
Hotel berbintang 5.
Hari yang ditungu-tunggu akhirnya telah tiba, hari paling membahagiakan bagi keluarga besar Wijaya khususnya untuk Wiliam sendiri.
Tapi siapa sangka dibalik hari bahagianya itu, ternyata Wiliam juga bisa mengalami kegugupan berlebih, ketika mengetahui jika pernikahannya dengan Jelita akan dilangsungkan dalam waktu kurang dari dua jam lagi.
Seperti saat sekarang ini, Wiliam tengah memandangi dirinya di depan cermin dalam kamar hotel, berusaha menenangkan tubuhnya yang terus saja gemetaran karena gugup.
"Cih! Padahal hanya membacakan ikrar saja, kenapa aku harus gugup seperti ini," umpat Wiliam sambil membenarkan dasi pada kerah bajunya yang sudah rapi.
Pria tampan itu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan, lalu duduk di tepi kasur dan menghentak-hentak ujung kakinya sambil menunggu waktu.
Sungguh tidak menyangka ternyata hari pernikahannya ini, jauh lebih menakutkan dibandingkan saat dirinya menghadapi banyak musuh di depan mata.
"Oh siall, aku ingin kegugupan ini cepat berakhir." Wiliam menenggak minumannya hingga tandas dan berusaha menenangkan diri dengan berbaring diatas kasur sejenak.
Akan tetapi dirinya kembali gugup, saat membayangkan Jelita tengah memakai gaun pengantin dan sedang berdiri dihadapannya sambil tersenyum.
Wiliam menenguk ludahnya kasar, lalu melonjak bangun dari pembaringan. Sesekali meraup cucuran peluh di dahi dengan satu tangannya.
"Pasti dia cantik sekali, Oh Tuhan aku tidak pernah merasa gugup seperti ini sebelumnya," gumam Wiliam lagi.
Kali ini pria itu tidak dapat memungkiri kenyataan yang ada, bahwa dirinya hanyalah seorang pria normal kebanyakan. Yang sama-sama punya perasaan gugup, saat menghadapi acara penting sekali dalam seumur hidup.
Pria tampan itu terkekeh dan menatap benda melingkar pada pergelangan tangannya. "Satu jam lagi."
Wiliam memilih menghisap candu sambil duduk disofa untuk menenangkan diri, selagi menunggu waktu pemberkatan pernikahannya tiba.
Tak lama setelah itu, terdengar seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Masuk!" sahut Wiliam dari dalam.
Ternyata itu adalah Riko, sang asisten yang datang menemui Wiliam untuk memastikan, jika calon mempelai pria dalam keadaan baik-baik saja.
Asisten kepercayaan Wiliam masuk dengan gayanya yang cool habis, merasa tidak mau kalah tampan dari bos nya sendiri.
Dia mendekat ke arah Wiliam yang sedang asik menghisap candu lalu duduk di sisi Wiliam.
"Gimana Bos, sudah siap?" tanya Riko menepuk pahaa bos tampannya.
"Hem," jawab Wiliam menutupi rasa gugupnya pada Riko.
"Santai Bro, kau pasti bisa melewati ini semua. Hanya tinggal mengikuti kata-kata dari pendeta dan semuanya beres," balas Riko memberi ketenangan untuk si pengantin.
Wiliam mengangguk samar. "Iya kau benar, hanya tinggal mengucap ikrar. Setelah itu Jelita akan menjadi milikku selamanya."
Riko tersenyum dan menatap wajah Wiliam.
"Ternyata dia bisa gugup juga," gumamnya ketika melihat raut wajah cemas terukir jelas di wajah Wiliam. Ini kali pertama dalam hidupnya, Riko melihat sisi lain dari Wiliam.
Berbeda dari sebelumnya, saat pria itu belum menemukan cinta. Wiliam nampak bagaikan balok es, berwajah datar dan juga dingin, tidak ada kasih maupun cinta.
__ADS_1
"Tinggal 15 menit lagi, ayo kita berangkat!" ajak Riko.
