Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 140. Anak ular.


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Setelah gempar mengenai kejadian potong rambut sang pemimpin perusahaan, Wiliam akhirnya bisa bernafas lega. Karena sang istri sedang memasuki masa trimester kedua.


Dimana kehamilan di masa-masa itu, Jelita telah membaik kondisinya. Sang istri sudah mau makan banyak, bergerak lebih leluasa dan mulai beraktifitas seperti biasanya.


Dan lebih membuat Wiliam merasa lega adalah, istrinya itu telah selesai melalui masa ngidam yang aneh-aneh.


Bukan hanya Jelita yang telah membaik dari kebiasaan buruk maupun kondisinya, Wiliam juga telah terbiasa dengan gaya rambut barunya.


Dia lebih tampil lebih percaya diri, fisik yang lebih sehat akibat hilangnya kebiasaan buruk menghisap candu.


Mengakibatkan pria satu ini menjadi lebih tampan daripada sebelumnya dan bukan hanya itu saja, dia juga lebih berkharisma serta memiliki wibawa luar biasa saat memimpin sebuah perusahaan.


Seperti saat sekarang ini, saat ia dan sang istri diundang sebagai tamu kehormatan di acara bergengsi yang sedang digelar untuk para pemimpin perusahaan dari berbagai daerah di seluruh negeri ini.


Wiliam semakin memukau semua mata yang memandang, mempunyai seorang istri yang sedang hamil ternyata membuat ia semakin dewasa dan juga bijak.


Hingga sang pemimpin kini telah mendapat pengakuan dari mana-mana pihak dan berhasil menyabet gelar pemimpin perusahaan terbaik diusia muda tahun ini berkat prestasinya yang gemilang.


"Selamat untukmu Pak Wiliam," sambut seluruh orang yang berada di sekelilingnya.


"Terima kasih," balas Wiliam penuh hormat.


Semua orang tidak menyangka, jika kehadiran seorang bayi di dalam kandungan istrinya membuat Wiliam berada di puncak kejayaan dan banyak dari mereka menganggap jika hal tersebut merupakan sebuah anugerah untuk keluarga besar Wijaya sendiri.


"Selamat atas kehamilan mu ini Jelita," sambut seluruh istri para pemimpin perusahaan termansyur, termasuk Nyonya Caca yang turut hadir menemani Tuan Nael dalam acara bergensi tersebut.


"Terima kasih," balas Jelita kembali kepada seluruh orang yang telah memberi ia selamat.


...***...


Setelah selesai menerima ucapan selamat dari para istri pemimpin perusahaan, Nyonya Caca mengajak Jelita untuk duduk kembali agar bisa beristirahat.


"Jelita sayang, duduklah. Kau sedang hamil, jadi tidak boleh terlalu lelah." Nyonya Caca mendudukkan Jelita dengan hati-hati.


"Terima kasih Ibu," balas Jelita.


Mereka berdua bercengkrama dan berbincang serta memberikan perhatian layaknya seorang Ibu dengan anak.


"Ibu bahagia sekali, pas tahu kamu sedang mengandung." Nyonya Caca meluapkan kebahagiaannya dengan terus mengusap perut Jelita yang terlihat membuncit.


"Iya Ibu, aku juga bahagia sekali. Tidak disangka jika aku diberi kepercayaan mempunyai anak secepat ini oleh sang pencipta," balas Jelita.


Kemudian memikirkan ulang kejadian setelah menikah dengan Wiliam. Bagaimana dirinya bisa cepat punya anak, karena Wiliam selalu saja menghujamnya terus setiap hari dan berulang hingga pagi.


Nyonya Caca terkekeh melihat Jelita yang tersipu malu. "Wiliam pasti sangat mencintaimu, karena dia selalu memberi perhatian lebih padamu. Kau harus bersyukur sayang, karena kehadiran anak itu seperti anugerah tersendiri bagi seorang wanita," ujar Nyonya Caca.


"Kau benar Ibu, bukan hanya itu saja. Semenjak aku hamil, banyak sekali perubahan positif yang terjadi pada Wiliam suamiku dan aku juga merasakan perubahan pada diriku sendiri," balas Jelita.

__ADS_1


"Benar, terkadang ada saatnya seseorang bisa berubah lebih baik." Nyonya Caca lantas terdiam menatap mantan anak asuhnya.


Dia begitu bersyukur, karena telah melepas anak asuhnya kepada pria yang sesuai.


"Ibu, kau sedang melamunkan apa?" tanya Jelita.


Nyonya Caca menggeleng. "Tidak sayang, Ibu hanya senang melihat kau bahagia ditangan pria tepat seperti Wiliam."


Jelita tersenyum. "Kau benar Ibu, terkadang banyak hal yang tidak terduga dalam hidup ini. Awalnya aku sangat membenci Wiliam, tetapi seiring berjalannya waktu dia berhasil membuatku jatuh cinta padanya."


Nyonya Caca tersenyum. "Kalau begitu, suamimu adalah pria yang hebat."


"Terima kasih Ibu," balas Jelita. "Ibu, bagaimana dengan Michael. Kapan dia akan menikah?" tanyanya.


