
Perusahaan Wijaya Group.
Opa Wijaya mendengar kabar jika cucunya akan datang ke perusahaan bersama dengan seorang wanita. Sontak saja kakek berambut putih itu langsung senang bukan kepalang.
Dia menangis dibahu asisten pribadinya, sambil memukul-mukul lengan sang asisten, demi meyakinkan dirinya jika itu semua bukanlah mimpi semata.
"Ternyata aku tidak bermimpi," gumam Opa Wijaya saat melihat asisten pribadinya yang bernama Boby meringis kesakitan."
"Benar Tuan, ini semua nyata termasuk rasa sakit di lengan saya," balas Pak Boby sambil mengusap-usap lengannya.
Opa Wijaya tertawa. "Maaf aku terlalu bersemangat saat mendengar kabar bahagia ini, sampai aku lupa sudah memukulmu begitu kencang," ucapnya menepuk pundak Pak Boby.
"Tidak apa Tuan Besar, jangan meminta maaf kepada saya. Saya turut senang jika anda bahagia," ucap Pak Boby asisten kepercayaan Opa Wijaya yang telah mengabdi kepadanya selama 35 tahun.
Opa Wijaya menitikkan air matanya. "Tidak ku sangka, anak keras kepala itu mau juga menggandeng seorang wanita, akhirnya dia serius ingin menikah. Ah aku sudah tidak sabar ingin menimang anak dari cucuku," ucapnya sambil menimang-nimang lengan Pak Boby layaknya bayi.
Sesekali mengecup lembut tangan asistennya itu sambil terkekeh dan berkata. "Cicitku lucu sekali. Cup cup cup," ucap Opa seperti gemas.
Sedangkan Pak Boby hanya mendesah kecil, menghadapi bos bapernya yang sedang bahagia. "Biarkan saja, yang penting dia senang," gumamnya dalam hati sambil menatap lengannya yang sudah berada di dalam pangkuan sang bos.
Tak berapa lama kemudian, Opa Wijaya pun tersadar dari mimpinya, dengan segera dia menurunkan lengan Pak Boby dan berdehem.
"Ehem! Maaf saya terbawa suasana," ucap Opa Wijaya dengan wajahnya yang sudah merona.
"Tidak apa Tuan Besar," balas Pak Boby.
Opa Wijaya lalu berdiri tegak dan membusungkan dadanya. "Boby! Siapkan tempat dan juga makan malam yang enak, karena aku akan menyambut cucu dan juga cucu mantuku!" titahnya.
"Baik Tuan besar," patuh Pak Boby lalu menyiapkan tempat khusus untuk menyambut cucu sang bos.
...----------------...
Mansion Wiliam.
Jelita mengikuti langkah kaki Bibi menuju sebuah kamar yang tidak terlalu jauh letaknya dari kamar Wiliam berada.
Setibanya disana, Bibi segera membukakan pintu dan mempersilahkan Jelita untuk masuk ke dalam.
"Silahkan masuk Nona Jelita," ucap Bibi Mansion itu yang sering disapa Bi Nina.
Jelita pun menurut. "Baik Bi," balasnya. Dia pun masuk ke dalam kamar itu dengan ditemani oleh Bi Nina.
Sesampainya di dalam kamar, Jelita langsung disambut oleh beberapa pelayan yang memang sudah menunggu kedatangan gadis itu di dalam sana sejak tadi.
Para pelayan tersebut akan ditugaskan untuk membantu Jelita dalam mempersiapkan diri menghadiri makan malam bersama Tuan Besar.
Mereka membungkukkan badan sedikit rendah. "Selamat datang Nona Jelita," Sapa mereka bersamaan dan begitu ramah.
Jelita pun melemparkan senyumannya kepada semua orang dan hanya bersuara. "Hem," saja. Karena merasa bingung harus bersikap seperti apa disana.
__ADS_1
Dia sedikit gugup dan hanya terdiam membisu, pikirannya dipenuhi beberapa pertanyaan. Entah mengapa pelayan sebanyak itu, berada di dalam satu kamar bersamaan.
Dengan cepat tanggap satu persatu para asiten rumah tangga itu menghampiri Jelita yang sedang bengong, dan mulai melakukan tugas mereka masing-masing.
Jelita terperanjat kaget saat salah satu dari mereka ingin membuka bajunya. "Maaf Nona, silahkan mandi terlebih dahulu, saya akan membantu Nona membuka pakaian," ucap pelayan itu ingin membuka kancing baju seragam Jelita.
Merasa risih Jelita menolak halus permintaan tersebut. "Tidak perlu Kakak, aku bisa buka baju sendiri."
"Jangan Nona, biarkan saya melakukan tugas saya disini," ucap pelayan itu.
"Biarkan dia melakukan tugasnya Nona Jelita, anda cukup terima dan nikmati saja dengan pelayanan kami semua disini," ucap Bi Nina menyarankan.
Setelah dibujuk lama akhirnya Jelita pun menurut, dia mulai melepaskan pakaian. Dan dengan segera pelayan itu menutupi tubuh Jelita menggunakan sehelai kain, lalu mengajaknya untuk berendam di dalam bathtub.
"Silahkan Nona," ucap Bi Nina menuntun Jelita untuk berendam.
Jelita memandang sekeliling, dan dia terdiam kembali merasa tidak enak. Dirinya sangat canggung dan malu, ketika melihat beberapa pelayan berada disekitarnya saat dia mau mandi.