"Hem, ayo!"
Wiliam menarik nafas kembali dan membuang puntung candunya yang sudah mati, dia berdiri dengan tegak. Membuang semua rasa gugupnya demi masa depan bersama wanita yang ia cintai
...***...
Sementara itu di kamar hotel yang berbeda, seorang pengantin wanita telah selesai di dandani.
Sebuah Wedding Veil pun panjang dikenakan, menutupi mahkota dari kepala hingga separuh badan dengan sempurna. Sebagai penanda siapnya sang calon pengantin wanita untuk pergi menuju altar pemberkatan pernikahan.
"Ayo Jelita kita berangkat," ajak Ibu Maria.
Jelita mengangguk. "Iya Ibu."
Sama hal nya dengan Wiliam, Jelita pun merasakan gugup dalam dirinya. Dia hanya bisa berdoa agar pernikahan berlangsung dengan lancar, tanpa ada gangguan atau kesalahan yang berarti.
...----------------...
Setibanya di tempat yang di maksud, Wiliam menunggu kedatangan Jelita dengan sabar.
Pria itu berdiri menghadap pintu masuk, menunggu seorang wanita melangkahkan kaki menuju ke arahnya.
Wiliam kembali gugup dan menghela nafas berulang-ulang, ketika suara riuh di depan sana mulai terdengar di telinganya.
Dan tak lama setelah itu, suasana di dalam ruangan tersebut berangsur hening. Saat Jelita mulai menapakkan kakinya, berjalan masuk dengan anggun.
Mereka tidak dapat memungkiri, jikalau penampilan Jelita kali ini begitu cantik dan juga menawan hati.
Sementara itu di depan sana, Wiliam senantiasa memandangi setiap langkah kaki wanitanya berjalan maju. Dengan kedua mata yang tidak pernah berkedip, menatap sang pujaan hati berjalan dari kejauhan, hingga Jelita berhenti dan telah berdiri tepat disebelahnya.
Pria itu tersenyum lembut dan menatap Jelita, lalu meraih tangan wanitanya. Wiliam dan tidak lupa ia mencium lembut punggung tangan Jelita mengikuti naluri.
"Kau cantik sekali," puji Wiliam.
Jelita pun tertunduk dan tersipu malu, tidak disangka jika Wiliam begitu tampan dan mempesona.
"Kau juga terlihat tampan," puji Jelita.
Mendengar pujian langsung dari calon istrinya, membuat Wiliam semakin grogi saja. Pria itu tidak dapat lagi menyembunyikan rasa bahagianya, hingga tanpa sadar ia menyosor Jelita tanpa malu-malu.
"Hei bos belum waktunya!" sahut Riko dari kursi lalu diiringi suara tepuk tangan dan gelak tawa dari keluarga maupun para tamu undangan.
"Itu baru cucuku!" gelak Opa Wijaya seraya menunjuk-nunjuk ke arah Wiliam.
Wiliam menarik diri dari Jelita dan segera meminta maaf, karena tidak dapat mengontrol dirinya dan telah mencuri start duluan.
"Maaf Pak pendeta, sekarang kau bisa memulai acara ini," ucap Wiliam lalu memandang Jelita kembali.
Sedangkan Jelita hanya menunduk malu akibat ulah Wiliam kepadanya tadi di depan banyak orang.
__ADS_1
...***...
Pembacaan ikrar suci sedang berlangsung dengan khidmat, dihadapan para saksi dan juga para keluarga yang hadir. Dimana Wiliam dan Jelita terlihat begitu serius membacakan janji suci pernikahan mereka.
Wiliam dan Jelita serempak menghela nafas lega ketika pendeta mengumumkan, jika mereka telah resmi dan sah menjadi suami istri dalam ikatan suci pernikahan.
Keduanya tersenyum lalu menunjukkan tangan mereka yang telah tersemat cincin pernikahan pada jari manis masing-masing untuk diabadikan dalam bentuk album foto kenangan.
