Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 75. Ucapan serius.


__ADS_3

Jelita melihat jam pada meja nakas, dimana waktu telah menunjukan pukul 18.30 WIB. Dia begitu gelisah ketika mengingat perkataan pria seram dan menyebalkan tadi pagi.


"Aku harus bagaimana?" tanya Jelita dalam hati dan dia menggeleng. "Ah biarkan saja, semoga ucapannya itu tidak serius," gumam Jelita.


Dia lebih memilih membaca buku dan menemani sang Ibu di dalam kamar. Jelita berusaha fokus membaca, namun pikirannya selalu saja gagal memahami isi buku yang dia baca. Pikirannya selalu saja teringat akan perkataan Wiliam dan juga ancaman pria itu.


Baiklah sayang, aku pegang kata-katamu, jika kau mengingkarinya atau mengecewakanku sedikit saja, maka bersiap-siaplah, kau akan kehilangan sesuatu yang berharga pada tubuhmu itu dan jangan salahkan aku mengambil paksa semuanya darimu.


Seketika itu juga Jelita berkeringat dingin, ditambah baru saja dia mendapat surat peringatan akan kasus foto tidak pantas dirinya dan juga Michael. Membuat dirinya menjadi dilema dan serba salah.


Seperti sedang makan buah simalakama, dirinya menjadi bimbang tidak karuan. Jika tidak dituruti maka akan bahaya, jika dituruti akan menambah masalah. Begitulah pikirannya.


Bermacam-macam pertanyaan, ketakutan, ancaman dan peraturan pun membuat kepalanya pusing tujuh keliling.


"Kepala ku sakit sekali, aku ingin tidur saja."


Jelita naik ke atas ranjang dan berusaha melupakan sejenak isi kepalanya yang berputar-putar. Dia memejamkan kedua mata dan lagi-lagi dirinya gagal, saat seseorang datang mengetuk pintu kamarnya.


Dengan langkah terhuyung-huyung, Jelita berusaha bangun dari tempat tidur sambil memijat pelipisnya yang berdenyut.


"Iya Bi, ada apa?" tanya Jelita di menyembulkan wajahnya di sela pintu yang terbuka.


"Maaf Non Jelita, ada tamu yang ingin bertemu," balas Bi Sari.


"Siapa Bi?" tanya Jelita.


"Tidak tahu Non, lelaki tinggi besar, rambutnya gondrong," balas Bi Sari.


Deg


Jelita menelan ludahnya kasar saat mengetahui jika Wiliam serius dengan ucapannya. Pusing tujuh keliling nya bertambah menjadi berkali-kali lipat, ingin rasanya muntah dan pingsan di tempat itu juga.


Gadis itu pun berusaha mencari alasan yang tepat agar tidak berjumpa dengan pria sangar yang bernama Wiliam.


"Bibi, tolong bantu aku ya, bilang pada pria jahat itu kalau aku sedang sakit kepala dan butuh istirahat. Atau bilang saja aku tidak ada ditempat, lagipula aku kan sedang di hukum sama ibu asuh. Tolong ya Bi," balas Jelita sambil memohon bantuan untuk menyembunyikan dirinya.


Bi Sari mangut-mangut mengerti akan ketakutan anak asuh pribadi nyonya Besarnya, mengingat peraturan dan juga perintah dari Nyonya Caca kepada Jelita.


Bi Sari pun baru ingat jika dia mendapat titah dari sang majikan untuk mengawasi Jelita dan Michael selama nyonya Caca pergi bertugas, agar tidak mengijinkan Jelita keluar dari Mansion dan bertemu dengan Michael atau pria manapun juga. "Oh iya," gumamnya.


"Baik Non, nanti Bibi sampaikan," balasnya kemudian pergi dari sana dan menemui Wiliam di ruang tamu.


...***...

__ADS_1


Setibanya di ruang tamu, Bi Sari menyampaikan apa yang seharusnya dia sampaikan kepada pria tampan yang sedang duduk dengan santai.


"Maaf Tuan, non Jelita sedang tidak enak badan. Lagi pula dia sedang menjalani masa hukuman dari nyonya besar dan non Jelita juga tidak diijinkan untuk keluar dari rumah ini," ucap Bi Sari sambil menundukkan kepalanya.


Wiliam menatap Bi Sari dan berdecih. "Cih! Begitu ya ... Baiklah, jika dia sedang sakit, maka aku harus menjenguknya." Wiliam berdiri dari sofa dan berkata kembali. "Tolong antarkan aku padanya."


"Maaf Tuan, anda tidak bisa menemui non Jelita untuk saat ini. Tolong mengertilah," balas Bi Sari.


"Baiklah Bibi, tapi sebelum aku pergi dari rumah ini. Tolong sampaikan pesanku kepada gadis itu," pinta Wiliam.


"Baik Tuan, anda ingin menyampaikan pesan apa?" tanya Bi Sari.


"Beritahu padanya, aku akan selalu mengingat kejadian ini. Aku adalah orang yang serius dan benci dengan penolakan. Mengenai ucapanku yang tadi pagi, dia harus menanggung akibat buruk karena telah melanggar janjinya."


