Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 71. Permintaan Wiliam.


__ADS_3

"Tolong! Buka pintunya!" Jelita berteriak histeris sambil terus memukuli pintu mobil yang terkunci dan mulai menangis terisak saat mobil terus saja melaju kencang.


Dia dibuat ketakutan saat memandangi orang-orang di dalam mobil tersebut. Semua pria asing berpakaian rapi serba hitam dan juga bertampang seram, apalagi sesosok pria yang duduk disamping dirinya.


"Siapa kalian dan kenapa menculikku?" tanya Jelita dengan suara bergetar. "Hentikan mobilnya ...Turunkan aku disini, sekarang juga!" Titahnya memberanikan diri.


Namun penolakan maupun pemberontakan gadis itu nyatanya sia-sia, mereka terus saja tidak menjawab dan tidak menghiraukan Jelita yang sedang menangis dan memukuli mobil tersebut.


Jelita pun semakin panik, saat sekolah tempatnya menuntut ilmu telah terlewat begitu jauh dibelakangnya.


"Hiks ... Turunkan aku ... Aku mau sekolah," ucap Jelita terdengar lirih.


"Ku mohon jangan bawa aku pergi, aku harus pergi ke sekolah. Aku tidak tahu siapa kalian dan aku juga tidak tahu apa salahku. Ku yakin kalian pasti salah orang ..." ucap Jelita sambil terus memohon minta dibebaskan kepada pria disampingnya yang masih saja bergeming. Terlihat begitu santai memandangi ruas jalan.


Sadar aksinya tidak membuahkan hasil, Jelita kini hanya bisa terdiam sambil menangis tersedu-sedu. Pikirannya diliputi ketakutan dan juga beragam pertanyaan. Mengapa dirinya diculik, apa yang akan terjadi padanya setelah ini dan lain sebagainya.


"Hiks ... Ibu tolong aku ... Aku takut sekali ..." ucap nya lirih saat mengingat sang ibu dirumah kemudian meringkuk sedih menyembunyikan wajah pada sudut kursi mobil.


Jelita hanya bisa pasrah sambil terus berdoa dalam hati, semoga saja ada seseorang yang menolong dirinya.


Sementara itu, pria disamping Jelita mulai bergeming. Dia menghela nafas panjang saat mendengar gadis disebelahnya itu terus saja menangis, meminta untuk dilepaskan.


Dia membuka kaca mata hitamnya dan menengok ke arah Jelita lalu memiringkan posisi duduknya agar bisa menatap gadis itu lebih jelas.


"Tidak ku sangka ternyata aslinya jauh lebih cantik," ucap pria itu lalu mulai mengeser diri mendekati Jelita.


"Jangan mendekat! Tolong jangan sentuh aku," ucap Jelita saat melihat pria asing nan seram itu mendekat dan mengulurkan sebuah tangan untuk menyentuh wajahnya.


"Jangan menangis ... Maaf jika aku membuatmu takut, aku tidak bermaksud jahat kepadamu," ucap Pria itu kemudian menarik lengannya kembali.


Jelita pun menoleh dengan wajah yang sudah basah terkena air mata. "Kau siapa?" tanyanya.


"Aku William," jawabnya dengan tersenyum.


"William ... Kau mau apa, aku tidak mengenalmu. Tolong lepaskan aku," rengek Jelita kembali.


"Tapi aku mengenalmu," balas William.


"Sumpah aku tidak mengenalmu Paman, kau pasti telah salah menculik orang," ucap Jelita tidak percaya dengan ucapan pria tersebut.


William berdecih saat dirinya dipanggil Paman oleh Jelita, apa dia setua itu pikirnya.


"Panggil aku William saja dan aku juga tidak berbohong kalau aku memang mengenalmu. Jelita," balas William.


Jelita bergetar saat pria itu tenyata tahu namanya. "Paman, namaku memang benar Jelita, tapi kau mau apa? Tolong jangan sakiti aku, aku masih kecil."


William tersenyum. "Tenang, aku tidak akan menyentuhmu asalkan kau mau menjawab pertanyaanku."


"Baiklah Paman, kau ingin bertanya apa?" tanya Jelita masih disudut mobil menjaga jaraknya dengan William. Takut jika sewaktu-waktu dia diterkam oleh pria bertubuh kekar disebelahnya.


"Jelita ... Kau benar-benar tidak mengenaliku?" tanya William menatap Jelita dengan serius.


