
Di Kampus Michael.
Setelah cukup lama Floren mengurung diri di dalam rumahnya, akhirnya gadis berparas cantik nan seksi itu memberanikan diri untuk masuk kuliah.
Kali ini dia berubah menjadi gadis bulian di kampus, terutama di dalam kelasnya sendiri akibat perilaku buruknya kepada Jelita maupun siswa lain disana sewaktu dulu ia berkuasa.
Mungkin itu merupakan karma baginya, karena sifatnya yang angkuh, sombong dan suka menghina orang lain. Kini gadis itu hanya bisa sendirian di pojok ruangan kelasnya, jangankan untuk memandang, melirikpun semua orang tidak ada yang sudi.
Clara senantiasa menengok ke belakang, tempat dimana Floren duduk sendiri. Gadis itu merasa iba, apalagi Floren pernah menjadi teman baiknya waktu kecil.
Saat jam kosong, Clara memberanikan diri mendekati Floren. Walau ia tahu jika temannya itu tidak akan menyukainya.
"Flo, apa kau sehat?" tanya Clara baik-baik.
Floren menatap Clara malas. "Tidak usah peduli denganku pengkhianat!" jawabnya ketus.
"Flo kenapa kau selalu berkata begitu kepadaku, kita kan teman," balas Clara.
Floren mengebrak meja kursinya. "Menyingkir dariku! Tidak bisakah kau membiarkan aku sendiri!" bentaknya kasar, hingga semua orang melihat ke arah mereka.
"Dasar cewek tidak tahu diri, beraninya membentak menantu keluarga tuan besar!" serobot Sandra tiba-tiba saat mendengar keributan dibelakang kelas.
"Benar, tidak tahu malu sekali. Sudah untung masih di tanya, ini malah menggonggong seperti hewan berkaki empat saja. Cih!" Mika menimpali ucapan Sandra.
"Kurang ajar! Apa kalian lupa siapa aku hah, aku adalah putri keluarga terhormat Wijaksana dan aku putri keluarga nomor dua terbesar di negeri ini. Lalu kalian siapa beraninya menasehati bahkan menceramahi ku seperti itu!" balas Floren dengan nada emosi seperti biasa.
Sandra dan yang lainnya hanya tertawa mendengar perkataan Floren.
"Heh! Kau memang benar putri terkaya nomor dua di negeri ini. Tapi itu dulu, sewaktu papa mu itu ditunjuk menjadi pewaris perusahaan Wijaya group yang terpilih. Tapi kau sendiri sepertinya lupa, karena perusahaan besar itu sudah jatuh ketangan sepupu tiri mu sendiri," balas Sandra.
"Benar ... Jika bukan karena nama perusahaan besar Wijaya Group berada di belakang perusahaan ayahmu itu, aku yakin nama keluargamu itu bukan lah apa-apa. Terlebih lagi, keluargamu juga hanyalah orang luar dan bukanlah keluarga kandung tuan besar Wijaya, jadi berhentilah sombong," ucap Mika menimpali diiringi suara tawa seisi kelas.
"Kalian, janganlah bicara seperti itu. Dia adalah temanku, aku tidak akan memaafkan sikap buruk dan juga ucapan menyakitkan seperti itu kepada temanku!" bentak Clara, dia begitu kesal karena semua siswa dan siswi sama saja.
Floren mengepal erat tangannya, dan menatap tajam semua orang di dalam kelas. "Lihat saja nanti, aku tidak akan memaafkan ucapan kalian kepadaku!" bentaknya.
__ADS_1
Gadis itu merampas tas nya dan hendak meninggalkan kelas. Akan tetapi, sebelum keluar dari kelas, dia berhenti menatap Michael yang sedang duduk santai seperti tidak terjadi sesuatu di dalam kelas.
"Mike, apa kau tidak ingin membela ku atau mengucapkan apapun? Bukanlah kau tidak menyukai perilaku pembulian atau sikap buruk seperti tadi yang mereka katakan itu padaku?" tanya Floren.
Michael memutar bola matanya malas. "Aku memang tidak suka sikap buruk seperti itu, tapi aku juga harus membiarkan itu terjadi kepadamu. Karena aku hanya ingin kau merasakan apa yang pernah dirasakan oleh Jelita waktu kerja disini dulu."
Michael manatap Floren. "Jadi Flo, terima saja karma akibat perbuatan buruk mu itu."
Floren menangis, hatinya benar-benar sakit mendengar hal tersebut apa lagi ucapan itu keluar dari mulut Michael sendiri. Pria yang selalu ia cintai.
