Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 153. Ekstra bonus.


__ADS_3

Dua puluh tahun kemudian.


Mansion Wiliam.


Seorang nyonya mansion terlihat sedang memegang sebuah kemoceng untuk membersihkan seluruh benda kenangannya dari debu yang mengganggu.


Ia bersenandung merdu dan mengibaskan kemocengnya dengan semangat, agar satu persatu kenangan indah tidak luput dari sentuhan sang nyonya untuk dibersihkan.


Dia tersenyum dan memandangi seluruh foto kenangan berbingkai berharga miliknya, mulai dari foto saat dia menikah, foto wisuda ketika mendapat gelar sarjana, foto sang putra dari lahir hingga besar, serta foto keluarga dan foto-foto lainnya.


Baik yang tertempel di dinding maupun yang tersusun rapi di atas meja maupun dalam lemari pajangan.


"Mom," sapa Michael.


Jelita menghentikan aktifitasnya dan menoleh, dia tersenyum menatap sang putra yang telah tumbuh dewasa.


"Morning Michael," sahut Jelita lalu memeluk Michael yang datang menghampirinya.


"Morning too Mom," balas Michael lalu mendaratkan sebuah kecupan kasih sayang di pipi sebelah kanan dan kiri ibunya.


"Sayang, kau mau kemana. Apa ada pertandingan basket hari ini?" tanya Jelita ketika melihat sang putra telah memakai seragam basket kebanggaan kampusnya.


Michael tersenyum. "Benar Mom, hari ini ada pertandingan antar kampus. Doakan aku agar menang ya," ucap Michael sekaligus meminta restu.


Jelita menangkup sisi wajah tampan putranya. "Sudah pasti sayang, Mommy doakan agar kamu menang tanding nanti."


Michael menarik senyum. "Thank you Mom, love you. Aku harus segera pergi," ucapnya lalu pergi untuk ke kampus.


"Iya, hati-hati."


...----------------...


Kampus Terkemuka.


Michael berlari ke dalam kampus dan segera berkumpul bersama teman-teman team basket yang sedang menunggunya sedari tadi.


"Sorry Bro, gue telat."


"Kebiasaan loe telat melulu, untung loe pemain inti kalau enggak udah kita tinggal dari tadi," ucap salah satu teman Michael.


"Iye sorry, ada urusan tadi. Come on kita kumpul di lapangan sekarang," ajak Michael sebelum teman-temannya menjitakinya.


Mereka pun bersama-sama ke lapangan basket kampus, untuk berkumpul dengan lawan tanding dari kampus lain yang telah hadir.


Setibanya di lapangan, Michael bersama teman-temannya ketawa ketiwi membicarakan hal lain. Mereka berbisik-bisik jika ada team lawan yang menurut mereka menarik perhatian.

__ADS_1


"Lihat itu, team basket dari Universitas Ternama yang harus kita waspadai," ucap sang pelatih basket.


Semua mata mereka pun berbondong-bondong melihat team basket yang ditunjuk oleh sang pelatih.


"Sepertinya mereka hebat-hebat, lihat postur tubuhnya tinggi-tinggi sekali. Benar gk Michael?" senggol salah satu teman Michael yang bernama Brian.


"Mike," senggol Brian sekali lagi, saat merasa temannya tidak merespon panggilannya.


Pria itu melihat Michael dan mengedarkan pandangannya ke arah dimana temannya memandang ke sebrang sana.


Brian tersenyum tipis dan meledek Michael karena temannya itu tertangkap basah saat melihat wanita cantik diujung sana. "Wah Mike, tau aja loh sama yang bening-bening mah."


Michael menggeleng dan menengok ke arah Brian. "Ah loh ganggu gue aja," ucapnya.


Michael tersenyum dan melihat gadis itu kembali, dia begitu penasaran siapakah nama wanita cantik yang telah berhasil mencuri perhatiannya.


Tak berapa lama kemudian sang pelatih memanggil para anak buahnya untuk maju ke lapangan agar berkumpul bersama team basket lawan dari kampus lain.


Michael tersentak saat gadis yang dipandangi tadi, kini telah berada di sebelahnya bersama dengan team lawan.


Pria yang penasaran itu langsung memasang telinganya lebar-lebar untuk menjawab rasa penasarannya akan identitas si gadis cantik.


