
Keesokan harinya.
.
Mansion Chandra Putra.
Michael menuruni tangga, dia berjalan menuju meja makan dimana Daddy dan Mommy telah menunggu dirinya untuk sarapan bersama.
"Morning Mommy ... Daddy ..." sapa Michael lalu menarik kursi dan duduk.
"Morning Miki," sahut Mamy dan Daddy bersamaan.
Michael menatap wajah kedua orang tuanya yang selalu bersinar, raut wajah mereka berdua selalu berseri-seri apalagi setiap kali bangun tidur di pagi hari.
"Mamy ... Coba katakan padaku, Mamy setiap hari pakai skincare apa?" tanya Michael sambil menyantap roti sandwich di tangannya.
Mamy mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali, entah kesambet apa putranya bertanya hal itu kepadanya.
"Tanya saja sama Daddy mu, Mamy pakai skincare apa Dad?" Mommy menaikkan wajahnya ke arah Daddy berkali-kali.
Daddy menggeleng sambil mengunyah makanan lalu menelannya dengan susah payah. "Tidak tahu ..." lalu kembali melanjutkan menyuap nasi.
"Jawaban macam apa itu, setiap hari bersama istrinya sendiri tidak tahu," ucap Michael sambil mengunyah Sandwich perlahan.
"Mommy kamu tidak pernah pakai skincare macam-macam setau Daddy hanya pembersih wajah, pelembab, krim siang dan malam, selebihnya Daddy tidak tahu. Merek produk yang digunakan Mamy mu juga Daddy tidak tahu. Memangnya kenapa kamu tanyakan hal itu Mike?" tanya Daddy terheran-heran.
"Tidak ada, Mike selalu merasa Mommy selalu terlihat cantik," balas Michael dan hal tersebut membuat hati Mamy seketika berbunga-bunga.
"Terima kasih anakku yang tampan."
"Sama-sama Mom," balas Michael.
Mamy tersenyum sambil menatap putranya yang sudah besar lalu berkata, "Tapi ketahuilah ini anakku, kecantikan yang paling penting untuk seorang wanita adalah kecantikan yang berasal dari dalam hati. Kecantikan yang berasal dari dalam hati menjadikan dia selalu cantik di setiap saat di sepanjang usianya. Jadi sayang, jika kau ingin mencari pasangan hidup carilah wanita yang benar-benar mencintaimu dengan tulus, bertanggung jawab, sayang keluargamu dan berhati baik," ucap Mommy memberi nasihat.
Michael lantas mengangguk saja walau tidak mengerti. "Baik Mom, Mike akan mengingatnya ... Mike harus pergi ke kampus sekarang. Bye Mom, Dad." Michael lalu bergegas pergi ke kampus bersama supir pribadinya.
"Miki! sehabis kuliah jangan pergi kemana-mana. Kita ada undangan dinner bersama nanti malam!" ucap Mamy sebelum anaknya berangkat ke kampus.
"Oke Mom!" jawab Michael sambil menunjukkan jari berbentuk O.
"Hei mana almamatermu!" teriak Mamy sebelum Michael masuk ke dalam mobil.
Michael berpikir sejenak. "Ehm ... sedang dipinjam teman!" lalu di jawab nya dengan cepat.
"Syukurlah dia sudah punya teman, ku pikir dia akan cuek setengah mati disana," gumam Mamy lalu masuk kembali ke dalam.
***
Di sepanjang jalan menuju kampus, Michael menatap keluar jendela lalu bergumam dalam hati sambil memikirkan perkataan dari Mamy nya.
"Kecantikan dari dalam hati ... wanita berhati baik ... mencintaiku dengan tulus dan menyayangi keluarga? ... Apa aku bisa mendapatkan wanita seperti itu dijaman sekarang? ... Ah entahlah."
………………………………………………………………………
__ADS_1
Di Kampus.
Jelita mendapat panggilan dari pihak kampus, dia segera ke kantor untuk menemui seseorang.
"Tok tok tok ... Permisi!" sapa Jelita.
"Masuk!" sahut seseorang dari dalam.
"Jelita silahkan duduk," pinta Bu Riana.
"Baik Bu." Jelita lalu duduk dan mereka kini saling berhadapan.
Bu Riana kemudian mengeluarkan sebuah amplop coklat panjang dari dalam lacinya, lalu menyerahkan kepada Jelita.
"Jelita ini untuk mu, terima lah."
"Apa ini Bu?" tanya Jelita.
"Ini adalah uang dari penggalangan dana yang pernah Ibu katakan kepadamu kemarin dan inilah hasilnya. Semua murid yang mengenal ibumu bahu membahu menyisihkan uang saku mereka untuk membantu kesembuhan bu Maria," balas Bu Riana.
Jelita diam terpaku menatap sebuah amplop coklat yang begitu tebal di atas meja, pikiran dan hatinya bertarung hebat. Tangannya begitu terasa berat menerimanya namun, jauh dalam lubuk hati dia membutuhkan uang tersebut karena ingin sang ibu sembuh.
"Terima lah, jangan terlalu banyak berpikir. Kesembuhan ibu mu sangat penting dan mereka tulus serta ikhlas memberi ini kepadamu," pinta Bu Riana.
Jelita ragu, namun sebuah tangan meminta dia menerimanya.
"Terima lah ... Ini semua adalah pemberian dari kami untuk bu Maria," ucap mahasiswa senior penggalang dana yang datang entah darimana.
"T-terima kasih ...." balas Jelita lalu menerima uang tersebut.
"Jelita jangan bersedih," ucap Bu Riana.