Seluruh hadirin di dalam aula tersebut pun turut bersuka cita, memberikan tepuk tangan yang meriah kepada keduanya. Suasana bahagia dan haru menyelimuti ruangan tersebut, terlebih bagi Opa Wijaya sendiri.
Beliau begitu bahagia, sampai-sampai pria tua itu tanpa malu menangis di dalam pelukan Pak Boby yang setia ketika.
"Boby aku bahagia sekali, akhirnya aku sempat melihat mereka berdua menikah. Oh Tuhan kau boleh ambil diriku kapan pun yang Kau mau," puji syukur Opa Wijaya di selingi isakan tangis bahagianya.
...----------------...
Setelah selesai pemberkatan pernikahan, Wiliam dan Jelita menaiki mobil menuju hotel untuk memperbaiki riasan dan gaun, sekaligus beristirahat untuk pesta pernikahan mereka malam nanti.
Di sepanjang perjalanan menuju hotel, mereka hanya menghela nafas lega dan tersenyum. Berpegangan tangan, sesekali mencuri-curi pandang dengan ujung ekor mata.
"Jelita, aku sangat lega sekali dan aku merasa senang karena kita telah resmi menikah. Sekarang kau telah menjadi istriku, sesuai dengan sumpah yang telah kita ucapkan tadi. Aku akan selamanya bersamamu, mencintaimu sepenuh hati dan selalu setia hanya kepadamu," ucap Wiliam.
Jelita berdebar kembali dan menoleh ke arah Wiliam. "Terima kasih Wiliam, sama dengan yang telah kau ucapkan. Aku pun begitu, kau suamiku dan aku milikmu untuk selamanya."
Wiliam mengenggam erat tangan Jelita. "Jelita ... Kau bilang aku milikmu dan kau adalah milikku. Kalau begitu Jelita, bolehkah malam ini aku memilikimu seutuhnya?" ucapnya memberanikan diri.
Jelita tertunduk malu, dia mengerti kemana arah pembicaraan Wiliam. Wanita itu lantas menggaruk lehernya yang tidak gatal dan menggigit bibirnya karena merasa gugup.
Wiliam terdiam dan memilih untuk tidak melanjutkan pembicaraan tersebut. "Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, aku tidak akan memaksamu jika kau memang belum siap."
Jelita mengangkat kepalanya perlahan dan melirik Wiliam yang sedang menatap keluar jalanan. Ada perasaan tidak enak juga tidak membalas keinginan suaminya itu.
"Wil, aku sudah menjadi istrimu. Apa yang kau inginkan dariku itu sudah menjadi hakmu, janganlah pernah berpikir kalau aku belum siap atau tidak mau denganmu. Aku hanya gugup dan sedikit takut saja saat akan melewati malam pertama nanti bersamamu," balas Jelita.
Wiliam menoleh cepat dan mendekatkan dirinya lebih rapat kepada istrinya lalu menangkup kedua sisi wajah Jelita. "Benar kah itu, kau sudah siap melakukan itu Jelita?"
Jelita mengangguk pelan dan tersenyum. "Aku siap," jawabnya pasti.
Wiliam menarik senyum, dia begitu bahagia hingga tidak dapat mengucapkannya lagi dengan kata-kata. Bahkan saking bahagianya, pria itu hampir saja menangis dan segera memeluk Jelita begitu eratnya agar tidak ada yang melihat air mata bahagianya.
"Terima kasih Jelita, aku mencintaimu," ucap Wiliam lalu seperti biasa mendaratkan sebuah ciuman hangat nan mesra.
Sampai-sampai tidak menghiraukan sang supir yang sudah menelan ludahnya berkali-kali hingga kenyang, menatap pasangan pengantin sedang hot-hot nya di kursi belakang.
"Alamak, apa mereka tidak bisa menunggu malam nanti di dalam kamar hah. Berciuman disini sampai sebegitunya, apa dia tidak tahu kalau saya ini seorang jomblo! Ah nasib," gumam sang supir hanya geleng-geleng kepala.
.
.
Bersambung.
__ADS_1