangka itu, tidak menganggap keberadaanku sama sekali. Melewatkanku begitu saja dan tidak mengajakku untuk menghadiri pertemuan itu," umpatnya kesal.
Tuan Wijaksana menatap anak buahnya. "Beritahu kepadaku, apa saja yang dia bicarakan pada perjamuan tadi, atau ada kejadian penting apa sampai harus mengumpulkan seluruh anggota direksi?"
"Tuan Wijaksana ... Tuan besar telah mengumumkan calon penerus perusahaan selanjutnya kepada seluruh anggota staf maupun direksi, dan tuan muda Wiliamlah yang akan menggantikan posisinya itu di perusahaan nantinya," balas si pembawa pesan.
Tuan Wijaksana mengeratkan rahang dan membulatkan kedua matanya hingga membola sempurna.
Dia menggeleng. "Tidak ... Tidak akan ku biarkan itu terjadi. Aku tidak akan menyetujui hal tersebut, Wiliam tidak pantas mendapatkan jabatan tertinggi di perusahaan, karena hanya aku lah yang pantas mengganti posisi si tua bangka itu," gumamnya kesal.
"Katakan ... Apa ada hal lain lagi selain itu?" tanya Tuan Wijaksana.
"Tuan ... Tuan muda Wiliam hari ini juga mengajak seorang gadis bersamanya saat menghadiri acara makan malam tadi," balas si pembawa pesan.
Tuan Wijaksana berdecih. "Cih! Wanita murahan mana lagi yang mau di ajak olehnya untuk bersenang-senang," ucapnya mengejek.
"Tapi Tuan, sepertinya tuan muda Wiliam kali ini serius menjalin hubungan dengan gadis itu, bahkan tuan besar sempat mengajukan lamaran pernikahan langsung untuk tuan muda Wiliam di depan semua orang," balas si pembawa pesan.
"Benarkah ... Apa kau tahu siapa gadis itu? Latar belakang keluarga atau info lainnya?" tanya Tuan Wijaksana.
"Info yang ku dapat hanya sedikit Tuan, dan yang ku tahu nama gadis itu adalah Jelita," balas si pembawa pesan.
"Jelita ... Apa gadis itu masih muda, dan dia berusia sekitar 18 tahunan?" tanya Tuan Wijaksana seperti pernah mendengar nama tersebut.
"Sepertinya begitu Tuan," balas si pembawa pesan.
Tuan Wijaksana tersenyum smirk. "Heh! Dari sekian banyak wanita, si Wiliam itu malah memilih wanita milik keluarga Chandra Putra. Hem, menarik ... Bagaimana kalau aku mengadu domba mereka berdua," ucapnya lalu terkekeh.
"Apa yang akan anda lakukan Tuan?" tanya si pembawa pesan.
"Kemari, mendekatlah kepadaku," pinta Tuan Wijaksana ingin berbisik.
"Baik," balas si pembawa pesan lalu mendekat agar bisa mendengar rencana Tuan Wijaksana.
"Apa kau sudah mengerti?" tanya Tuan Wijaksana.
"Aku mengerti Tuan," balas si pembawa pesan.
"Kalau begitu segera laksanakan! lebih cepat maka itu lebih bagus," titah Tuan Wijaksana.
Si pembawa pesan mengangguk patuh lalu meninggalkan ruangan Tuan Wijaksana.
Sedangkan Tuan Wijaksana tersenyum smirk sambil mengaitkan jari jemarinya satu sama lain menjadi satu sambil menopang dagu.
"Heh! Aku ingin lihat seberapa mampu kau mengatasi masalah kali ini tua bangka. Apa yang bisa dilakukan oleh cucumu si Wiliam itu. Apa dia akan sanggup melawan Tuan Nael dan juga keluarga Chandra Putra," gumamnya.
__ADS_1
Tuan Wijaksana menyandarkan badan pada kursi kebesarannya, dia menghela nafas dan tersenyum begitu senang. Menantikan kabar mengejutkan dari dua perusahaan besar yang akan saling berselisih paham. Hanya karena seorang gadis muda.
...----------------...
Sepulang dari acara makan malam, Jelita akhirnya berhasil dibawa pulang oleh Michael dan juga Jason.
Gadis itu termenung memikirkan kejadian saat acara makan malam tadi. Semua perkataan Opa Wijaya, Wiliam bahkan Ibu asuh pun ikut berputar-putar di dalam kepalanya.
"Opa ingin mengajukan lamaran pernikahan untuk cucuku Wiliam."
"Berjanjilah, kau akan bersama Wiliam sampai hari itu tiba."
"Menikahlah denganku."
"Aku akan menunggumu sampai kau siap."
"Aku akan menebus kesalahanku, lepaskan gelar anak asuhmu. Aku memang tidak sekaya keluarga Chandra Putra, tapi aku masih mampu menghidupi mu dan juga ibumu itu."
"Sering-seringlah main kesini bersama Wiliam."
"Opa ingin melihat kalian menikah di sisa hidupku ini."
"Aku akan menemuimu jika aku membutuhkan sesuatu."
"Jangan lupakan tanggung jawab dan juga kewajibanmu sebagai anak asuh!"
...***...
Jelita memijat pelipis kepalanya yang berdenyut. "Kepalaku sakit sekali," gumamnya.
"Aku baik-baik saja," balas Jelita.
"Jelita ... Perjalanan pulang kita masih lumayan jauh, lebih baik kau beristirahat sejenak," ucap Michael memberi saran.
"Kau benar, sepertinya hari ini aku kelelahan sampai kepala ku sakit," balas Jelita.
