Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 88. Kondisi yang semakin rumit


__ADS_3

"Bagaimana jika aku sendiri yang membatalkan semua perkataan gadis itu dan menarik kata-katanya kembali!" ucap lantang seseorang dari depan pintu ruangan.


Jelita, Michael dan Wiliam menoleh serempak ke arah sumber suara dan mereka bertiga terkejut dengan kedatangan seseorang yang tidak terduga.


"T-tuan Besar!" seru Jelita.


"Daddy!" seru Michael.


Entah bagaimana sesosok Tuan besar bisa datang ke perusahaan Wijaya Group dengan membawa beberapa orang pengawal pribadinya.


...***...


Beberapa jam sebelum itu terjadi.


Perusahaan Chandra Putra.


Tuan Nael mendapat kabar kurang menyenangkan dari asisten pribadinya, mengenai penghinaan yang dilakukan oleh Wiliam kepada keluarga Chandra Putra.


"Siapa Wiliam dan mengapa dia begitu berani menghina keluargaku?" tanya Tuan Nael.


"Dia cucu Perusahaan Wijaya Group, keponakan tiri Tuan Wijaksana. Dari kabar yang beredar, kalau Wiliam baru saja dinobatkan oleh Tuan Wijaya sebagai penerus perusahaan yang selanjutnya. Dia berani menghina keluarga anda, mungkin disebabkan dari sifatnya yang sedikit aroga*n Tuan," balas asisten pribadinya menjelaskan.


"Arog*an? Apa maksudmu dia pria tidak baik?" tanya Tuan Nael.


"Benar Tuan ... Mereka bilang Wiliam juga pernah mendekam di dalam penjara dan dia seorang pemain wanita," balas Asisten pribadi.


"Kau dapat info ini darimana? Apa info ini benar?" tanyanya memastikan.


"Saya mendapat info ini dari anak buahnya Tuan Wijaksana dan ternyata info tersebut benar adanya Tuan besar. Bahkan sebagian besar perusahaan di negeri ini sudah mengetahui hal tersebut," balas asisten pribadi Tuan Nael.


"Mengapa Tuan Wijaya begitu berani menyerahkan perusahaannya kepada pria seperti itu. Bukankah perusahaan Wijaya Group akan diwariskan kepada Tuan Wijaksana dan mengapa sekarang beliau malah mengubah keputusannya itu?" tanya Tuan Nael tidak habis pikir.


"Kalau itu, saya tidak tahu pasti alasannya Tuan, tapi mendengar info dari anak buahnya Tuan Wijaksana, jika Wiliam lah yang memaksa kepada Tuan Wijaya agar dia dijadikan sebagai pewaris utama perusahaan Wijaya Group," balas asisten pribadi.


"Lucu sekali, Tuan Wijaya adalah orang hebat dia tidak mungkin salah menilai. Tapi ini sedikit aneh, Tuan Wijaya tidak bicara apapun mengenai cucunya yang tidak baik," gumam Tuan Nael.


"Mungkin karena Wiliam adalah cucu kandung Tuan Wijaya, dan beliau begitu sangat menyayanginya jadi dia menyembunyikan sifat buruk cucunya sendiri," balas sang asisten.


"Hem bisa jadi seperti itu, ini berarti masalah internal mereka dan kita seharusnya tidak akan ambil pusing atau ikut campur. Cukup menyayangkan saja dengan keputusan Tuan Wijaya yang menurut ku terburu-buru."


"Akan tetapi, dia telah menghina keluargaku, mau tidak mau aku harus ikut campur. Sepertinya aku harus bicara dengan Tuan Wijaya dan juga cucunya itu untuk memastikan penghinaan yang dia katakan benar atau tidak," ucap Tuan Nael.

__ADS_1


"Maaf Tuan besar ... Saya harus mengatakan satu hal lagi kepada anda. Bukan hanya penghinaan saja yang dilakukan oleh Wiliam, akan tetapi saya mendapat info dari anak buahnya Tuan Wijaksana, kalau Wiliam pernah membawa anak asuh pribadi Nyonya besar secara paksa," ucap asisten menjelaskan.


"Apa! Lancang sekali pria itu, beraninya dia menyentuh anak asuh istriku. Ini benar-benar penghinaan besar bagi keluarga Chandra Putra. Anak asuh pribadi istriku, sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga besar Chandra Putra sendiri. Bisa dibilang siapapun yang menjadi anak asuh istriku, dia adalah keluargaku juga. Beraninya dia mengabaikan hal itu, itu sama saja dia mencari masalah dengan ku!" geram Tuan Nael.


Rasa kesalnya bertambah saat supir pribadi sekaligus teman kepercayaannya tiba-tiba datang untuk mengabarkan sesuatu.


"Nael ... Anak mu sama Jelita sedang ada di Perusahaan Wijaya Group!"


"Apa! Yang benar kamu Ahmad, sedang apa dia disana?" tanya Tuan Nael.


"Mana aku tahu Nael," balas Ahmad.


Tuan Nael berdecak kesal. "Ck! Mau apa anak itu kesana?" gumamnya. Dia berdiri dan segera menutup pekerjaannya. "Ahmad, bawa aku kesana! Titahnya segera.


...----------------...


Kembali lagi di Perusahaan Wijaya Group.