"Kalian harus menang, jika kalah. Aku tidak akan memberi kalian minuman gratis!" ucap si gadis cantik.


"Siap Jelita! Tenang saja team basket dari kampus kita pasti menang." seru team basket dari Universitas Ternama.


"Jelita? Kenapa namanya sama seperti Mommy?" batin Michael bertanya-tanya.


Gadis itu tersenyum dan menatap Michael yang sedang menatap dirinya juga.


"Hai ..." sapa Michael.


"Hai juga," sahut Jelita lalu kembali ke kursi penonton.


Michael tersenyum, setidaknya dia senang ketika gadis itu ternyata tidaklah sombong. Pria itu segera menghampiri dan berkenalan dengan Jelita.


Dia terkejut ketika mengetahui jika Jelita adalah putri dari Michael dan juga Clara. Tidak berbeda dengan Jelita, gadis itu juga sempat terkejut ketika mengetahui jika Michael adalah putra dari Wiliam dan Jelita.


Pertemuan secara kebetulan itu membuat mereka terkekeh, karena pusing juga dengan ide penulis yang terbilang aneh.


Cerita cinta Michael dan Jelita di novel ini memang telah kandas di tengah jalan.


Akan tetapi cinta Michael dan Jelita di generasi baru ini akan terus bersemi, hingga akhirnya mereka bisa bersatu ke tahap jenjang pernikahan.


...----------------...

__ADS_1


Epilog.


Rumah sakit.


Sembilan belas tahun yang lalu, bertempat di rumah sakit besar. Seorang ibu tengah berjuang melahirkan seorang bayi.


Suaminya yang setia selalu menemani istrinya dikala proses menyakitkan itu sedang berlangsung.


"Ayo sayang, kau pasti bisa!" seru Michael memberi semangat kepada istrinya yang ingin melahirkan.


"Michael, sakit sekali ..." lirih Clara saat kontraksi diperutnya begitu terasa menyakitkan.


"Sabar sayang, kau pasti bisa melewati masa ini." Michael menggenggam erat tangan Clara.


Sedangkan Clara berusaha mengejan, saat Dokter telah mengatakan jika kepala bayi telah nampak di jalan lahir.


"Ayo sayang, terus! kau pasti bisa!" seru Michael kembali sembari memberi semangat.


Tak berapa lama kemudian, suara tangisan bayi terdengar di dalam ruangan bersalin. Michael dan Clara pun menangis haru saat Dokter menyatakan jika putrinya telah lahir sehat dan juga normal.


Sang Dokter memberikan bayi tersebut kepada kedua orang tuanya setelah dibersihkan sebelumnya.


Michael terharu ketika dia berkesempatan menggendong putrinya, dia menatap wajah Clara dan mengucap terima kasih karena telah memberikannya seorang permata berharga.


"Terima kasih sayang," isak Michael mengecupi wajah Clara.


"Sama-sama," balas Clara sembari beristirahat setelah melewati proses melahirkan yang cukup melelahkan.


Michael menatap wajah putrinya dan terdiam seperti memikirkan sesuatu.


"Sayang, menurutmu nama apa yang cocok untuk putri kita ini?" tanya Michael.


Clara tersenyum dan tanpa ragu mengucap satu nama yang menurut ia cocok untuk putrinya.


"Aku ingin kau memberi nama dia Jelita Chandra Putri," balas Clara.


Michael tertegun lalu menatap wajah Clara yang tersenyum menatap dirinya. "Jelita, apa kau yakin?" tanyanya.


Clara mengangguk. " Benar, aku ingin kau memberi nama cinta pertamamu pada putriku," balasnya ketika dia tahu jika Wiliam juga memberi nama cinta pertama Jelita kepada putranya.


Michael menarik senyum dan menatap wajah putri cantiknya. "Baiklah, mulai sekarang namamu adalah Jelita." Lalu mendaratkan sebuah kecupan kecil di wajah bayi mungilnya.


Bayi kecil itu hanya menggeliat kecil dan tertidur pulas kembali sembari menggenggam jari ayahnya seperti tanda persetujuannya.


Clara tersenyum sambil menatap suami dan juga putrinya, dirinya begitu senang karena telah memberikan nama cinta pertama untuk suaminya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2