Wiliam kemudian berbalik dan pergi dari mansion itu tanpa pamit. Sebelum dirinya masuk ke dalam mobil, dia menatap sekali lagi pintu gerbang kecil yang dia yakini itu adalah tempat dimana Jelita berada.


"Heh! Gadis itu cukup bernyali juga, berani sekali mengabaikan keberadaanku. Kau sudah main-main denganku, kalau begitu tanggung sendiri akibatnya. Aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah begitu saja," gumam Wiliam lalu melajukan mobil keluar dari Mansion Chandra Putra.


...***...


Sedangkan Jelita yang mendapat pesan dari Wiliam melalui Bi Sari pun langsung meriang saat itu juga. Wajahnya nampak pias dan tubuhnya selalu gemetaran, dia menelan ludahnya susah payah apalagi memikirkan apa yang akan terjadi pada dirinya nanti.


"Apa dia akan membunuhku dan membuatku mati berdiri." Pikiran Jelita pun diliputi ketakutan kembali, dia juga bingung harus mengadu kepada siapa demi kelangsungan hidupnya.


Jelita menggigit kuku jarinya pelan, memikirkan bagaimana caranya lolos dari sergapan lelaki dewasa yang bernama Wiliam. Apalagi besok dia akan keluar untuk sekolah, takut dibawa pergi seperti tadi pagi.


...***...


Sementara itu, kedatangan Wiliam ke rumahnya membuat Michael gusar. Dia segera turun ke bawah memastikan agar Jelita tidak dibawa oleh pria itu.


"Siall! Ternyata ucapan pria berandal itu serius," gumam Michael kemudian bermaksud untuk menemui Jelita.


Namun keinginannya pun dicegah oleh Bi Sari.


"Maaf Tuan muda, anda dilarang masuk ke daerah ini," ucap Bi Sari segera saat melihat Michael mengendap-endap seperti maling menuju tempat Jelita.


"Oh Bi Sari, aku kesini hanya ingin minum saja kok," jawab Michael langsung membelokkan arah kakinya menuju lemari es.


Michael membuka lemari pendingin dan mencari minuman apa saja yang bisa dia ambil dari sana. Kemudian perlahan melirik Bi Sari dengan ujung ekor matanya, memastikan jika asisten rumah tangga itu sudah pergi dari sana atau tidak.


Namun sialnya Bi Sari nampak menaruh curiga kepada Michael dan tidak melepaskan pandangan kepada dirinya. Hingga pria muda nan tampan itu hanya bisa menghela nafas.


"Bibi, apa tamu tadi bertemu dengan Jelita. Apa lelaki berandal itu melakukan macam-macam pada nya. Dia tidak mengancam atau mengajak pergi kan?" tanya Michael dengan sejuta rasa penasaran.

__ADS_1


"Tidak Tuan, pria tadi sudah pergi dan dia tidak bertemu dengan non Jelita," balas Bi Sari.


Michael menghela nafas lega. "Baguslah, ya sudah Bibi. Jika dia datang lagi, langsung usir saja dan jangan sampai dia bertemu dengan Jelita."


"Baik Tuan," balas Bi Sari lalu menunggu tuan mudanya pergi dari kawasan terlarang. Kemudian mengadukan semua kejadian yang terjadi di rumah kepada nyonya besar.


...----------------...


Keesokan harinya.


Dipagi hari setelah siap berkemas, Jelita mulai berangkat pergi ke sekolah. Dia menunggu kendaraan umum dengan ditemani oleh Pak Bokir seorang satpam Mansion. Yang sebelumnya telah dimintai tolong oleh Jelita.


"Terima kasih ya Pak Bokir sudah mau nemenin saya nungguin angkot," ucap Jelita.


"Sama-sama Non geulis," balas Pak Bokir sambil mesam mesem sendiri.


Perubahan tingkah laku yang berjungkir balik saat awal pertemuannya dengan Jelita. Jika dulu begitu sombong dan sekarang satpam itu begitu ramah bukan main.


"Hati-hati ya Non," ucap Pak Bokir saat Jelita menaiki kendaraan umum.


Jelita pun tersenyum. "Iya Pak, saya berangkat sekolah dulu ya," balasnya.


"Iya." Pak Bokir melambaikan tangan.


Sesampainya di tempat tujuan, Jelita menghela nafas panjang merasa lega, karena telah sampai di sekolah dengan selamat, aman dan sentosa.


Gadis itu pun masuk dengan senyum gembira, sejenak ketakutannya berkurang dan semoga saja hal yang ditakutinya benar-benar tidak terjadi.


Namun kenyataannya tidak seperti itu, karena jauh di seberang sekolah tempat Jelita menuntut ilmu, seseorang sedang menunggu gadis itu di dalam mobil dan akan bergerak pada saat yang telah di tentukan.


Saat jam pulang sekolah!


Menunggu gadis itu dengan sabar, demi menuruti sebuah perintah, untuk membawa Jelita kehadapan sang majikan.


"Bawa dia kehadapanku, bagaimanapun caranya dan pastikan tidak ada orang lain yang melihat saat kalian membawa gadis itu pergi," titah Wiliam melalui ponselnya.


"Baik Bos!" patuh anak buahnya Wiliam.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2