
"Dia ... Ya dia adalah Jelita ...."
"Dia ... Secantik kupu-kupu ...."
.
.
Sementara itu, jauh di ujung sana, Floren dibuat kesal dengan pemandangan manis di depan mata kepalanya. Netranya itu berubah memerah karena terus menahan amarah yang ingin meledak.
"Siapa wanita tidak tahu malu itu, berani sekali memeluk pria ku. Aku harus memberinya pelajaran!"
Floren menepak apa saja yang berada di dekatnya, lalu bergegas turun dari mobil. Dia lantas menutup pintu dengan kasar dan jalan tergesa menghampiri keduanya.
"Sial, mereka terlihat mesra sekali! Aku tidak akan melepaskan wanita itu!" kesal Floren dengan kedua mata yang masih menyelidiki, namun Floren menghentikan langkahnya, ketika teringat sesuatu.
"Ah tidak! Mike tidak menyukaiku. Jika aku gegabah dan marah-marah pada wanita itu, maka Mike akan semakin membenciku. Hem ... Lebih baik aku cari tahu lebih dahulu siapa wanita itu," gumam Floren lalu mencari tempat yang cocok untuk bersembunyi.
Floren tersenyum saat menemukan sebuah pohon di taman yang cukup besar, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Michael berada. Dia lantas berjalan mengendap-endap, agar tidak ketahuan dan bersembunyi dibalik pohon itu.
Floren lalu mengintip dan mendekatkan telinganya, berharap dapat mendengar pembicaraan mereka berdua.
***
Sementara itu, Jelita menarik lengannya dan segera menjauhkan diri dari Michael. Dia menepuk-nepuk dadanya sambil menatap Michael dengan tajam.
"Kau ini membuatku kaget saja." Jelita lalu mencubit otot lengan Michael dengan gemas, hingga lamunan pria itu pun hilang begitu saja.
"Auw sakit! kau ini kasar sekali." Michael mengusap-usap otot lengannya itu dengan cepat dan meminta maaf kepada Jelita. "Maaf jika aku mengagetkanmu, aku hanya bercanda." Michael tersenyum cengengesan.
Jelita mencebik, "Huh, kamu pasti sengaja mengisengiku kan? Apa kamu tidak tahu aku hampir mati lemas." Jelita terlihat memegang dadanya yang masih berdegub kencang.
"Baik ... baik! lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji!" Michael tersenyum sambil menunjukkan kedua jarinya di depan dada.
Jelita memicingkan matanya, merasa ragu dengan ucapan Michael. "Awas ya jika kau ingkar janji, maka aku tidak akan segan-segan memukulmu dengan kencang."
Michael mengangguk mantap. "Aku berjanji!"
Jelita menghela nafas dan tersenyum. "Ya sudah, tidak apa-apa hari ini aku maafkan, tapi tolong lain kali jangan lakukan itu lagi oke."
__ADS_1
Michael yang merasa gemas langsung mencubit ujung hidung Jelita yang mancung. "Baik tidak akan lagi."
"Sakit!" Jelita menepis tangan Michael dan mengusap hidungnya berkali-kali.
Namun Michael hanya terkekeh saat hidung mancung Jelita berubah warna menjadi kemerahan. "Sekarang hidung mu itu mirip seperti badut."
Melihat Michael yang terkekeh Jelita lalu terdiam dan menatapi wajah Michael cukup lama.
"Eh ternyata dia tampan juga jika dilihat dari jarak sedekat begini."
Tak terasa Jelita ikut tersenyum dan akhirnya mereka tertawa bersama, menunjuk wajah mereka masing-masing yang terlihat memerah.
Sedangkan Floren dibuat kesal dengan aksi keduanya itu, dia hanya bisa gemas sambil mencakar batang pohon dengan kuku jarinya yang panjang.
Dia mengerutu dari balik pohon. "Sial! sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan. Kenapa Mike terlihat bahagia sekali bersama wanita itu, apa jangan-jangan dia adalah pacarnya Mike?"
Floren melebarkan kedua matanya dan menggeleng. "Ah tidak mungkin, jika wanita itu adalah pacarnya Mike, pasti Tante akan memberitahuku tadi."
Floren akhirnya tak bisa berbuat banyak, dia hanya bisa meremas gemas di tempat dirinya berada, ketika melihat tingkah mesra mereka berdua.
***
Tapi indera penglihatannya terusik, ketika melihat sebuah mobil terparkir di halaman depan, dekat pintu gerbang. Michael sedikit terkejut ketika mengetahui itu adalah mobilnya Floren.
