Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 27. Mengajak Ibu ke kampus


__ADS_3

Rumah Jelita.


Jelita telah kembali ke rumah, dia senang melihat ibu yang menyambut dirinya walau dengan susah payah.


"Eergh ...." Hanya itu yang bisa Ibu Jelita ucapkan, namun dirinya terus bersyukur. Berkat pengobatan dan juga terapi beberapa hari di rumah sakit. Ibu sudah ada kemajuan, walau baru sedikit yang terlihat.


Dengan segera Jelita memeluk Ibunya, yang terduduk bersandar di atas kursi roda baru. Jelita mencium wajah Ibunya bertubi-tubi, merasa sayang jika melewatkannya.


Ibu Jelita tersenyum, matanya terpejam saat Jelita menangkup sisi wajahnya. Merasakan kehangatan tangan Jelita, walau telapak tangan anaknya itu sedikit kasar.


"Ibu ... Besok Jelita akan ajak Ibu jalan-jalan. Kita akan keliling kampus ya, Ibu pasti kangen. Anak-anak itu juga pasti senang melihat Ibu datang," seru Jelita mengingat siswa senior yang ingin melihat Bu Maria.


Ada sedikit kekhawatiran di hatinya jika membawa Ibu besok ke kampus, Jelita takut akan ketahuan jika dirinya sering di tindas disana. Namun melihat Ibunya yang bersemangat, Jelita akan menyingkirkan rasa kekhawatirannya itu.


Jelita mengurus Ibunya dengan telaten, hanya Ibu satu-satunya keluarga yang dia miliki. Jelita sering menghibur Ibunya, walau dia sendiri juga butuh penghiburan.


Air mata Ibunya itu membuat Jelita menyadari, bahwa penderitaan dirinya tidak lah sebanding dengan derita sang Ibu. Semenjak kematian suaminya itu membuat Ibu kehilangan semangat, namun dia selalu tersenyum dan masih bisa menghibur Jelita dikala sedih.


Kali ini, saat Jelita beranjak dewasa. Dia menyadari kesedihan Ibunya itu. Dimana terjawab sudah Ibunya yang sering menangis ditengah malam, merasakan sulitnya ekonomi dan juga beratnya kehilangan pasangan hidup.


Jelita telah berjanji pada dirinya sendiri akan mengurus Ibu dan juga menghiburnya setiap hari. Tidak akan membiarkannya bersedih, bagaimanapun caranya. Jelita merasa balas budi kepada ibunya itu walau sepanjang hari, sebanyak apapun dia berbakti, tidak akan pernah cukup menggantikan jasa Ibunya.


………………………………………………………………………………


Mansion Chandra Putra.


Nyonya Caca mulai mengumpulkan data Jelita yang dia dapat dari temannya si pemilik kampus. Ibu yayasan kampus yang bernama Nyonya Lista istri dari Tuan Anthoni.


Nyonya Caca akan mengasuh Jelita, yang menurutnya layak untuk menjadikannya seorang anak asuh. Dimana akan dia serahkan datanya kepada pemilik tertinggi, kepala Yayasan Djuanda Foundation. Yaitu dirinya sendiri.


Yayasan tersebut berdiri sejak lama, yang berdiri dari harta peninggalan keluarga nya yang sangat berlimpah, dia lebih memilih menjadikan harta warisan ayahnya sebagai amal. Meneruskan kembali cita-cita luhur keluarganya yang terdahulu, membantu orang miskin.


Yayasan besar itu menampung semua orang kurang mampu yang membutuhkan bantuan. Dari mendirikan sekolah untuk memberikan pendidikan kepada anak kurang mampu, mendirikan panti asuhan dan juga panti jompo serta tanah makam gratis. Semua itu berada dibawah naungan yayasan Djuanda Foundation.


Siapapun yang datang dan membutuhkan bantuan akan dibantu dengan sukarela. Yayasan itu akan merangkul dan mengayomi siapa saja, dari mana saja. Orang dari berbagai agama, suku, ras maupun etnis tertentu, dianggap sama oleh yayasan tersebut.


Dan yayasan itu juga membuka jalan dan membebaskan bagi siapapun yang ingin bersumbangsih di dalamnya, baik donatur yang menyumbangkan materi maupun tenaga dan juga pikiran. Semuanya akan diterima dan disambut baik oleh beliau.


Nyonya itu menghela nafas panjang, saat dirinya telah selesai mengisi beberapa lembar formulir pendaftaran. Dirinya berniat akan turun langsung menyurvei Jelita dilapangan.

__ADS_1


Walau seratus persen survei membuktikan bahwa Jelita pasti akan diterima oleh yayasannya itu, tapi dirinya tetap harus menanyakan kepada Jelita terlebih dahulu sebagai ijin, agar tidak ada unsur paksaan di dalamnya.


"Haah selesai juga ... Aku akan datang ke kampus Miki besok untuk melihat Jelita, dan meminta data yang kurang kepadanya secara langsung."