Jelita pun menggeleng. "T-tidak," balasnya gugup, mencoba mengingat-ingat siapa pria yang mengaku-ngaku kenal dengan dirinya.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan membantumu mengingatku. Aku adalah anak yang tidak sengaja telah menghilangkan nyawa ayahmu," balas William tanpa ragu, lalu menunggu reaksi apa yang akan di keluarkan oleh gadis manis di sampingnya itu.


Jelita mengangkat wajahnya, lalu menatap Wiliam tidak menyangka. Kedua matanya telah membola, saat mendengar pengakuan tidak terduga dari pria macho didekatnya itu.


Lalu kenangan buruk yang terjadi belasan tahun yang lalu pun kembali terlintas di dalam pikirannya, saat sang ayah tercinta telah tiada akibat ulah seorang remaja urakan kala itu.


Tak terasa air matanya kembali mengalir, terlebih melihat jasad sang ayah, meninggal dalam kondisi mengenaskan. Jelita menatap William sekali lagi, dipandangnya baik-baik pria itu dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.


Dia menutup mulutnya yang mengangga karena tidak percaya dan seketika itu memori lama pun muncul kembali. Saat dirinya memukuli pria jahat itu di pengadilan.


"J-jadi ___" Jelita menelan ludahnya sejenak lalu melanjutkan kembali perkataanya. "K-kau, si jahat itu," ucapnya dan William mengangguk samar.


Kenangan pahit dan juga menyedihkan itu membuat Jelita naik pitam, nafasnya terdengar memburu. Dia bergerak menghadap Wiliam dan refleks merenggut kemeja hitam yang melekat pada tubuh atletisnya Wiliam.


Lalu ditariknya sekuat tenaga mengakibatkan beberapa kancing pada kemeja itu lepas begitu saja hingga menangga lebar menampillan sebuah dada berotot dan bertato milik Wiliam karena ulah dirinya.


Jelita yang sedang meluapkan amarah pun melupakan rasa ketakutannya terhadap William, dia malah berbalik berubah gusar dan mulai memarahi William begitu beraninya.


"Kau pembunuh ayahku, kembalikan dia sekarang juga. Karena dirimu ibu ku menderita hingga sekarang, penderitaan dan juga kesedihannya akibat kejahatanmu. Kau orang jahat! Aku benci orang jahat sepertimu! Aku membencimu!"


Jelita berganti memukuli dada William bertubi-tubi dengan sekuat tenaga.


Namun William hanya tersenyum dan senang akan perlakuan Jelita yang tiba-tiba berubah agresif. Dia menikmati setiap pukulan lembut pada dadanya yang membentang bebas akibat kancing kemejanya yang terlepas.


Setelah dirasa gadis itu puas dan lelah memukuli dirinya. Kini Wiliam bergantian mencekal kedua pergelangan Jelita, dan menatap wajah Jelita yang sudah memerah karena marah.


"Padahal aku yang dipukuli olehmu, tapi mengapa wajahmu yang memerah," ucap William lalu menarik kedua lengan Jelita hingga gadis itu pun masuk ke dalam pelukannya.


"Menangis dan melawan lah sepuas hatimu Jelita, setelah itu terimalah permintaan maaf dariku dan setelah itu, kau harus setuju untuk ikut bersamaku," balas Wiliam, dia terus mendekap tubuh Jelita dengan erat.


"Lepas! Menjauhlah dariku, aku tidak sudi memaafkan orang sepertimu, apalagi harus ikut bersama denganmu!" bentak Jelita.


"Ya sudah, kalau kau tidak ingin memaafkanku dan juga tidak mau menuruti permintaanku. Maka terima lah terus pelukanku ini, aku tidak akan melepaskannya. Aku ingin lihat seberapa besar kekuatan mu itu melepaskan diri dari dekapanku ini," Wiliam tersenyum dan suka sekali dengan pemberontakan Jelita seperti itu.


Selama ini wanita yang dia temui selalu menjatuhkan diri kepadanya secara sukarela, tanpa perlawanan, caci maki dan lain sebagainya.


Namun dirinya dibuat berbeda dalam menghadapi wanita satu ini, sepertinya dia harus membutuhkan tenaga dan kesabaran ekstra untuk menaklukkan hati gadis cantik di hadapannya itu dan itu membuatnya semakin bersemangat.


Hem menarik!


"Tidak tahu malu, aku akan menuntutmu atas kasus penculikan setelah ini dan juga pemaksaan terhadap wanita," balas Jelita sambil mendongakkan wajahnya menatap Wiliam tanpa gentar.


