
Keesokan harinya.
Senin pagi, di dalam sebuah kamar yang tenang. Dimana terdapat seorang gadis tengah mempersiapkan diri sebelum dirinya berangkat ke sekolah.
Gadis itu memakai seragam berwarna putih abu-abu, lengkap dengan sebuah dasi berwarna selaras dan telah terpasang rapi pada kerah seragam tersebut.
Dia duduk di depan sebuah cermin, tersenyum menatapi dirinya sambil menata rambut agar senantiasa rapih dan teratur. Kemudian dia mengikat rambut itu menjadi satu dan menaikkannya sedikit tinggi, sebuah kuncir rambut seperti ekor kuda.
Menggoyangkan sedikit kepalanya ke kiri dan ke kanan, hingga kuncir rambut itu pun ikut berayun. Melirik dengan ekor matanya pada sebuah cermin, memastikan agar tidak ada anak rambut halus dibelakangnya yang tertinggal.
Lalu di jepitnya rambut pada sisi kanan dan kiri agar tidak menjuntai sembarangan. Menyisakan anak rambut sebatas alis pada bagian depan, begitu halus dan berjajar rapih menutupi dahinya.
"Jelita sudah waktunya berangkat!" ucap seorang pria yang sudah berdiri di depan pintu, membuat Jelita segera menengok.
"Baik Pak Roy," balas Jelita lalu memakai kacamata seharga dua juta lima ratus lima puluh ribu rupiah yang dibelinya kemarin.
Tas warna merah maroon di atas sebuah meja belajar dia raih dengan segera, menggendongnya di belakang pundak lalu meminta ijin kepada ibunya.
"Pagi Ibuku sayang ... Jelita berangkat dulu ya," ucapnya berbisik di telinga sang Ibu yang masih belum terbangun dari tidurnya.
Dia lalu menitipkan sang Ibu kepada suster Desi, perawat berhati baik yang selalu siaga dan menjaga Ibu dengan senang hati.
Jelita melangkah pasti dan tersenyum kepada semua orang, meminta doa dan restu agar dirinya sukses dalam belajar.
Tak lupa dia menghampiri Nyonya besar yang sudah menunggunya sedari tadi. Nyonya Caca tersenyum hangat kepada Jelita sambil merentangkan kedua tangannya begitu lebar.
"Pagi Jelita, Ibu harap kamu sudah siap untuk belajar," ucap Nyonya Caca sambil memeluk Jelita layaknya seorang anak.
"Pagi juga Ibu, Jelita sudah siap belajar," balas Jelita sambil tersenyum dan menatap wajah Ibu asuhnya yang selalu bersinar.
Nyonya Caca menahan dagu Jelita agar bisa menatap anak asuhnya itu dengan jelas.
"Kau terlihat cantik hari ini," ucapnya dengan penuh keyakinan, membuat manik bola mata Jelita berkaca-kaca. "Benarkah?"
Nyonya Caca menangguk dan melepas anak asuhnya yang telah siap berangkat.
"Pergilah sekarang dan belajarlah dengan giat. Jangan mengecewakan Ibu asuhmu ini," ucap Nyonya Caca dan Jelita mengangguk mantap. "Baik Ibu, Jelita tidak akan mengecewakan Ibu!"
Nyonya Caca mengulum senyum, kemudian menatap supir pribadi kepercayaannya. "Antarkan Jelita sampai ke sekolahnya dan pastikan dia selalu aman selama perjalanan."
Pak Roy mengangguk patuh. "Baik Nyonya besar."
Mereka berdua lalu menaiki sebuah mobil dan melaju cepat menuju tempat dimana Jelita akan menuntut ilmu.
***
Sesampainya disekolah, Pak Roy memarkirkan mobil itu terlebih dahulu. Lalu mengantar Jelita hingga bertemu dengan kepala sekolah.
__ADS_1
Di sepanjang langkahnya, Jelita menatap takjub gedung sekolah yang berdiri kokoh dihadapannya. Gedung sekolah itu dibangun khusus untuk anak seperti Jelita, dibangun dengan sumbangsih para donatur dan dibangun dengan harapan besar agar mereka yang kurang mampu dapat mengenyam pendidikan layak setara dengan sekolah lainnya.
Gedung yang begitu rapih dan bersih, banyak pepohonan dan taman yang asri. Jelita melihat banyaknya siswa dan siswi di depan kelas, tengah bercengkrama satu sama lain.
Mereka tertawa dan berbincang dengan sesama teman, menghabiskan sisa waktu saat menunggu jam masuk sekolah.
Jelita melemparkan senyum kepada mereka yang tak sengaja melihatnya datang. Hati Jelita merasa senang dan lega saat mereka mau membalas senyumannya itu dengan ramah.
