Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 130. Mulai tumbuh


__ADS_3

Setelah kepergian Jelita dan Wiliam dari rumah Bi Siti, Ayu mulai mengamuk. Dia masuk ke dalam kamar dan membanting pintu dengan keras, hingga Bi Siti pun terperanjat karena kaget.


"Ayu! Jaga sikap kamu!" pekik Bi Siti menasehati putri kandung semata wayangnya.


Namun Ayu tetap bergeming, karena yang ada didalam pikirannya sekarang adalah pernyataan Wiliam yang berhasil membuat ia malu di depan Jelita.


Padahal Ayu begitu menyukai Wiliam saat pandangan pertama, yang telah berhasil memikat hatinya. Emosi gadis itu mulai memuncak, ketika mengingat kembali perkataan Wiliam yang begitu menyakiti hatinya.


"Aku tidak menipumu atau menipu siapapun, kau sendiri lah yang telah salah sangka dan terlalu percaya diri. Salahmu sendiri tidak bertanya kepadaku siapa nama calon istriku yang sedang berada di dalam rumahmu ini."


"Kau begitu berbangga diri akan kecantikan yang kau miliki, tapi ada satu hal yang perlu kau ketahui ini hei wanita penggoda, kalau kau bukanlah tipe wanita yang aku sukai."


"Sekarang lihatlah baik-baik wanita yang sedang ku gandeng ini, dia adalah calon istriku. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi dia dihatiku, karena aku sangat mencintai dia melebihi nyawa ku sendiri."


"Aku sangat menyukai tipe pria seperti itu, tapi tidak disangka jika mulutnya begitu pedas. Sangat sesuai sekali dengan rupa dan tatapan matanya yang tajam."


"Dia begitu tampan, apa mungkin dia benar-benar tidak tergoda oleh rayuanku? Tapi dia terlihat begitu mencintai Jelita."


Ayu menghela nafasnya panjang. "Akh! Beruntung sekali jika aku yang menjadi wanitanya, selalu berada di dalam dekapan pria seperti Wiliam."


Ayu kembali emosi dan menjambak rambutnya merasa frustasi, ketika harus menyaksikan adegan Wiliam mencium Jelita didepan mata kepalanya sendiri.


"Kurang ajar! Apa bagusnya si jelek itu, kalau bukan bantuan uang dari pria kaya. Sudah pasti, dia masih menjadi gembel dan buruk rupa sampai sekarang," umpat kesal Ayu, lalu merobek undangan yang diberikan oleh Jelita hingga terbagi-bagi.


...----------------...


Mansion Wiliam.


Kejadian di rumah Pak Budi membuat Wiliam semakin mendekati Jelita, pasalnya gadis itu tengah menjauhi dirinya karena kesal.


"Jelita sayang, kenapa kau cemberut saja. Aku tidak melakukan hal yang salah kepadamu," ucap Wiliam.


Jelita memicingkan matanya tajam. "Apa kau lupa tadi telah menciumku seenaknya di depan banyak orang," cebiknya.


"Oh jadi itu yang membuatmu marah padaku hem?" Wiliam merangkul pinggang Jelita dan menariknya agar tidak lari darinya.


"Bukan marah Wil, hanya malu saja. Aku merasa tidak enak dengan Bibi dan juga mba Ayu," jawab Jelita tertunduk.


Wiliam tersenyum dan menarik dagu Jelita agar menatap wajahnya. "Untuk apa kau harus malu sayang, apa ucapanku tadi ada yang salah mengenai dirimu hem?"


Jelita menggeleng. "Iya tidak ada yang salah sih, tapi ucapanmu tadi sepertinya menyakiti hati mba Ayu."


"Jelita ... Kau adalah calon istriku dan dia pantas mendapatkan malu akibat ulahnya sendiri, karena telah meragukan pernyataanku, bahkan dia telah berani menghinamu di depan mataku sendiri. Aku tidak suka dengan tingkah buruk wanita itu padamu," balas Wiliam.

__ADS_1


"Kau benar, tapi aku dan Ayu adalah tetangga. Dia sudah ku anggap sebagai kakak sendiri," balas Jelita.


"Bagiku dia tidak lebih dari seorang wanita penggoda dan juga penjilat," balas Wiliam.


"Wiliam kenapa kau berkata seperti itu, dia tidak seperti yang kau pikirkan," ucap Jelita.


"Jelita, apa kau tidak tahu jika Ayu mencoba menggodaku dengan tubuh seksiinya tadi?" ucap Wiliam.


"Ayu menggodamu?" tanya Jelita.


Wiliam mengangguk. "Iya, dia menggodaku sayang. Apa kau tidak cemburu jika ada wanita lain yang menggoda calon suamimu ini, hem?" tanyanya ingin memancing reaksi Jelita.


"Ya sudah pasti aku cemburu lah, tapi melihat kau tidak menyukainya untuk apa aku cemburu lagi," balas Jelita.