Nyonya itu memasukkan formulir ke dalam tas, dan mengunggu besok pagi untuk bertemu dengan Jelita yang bekerja dikampus tempat anaknya menuntut ilmu. Tanpa sepengetahuan siapapun tentunya.


……………………………………………………………………………


Keesokan harinya.


Jelita berjalan kaki membawa Ibu ke kampus menggunakan kursi roda, yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Dia bersuka cita mendorong benda beroda itu sambil bersenda gurau dengan Ibunya di sepanjang jalan.


Mereka berhenti di depan pintu gerbang kampus ternama itu dan Jelita mulai berdebar. Dia melangkah sambil terus berdoa agar tidak terjadi apapun kepada diri dan juga Ibunya.


Jelita bekerja sambil ditemani Ibunya, sesekali Jelita memantau Ibu agar tidak kekurangan apapun. Sambil berjemur di bawah matahari pagi, Bu Maria melihat anaknya bekerja.


Setelah selesai menyapu halaman, Jelita menatap sejenak mata Ibunya yang berbinar. Dirinya merasa jika ibu merindukan suasana tempat itu. Tempat dimana bukan hanya dia mencari nafkah saja, namun juga tempat dimana anak-anak orang kaya itu berbagi keluh kesah kepada dirinya.


"Ibu jangan menangis," ucap Jelita sambil menghapus air mata Ibunya.


Tangan Ibu bergetar saat dirinya ingin memanggil para siswa yang dahulu sering berbagi suka duka dengannya.


***


Kerumunan siswa senior itu menghentikan aktivitasnya sejenak, mereka serempak melihat ke arah Jelita. Pandangan mereka semakin lekat, kepada sesosok yang duduk di kursi roda.


Awalnya mereka melangkah ragu, namun setelah dipandangi cukup lama, mereka tersenyum gembira. Mereka mengenali wanita itu. Itulah ibu Jelita, Ibu Maria


Mereka berbondong-bondong mendekati beliau, menciumi tangan dan juga bergegas memanggil siswa yang lain untuk bertemu dengannya.


Tak sedikit dari mereka yang menangis haru, melihat kondisi Ibu sekaligus teman curhat mereka yang menyedihkan.


"Bu Maria, kau begitu kurus ... Hiks!"


"Ibu kami semua kangen sama Bu Maria."


Mereka berkumpul sambil bertemu kangen, saling mencurahkan kerinduan mereka masing-masing.


Jelita mengulum senyum, tak terasa dia menitikkan air mata. Namun di gedung lain, gedung dimana siswa baru yang tidak menyukai Jelita menatap sinis.

__ADS_1


"Siapa yang dibawa sama si gembel itu?" tanya Floren.


"Ibunya," jawab Clara singkat.


"Cih! dia pikir ini tempat panti jompo, membawa orang tua penyakitan kesini," balas Floren.


"Dia membawanya untuk berjumpa dengan siswa senior yang mengenal ibunya," ujar Clara.


Floren terdiam lalu tersenyum smirk. "Aku akan mengerjai Jelita di depan ibunya itu. Apa ya reaksinya kira-kira?" Floren tertawa senang lalu berjalan menuju kelasnya untuk menaruh tas.


***


Sementara itu, kerumunan orang menarik perhatian Michael, diapun segera menghampiri untuk memastikan tidak terjadi apa-apa dikampus. Karena dia melihat banyak siswa yang menangis.


Sesampainya disana dia bertanya-tanya siapa wanita paruh baya yang duduk di kursi roda itu. Lalu rasa penasarannya terjawab saat melihat Jelita duduk disamping wanita tersebut.


"Bu Maria," ucap Michael lalu mendekat.


Semua siswa serempak melihat Michael yang menyebut nama Bu Maria. Jelita seketika berdiri, dia takut akan kedatangan Michael. Karena jika ada Michael di dekatnya sudah pasti sebentar lagi Jelita akan terkena masalah dari siswa yang tidak menyukainya.


Jelita menyudahi pertemuan tersebut. "Maaf kakak, Jelita harus kembali bekerja. Jelita mau bawa ibu untuk istirahat."


Mereka mengangguk setuju karena memang sebentar lagi mereka akan masuk kelas. "Bu Maria, jaga kesehatanmu dan Jelita jagalah Ibu Maria kami."


Jelita mengulum senyum lalu mendorong kembali kursi roda ke arah taman. Michael senantiasa membuntuti Jelita karena memang ingin bertemu dengan Bu Maria.


Michael dengan cepat merampas dan memberhentikan kursi roda tersebut.


"Tunggu, jangan takut aku hanya ingin menyapanya saja," ucap Michael.


***


Sementara itu Nyonya besar menaiki kijang besi miliknya, berdandan dengan ala kadarnya dan menyembunyikan identitasnya dengan menjadi orang biasa.


Dia ingin memastikan bahwa dirinya melihat sendiri kelakuan anak-anak kampus tersebut dan juga Jelita. Karena jika kehadirannya sampai diketahui oleh orang disana, sudah pasti dia tidak akan mengetahui sifat asli seseorang. Karena begitulah cara kerjanya memantau sambil bersembunyi dengan menyamar untuk suatu tujuan.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2