Clara mencekal pergelangan tangan Floren. "Flo, kau ingin kemana?" tanyanya.
"Lepas!" Floren menghentak kuat tangannya agar terlepas.
"Jangan sok baik padaku, aku tahu kau pasti senang melihatku dihina seperti ini. Mulai sekarang jangan pernah mendekatiku atau berusaha berbicara denganku lagi. Karena apa, karena kau juga sama seperti mereka semua!" bentak Floren lalu pergi meninggalkan kampus.
"Flo!" pekik Clara lalu menatap semua orang di dalam ruang kelas dan memarahi semuanya.
"Kalian sungguh keterlaluan, Floren adalah temanku! Jika ada yang berani berlaku buruk lagi kepadanya atau sampai terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan menimpahnya, maka aku tidak akan memaafkan kalian semua!" Clara pergi berniat memyusul Floren namun dicegah oleh Michael.
"Michael, dia temanku. Walau dia jahat, tapi aku pernah melewati hari-hari bersamanya. Bagaimana aku bisa membiarkan dia sedih seperti itu," balas Clara.
"Sudahlah, biarkan dia pergi untuk menenangkan diri," saran Michael lalu menatap semua orang di dalam kelas.
"Kalian adalah orang-orang terpandang dan juga berpendidikan, aku tidak ingin ada yang membuli atau menyakiti hati siapapun lagi termasuk Floren," tutur Michael kepada semua orang di dalam kelas.
"Tapi Michael dia pantas mendapat itu semua," balas Sandra.
"Itu berarti kau juga sama saja jahatnya dengan Floren, apa kau ingin menderita sama seperti dia suatu hari nanti?" tanya Michael.
Mereka semua menggeleng.
"Kalau begitu jangan menghinanya lagi!" titah Michael lalu menatap Clara. "Bagaimana dengan ucapanku itu Clara, apakah benar?" sambungnya.
Clara mengangguk. "Kau benar Michael, tidak seharusnya kita meniru sifat Floren yang buruk dan tidak seharusnya juga kita membuatnya sedih. Karena kita semua disini satu teman kelas," balasnya.
__ADS_1
Sandra menghela nafas. "Kau ada benarnya juga, maaf kami hanya terbawa emosi saja. Apalagi dia juga pernah jahat pada semua orang disini. Bagaimana bisa kita tidak membalasnya, tapi kasihan juga jika melihatnya menderita seperti itu."
"Iya benar," balas Mika membenarkan ucapan semuanya.
...***...
"Kau hebat sekali bisa menyatukan semua orang di kampus. Aku saja sudah kewalahan menghadapi semua keliaran para siswi dikelas," ujar Michael saat kelas telah bubar.
"Tidak juga, aku hanya tidak ingin mereka meributkan masalah yang sama terus menerus," balas Clara.
"Kau benar, mereka semua selalu saja membahas hal yang sama. Yang berkuasa disanjung-sanjung dan yang lemah selalu ditindas, jika begitu terus kapan mereka bisa maju menghadapi masa depan," balas Michael.
"Kau sok dewasa sekali, padahal kau sendiri juga sama seperti mereka. Kau juga sok cuek dan dingin, seperti pria kaya kebanyakan. Sombong dan sok keren," ejek Clara.
"Apa maksudmu itu? Aku tidak seperti itu. Penilaian mu itu salah besar, aku ini pria baik-baik," balas Michael.
"Heh, tidak berkaca diri. Jika bukan karena sifatmu yang sok seperti itu, tidak mungkin mereka selalu bertengkar karena ingin menjadi milikmu," balas Clara.
"Heh, itu karena aku tampan dan kaya bukan karena aku sok dan sombong," balas Michael.
"Ck! Baru saja di bilang, apa kau tidak sadar dengan apa yang kau katakan barusan hem? Tampan dan kaya, heh! Sombong sekali," ejek Clara.
Michael mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali, ada benarnya juga perkataan Clara barusan.
"Siall! Aku kalah berdebat dengannya," umpat Michael.
"Apa menyadari kesalahan mu yang sok itu hah?" tanya Clara.
"Heh, ya aku mengaku sok keren dan sok tampan. Tapi itu kan memang benar adanya, sesuai dengan kenyataan yang ada dan kau juga pasti melihatku seperti itu. Tampan dan keren," balas Michael menyombongkan dirinya lagi.
Clara hanya menggeleng melihat tingkah Michael, tapi ia sendiri tidak dapat memungkiri jika pria disebelahnya itu memang lah sangat tampan dan keren.
.
.
__ADS_1
Bersambung.