Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 52. Tidak menyangka.


__ADS_3

Setibanya di dalam rumah, Michael mengintip dari belakang pintu untuk memastikan jika Floren benar-benar sudah pergi dari rumahnya. Dia terkekeh dan merasa puas karena telah berhasil mengerjai Floren.


"Sudah cukup Michael, kita sudah di dalam!" ucap Jelita lalu menepis tangan Michael yang masih saja betah melingkar pada pinggangnya.


"Ah maaf, aku lupa," balas Michael lalu menurunkan lengannya.


Mereka berdua lalu menghampiri Nyonya Caca yang sedang duduk di ruang tengah sambil membaca buku kesukaannya.


"Mamy ..." sapa Michael.


Nyonya Caca lalu menoleh dan tersenyum. "Oh Miki sayang, kamu habis darimana? Tadi Floren mencarimu dan dia titip salam."


Michael seketika cemberut, dia berdecak kesal. "Mamy, sudah berapa kali Mike bilang, jangan sebut nama kecil ku di depan orang lain."


Nyonya Caca segera menutup mulutnya tetapi dia bingung, orang lain mana yang di maksud oleh putranya itu.


"Tapi ada siapa Miki?" tanya Nyonya Caca.


"Ada Jelita Mamy," balas Michael.


Nyonya Caca menutup dan menaruh buku di atas meja lalu menengok ke kanan dan ke kiri. "Jelita ... Mana dia, ada dimana dia sayang? Kebetulan Mamy ingin bertemu dengannya."


Michael segera bergeser ke samping, saat menyadari tubuh Jelita yang cukup mungil, terhalang oleh tubuhnya yang lumayan besar dan tinggi.


"Ibu asuh aku disini," balas Jelita sambil tersenyum begitu manisnya.


Nyonya Caca seketika mengangga dan menatap tidak percaya pada gadis muda yang sedang berada dihadapannya. Dia lalu berdiri dan memandangi Jelita dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan satu tangan yang menutup mulutnya.


Nyonya Caca mendekat lalu menangkup sisi wajah Jelita. "Anak ku sayang, apa benar kamu ini Jelita?" tanya Nyonya Caca seakan tidak percaya pada perubahan anak asuhnya itu.


Jelita mengangguk. "Benar Ibu, ini aku Jelita."


Nyonya Caca seakan terharu, dan masih tidak menyangka dengan apa yang dilihat oleh mata kepalanya sendiri. "Anak ku sayang, ternyata dugaan Ibu selama ini benar. Kalau kamu itu sebenarnya sangat cantik, wajahmu ini hanya tertutup oleh debu kusam."

__ADS_1


Nyonya Caca kemudian menangis haru. "Jadi seperti ini rupa aslimu Jelita, kamu ... Kamu begitu cantik Nak, tak salah jika ibu Maria memberi namamu Jelita," Nyonya Caca begitu bahagia saat bantuannya ternyata telah tepat sasaran.


Jelita yang tidak tahan melihat ibu asuhnya itu menangis, dia pun ikut menangis. "Tolong Ibu jangan menangis, aku sangat tidak sanggup jika melihat orang tua menangis." Jelita menghapus air mata Nyonya Caca dengan jari tangannya.


Nyonya Caca kemudian meraih kedua tangan Jelita untuk dilihat secara seksama. "Ah tanganmu juga ternyata begitu indah," ucap Nyonya Caca saat melihat jari jemari Jelita yang begitu lentik dan tersenyum sambil terisak.


Jelita mengamati ekspresi Ibu asuhnya. "Ibu, apa kamu sedang merindukan putrimu?" tanya Jelita saat membaca sorot mata Ibu asuhnya yang seperti merindukan seseorang.


Nyonya Caca kemudian beralih menatap Jelita, dan tidak menyangka dengan tebakan gadis muda dihadapannya itu. Bagaimana ... Bagaimana gadis itu bisa tahu jika dirinya sedang merindukan Shansan putrinya.


Jelita memeluk Nyonya Caca dan berkata. "Ibu asuh, anggap saja aku adalah putrimu sendiri dan jika kamu sedang merindukannya, maka jangan sungkan, panggilah aku. Aku akan datang kepadamu dan janganlah ragu untuk bercerita kepadaku. Aku akan selalu siap mendengarkan dan juga menemanimu disaat kamu merasa kesepian."


Mendengar perkataan Jelita, membuat hati Nyonya Caca kini terasa begitu hangat. Tak terasa air matanya telah mengalir begitu deras, membasahi seluruh wajah awet muda Nyonya Caca.


"Terima kasih Jelita," ucap Nyonya Caca.


"Jangan berterima kasih kepadaku, harusnya aku yang mengucapkan terima kasih banyak kepadamu Ibu Asuh," balas Jelita.