Michael berdecih saat melihat seorang wanita yang tak lain adalah Floren yang sedang bersembunyi dibalik pohon. "Cih! ternyata dia belum pulang."
"Kenapa Michael?" tanya Jelita yang bingung.
Michael menatap Jelita lalu berbisik di telinganya. "Floren, dia masih disini dan sedang mengintip kita," balas Michael lalu menarik diri dan memberi kode tempat dimana Floren bersembunyi dengan gerakan bola mata pada ujung matanya.
Jelita terkejut dan dia memilih mencari aman. "Jika dia belum pulang, bukankah sebaiknya kita tidak terlalu dekat seperti ini." Jelita melangkah mundur dan segera berbalik untuk pergi.
Namun nampaknya Michael tidak setuju dengan keinginan Jelita, dia secepat kilat meraih salah satu pergelangan tangan gadis itu, yang ingin kabur darinya. Lalu tanpa basa basi, Michael menarik Jelita agar mendekat dengannya.
Jelita yang mendapat perlakuan mendadak pun tidak sempat menghindar. "Michael ... lepas! bagaimana jika dia marah dan bagaimana jika ada orang lain yang melihat kita seperti ini. Aku tidak ingin ada yang salah paham, termasuk ibu asuh!"
Jelita berusaha melepaskan genggaman tangan Michael, tapi pria tampan itu malah mempererat cengkramannya. Michael lalu menarik pinggang ramping Jelita yang tidak bisa diam menarik diri, hingga kini tubuh mereka saling berhimpitan.
"Michael!" bentak Jelita, merasa tindakan Michael terlalu berlebihan.
__ADS_1
"Sudah diam, aku hanya ingin mengerjai Floren. Sebentar saja," Michael tersenyum sambil melirik ke arah Floren dengan ujung matanya. Memastikan agar wanita itu melihat aksinya.
Lalu Michael beralih menatap Jelita dan mengedipkan sebelah matanya seperti orang genit. Membuat Jelita berdebar tak karuan dan menjadi salah tingkah. "Kau selalu membuatku dalam masalah. Ya sudah cepat lah, jangan lama-lama, aku tidak nyaman seperti ini."
Michael tersenyum. "Thank's, tenang aku tidak akan lama," Michael lalu terdiam dan menatap sebuah benda kenyal mungil berbentuk buah cerry, begitu ranum dan manis jika disesap. Bibir Jelita!
Dia lalu mendekatkan wajahnya perlahan dan berusaha menahan tengkuk leher Jelita yang terus saja menjauhinya.
"M-michael apa ini, hei kau ingin apa?" tanya Jelita mendadak gugup saat Michel terus mendekatkan wajahnya.
Namun Michael tidak menjawab, dia terus menahan posisi seperti itu lebih lama dan jika dilihat dari sudut pandang Floren, dimana tempat dia berada sekarang, maka mereka terlihat seperti sedang berciuman.
"Oh No!" terdengar suara Floren dari kejauhan saat Michael berpura-pura hendak mencium Jelita.
Michael terkekeh merasa senang mengerjai Floren, tanpa berpikir panjang, bahwa wanita di hadapannya itu juga sudah empot-empotan merasa tegang.
Beberapa menit telah berlalu, Michael mulai menarik diri, lalu dia berkata dengan suara keras agar perkataannya itu terdengar ke telinga Floren.
"Ayo sayang, kita menemui Mamy, dia pasti senang bertemu dengan menantunya!" Michael lalu menarik tangan Jelita dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Sambil terus merangkul pinggang Jelita dengan mesra dan menahan tawa karena senang mengerjai wanita yang sudah dongkol sedari tadi.
"Mike ... Kau ... Hergh!"
"Beraninya dia punya kekasih selain diriku! Dan menyebutnya sebagai menantu!" Floren menendang apa saja yang berada di dekatnya. Dia lalu berjalan menuju mobilnya yang sedang terparkir sambil terus marah dan kesal dengan aksi Michael saat mencium seorang wanita.
Floren lalu menangis karena sesak menahan amarah. "Mike, tidak ada yang boleh memilikimu selain diriku. Aku ... aku akan menyingkirkan siapapun yang berusaha menghalangi jalanku."
Kini mobil Floren telah melaju keluar dari Mansion Michael, meninggalkan kejadian pahit untuk Floren dimana hatinya telah hancur berkeping-keping.
Floren menghapus air matanya dan mengingat kejadian yang membuat hatinya terluka.
"Mike ... Aku ... Aku akan mengincar wanitamu!"
.
.
Bersambung.
__ADS_1