"Heh! Kau hanya mengertakku manis, mana mungkin aku takut dengan ancaman kecil dan tidak berartimu itu."


"Aku mengatakan itu dengan sungguh-sungguh dasar penjahat!" bentak Jelita.


Wiliam menarik diri namun masih menggenggam kedua lengan Jelita. "K-kau mau apa?" tanya Jelita merasa takut dengan wajah Wiliam yang berubah menjadi dingin.


"Akh lepas! Kau menyakitiku!" pekik Jelita saat Wiliam terus saja meremas kedua tangannya.


"Menurutlah, maka aku akan melepaskanmu! Jika tidak, maka aku tidak akan segan-segan melucuti pakaianmu disini juga!" Wiliam tersenyum smirk.


"Jangan, ku mohon jangan ... Baiklah aku mau menuruti kemauan mu, kau ingin apa katakan saja, tapi tolong lepaskan aku dan jangan berbuat macam-macam denganku,"

__ADS_1


Wiliam tersenyum dan melepaskan cengkraman tangannya. "Aku ingin kau memaafkan ku,"


"Tidak bisa, aku tidak bisa memaafkanmu begitu saja."


"Baiklah, terserah kau saja yang jelas aku sudah mengakui kesalahan dan juga meminta maaf padamu," balas Wiliam.


"Heh!" Jelita berdengus kesal.


"Yang kedua aku ingin bertemu dengan ibumu," pinta Wiliam.


"Tidak bisa dia sedang sakit dan kami sedang tinggal di mansion Chandra Putra, tapi senin depan kami sudah pindah dari sana."


"Baik, minggu depan aku akan menemui ibumu," balas Wiliam.


"Heh, aku tidak akan membiarkan kau menemui ibuku," cegah Jelita takut ibunya sedih mengingat kejadian tragis belasan tahun yang lalu. "Apa ada yang lain?" tanya Jelita sambil mengusap pergelangan tangannya yang merah.


"Ck kau begitu sulit dipinta! Baiklah yang ketiga dan yang paling penting adalah, jadilah kekasih ku, dan menikahlah dengan ku," pinta Wiliam.


"Tidak mau! Aku tidak ingin menikah atau menjadi kekasihmu, lagipula aku adalah seorang anak asuh dan itu sudah ada di dalam peraturan," jawab Jelita menolak mentah-mentah permintaan Wiliam.


Pria itu pun menjadi kesal karena permintaannya di tolak berkali-kali. Wiliam menghela nafas kemudian menatap Jelita kembali.


"Cih! Aku tidak suka dengan penolakkan. Baiklah, permintaan ku yang ketiga akan ku tunda, tapi sebagai gantinya aku mau kau menemaniku makan malam bersama dengan kakekku."


"Tidak bisa, aku harus belajar dan aku tidak bisa keluar masuk seenaknya dari rumah besar itu."


"Jika kau menolak maka aku sendiri yang akan menjemputmu dari rumah itu, dan jika aku gagal membawa mu nanti malam, besok aku akan menculik mu lagi dan lagi."


"Kau gila! Pria macam apa kau ini, seenaknya memaksa seorang wanita. Kau pikir aku takut dengan ancaman seorang brandal sepertimu!" ucap Jelita merasa kesal selalu saja dipaksa oleh setiap pria yang mana-mana. Termasuk Michael.


"Hem, baiklah," Wiliam membuka kemejanya dan menatap Jelita seperti hewan buas.


"K-kau mau apa?" tanya Jelita mulai gentar, keberaniannya semakin menciut ketika Wiliam mulai mendekat dan juga mengulurkan tangan meraih kerah pada seragam yang dikenakan oleh dirinya.


"Jika kau tidak mau menemaniku nanti malam, maka jangan salahkan aku merobek pakaianmu dan melihat isinya sekarang juga," ancam Wiliam.


"Jangan! Baik ... Baik aku akan menurutimu, tapi tolong jangan lakukan hal rendah itu kepadaku," balas Jelita.


Wiliam tersenyum dan menarik dirinya kembali, dia memerintahkan kepada sang supir untuk memutar balik.


"Kita ke sekolah! Ada siswi yang harus diantar," titah Wiliam lalu tersenyum menatap Jelita.


"Baik Bos!"


Sementara itu Jelita terpaku dan dibuat berdebar dengan aksi gila Wiliam, walau tidak menyentuh dirinya namun dia dibuat lemas dan panik bukan kepalang.


"Syukurlah!" ucap Jelita menghela nafasnya.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2