
"Michael apa sudah selesai, aku pegal sekali," ucap Jelita masih bertahan dengan posisinya.
Michael tersenyum. "Kita foto sekali lagi ya," ucapnya lalu menghampiri Jelita untuk mengubah pose.
"Sekali lagi, memangnya kau butuh berapa banyak foto?" tanya Jelita sambil memijat kakinya yang terasa pegal.
"Hm ... Sudah pasti banyak, ini baru satu pose belum gaya yang lainnya," balas Michael.
"Gaya lainnya?" tanya Jelita dengan sedikit meninggikan kepala.
Perasaannya mulai tidak enak dan was-was saat melihat ekspresi Michael yang berbeda. Entah mengapa dia merasa, malam ini dirinya akan dibuat mati lemas oleh Michael.
"Tidak! Aku rasa sudah cukup," tolak Jelita merasa ada yang aneh dengan semuanya. Dia lalu berdiri ingin pergi, namun Michael dengan segera menghadang Jelita.
Michael tersenyum dan membujuk gadis itu kembali. "Tolong satu gaya lagi, Please ..." Michael merangkapkan kedua tangannya kepada Jelita. " Aku janji ini foto yang terakhir, setelah itu kau boleh meminta apapun kepadaku."
Jelita terdiam saat menatap raut wajah Michael yang berubah sedih. Dia menghela nafas, ada perasaan tidak tega pada hatinya saat melihat Michael mendadak murung.
"Baiklah, janji ini yang terakhir ya." Jelita duduk kembali.
Senyum Michael kembali terukir, saat Jelita mengabulkan keinginannya.
"Aku janji, tapi kali ini kita foto berdua," ucap Michael lalu pergi begitu saja untuk masuk ke dalam rumah tanpa menunggu jawaban Jelita mau atau tidak foto berdua.
"Michael, hei kau mau pergi kemana!" Jelita berteriak memanggil Michael.
Michael berhenti sejenak, lalu menoleh kearah Jelita. Dia tersenyum dan berkata, "Tunggu sebentar, aku ingin bertukar pakaian!" teriak Michael dari kejauhan.
Setelah itu Michael menghilang masuk ke dalam, meninggalkan Jelita yang sudah kedinginan terkena angin malam.
"Cepat sekali menghilangnya ... Hachiuu!" Jelita pun bersin dan berusaha menghangatkan tubuh, dengan mengusap kedua tangannya yang kini terasa dingin.
"Michael jangan lama-lama," gumam Jelita, dia kemudian duduk dan mencari sesuatu untuk menyelimuti tubuhnya.
***
Sementara itu di ujung sana dua pasang mata melihat ke arah tempat dimana Jelita berada.
"Sayang ... Lihat gadis itu, dia adalah cintanya Miki kita," ucap Nyonya Caca berbicara kepada suaminya dan menunjuk ke arah Jelita.
"Tapi, bukankah dia anak asuh pribadimu?" tanya Tuan Nael merasa terkejut dengan pengakuan istrinya.
Nyonya Caca mengangguk. "Benar, itulah masalahnya sayang. Aku sangat jahat sekali harus memisahkan Miki dari cintanya."
Tuan Nael menghela nafas dan sangat menyayangkan sekali peraturan yayasan yang memberatkan buah hatinya.
"Sayang sekali ... Bukan kah seperti itu menantu yang kamu inginkan?" tanya Tuan Nael.
"Benar, justru itu aku ingin minta pendapatmu. Apa yang harus aku lakukan?" ucap Nyonya Caca.
"Jangan bersedih, aku akan membantumu memikirkan jalan keluarnya dan kita akan pikirkan bagaimana caranya agar mereka bisa bersama. Oke," balas Tuan Nael menenangkan istrinya yang mulai sedih.
Nyonya Caca mengangguk dan mereka kemudian masuk ke dalam rumah, membiarkan Michael bersama dengan Jelita menghabiskan waktu disisa minggu-minggu terakhir bersama.