"Michael akan menikah tahun depan, Ibu sangat bahagia ketika Miki akhirnya menemukan cinta sejatinya. Dia telah menerima dan juga mencintai Clara dengan sepenuh hati, bahkan Mikiku tidak bisa lepas darinya," balas Nyonya Caca.


Jelita tersenyum dan senang mendengar akan hal itu. "Syukurlah jika dia mau menatap masa depannya sendiri. Tadinya aku berpikir saat kami tidak ditakdirkan hidup bersama, rasanya sangat sulit sekali untuk keluar dari lingkaran masa lalu. Akan tetapi aku tidak menyangka, berat dan pahitnya masa itu mengantar kami berdua kepada masa depan yang cerah."


Nyonya Caca menangkup sisi wajah Jelita. "Kau benar sayang, terkadang ada hikmah dibalik semua cobaan berat."


Jelita menatap Nyonya Caca. "Ibu, sayang sekali rasanya karena aku bukanlah anak asuhmu lagi dan aku juga tidak bisa menjadi anak asuhmu yang membanggakan."


Nyonya Caca menangis. "Jika kau bukan anak asuhku memangnya kenapa? Kau adalah putriku sayang, aku sudah menganggapmu seperti anak kandung sendiri."


Jelita menitikkan air matanya. "Terima kasih, karena kau masih menganggapku seorang anak."


Mereka saling menghapus air mata satu sama lain dan berpelukan setelah itu.


"Tenang saja aku akan mengabarimu Ibu," balas Jelita.


Beberapa saat kemudian, Wiliam datang menghampiri mereka berdua.


"Sayang ... Nyonya Besar," sapa Wiliam.


"Sayang," sahut Jelita.


"Wiliam," sahut Nyonya Caca.


"Ayo kita ke dokter, kau ada jadwal hari ini untuk cek bukan?" tanyanya mengingatkan.


"Ah iya, kau benar sayang. Aku hampir lupa," balas Jelita lalu menatap Nyonya Caca. "Ibu, aku harus pergi sekarang," ucapnya pamit pergi.


"Iya sayang, hati-hati. Semoga sehat terus dan dilancarkan sampai lahiran nanti." Doa Nyonya Caca menyertai.


"Terima kasih," balas Jelita.


"Nyonya Besar, aku harus pergi dan tidak bisa menemanimu lama-lama. Aku titip salam untuk semuanya," ucap Wiliam menggandeng tangan Jelita.


Nyonya Caca menganggil dan tersenyum. "Baiklah, tidak apa. Temani istrimu dan jagalah dia."

__ADS_1


"Sudah pasti," balas Wiliam.


Mereka berdua pergi meninggalkan tempat acara tersebut lalu menuju rumah sakit untuk memeriksakan kandungan.


...***...


Rumah sakit.


Sesuai jadwal dan juga janji, Dokter kandungan mulai memeriksa kandungan Jelita. Wiliam yang menemani senantiasa memperhatikan dengan serius.


Dia begitu antusias dan selalu menatap layar monitor agar bisa melihat lebih jelas bakal calon anaknya.


Kedua matanya berbinar dan tidak berhenti takjub saat melihat sesosok kecil bergerak begitu menggemaskan di dalam perut istrinya.


"I-itu anak kita," ucap Wiliam terbata. Pria itu merasa gugup saat melihat keajaiban didepan mata.


Jelita mengangguk. "Iya, itu anak kita."


Wiliam tersenyum sumringah dan langsung mencium Jelita bertubi-tubi, tidak menghiraukan sama sekali dokter dan juga perawat yang berada di dalam sana.


Tak lama setelah itu, Dokter menyudahi pemeriksaan dan tersenyum menatap Wiliam dan juga Jelita.


"Anak kalian dalam kondisi sehat sempurna, semuanya baik dan usia kandungannya sudah masuk bulan ketujuh," tutur Dokter menjelaskan.


Jelita dan Wiliam tersenyum senang dan merasa sangat bahagia mendengar jika anak mereka dalam keadaan baik-baik saja.


"Terima kasih Dokter," balas Jelita.


"Sama-sama dan saya ucapkan selamat, karena kalian akan mendapatkan seorang anak laki-laki," ucap Dokter memberitahu apa yang dia lihat saat melakukan USG tadi.


Wiliam dan Jelita mengangga lalu bersamaan menarik senyum. Mereka terlihat begitu senang, terlebih bagi Wiliam.


"Anak ku laki-laki?" tanya Wiliam masih tidak percaya.


Dokter mengangguk. "Benar Tuan," balasnya.


Pria itu langsung menatap istrinya yang sedang terharu, lalu menangkup kedua sisi wajahnya. "Kau dengar itu sayang, anak kita laki-laki. Aku akan mendapat anak ular."


Jelita mengangguk. "Kau benar, aku dengar itu sayang."


Wiliam meluapkan kegembiraannya, dengan meraup bibir istrinya tanpa ragu di depan dokter dan juga perawat yang ada di dalam sana, hingga mereka seketika terbelalak dan segera berpaling karena malu.


"Wil, sudah. Malu sama mereka," bisik Jelita melepaskan ciuman maut Wiliam.


"Oh iya, maaf. Aku lepas kendali," balasnya masih tersenyum sumringah.


Jelita hanya bisa tersenyum sambil mengeleng kepalanya, saat Wiliam berteriak begitu bangga akan kehebatannya mendapat anak ular.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2