"Tidak Bu, Jelita tidak sedih ... Jelita merasa senang, akhirnya hiks! .... Akhirnya Jelita bisa membawa ibu berobat ke rumah sakit ..." ucap Jelita lirih lalu melepas kacamata dan menghapus tangisannya itu dengan kedua tangan.
"Pergunakan uang itu sebaik-baiknya, dengan uang itu kau bisa membawa ibumu ke rumah sakit, membelikan nya kursi roda yang baru, biaya transport dan lain-lain."
"Baik Bu. Akan Jelita gunakan sebaik-baiknya dan jika ada lebih uangnya, hutang kampus ini juga akan Jelita lunasi," balas Jelita memakai kacamatanya kembali.
Bu Riana mengulum senyum. "Hutang mu pada kampus ini sudah lunas Jelita," ucap Bu Riana dan itu membuat Jelita membisu kembali.
"L-lunas?" tanya Jelita kebingungan.
Bu Riana mengangguk dan menjawab, "Iya lunas. Seseorang telah melunasinya."
"S-siapa Bu?" tanya Jelita penasaran.
"Iya orang itu adalah Michael ... dia datang langsung dan bertanya kepada ibu jumlah hutangmu dan hari itu juga dia telah melunasinya," jawab Bu Riana.
Jelita terdiam, dia berniat ingin mengucapkan terima kasih kepada Michael secara langsung.
Diapun segera berdiri dan meminta ijin untuk pergi. "Terima kasih Bu, kakak senior. Jelita pamit dahulu, aku harus menemui seseorang dan berterima kasih kepadanya," ucap Jelita membungkukkan badannya.
"Sama-sama ... Silahkan," balas Bu Riana dan yang lainnya.
__ADS_1
***
Sesampainya di depan kelas Michael, Jelita menunggu hingga pria itu keluar sendiri dari kelasnya dan setelah Michael keluar Jelita langsung datang menghampirinya.
"P-permisi ..."
Michael mencari sumber suara lalu mendapati Jelita telah berdiri dihadapannya.
"Ada apa mendatangiku, apa kau tidak takut dengan konsekuensinya jika mendekatiku?" tanya Michael.
Jelita menggangguk pelan. "T-takut sih, tapi aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena kau telah membantu melunasi hutangku pada kampus ini."
"Kau tahu dari siapa jika aku melunasi hutangmu?" tanya Michael.
"Dari Bu Riana, dia bilang kepadaku. Katakan saja Tuan, kau ingin aku melakukan apa untuk bisa membalas budi mu, atau kau ingin aku mencicilnya kembali kepadamu juga tidak apa-apa. Aku akan melunasinya."
Michael menghela nafas dan berdecak kesal. "Cih! Hutangmu itu hanya bernilai 25 juta, itu tidak terlalu berarti bagiku. Kau tidak perlu menggantinya."
Michael lalu berjalan melewati Jelita tapi dengan segera Jelita mencubit baju belakang Michael hingga pria itu pun berhenti berjalan.
Michael lalu menengok kebelakang memastikan pakaiannya yang tertahan seperti tersangkut sesuatu dan melihat ternyata Jelita lah yang telah menarik pakaiannya.
"Lepaskan bajuku!" Michael menarik badannya agar cubitan Jelita pada bajunya itu terlepas.
"Maaf, tapi aku tidak ingin berhutang budi terlalu banyak. Aku ingin membalasnya, jadi jangan takut aku tidak bisa menggantinya."
Michael menatap Jelita. "Baik, jika suatu hari aku membutuhkan mu. Aku akan datang sendiri dan sekarang jangan dekati aku lagi." Michael kemudian berjalan pergi dan Jelita teringat sesuatu.
"Baik lah ... T-tuan almamatermu masih belum ku kembalikan!" ucap Jelita setengah berteriak.
"Untukmu saja tidak perlu dikembalikan, aku sudah beli yang baru!" sahut Michael.
"Ooh ...."
Jelita lalu mengulum senyum sambil menatap Michael yang berjalan membelakangi dirinya namun hal itu tidak disukai oleh mereka yang melihat kejadian tersebut.
"Sok kenal dan sok dekat dengan Michael!" ucap Sandra.
"Benar, dia cari perhatian dengan cara yang menjijikkan. Segala bicara membalas budi lah, butuh sesuatu lah. Apa yang bisa dia lakukan kepada Michael, sok berlagak bisa mengganti uangnya Michael. Siapa yang akan membutuhkan dirinya, sementara dia itu hanya orang miskin sekali tidak punya apa-apa," balas Mika.
Sementara itu Clara bertanya kepada Floren, "Floren, untuk apa kau memfoto mereka?"
Floren mengulum senyum lalu menatap foto yang dia ambil dari ponselnya sendiri. "Untuk sesuatu, lebih tepatnya meminta sesuatu kepada dirinya nanti malam. Kau masih menyimpan Video kemarin kan, jika masih jangan dihapus kirimkan saja kepadaku."
"Baiklah," balas Clara.
"Lihat saja kau Mike, apa kau bisa menghindari ini semua." Floren berucap sendiri.
Clara mengeryitkan dahi, dia tidak mengerti maksud dari Floren, dia hanya bisa menghela nafas melihat temannya yang bertingkah berlebihan jika menginginkan sesuatu.
"Semoga saja dia tidak melakukan sesuatu yang merugikan dirinya sendiri," ucap Clara seraya meninggalkan temannya dan tidak mau ikut-ikutan dengan aksi buruk Floren.
.
__ADS_1
.
Bersambung.