***
Tak berselang lama kemudian akhirnya Michael mulai menampakkan wujud. Pria itu tersenyum menghampiri Jelita yang sedang menunggunya di sebuah taman.
__ADS_1
Michael terus berjalan hingga dirinya berdiri tepat dibelakang Jelita. Dia memandangi sejenak bagian leher dan juga punggung atas mulus Jelita yang sedikit terbuka, dan mendengarkan Jelita yang sedang menggerutu sendiri.
"Michael kenapa kamu lama sekali, dia sedang apa sih? Makin malam udaranya makin dingin tahu."
Gadis itu terus saja mengoceh sambil terus mengusap kedua lengannya, tanpa mengetahui jika pria itu sudah berada di belakangnya.
Michael tersenyum dan mendekatkan diri pada Jelita. "Dingin ya, sini aku hangatkan pakai ini," ucap Michael mendekap tubuh Jelita dari belakang, dengan alasan ingin memakaikan sebuah mantel.
Sontak saja Jelita yang sedang berdiri pun terbelalak, saat Michael sudah memeluknya tanpa permisi.
"Apa yang kau lakukan!" Jelita pun menjauh dari Michael.
"Tadi kan kamu bilang dingin, makanya ku hangatkan saja pakai mantelku," jawab nya santai.
"Ya tapi tidak usah pakai peluk-peluk segala, cukup berikan mantelnya saja padaku. Aku bisa pakai sendiri," balas Jelita sambil menenangkan dirinya yang terkejut.
Michael menghentakkan kedua bahunya. "Ya sayang sekali, mantel itu sudah ku pakaikan di tubuhmu."
Jelita meraba bagian tubuhnya dan benar saja mantel itu sudah menyelimuti dirinya dan kini dia merasa sedikit hangat.
"Terima kasih," ucap Jelita.
"Sama-sama," balas Michael, dia kemudian pergi untuk merakit suatu benda. Sebuah tiang berkaki tiga berwarna hitam, sebagai penyangga sebuah kamera.
"Kau sedang apa?" tanya Jelita penasaran.
"Aku sedang merakit tripod," balas Michael.
Kini Jelita terdiam sambil terus memandangi Michael, yang sedang sibuk melakukan sesuatu. Pandangannya itu tidak bisa bergeser sedikitpun dan selalu berpusat pada seorang pria tampan dihadapannya.
Jelita memandangi wajah Michael, berpikir bagaimana ada pria setampan itu dimuka bumi, dengan tubuh yang proporsional menjadikan pria itu sempurna dimata para wanita.
Jelita menelan ludah saat menatap bagian bibir Michael yang seksi. Bibir itu sedikit tebal pada bagian bawah dan sedikit tipis dibagian atasnya.
Belum lagi ada bulu-bulu kumis halus yang tumbuh, seperti tak kasat mata. Namun terlihat jika dipandangi secara seksama dan dari jarak dekat.
Jelita seketika dibuat bergidik saat membayangkan, bagaimana jika bibir pria itu sampai mengecup bibirnya.
"Oh Tuhan apa yang sedang aku pikirkan," gumam Jelita dan mengeleng cepat kepalanya.
Beberapa saat kemudian, Michael pun selesai. Dia menghampiri Jelita kembali dan mengulurkan tangan kanannya.
"Sudah selesai, ayo ikut," ucap Michael begitu lembutnya.
Jelita pun menyambut uluran tangan Michael tanpa banyak tanya, ingin sekali dia menyelesaikan tugas Michael yang dinilai aneh itu dengan cepat.
Michael kemudian menuntun Jelita dan menggiringnya menuju suatu tempat, tepatnya di depan sebuah kamera, dengan jarak yang sudah disesuaikan sebelumnya.
Mereka berjalan saling bertatapan, dan saling tersenyum begitu lembut.
Dan setibanya mereka disana, Michael meraih mantel yang membungkus tubuh Jelita dan membukanya dengan lembut.
"Tunggu disini sebentar," ucap Michael dan Jelita mengangguk.