Mereka berdua berpelukan sambil menangis haru, keduanya saling mengucapkan rasa syukur dan saling berterima kasih.


"Bagaimana bisa ada dua wanita dengan latar belakang yang jauh berbeda, namun memiliki kesamaan yang begitu mirip. Sama-sama berhati baik dan sama-sama berwajah cantik."


……………………………………………………………………………


Mansion Wijaksana.


Floren baru saja tiba di rumah, dia menangis sesungukkan sambil mencari ibunya.


"Mamy! ... Mamy!" Floren berteriak memanggil ibunya.


Mendengar suara putrinya memanggil, Nyonya Berta dengan segera datang menghampiri. Dia terkejut saat melihat Floren dengan kondisi yang sudah berantakan.


"Oh sayang, apa yang terjadi padamu my sweet heart?" tanya Nyonya Berta lalu mengajak putrinya untuk duduk terlebih dahulu.

__ADS_1


Floren kemudian menceritakan semua kejadian yang terjadi hari ini kepada Maminya. Tentang Michael yang telah melukai hatinya.


"Mike, dia membuat hatiku sakit Mamy. Dia mencium wanita itu di depan mata kepalaku sendiri dan yang lebih menyakitkan adalah ketika Mike menyebut wanita itu sebagai menantu keluarga dia Mami," Floren menangis histeris dipelukkan sang Mami.


Nyonya Berta merasa geram saat mendengar perkataan dari Floren. "Menantu mana yang ingin dia tunjukkan kepadamu sayang, siapa wanita itu. Apa kamu mengenalnya, atau mengetahui namanya?"


Floren menggeleng. "Aku tidak tahu Mamy, yang ku tahu wanita itu sangat cantik, dia memakai kacamata, berperawakan kurus langsing dan rambut hitam lurus sebahu. Aku seperti pernah melihatnya, tapi entahlah Mi, aku tidak tahu karena wajahnya terhalang oleh tubuh Mike dan tidak terlalu jelas." Floren melanjutkan tangisannya.


"Cup cup sayang, bagi Mami kamu yang tercantik, wajahmu begitu sempurna dan bentuk tubuhmu sangat berisi, begitu seksi dan menggoda. Bagaimana mungkin Mike tidak tergoda olehmu sayang," ucap Nyonya Berta sambil menenangkan putrinya.


"Aku tidak tahu Mami, padahal aku sudah berusaha menggodanya terus, tapi nyatanya dia tidak terpengaruh dengan rayuanku selama ini," balas Floren dia makin menangis terisak.


"Mungkin rayuanmu kurang greget sayang, jika tidak, bagaimana mungkin dia masih bisa tahan dengan rayuanmu itu," ucap Nyonya Berta menatap putrinya yang masih menangis.


Floren terdiam sambil memikirkan sesuatu. "Kurasa bukan itu alasannya Mi, aku tahu alasan mengapa Mike tidak tergoda oleh rayuanku. Pasti Mike melampiaskan hasratnya kepada wanita itu sepulang kuliah. Oh No, aku seperti orang bodoh saja. Aku yang merayu, tapi wanita itu yang mendapatkannya!" Floren meremas pahanya, merasa kesal karena pemikirannya yang kotor.


"Tidak mungkin sayang, kita belum tahu siapa wanita itu bukan. Bisa jadi Michael melihatmu saat sedang mengintip dan mengerjaimu begitu," ucap Nyonya Berta asal menebak.


Floren berdecak. "Mamy, aku melihatnya sendiri, Mike mencium wanita itu begitu lama dan mereka tertawa begitu mesra sekali. Mana mungkin mereka berdua tidak ada hubungan apapun."


Nyonya Berta hanya bisa menghela nafas saat melihat putrinya menangis seperti orang gila. Dia lalu bersumpah akan menyingkirkan wanita itu bagaimana pun caranya.


"Tenang sayang, Mami akan bicara kepada kakak sepupu mu Wiliam. Dia pasti mau membantu kita," ucap Nyonya Berta sambil terus mengusap bahu putrinya.


Floren seketika berhenti menangis lalu menatap wajah Maminya. "Sepupu Wiliam ... Dia, si pemain wanita itu?"


Nyonya Berta mengangguk. "Iya, benar sayang, kakak sepupumu Wiliam. Mamy yakin dia pasti mau menyingkirkan wanita itu dari Michael. Kamu jangan menangis lagi ya sayang," Nyonya Berta menghapus air mata Floren dan memeluk putrinya itu dengan hati yang diliputi oleh amarah.


"Nyonya Besar, kau cari gara-gara denganku, sebenarnya apa yang ingin kau buktikan. Kau berpura-pura baik di depan putriku, tapi nyatanya kau telah menjatuhkan putriku dengan begitu kejam."


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2