
Beberapa hari kemudian.
Nyonya Berta merasa frustasi, karena melihat kondisi suaminya semakin hari semakin memburuk. Akibat kejadian beberapa hari yang lalu, saat perusahaannya itu mengalami kebangkrutan dan kini telah diambil alih oleh Wiliam.
Mereka hidup serba kekurangan dan tinggal di rumah sewaan, beruntung Wiliam masih memiliki hati nurani karena ia masih menanggung biaya hidup sehari-hari serta membiayai pendidikan Floren hingga gadis itu lulus kuliah.
Kemiskinan keluarganya membuat gadis cantik nan seksi itu tidak luput dari hinaan dan juga bullyan dari teman-teman sekampusnya.
Namun nasib baik masih berpihak kepada Floren, karena Clara masih sudi membantunya di kala gadis itu tengah dilanda hinaan dan cobaan berat.
Bukan hanya itu saja, Clara tidak segan-segan membantu teman baiknya saat mengalami kesulitan uang. Dengan menyisihkan sedikit uang sakunya setiap hari hanya untuk sekedar berbagi agar bisa membelikan Floren makan siang di kampus.
Hal tersebut membuat Floren menangis sesak dan menyadari, jika Clara adalah teman paling baik satu-satunya yang ia miliki sekarang ini.
Clara juga tidak pernah membalas sedikitpun perbuatan buruknya, walau gadis itu tahu jika Floren pernah menjahatinya sewaktu kecil dulu.
Dan bukan hanya itu saja, kemiskinan juga telah membuka mata hatinya. Bagaimana dia merasakan penderitaan yang pernah dirasakan oleh Jelita terdahulu, saat dirinya begitu sombong dan juga begitu jahat kepadanya.
Kini gadis itu menjadi lebih banyak diam dan tidak mau bicara kepada siapapun, dia lebih memilih duduk menyendiri di sudut ruangan dan menunggu waktu hingga jam kuliah selesai.
Floren mencoba peruntungan nasibnya dengan melamar sebuah pekerjaan di salah satu kafe untuk mencari uang tambahan agar bisa memenuhi kebutuhan pribadinya.
Kini gadis itu telah belajar banyak tentang dunia luar, bahwa sulit sekali mencari uang di tengah kondisi ayahnya yang sedang sakit. Dia kembali menangis dan teringat akan Jelita, saat ingin membuat gadis itu dipecat dari pekerjaannya.
Padahal saat itu Jelita tengah berjuang mengobati ibunya yang sedang sakit.
Floren kembali merasa bersalah dan terus mengutuki dirinya sendiri, mengapa ia begitu jahat kepada orang lain hingga kini dia terkena karmanya sendiri.
...----------------...
Perusahaan Wijaya Group.
Kericuhan di dalam perusahaan itu perlahan berangsur membaik, kini Wiliam kembali menjalankan usahanya dan memperbaiki semua kerugian yang pernah dia perbuat sebelumnya.
Wiliam merangkul semua investor yang pernah pergi agar mau bekerja sama kembali, menjalankan proyek pembangunan di daerah pergunungan yang sempat tertunda.
Dia juga telah membersihkan semua sampah sekeliling hotel dan telah mengembalikannya ke tempat asal. Bapak satu ini tidak henti-hentinya berusaha memperbaiki semuanya agar kembali normal.
Kini nama perusahaan Wijaksana telah menghilang dari dunia bisnis, karena sudah bersatu dengan perusahaan Wijaya Group.
Oleh karena itu, semua karyawan yang pernah bekerja di perusahaan Wijaksana kini bekerja di perusahaan pusat dan fokus bekerja mengurusi proyek hotel dan restoran di daerah pergunungan yang baru saja rampung.
Wiliam berusaha membangun kepercayaan di mata pengusaha lain dan terus mengangkat perusahaan Wijaya Group agar kembali bersinar, walau dia harus rela pulang larut malam dan mengorbankan waktu bersamanya dengan sang keluarga kecil setiap hari.
Hal tersebut ternyata dimanfaatkan oleh Nyonya Berta, tepatnya saat peringatan satu bulan si kecil. Wanita paruh baya itu datang sebagai tamu dan menghadiri acara tersebut karena dia tahu Wiliam sedang tidak ada di dalam mansionnya karena sedang sibuk memulihkan kondisi perusahaan.