Michael kemudian mensetting waktu pengambilan dan juga pembidikkan yang tepat pada sasaran. Lalu dengan segera dia kembali kepada gadis di hadapannya itu, untuk mengambil foto dengan segera.
Kemudian tanpa banyak kata, Michael berhadapan dengan Jelita dan mengikis jarak. Dia merangkul pinggang Jelita dan menariknya hingga rapat. Tak menyisakan celah bagi keduanya, karena Michael tidak membiarkan Jelita menarik diri.
__ADS_1
Jelita mengerjapkan kelopak mata berkali-kali, pikirannya sulit untuk mencerna kejadian yang sedang terjadi dihadapannya.
Kini gadis itu hanya bisa menatap Michael yang sedang tersenyum begitu lembut kepadanya.
"Senyumlah," ucap Michael dengan terus menatap Jelita dan Jelita pun tersenyum.
"Cekrek!"
Satu foto telah berhasil didapatkan, dengan segera Michael merubah gaya. Dia berdiri dibelakang Jelita dan langsung melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Jelita.
"Cekrek!"
Satu foto kembali berhasil tertangkap kamera, kini Michael dengan posisi yang masih sama. Tidak membiarkan Jelita kabur darinya, dengan segera Michael mengecup lembut leher mulus itu dan menahannya sebentar menunggu kamera berhasil menangkap fotonya.
Hal itu sukses membuat Jelita merinding. Gadis itu hanya bisa memejamkan kedua mata, merasakan sensasi geli, hangat dan juga lembut pada tengkuk lehernya.
"Cekrek!"
Sudah tiga foto berhasil didapatkan, Michael tersenyum, tapi dirinya masih belum merasa puas. Dia segera berganti posisi dan Jelita hanya bisa melongo berusaha mencerna apa yang terjadi. Otaknya mendadak lemot karena gerakan Michael yang begitu cepat.
Lima detik sudah ganti gaya.
Kali ini Michael sudah berhadapan dengan dirinya kembali dan mengikis jarak dengan cepat. Michael menarik kedua lengan Jelita agar melingkar pada lehernya. Michael kemudian mendekatkan wajah dan mendorong tubuh Jelita dengan tubuhnya agar sedikit turun kebawah.
Lalu Michael meletakkan tangan kanan pada pinggang Jelita dan satu tangan kiri mengangkat salah satu kaki Jelita yang terdapat belahan, layaknya pasangan dansa yang sedang menari.
"Oh Tuhan apa yang sedang terjadi," gumam Jelita tapi tidak dapat dia katakan, karena lagi-lagi dia kalah dengan suara kamera.
"Cekrek!"
Foto yang ke empat pun sudah berhasil didapatkan.
Michael masih menahan posisi itu dan kini mereka saling bertatapan. Wajah mereka sama-sama memerah dan nafas mereka terdengar menggebu.
Dengan cepat Michael menarik diri dan menurunkan kaki Jelita, hingga berdiri berhadapan seperti biasa. Namun tetap mengikis jarak dan saling berhimpitan.
Michael kemudian memberanikan diri meraih tengguk leher Jelita dengan kedua tangan besarnya.
Apa yang akan terjadi, masa bodo yang penting dirinya harus segera mencari tahu jawabannya. Jawaban dari pertanyaan tentang bagaimana rasa bibir itu. Bibir Jelita.
"M-michael kau mau apa," Jelita pun panik saat Michael terus saja mendekatkan wajahnya.
Namun aksi pemberontakkannya sia-sia, karena semakin kuat Jelita berusaha melepaskan diri, maka semakin kuat juga Michael menahannya.
"Michael lep--"
"Mmhpt!"
Mulut Michael berhasil membungkam sesuatu benda kenyal yang ingin dia raih sejak lama, dengan gerakannya yang begitu lihai dan cepat, sehingga sebuah ciuman hangat dan mesra pun tercipta.
Lalu tak berapa lama kemudian satu foto telah berhasil tertangkap.
"Cekrek!"
"Oh siall!" umpat Jelita dalam hati.
.
__ADS_1
.
Bersambung.