
Rumah sakit.
Setelah menjalani proses persalinan yang cukup panjang serta melelahkan sekaligus mendebarkan, Jelita akhirnya dipindahkan ke dalam ruang rawat inap super VVIP.
Seluruh keluarga dan kerabat telah berkumpul di dalam ruangan tersebut dan menggerumuti sang bayi baru lahir layaknya semut ketemu gula.
Raut kegembiraan dan gemas terpancar jelas diwajah setiap orang yang melihatnya, terlebih Opa Wijaya.
Pria lanjut usia itu sedang menangis sesungukkan sambil menggendong sang cicit diatas pangkuannya yang sedang asyik bobo pulas tak menghiraukan tangisan dirinya.
"Cicitku yang tampan, bagaimana kau bisa tidur nyenyak disaat suara berisik seperti ini hah?" ucapnya terheran-heran.
"Dia putraku, sudah pasti akan tenang seperti diriku ini," sahut Wiliam menyerobot.
Opa memicingkan matanya dan menatap tajam Wiliam si cucu berandal. "Omong kosong! Opa ingat saat kau lahir dulu, kau selalu saja menangis sebelum puas memeluk dua gundukan kembar ibumu itu."
Opa kemudian menatap cicitnya kembali. "Hei jagoan Opa, jangan jadi seperti Daddy mu itu ya, sejak lahir dia sudah mesum," guraunya hingga semua orang didalam pun ikut tertawa.
Wiliam mencebik, merasa tidak suka jika masa kecilnya di banding-bandingkan dengan sang putra. "Opa kau berlebihan sekali, mana mungkin saat masih bayi, aku sudah jadi pria mesum hah."
Opa Wijaya menghadap ke arah Wiliam. "Heh! Opa masih ingat itu sampai sekarang Wili, kau selalu menangis dan baru bisa tidur jika sudah ketemu dengan gundukan kembar ibumu."
"Kau juga sering menangis jika di gendong oleh laki-laki atau seorang pengasuh yang jelek. Tetapi kau langsung diam dan tertidur pulas jika yang menggendongmu itu seorang gadis cantik."
"Opa dan Papa mu sampai kewalahan mencari baby sitter cantik yang masih muda hingga pusing," sambung Opa sembari menggeleng kepalanya.
Semua orang pun langsung tertawa mendengar hal tersebut termasuk Jelita, dia tidak menyangka jika Wiliam dari lahir sudah bisa membedakan mana wanita yang cantik dan mana wanita yang jelek.
Wiliam tersenyum kecut ketika melihat Jelita menertawakan dirinya. "Kau tertawa begitu senang, apa tidak takut aku menghukummu hem?" ancamnya sembari mendekatkan wajah.
Jelita segera berhenti tertawa. "Jangan marah sayang, aku hanya ikut tertawa saja."
"Hei cucu kurang ajar, jangan sembarangan menghukum cucu mantu Opa jika kau tidak ingin mendapatkan akibatnya," bela Opa lalu tertawa melihat Wiliam menjadi tidak berdaya.
Jelita terkekeh. "Sudahlah, jangan memasang wajah memelas seperti itu. Sekarang lebih baik kita memikirkan nama untuk si kecil ya," bujuknya merayu.
Wiliam tidak jadi mencium Jelita. "Kau benar juga," lalu menarik diri menghadap semua orang. "Opa menurutmu nama apa yang cocok untuk cicitmu itu?" tanyanya.
__ADS_1
Opa berpikir sambil menatap wajah cicitnya yang mungil. "Hmm ... Apa nama yang cocok ya untuk cicit kesayangan Opa ini?"
"Bagaimana kalau Brian?" tutur Opa.
Si bayi kecil tiba-tiba menangis, seperti merasa tidak suka dengan nama tersebut. Membuat Opa Wijaya langsung terkaget-kaget karena sang cicit mendadak memberontak kepadanya.
Opa mengelus dada. "Oke-oke jangan Brian," ucapnya lagi.
Mereka bersama-sama berkumpul dan berembuk, seperti sekumpulan orang yang sedang mengocok arisan. Masing-masing dari mereka di dalam ruangan itu pun, akhirnya mengusulkan sebuah ide beragam untuk memberi satu nama kepada sang bayi.
Mulai dari nama-nama tokoh penting, aktor, sampai nama dari pemain bola terkenal. Namun sang bayi selalu saja menangis tiada henti, seperti tahu jika nama-nama tersebut tidaklah cocok untuk dirinya.
"Siapa lagi ya? Ternyata anak ini benar-benar pemilih sekali," heran semua orang disana.