***
Sesampainya di ruang kepala sekolah, Roy dan Jelita pun masuk ke dalam.
"Selamat pagi Bu," ucap Jelita memberi salam.
"Selamat pagi Nak, silahkan duduk," balas Ibu kepala sekolah.
"Roy ... Apa dia ini Jelita anak asuh yang dimaksud oleh Nyonya besar?" tanya kepala sekolah bernama Bu Nining.
"Benar Bu Nining," balas Pak Roy.
Bu Nining mengulum senyum lalu menatap Jelita, "Jelita selamat datang disekolah barumu, Ibu harap kamu bisa belajar yang rajin disini ya. Saya Bu Nining, kepala sekolah disini."
"Baik Bu Nining," balas Jelita patuh.
"Ibu sudah melihat berkasmu dan Nyonya Caca juga telah banyak bercerita tentang dirimu. Kamu jangan khawatir, disini tidak akan ada siswa yang memperlakukanmu dengan buruk. Mereka semua adalah pelajar yang baik dan sama seperti dirimu. Mereka menghargai sesama dan berteman dengan siapa saja. Disini tidak ada perbedaan si kaya atau si miskin, karena mereka semua sama. Semua adalah Anak-anak asuh yang baik dan terpilih." jelas Bu Nining.
Jelita mengangguk mengerti. "Jelita percaya Ibu."
Jelita pun patuh lalu mengekor mengikuti Bu Nining.
***
Sesampainya di depan kelas, Bu Nining menyapa semua anak muridnya lalu mengajak Jelita untuk masuk ke dalam.
Semua siswa tersenyum senang menatap siswi yang baru saja tiba di kelas mereka.
"Anak-anak, hari ini kalian kedatangan teman baru. Ibu harap kalian bisa berteman baik dengannya ya," ucap Bu Nining kepada semua murid di dalam kelas.
"Baik Ibu," seru mereka dengan kompak dan bersemangat ketika mendengar kedatangan teman baru.
"Bagus, sekarang Jelita perkenalkan dirimu ya," titah Bu NinIng kepada Jelita.
Jelita mengangguk dan mulai memperkenalkan diri.
"Selamat pagi semuanya, perkenalkan namaku Jelita. Salam kenal," ucap Jelita merasa gugup dan canggung.
"Salam kenal Jelita," seru mereka kembali.
__ADS_1
Jelita kemudian di minta untuk duduk oleh Bu Nining, pada bangku kosong yang telah di sediakan sebelumnya.
"Salam kenal, aku Tasya."
"Salam kenal, aku Nadine."
"Hai Tasya ... Hai Nadine, aku Jelita."
"Hai Jelita, aku Bima. Aku yang paling kuat, jika ada yang berani macam-macam, panggil saja nama ku. Aku akan menolongmu."
Mereka semua tertawa dan melanjutkan kembali perkenalannya.
"Jelita ... Aku Yudistira dan ini Arjuna."
"Hai," balas Jelita.
"Hai Jelita aku Nakula dan ini adikku Sadewa. Kami berdua kembar loh."
Mereka berkumpul saling memperkenalkan diri mereka masing-masing. Mereka saling tertawa dan berbincang satu sama lain. Tak ada yang menghina, mencela atau mencaci di sekolah itu. Karena mereka merasa semua adalah sama, yaitu sama-sama seorang manusia.
Jelita pun merasa senang, dalam sekejap dia telah memiliki banyak teman. Mereka mau berteman dengannya dengan ikhlas dan merasa terharu dengan keramahan semua murid di sana.
"Ibu Asuh, terima kasih."
Tak berapa lama kemudian, Pak Roy meninggalkan Jelita yang sedang belajar, karena dirinya harus kembali bekerja dan akan menjemput Jelita pada siang nanti. Saat Jelita pulang sekolah.
………………………………………………………………………………
Di Kampus Michael.
Michael seperti biasa duduk menatap keluar jendela. Dia memikirkan sesuatu tapi bukan pelajaran.
"Sedang apa ya dia disana? pasti dia sedang menangis seperti bayi." Michael pun tertawa pelan seperti tertahan dan memikirkan bagaimana lemah nya Jelita.
Dia terus terkekeh sambil membayangkan wajah Jelita yang lucu.
"Kau menertawai siapa Mike?" tanya Floren tiba-tiba, hingga Michael seketika merubah wajahnya menjadi dingin kembali.
"Cih! kau mau tahu saja," balas Michael dengan ketus.
Floren tersenyum smirk dan mendekat hingga menempel dengan Michael.
"Mike sayang, rencananya minggu ini aku mau main ke rumahmu," ucap Floren tanpa ragu.
"What!" Pekik Michael dengan kedua mata yang membola sempurna.
.
__ADS_1
.
Bersambung.