Wiliam menyunggingkan senyumannya, dia senang mendengar pengakuan Jelita yang merasa cemburu jika ia digoda oleh wanita lain.


"Kalau begitu berhentilah menjauh dariku, karena aku tidak akan pernah berpaling darimu." Wiliam mendaratkan sebuah kecupan kilatnya di bibir Jelita, hingga gadis itu pun refleks menaikkan kedua bahunya dan melotot.


"Kebiasaan," ucap Jelita sambil menepuk pelan dada Wiliam.


"Maaf, kau selalu membuatku lupa diri. Jelita, aku senang kau memiliki perasaan cemburu saat aku digoda wanita lain," ucap Wiliam sambil menempel terus kaya perangko.


"Senang kenapa?" tanya Jelita.


Sejenak gadis itu merenungi kembali perkataan dari Wiliam, apakah benar yang dikatakan oleh pria itu tentang dirinya yang sudah mulai tumbuh benih-benih perasaan cinta di dalam hati akan pria dihadapannya.


Tapi yang jelas Jelita merasa senang dengan perlakuan Wiliam saat membela dirinya, apalagi kelakuan pria itu saat menolak Ayu secara mentah-mentah dengan gayanya yang keren.


Jelita pun tersenyum saat menyelami hatinya yang paling terdalam dan sepertinya ucapan Wiliam ada benarnya, bahwa hatinya mulai timbul perasaan cinta.


Jelita tersenyum sambil memandangi wajah Wiliam yang tersenyum padanya.


"Sudah jangan terlalu banyak berpikir dan jangan memandangiku seperti kucing kecil yang minta dikasihani," Wiliam mencubit gemas hidung Jelita.


"Aw! sakit Wil," balas Jelita.


"Maaf." Wiliam memeluk Jelita dan kali ini Jelita membalas pelukan dari Wiliam. Kedua nya saling terpejam dan sama-sama tersenyum, merasakan hangatnya berpelukan.


Wiliam tidak sabar ingin segera memiliki Jelita seutuhnya dan Jelita benar-benar tidak menyangka jika Wiliamlah yang akan menjadi pendampingnya dimasa depan.


...----------------...


Sementara itu disisi lain, Michael menatapi undangan pernikahan Jelita dengan Wiliam yang dikirimkan melalui email. Ada perasaan sedih dan juga berat menerima semua itu.

__ADS_1


"Michael, kau tidak apa-apa?" tanya Clara.


"Aku tidak apa-apa," balas Michael lalu menutup laptopnya.


Clara duduk disamping Michael.


"Michael, aku tahu kau sedih saat mendengar kabar pernikahan Jelita. Tapi Michael, kau juga harus move on. Kau harus melupakan masa lalumu," ucap Clara.


"Bagaimana bisa aku melupakan dia, semua kenanganku bersamanya. Itu terlalu berat Clara," balas Michael.


"Michael, perlu kau ketahui. Kalau Jelita awalnya juga berat menerima semua ini, melupakanmu, melupakan semua kenangan bersamamu. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu. Jelita berhasil keluar dari masa lalunya, dia mau menerima pria lin sebagai pendamping hidup."


"Michael, sama seperti Jelita ku harap kau pun begitu. Bisa maju terus menatap masa depanmu sendiri," tutur Clara menyemangati Michael.


Michael mengangguk. "Kau benar Clara, aku tidak boleh terlalu lama larut dalam kesedihan. Aku harus bangkit," balasnya.


Clara tersenyum. "Bagus! Hari pernikahannya minggu ini bukan, bagaimana kalau aku menemanimu pergi. Jadi pasanganmu disana," bujuknya seraya menenangkan hati Michael.


Michael tersenyum. "Baiklah, aku akan menjemputmu ke rumah hari minggu ini. Kita akan pergi bersama," balasnya.


Michael menatap Clara yang sudah mau menemaninya dikala sedih, ada perasaan tidak enak pada wanita dihadapannya itu.


Karena selama dia jalan bersama dengan Clara, dirinya belum pernah membalas perhatian dan juga kasih sayang wanita itu kepadanya.


Michael merenungi semua kejadian selama ini bagaimana Clara selalu ada untuknya dan tidak pernah mengharapkan balasan layaknya pasangan kekasih.


"Terima kasih, karena kau selalu ada untukku," ucap Michael sambil meraih tangan Clara.


Gadis itu terpaku dan mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali, karena baru kali ini Michael mau mengenggam tangannya.


Clara tersenyum. "Sama-sama."


Mereka berdua saling tersenyum dan sama-sama meyakini, jika mereka bisa saling melengkapi dan sama-sama menjadi pendamping terbaik dimasa depan.


.


.


Bersambung.


...----------------...


Next \=\=>>> bab selanjutnya siap-siap kita kondangan.

__ADS_1


__ADS_2