...***...
Beberapa saat kemudian, Wiliam mengambil sang putra yang sedang menangis dari pangkuan Opa Wijaya, lalu mencoba satu nama yang tiba-tiba terlintas di dalam pikirannya.
"Michael ... Coba beri nama dia Michael Wijaya," ucapnya memberi saran tanpa melepas pandangannya pada si bayi.
Jelita tersentak lalu menatap Wiliam tidak menyetujui. "Wil, kenapa kau memberi nama itu pada anak kita?"
Jelita merasa tidak enak sekali kepada semua orang, terlebih nama Michael pernah menjadi sosok istimewa di dalam hatinya di masa lalu.
Wiliam menatap semua orang. "Baiklah, aku sudah memutuskan. Kalau nama putraku adalah Michael Wijaya," ucapnya menegaskan dan seketika itu pula sang bayi mendadak tenang kembali.
Semua orang yang menyaksikan hal tersebut nampak tersenyum, ketika melihat sang bayi mungil itu kembali tertidur di dalam pangkuan ayahnya.
Mereka akhirnya sepakat menyetujui ide Wiliam dalam memberikan nama Michael Wijaya kepada si kecil.
"Michael Wijaya ... Opa suka nama itu," ujar Opa.
"Benar, tidak ada salahnya memberi nama itu dan lihatlah anak kita sayang. Dia juga terlihat menyukainya," ucap Wiliam sambil mencium sang bayi lalu menyerahkan kepada istrinya.
Jelita tersenyum, lalu menatap putranya dengan seksama. "Michael," ucapnya lembut. Lalu memberi sebuah kecupan lembut di kening sang putra yang sedang tertidur pulas.
...----------------...
__ADS_1
Beberapa hari kemudian.
Mansion Wiliam.
Ini adalah hari pertama dimana Baby Michael akhirnya pulang ke rumah bersama orang tuanya.
Benar-benar anak itu mewarisi kebiasaan ayahnya, karena di sepanjang perjalanan pulang ke rumah, ia tidak pernah melepaskan genggamannya dari pucuk sang ibu.
Baik tangan maupun mulut mungilnya itu, selalu saja menempel dan tidak mau menjauh walau sudah tertidur pulas. Seperti tidak mengijinkan sang ayah yang sudah menunggu giliran sedari tadi, sehingga Wiliam harus berlapang dada karena tidak kebagian jatah oleh putranya sendiri.
"Anak ularku, kenapa kau tidak mau melepaskan pucuk indah ini dari tangan mungilmu ini hem? Daddy jadi tidak kebagian begini, tolong sisakan itu untuk Daddymu sayang," Wiliam mencoba melepaskan tangan mungil dari pucuk pegunungan istrinya.
Namun sang bayi nampaknya tidak memperdulikan hal tersebut dan malah menatap sinis ayahnya seperti meledek, sehingga Wiliam semakin gemas saja.
"Dasar pelit! Padahal Daddy mu juga ingin menyicipi susu ibumu itu," kesal Wiliam.
Jelita menghela nafas. "Sudahlah sayang, kau bisa terlambat kerja nanti."
"Bagaimana bisa aku semangat kerja kalau belum mencoba vitamin baruku itu sayang," cebik Wiliam.
Jelita memutar bola matanya lelah, kenapa bapak satu ini tidak mau mengalah dengan putranya sendiri. "Nanti malam kan bisa, sekarang pergilah bekerja."
Wiliam menghela nafas, kali ini ia benar-benar tidak berdaya menghadapi sang anak ular kecil. Hingga si bapak ular itu akhirnya harus menelan ludahnya sendiri dan pergi bekerja dengan langkah yang lunglai.
"Sayang, jangan seperti itu." Jelita mencium Wiliam agar suaminya itu kembali semangat pergi bekerja.
Wiliam tersenyum menatap Jelita. "Tunggu aku pulang ke rumah dan jaga baik-baik putra kita ini," ucapnya lalu merampas kembali bibir istrinya.
"Iya, iya ... Sekarang pergilah," balas Jelita dan tak lama setelah itu Wiliam akhirnya berangkat ke kantor.
Jelita menatap putranya yang sudah tertidur pulas, lalu meletakkan ke dalam box bayi dengan hati-hati agar tidak terbangun.
Dia bergegas mengambil buku pelajarannya, lalu mengerjakan tugas kuliah yang sudah menumpuk, sesekali mengecek keadaan sang bayi yang masih lelap tertidur.
.
.
__ADS_1
Bersambung.