Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 68. Wiliam menemui sang kakek


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Apa! ... Nyonya Besar ingin merubah peraturan yayasan?" tanya salah satu penasehat pribadi sekaligus konsultan yayasan bernama Pak Darmawan.


Nyonya Caca mengangguk dan membalas. "Benar hanya satu peraturan, bagaimana menurutmu Pak Darma?" tanyanya.


Pak Darma menghela nafas. "Bisa saja peraturan itu di ubah Nyonya Besar, namun tidak semudah itu mengubahnya. Mengingat peraturan tersebut sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu dan telah mendarah daging di setiap anggotanya, jadi peraturan tersebut tidak bisa di cabut begitu saja.


"Aku hanya ingin merevisi peraturan itu, bukan menghapusnya Pak Darma. Jadi apa langkah pertama yang harus kita lakukan?" balas Nyonya Caca.


"Jika kita ingin merevisi peraturan tersebut, maka langkah pertama yang harus kita lakukan adalah mengadakan rapat para anggota dewan untuk membahas hal tersebut terlebih dahulu Nyonya Besar. Dan anda juga harus mempunyai alasan yang jelas tentang perubahan peraturan yayasan tersebut pada pembahasan di agenda rapat nantinya," balas Pak Darma.


Nyonya Caca mengangguk. "Baiklah Pak Darma, kalau begitu kita akan mengadakan rapat besar para anggota dewan secepatnya. Aku ingin agar peraturan tersebut bisa diubah dengan segera dan mendapatkan hasilnya dalam waktu dekat ini."


"Perubahan peraturan tersebut harus menjalani serangkaian proses terlebih dahulu Nyonya besar, dan hal itu membutuhkan waktu yang cukup panjang," ucap Pak Darma.


"Kalau begitu kita harus memulainya sekarang juga," balas Nyonya Caca.


Seketika Pak Darma terdiam sejenak dan menatap ragu Nyonya Caca.


"Ada apa Pak Darma mengapa kau diam saja, apa ada masalah?" tanya Nyonya Caca saat melihat Pak Darma diam seperti meragukan dirinya.


Pak Darma membungkukkan badan dan membalas pertanyaan Nyonya Caca. "Maaf Nyonya Besar ... Tapi apa alasan nya Nyonya ingin merubah peraturan tersebut? Apakah ini ada sangkut pautnya dengan masalah pribadi?" tanya Pak Darma memberanikan diri.


Nyonya Caca menghela nafas dan mengangguk. "Benar, Pak Darma."


"Maaf Nyonya Besar, bukannya saya mengurui anda. Tetapi yang menjadi masalahnya disini adalah, jika peraturan tersebut diubah hanya karena alasan pribadi keluarga Nyonya Besar saja, maka ada sedikit kemungkinan peraturan tersebut akan sulit untuk diubah, karena mereka tidak semuanya bisa menerima dengah mudah keputusan tersebut Nyonya Besar." balas Pak Darma.


"Aku mengerti Pak Darma, karena itulah aku ingin membahas masalah ini di meja rapat nanti dan untuk hasilnya, aku sangat berharap akan mendapatkan hasil yang sesuai harapan," balas Nyonya Caca.


Lalu dia membubuhkan tanda tangan serta memberikan cap berwarna merah diatas selembar surat penting berisi undangan rapat besar itu yang sudah disiapkan sebelumnya, untuk dibagikan kepada seluruh anggota dewan yayasan melalui Pak Darmawan.


Sementara itu Pak Darma mengangguk mengerti dan bergegas menjalankan perintah dari Nyonya Besarnya. Walau dirinya sedikit ragu akan hasil yang diharapkan, namun dia hanya bisa berdoa akan ada jalan keluarnya demi kebaikkan semua.


...***...


Semenjak kejadian semalam, hubungan Michael dan Jelita mulai merenggang. Tidak ada tawa maupun canda di antara mereka berdua, jika bertemu pun keduanya hanya bisa terdiam.

__ADS_1


Seperti saat sekarang ini, ketika mereka sedang bertemu di dalam dapur. Mereka hanya sibuk dengan urusan masing-masing.


Jelita yang sedang mencuci piring pun menyempatkan diri melirik Michael dengan ujung ekor matanya.


"Apa luka ditangannya sudah sembuh?" gumam Jelita saat melihat tangan Michael terbalut perban putih. "Apa sebaiknya aku tanya saja ya. Ah tidak jangan, lebih baik biarkan saja. Bisa jadi dia akan berubah tidak senang jika aku menanyakannya," gumamnya lagi.


Jelita memilih diam agar tidak merusak suasana hati Michael dan melanjutkan kembali mencuci piring.


Sementara itu Michael yang sedang mengambil minuman pada lemari pendingin pun menyempatkan diri melirik Jelita dengan ujung ekor matanya sekilas.