"Wiliam ... Bagaimana jika aku yang membatalkan perkataan gadis itu?" tanya Tuan Nael kembali, dia berjalan mendekat ke arah Putra dan juga anak asuh istrinya.


Wiliam berdecak. "Ck! Tidak ku sangka Tuan besar harus repot-repot datang kesini, hanya untuk mengurusi hal sepele," ucapnya.


"Hal sepele? Ini menyangkut nama baik istriku dan juga penghinaan bagiku, panggilkan Tuan Wijaya aku ingin bicara sesuatu dengannya!" titah Tuan Nael.


Dia mematikan batang candunya lalu mendekat ke arah Tuan Nael. "Duduklah terlebih dahulu, mungkin aku bisa mewakili Opa ku untuk menjawab semua pertanyaan anda Tuan Besar," balasnya lagi.


"Aku tidak akan duduk sebelum aku bertemu dengan Tuan Wijaya," ucap Tuan Nael.


"Terserah anda saja, namun satu hal yang pasti Tuan Besar, aku akan tetap teguh pada pendirianku dan perlu anda ketahui, kalau aku tulus ingin menikahi anak asuh keluargamu itu. Jadi tolong ijinkanlah aku untuk menikahinya," ucap Wiliam berani.


"Tidak akan ku biarkan anak asuh keluargaku jatuh ke tangan pria sepertimu dan jangan kau berani menyentuh atau berpikir untuk merebutnya dari keluargaku. Jika tidak, aku tidak akan segan-segan menjebloskanmu ke dalam penjara sebagai hukumannya," ancam Tuan Nael.


Wiliam tersenyum tipis dan menatap Jelita yang masih bersembunyi karena takut.


"Aku menginginkan dirinya, tidak ada yang bisa menghentikan keinginanku. Termasuk dirimu Tuan Besar, silahkan adukan aku kepada pihak berwajib. Tapi anda juga perlu ketahui ini, bahwa aku tidak akan pernah menyerah begitu saja untuk mendapatkan gadis itu," tantang Wiliam teguh pada pendiriannya.


"Michael ..." ucap Jelita saat melihat Michael mulai terpancing emosi.


"Kau ingin mengambil Jelita, maka langkahi dulu mayatku!" bentak Michael.


"Michael jangan ..." Jelita menggeleng dan menahan Michael dengan mencekal pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Lepas Jelita! Ternyata Pria itu tidak bisa diminta secara baik-baik, dia harus ku beri pelajaran," ucap Michael.


Dia menepis tangan Jelita lalu mendatangi Wiliam bermaksud ingin memukulnya, namun dengan segera Tuan Nael menghadang putranya itu yang sudah terlanjur emosi.


"Jangan berbuat onar di sini, kendalikan dirimu," ucap Tuan Nael.


"Daddy ... Dia begitu berani melawan mu, percuma saja kita bicara seperti ini, karena nyatanya pria itu tidak mengerti, bahkan dia juga berani menantangmu," balas Michael.


"Ck! Sudah ku bilang kau bukan tandinganku," ucap Wiliam kepada Michael.


Michael pun bertambah emosi. "Baik, kita lihat aku ini tandingan mu atau bukan."


"Michael jangan!" pekik Jelita. "Jangan! Ingat akan janjimu," pintanya.


Michael menghela nafas dan mengurungkan niatnya. "Maaf aku terbawa emosi."


Keadaan semakin rumit saat kedatangan seorang tamu tidak diundang. Dia adalah Tuan Wijaksana yang memang sedang menunggu suasana panas seperti ini, agar bisa memanfaatkan situasi.


"Siapa yang berani membuat keributan disini!" ucap lantang Tuan Wijaksana.


Pria itu memasuki ruangan dan menatap semua orang.


"Tuan besar, ada hal penting apa yang membuatmu datang kesini?" tanya Tuan Wijaksana.


"Aku datang untuk meminta keponakanmu itu agar melepaskan anak asuhku, serta meminta maaf atas penghinaan yang telah dia lakukan kepada keluargaku," balas Tuan Nael.


Tuan Wijaksana tersenyum smirk rencananya ternyata telah berhasil, membuat keluarga Chandra Putra melawan Wiliam, agar posisi Wiliam ditentang oleh semua orang.


"Wiliam minta maaf lah kepada keluarga Chandra Putra dan lepaskan anak gadis itu. Jangan pernah menentang keinginan Tuan besar jika tidak ingin menerima akibatnya," ucap Tuan Wijaksana.


"Aku tidak menghina atau melakukan hal yang salah, untuk apa aku meminta maaf kepadanya. Lagi pula apa urusannya denganmu Om," balas Wiliam, dia begitu tahu jika paman tirinya itu hanyalah tukang kompor dan penghasut.


Dan Wiliam yakin keributan ini, pasti ada sangkut pautnya dengan paman tirinya yang memang tidak menyukainya itu.


"Lancang sekali! Itulah mengapa aku tidak setuju perusahaan ini dipegang oleh pria tidak beradab seperti mu! Entah paksaan apa yang kau lakukan kepada Papa hingga ia mau memberikan perusahaan ini kepada anak berandal tidak bermoral sepertimu!" bentak Tuan Wijaksana.


"Wijaksana!" pekik Opa Wijaya yang baru saja datang ketika mendengar ada keributan di perusahaannya.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2