"Bibi ... Apa mereka bisa keluar dan membiarkan aku mandi sendiri? Aku malu sekali dan tidak terbiasa di tonton oleh banyak orang kalau sedang mandi, lagipula aku tidak terbiasa dilayani seperti ini," pinta Jelita dengan berbisik di telinga Bi Nina.
Bi Nina pun mengerti, "Baik Nona," ucapnya.
"Terima kasih Bi," balas Jelita.
Tanpa banyak kata, Bi Nina memberi kode kepada anak buahnya untuk meninggalkan kamar mandi, agar Nona mudanya itu bisa mandi dengan nyaman.
...***...
Jelita keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai sebuah bathrobe, dia juga memakai handuk kecil pada kepala untuk membungkus rambutnya yang masih basah sehabis keramas.
Gadis itu terlihat segar dan berseri, wajahnya begitu bersinar sehabis mandi. Senyuman indah juga selalu terlukis diwajahnya, menambah kecantikkan alami dari gadis berusia 18 tahun itu.
"Ah wangi sekali," gumamnya sambil terpejam.
Mengetahui sang Nona telah keluar dari kamar mandi, dengan segera Bi Nina menuntun Jelita untuk mengikutinya menuju meja rias.
Bi Nina menarik kursi. "Silahkan duduk Nona," ucapnya begitu sopan.
Jelita tersenyum. "Baik Bibi terima kasih," ucapnya menurut.
Dengan cekatan dan terampil pelayan di dalam kamar itu mulai mendadani Jelita, mereka melayani Jelita sesuai tugasnya masing-masing. Menata gadis itu dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.
Sedangkan Jelita hanya bisa terdiam dan menerima perlakuan menyenangkan tersebut dengan sukarela, walau hatinya sedikit cemas akan keadaan rumah.
"Bagaimana keadaan Ibu di rumah, Bibi dan juga yang lain, mereka sekarang pasti sedang panik dan sangat mencemaskanku ... Baiklah habis ini aku akan meminta ijin pada Wiliam untuk menghubungi mereka dulu," gumam Jelita.
Satu jam telah berlalu, Jelita telah selesai didandani. Gadis itu di pandu oleh Bi Nina dan beberapa pelayan lain untuk mengenakan pakaian yang telah disiapkan oleh mereka sebelumnya.
Sebuah dress midi bahan sutra tebal namun ringan, berwarna putih dan berlengan pendek dengan panjang dress selutut. Dilengkapi pita lumayan besar dengan warna senada pada bagian belakang dress tersebut, yang bertengger manis pada tempatnya.
__ADS_1
Semua pelayan pun terkesima termasuk Bi Nina saat melihat penampilan Jelita yang memukau. Gadis remaja yang cantik dan manis, memakai pakaian mewah nan sederhana sesuai dengan usianya yang masih muda.
"Dia cantik bukan," ucap Bi Nina kepada pelayan yang lain sambil terus tersenyum dan mengagumi Nona muda dihadapannya.
"Benar ... Dia mirip seperti jisoo saja," celetuk salah satu pelayan lain.
Jelita pun tersipu malu, hingga wajahnya memerah dan menjadi salah tingkah. "Kalian terlalu berlebihan, aku tidak secantik itu," ucapnya merendahkan diri.
"Benar! Tapi dia lebih cantik, karena dia adalah pilihan Tuan Muda kita," celoteh salah satu pelayan lainnya sambil bergurau.
Jelita mengerjapkan kelopak matanya saat mendengar pernyataan nyeleneh dari pelayan tersebut. "Apa aku tidak salah dengar, pilihan tuan muda mereka," gumamnya dalam hati.
"Hush jangan bicara asal, nanti dia marah," ucap Bi Nina menenangkan segerumulan para penggosip, lalu mengantarkan Jelita yang sudah siap untuk bertemu dengan Wiliam.
"Ayo Nona, mari saya antar," ucap Bi Nina.
"Baik Bi," patuh Jelita lalu mengekor pada Bi Nina.
...***...
Sementara itu, seorang pria memakai kemeja putih dan jas berwarna sama dengan kemejanya tengah berdiri dan bersandar pada pagar balkon kamar. Dia menatapi pemandangan indah dari atas balkon tersebut, dengan ditemani sebatang candu.
Dia menoleh dan menatapi pintu kamar, ketika mendengar suara langkah sepatu high heels kian lama kian mendekat ke arahnya.
Wiliam terus menanti dengan sabar sambil memasang pandangannya ke arah sumber suara, memastikan jika suara langkah kaki yang datang itu berasal dari seorang wanita.
Wiliam memutar tubuh, saat Bi Nina telah membuka pintu kamarnya. Dia terpaku pada sesosok gadis di belakang wanita paruh baya itu.
Pria itu tersenyum lembut dan segera mematikan batang candunya, lalu dengan perlahan dia berjalan mendekat ke arah sang gadis, yang sudah siap untuk pergi bersamanya.
"Kau terlihat cantik," ucap Wiliam tanpa basa basi lalu mengulurkan salah satu tangannya.
Jelita menyambut uluran tangan Wiliam dan dia sedikit tersentak saat pria itu mengecup lembut punggung tangannya.
"T-terima kasih," balas Jelita dengan wajah memerahnya.
.
.
Bersambung.
.
.
Tebak aku siapa?
__ADS_1