Pria itu menenguk air pada kaleng minuman bersoda hingga habis dan melirik Jelita kembali dan berdecih kesal. "Ck! Siial sekali, dia benar-benar mengacuhkanku," gumamnya.


Michael meremas kaleng bekas minumannya itu hingga kempis dan melemparnya dengan kasar pada tempat sampah disamping Jelita hingga gadis itu pun terperanjat kaget.


"Ah apa dia marah padaku, apa aku melakukan kesalahan padanya? Tapi aku kan tidak melakukan apapun," gumam Jelita bertanya pada dirinya sendiri. Merasa bingung dengan ulah Michael yang tiba-tiba berubah kesal.


Jelita menoleh perlahan ke arah Michael, namun dengan segera dia memalingkan wajah saat dirinya tidak sengaja berpapasan dengan pria di sampingnya itu.


Membuat Michael semakin bertambah kesal bukan main, ketika melihat Jelita membuang muka saat melihat dirinya.


"Apa aku ini kurang menarik untuknya hah, sampai-sampai dia tidak mau memandangku sama sekali dan membuang mukanya seperti itu," ucap pelan Michael.


...----------------...


Sementara itu, di salah satu perusahaan terbesar nomor dua setelah perusahaan Chandra Putra, sedang di gegerkan oleh kedatangan seorang pria muda.


Dimana Pria itu melenggang masuk dengan gagahnya ke dalam perusahaan dan tersenyum seperlunya kepada pegawai yang berada disana.


Ketampanan dan gaya berpakaiannya yang sesuka hati, sukses menarik perhatian para karyawati disana.


Dia memakai celana jeans panjang dengan sedikit sobekan pada bagian paha dan juga lutut. Dipadukan dengan kemeja berwarna putih polos, memiliki lengan panjang sampai ke siku dan dimasukkan ke dalam celana jeansnya secara asal.


Kemeja body fit yang dia kenakan, membuat tubuh atletisnya sedikit terekspos. Ditambah tiga kancing pada bagian atas kemeja itu, dia biarkan terbuka begitu saja, hingga menunjukkan sebuah otot menonjol dan juga beberapa tato pada kedua dadanya.


Bertubuh tinggi dan besar, mempunyai bentuk rahang tegas, memiliki beberapa jahitan pada dahi bekas kecelakaan. Rambut yang gondrong terikat asal-asalan, namun tidak mengurangi ketampanannya sama sekali.


Rantai emas sisik naga cukup besar melingkar manja, menghiasi lehernya yang kekar. Belum lagi otot-otot besar di kedua lengan dan juga bahu, menambah kesan sangar dan juga ke machoan pria itu.

__ADS_1


"Siapa pria itu? Dia tampan dan seksi sekali?" tanya salah satu karyawati di perusahaan itu.


"Dia itu cucu perusahaan ini dan juga keponakannya Pak Wijaksana," balas teman si karyawati itu.


"Aku belum pernah melihatnya."


"Itu karena kau orang baru, dia memang tidak pernah datang kesini. Selama ini dia selalu sibuk dengan dunianya sendiri, bermain-main dengan banyak wanita diluaran sana. Dan menurut rumor yang beredar, pria itu juga pernah masuk dalam penjara."


"Sstt diam! Dia melihat ke arah kita."


Beberapa karyawati itu langsung terdiam dan menunduk, saat tatapan tajam tertuju kepada mereka.


Pria itu mendesis dan memilih berjalan kembali ke tempat tujuan semula, untuk menemui dan berbicara kepada sang kakek.


Demi satu tujuan, awal dari rencananya.


Dia melangkah maju, menaiki sebuah lift dan menekan angka menuju ruangan paling atas, dimana terdapat sebuah ruangan milik pemimpin perusahan tersebut. Sang Kakek.


...***...


Setibanya di depan ruangan yang dituju, dia membuka pintu besar dihadapannya itu dan melangkahkan kaki dengan mantap.


Dia berhenti saat melihat seseorang sedang duduk di kursi kebesaran dengan posisi membelakangi dirinya. Pria muda nan macho itu tersenyum dan mulai menghampiri, dia juga memberi kode kepada orang-orang di dalam sana untuk diam atas kedatangannya.


Dirasa sudah cukup dekat, dia duduk di ujung meja dan berdehem.


"Ehem!"


"Opa ...." ucapnya dengan suara begitu lembut namun terdengar berat.


Pria tua itu pun menghentikan aktivitasnya dan segera memutar kursi. Sang Kakek begitu terkejut dengan kedatangan cucunya sendiri. Dia seketika tersenyum dan langsung berdiri.


"Wiliam!" seru Kakeknya Wiliam tidak menyangka lalu memeluk cucu lelaki kesayangannya.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2