Nyonya Berta menyiapkan semua dan telah memikirkan cara untuk memisahkan sang bayi dari keluarganya.
Dia berpura-pura baik didepan semua orang dan ingin menggendong baby Michael sekilas.
__ADS_1
"Jelita, baby Michael sudah seperti cucuku sendiri. Bolehkan kalo tante menggendongnya sebentar," ucap Nyonya Berta dengan tatapan memelasnya.
Jelita memandang sekitar dan menatap Nyonya Berta kembali. "Baiklah," balasnya tanpa menaruh curiga.
Nyonya Berta tersenyum. "Terima kasih," ucapnya lalu menimang Baby Michael dan bersenandung.
Jelita tersenyum dan menatap hal manis itu dari kejauhan, namun kecemasannya muncul saat Baby Michael merasa tidak nyaman dengan gendongan Nyonya Berta dan mulai menangis.
"Nyonya Berta, bayiku menangis. Tolong berikan dia kepadaku," pinta Jelita dan ingin mengambil bayi Michael dari gendongan Nyonya Berta.
Namun wanita paruh baya itu menolak mengembalikan bayi Michael, dia menatap sinis dan tersenyum smirk. "Tidak akan!" sentaknya lalu berlari menjauh membawa Baby Michael ke arah teras depan rumah.
"Jangan ambil dia! Tolong kembalikan bayiku!" pekik Jelita sembari berlari mengejar Nyonya Berta.
Semua yang hadir disana pun ikut berlari dan menasehati Nyonya Berta agar mengembalikan baby Michael kepada ibunya.
"Kalian semua jangan mendekat dan jangan berusaha mengambil bayi ini dariku atau aku tidak akan segan-segan mencekik bayi ini sampai mati!" ancam Nyonya Berta tidak main-main kepada semua orang termasuk penjaga mansion Wiliam.
"Hentikan Nyonya Berta, jangan sakiti bayiku!" pekik Jelita.
"Nyonya Berta sadarlah, jangan menyakiti bayi yang tidak berdosa!" tegur beberapa orang disekitarnya.
"Berisik! Bayi ini pantas lenyap dan jika kalian ingin menyalahkan, salahkan saja si Wiliam itu!" bentak Nyonya Berta masih kukuh mendekap bayi Michael.
Jelita menggeleng dan memohon. "Jangan sakiti bayiku, kau boleh ambil atau minta apapun tapi tolong jangan sakiti dia Nyonya," isaknya ketika melihat bayi Michael diangkat begitu tinggi seperti ingin dilempar.
Nyonya Berta tertawa lalu berdecih. "Cih! Dasar gembel, aku ingin bayi ini dan biarkan aku pergi membawanya. Jika kalian berani mengikutiku atau melapor polisi, maka jangan salahkan aku melenyapkan bayi ini sekarang juga!" ancamnya kemudian mundur perlahan dengan tatapan waspada ke sekeliling.
Sementara itu kejadian mencekam di dalam terdengar oleh telinga para anak buah terlatih milik Wiliam yang sedang berjaga di luar mansion, mereka bergerak cepat masuk ke dalam rumah dan berupaya menggagalkan rencana jahat Nyonya Berta.
Mereka memberi kode kepada semua orang yang berada di dalam untuk diam dan berhati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan Nyonya Berta.
Para anak buah terlatih itu terus berjalan perlahan mendekat ke arah Nyonya Berta, selama perhatian wanita itu sedang fokus menenangkan baby Michael yang terus saja menangis dan meronta didalam gendongannya.
"Diam!" bentak Nyonya Berta kepada baby Michael, namun tangisan sang bayi justru bertambah kencang dan hal itu membuat Nyonya Berta hilang kewaspadaan akan pengamanan sekitar.
Hal tersebut dimanfaatkan oleh para tim untuk menyergap Nyonya Berta dari belakang dan tak butuh waktu lama, baby Michael pun akhirnya telah berpindah tangan.
"Lepaskan aku! Kembalikan bayi itu kepadaku!" pekik Nyonya Berta memberontak dan mengutuk siapapun yang telah menggagalkan rencananya.