Dia menyandarkan kepalanya dan mencoba memejamkan kedua mata tapi tidak bisa istirahat.
"Jelita ... Maaf, apa aku boleh bertanya padamu?" tanya Michael merasa penasaran.
"Tanya saja," balas Jelita terdengar lesu.
"Mengapa pria itu membawa mu pergi dan selalu ingin mengunjungimu. Bahkan dia mengenal ibu Maria?" tanya Michael.
Dia mengingat saat pulang tadi Wiliam sempat bilang ingin bertemu dengan ibu Maria kepada Jelita.
Jelita menghela nafas. "Michael ... Apa kau tahu kenapa aku bisa kehilangan seorang ayah?" tanya Jelita.
Michael menggeleng. "Aku tidak tahu," balasnya.
"Michael ... Saat aku berusia 6 tahun, aku kehilangan ayahku akibat kecelakaan lalu lintas, karena kelalaian seorang anak remaja. Dan kau tahu siapa anak remaja itu?" tanya Jelita.
__ADS_1
"Aku tidak tahu," balas Michael menggeleng.
"Wiliam, dialah anak remaja itu. Yang menyebabkan ayahku meninggal dunia," balas Jelita.
"Apa!" pekik Jason dan Michael bersamaan.
"Benar, dia juga telah dipenjara karena kasus kecelakaan itu," balas Jelita.
"Jadi apa dia datang menemuimu untuk suatu tujuan, misalnya minta maaf atau sesuatu yang lain?" tanya Jason.
"Kak Jason ... Dia mencariku setelah dia keluar dari penjara karena ingin menebus semua kesalahannya kepadaku dan juga Ibu," balas Jelita.
"Benarkah dia ingin menebusnya?" tanya Jason.
"Entahlah," balas Jelita.
Sebenarnya dia bingung harus jujur atau tidak, jika Wiliam ingin menebus semua kesalahannya waktu lalu dengan cara menikah.
"Jadi pria itu selain berandalan, dia juga seorang pembunuh? Jelita! kenapa kau mau dekat dengannya, bahkan kau mau saja digandeng oleh pria jahat itu." Michael meracau kesal karena tidak habis pikir.
"Michael ... Tadinya aku juga berpikir dia orang jahat, aku memarahi bahkan memukulinya sekuat tenagaku. Tapi dia sama sekali tidak membalasnya, aku juga terkejut saat melihat sisi lembut pria itu. Dia baik tapi sulit ditebak," balas Jelita.
"Kalau begitu jauhi dia dan jangan menemui atau mau dibawa olehnya lagi," titah Michael.
"Michael ... Ada yang membuatku kasihan padanya, saat dia sendirian dan tidak punya keluarga. Dia hanya punya Opa Wijaya, dan dia sangat menyayangi Opanya itu. Opa pernah bilang, kalau Wiliam itu tidak seperti yang dibicarakan oleh masyarakat, dia hanya terjerumus akibat ulah orang yang tidak bertanggung jawab."
"Opa begitu yakin pada cucunya sendiri kalau dia tidak bersalah, karena ada pengaduan jika mobil yang dikendarai Wiliam saat itu telah dirusak remnya. Tapi entahlah aku masih belum tahu itu benar atau tidak." Jelita menunduk, memikirkannya kembali.
"Jelas saja Opanya itu membela cucunya sendiri, karena dia tidak ingin cucu nya punya cap buruk di mata orang lain apalagi di depan seorang gadis cantik sepertimu itu," ucap Michael keceplosan.
"Ah tidak, maksudku mana mungkin kan Opanya bilang hal jelek pada orang lain," ralat Michael, dia melirik Jelita karena memang kenyataannya Jelita sangat cantik hari ini.
Jelita tersenyum. "Michael ... Terkadang aku berpikir, lebih nyaman kehidupanku sebelum aku berubah seperti ini," ucapnya terkekeh.
"Kau bicara apa? Apa maksudmu, kau tidak bersyukur dengan apa yang sudah terjadi padamu hah!" balas Michael.
"Jika aku masih jelek seperti dulu, akankah ada pria yang mau denganku? Apa kah ada pria yang melirikku bukan karena penampilanku?" tanyanya pada diri sendiri.
"Terkadang aku berpikir, lebih baik aku kembali ke kehidupanku yang dulu lagi, tidak dipandang banyak orang, tidak diperebutkan oleh pria manapun, tidak di salahkan jika aku melanggar peraturan dan tidak di permalukan jika aku melakukan kesalahan. Aku tidak ingin mengecewakan banyak orang," ucap Jelita, dia begitu takut akan mengecewakan semuanya.
Mengecewakan Michael, Wiliam, Opa Wijaya, Ibu Asuh, Ibu dan juga yang lainnya.
"Jelita, kenapa kau berpikir seperti itu? Kau itu harus bersyukur, banyak orang diluar sana yang ingin punya kesempatan seperti dirimu, menjadi seorang anak asuh untuk meraih cita-citanya. Kau juga punya mimpi dan aku akan selalu mendukungmu," ucap Michael.
"Kau benar ... Tapi Michael, kenyataannya adalah aku sedang terjebak diantara kalian berdua, diantara dua keluarga dan aku tidak bisa memilih salah satu bahkan keduanya."
"Jika aku memilih keluargamu, maka keluarga Opa akan kecewa dan jika aku memilih keluarga Opa, maka keluargamu yang akan kecewa."
Michael terdiam, entah apa yang Wiliam katakan kepada Jelita, hingga gadis itu dilanda kebimbangan seperti ini.
.
__ADS_1
.
Bersambung.