"Diamlah! Kau sudah tertangkap, jangan sampai kami melakukan hal lain yang lebih menyedihkan daripada ini!" tegas sang anak buah Wiliam menekuk dan menginjak punggung Nyonya Berta yang sudah dalam posisi tengkurap.
"Lepas! Dasar kalian anj*ng-anj*ng nya Wiliam beraninya kalian berbuat hal ini kepadaku!" ronta Nyonya Berta.
"Berisik sekali," ucap salah satu anak buah Wiliam lalu menyerahkan baby Michael kepada Jelita.
Kini Baby Michael kini telah selamat dan kembali kepada ibunya. "Terima kasih," ucap Jelita sembari menciumi anaknya dan membawa masuk ke dalam.
Sementara itu Nyonya Berta dibawa ke kantor polisi dan mendekam di dalam penjara akibat perbuatan jahatnya. Namun karena rencananya yang telah gagal dan juga perasaan frustasi, membuat wanita paruh itu tiba-tiba kehilangan kewarasannya.
__ADS_1
Dia menangis dan berteriak tiada henti, sambil menjambak rambutnya hingga berantakan serta mengamuk bahkan berani memukuli siapapun yang berada di dekatnya.
Nyonya Berta mengalami gangguan jiwa berat, akibat keterpurukan yang dia alami belakangan ini. Dari jatuh miskin, suami yang lumpuh akibat stroke sampai kegagalan menjalankan rencana menghabisi keluarga Wiliam.
Melihat hal tersebut, keluarga Wijaya memutuskan membawa Nyonya Berta ke rumah sakit jiwa untuk mendapatkan perawatan dan memerintahkan kepada siapapun agar tidak memperbolehkan mendekati wanita itu lagi.
...----------------...
Di Kafe.
Prang!
Gelas berisi minuman dalam genggaman Floren terjatuh begitu saja dan dia bergegas memunguti pecahan kaca dilantai.
"Auw!" pekiknya meringis kesakitan saat salah satu pecahan kaca tidak sengaja mengenai jari tangannya.
Perasaannya tiba-tiba gelisah dan tidak menentu, seperti telah terjadi sesuatu hal buruk yang sedang menimpah keluarganya.
"Semoga saja bukan," gumamnya sembari menggeleng.
Floren menghisap jarinya dan bergegas membuang pecahan kaca dan segera meminta maaf kepada sang pemilik kafe.
"Jika lain kali terjadi hal seperti ini, maka kau akan ku pecat!" tegas sang bos menceramahi Floren yang hanya bisa diam menunduk.
"Baik Pak, saya tidak akan mengulanginya lagi. Sekali lagi saya minta maaf," balas Floren.
Gadis itu tidak menyangka kehidupannya begitu berbanding terbalik dan tidak pernah sekalipun dalam hidupnya dia begitu merendah, apalagi meminta maaf kepada orang lain hanya gara-gara memecahkan gelas kaca berharga murah.
"Sudah sana kerja lagi!" bentak sang bos dan Floren mengangguk patuh. "B-baik," balasnya.
Selama merapihkan meja, entah mengapa pikiran Floren hari ini tidak fokus kepada pekerjaannya, terkadang dia sering terbentur meja atau kursi di dalam ruangan. Dia hanya bisa meringis kesakitan dan menghela nafas berkali-kali.
Hal itu ternyata mengundang perhatian salah satu pria pengunjung setia kafe tersebut, yang sudah memperhatikan tingkah ceroboh Floren sedari tadi.
Pria itu mendekati Floren yang tengah terduduk kelelahan dan mulai bertanya untuk menjawab rasa penasarannya.
"Apa kau Floren?" tanyanya.
Floren menoleh dan memandangi pria yang sedang berdiri dihadapannya sembari mengusap peluh di sekujur wajah.
"Iya aku Floren dan kau siapa?" tanya balik Floren.
.
.
Bersambung.
...----------------...
__ADS_1
Bagaimanakah reaksi Floren ketika mengetahui bahwa sang ibu tercintanya tiba-tiba masuk rumah sakit jiwa?
Nantikan di bab selanjutnya. Terima kasih. Selamat membaca.