Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 33. Jelita tiba di Mansion.


__ADS_3

Sementara itu, Jason dan Pak Selamet telah selesai melihat kondisi rumah Jelita secara nyata. Mereka mulai memiliki gambaran tentang perbaikan apa saja dan juga desain yang cocok untuk rumah mungil dengan luas tanah minim tersebut.


"Oke Pak Selamet, aku minta waktu untuk mendesain rumah ini selama beberapa hari dan setelah di acc oleh ibu Caca, Bapak bisa langsung memulainya."


Pak Selamet mengulum senyum. "Baik Jason, kau buat dulu saja desainnya dan selama menunggu desain rumah ini jadi, Bapak bisa merubuhkan terlebih dahulu atap dan dinding reot ini," balas Pak Selamet sambil mengoyang-goyang tiang penyangga rumah Jelita yang hampir roboh.


"Di robohkan?" celetuk Jelita sambil memiringkan kepalanya beberapa derajat dan mengedipkan kelopak matanya berkali-kali, hingga Jason pun spontan terkekeh melihat tingkah Jelita yang lugu.


"Benar Jelita rumah ini harus segera di robohkan, karena rumahmu memang sudah benar-benar tidak layak. Banyak yang harus di ganti, terutama atap dan dinding bambu ini, bahkan tiang penyangka dari kayu ini sudah banyak yang kropos," balas Jason sambil menyentil beberapa kali tiang kayu di dekatnya hingga telur rayap didalam kayu berjatuhan.


Jelita termenung mengingat rumah tersebut adalah bekas peninggalan almarhum ayahnya, namun demi kenyamanan ibu dia harus merelakannya.


"Ibu apa tidak apa-apa?" tanya Jelita ketika melihat kedua manik mata ibu yang berkaca-kaca menatap rumah gubuk dihadapannya.


Ibu mengangguk samar dan Jelita dengan segera menatap Jason lalu mengangguk patuh. "Baiklah, terserah Paman saja," balas Jelita, dan Jason hanya tersenyum. "Kamu bisa panggil aku Kak Jason."


"Baik Kak Jason," balas Jelita.


Mereka mengakhiri percakapan tersebut, kemudian menuju mobil Jason yang terparkir di depan gang. Sambil dibantu oleh Jason dan Pak Selamet serta para warga, Jelita akhirnya berangkat menuju masa depan.


***


Jelita melewati kampus tempatnya bekerja dan memandangi tiada henti. Matanya senantiasa tak ingin lepas melihat gedung tinggi tersebut, hingga jauh dan hilang dari pandangannya begitu saja.


"Aku pasti merindukan tempat itu," gumam Jelita.


Di sepanjang perjalanan menuju rumah Nyonya Caca, Jelita hanya terdiam menatap keluar jalanan sambil terus memeluk ibu yang duduk disebelahnya.


Dirinya merasa canggung, dengan pria yang sedang serius mengemudikan mobil. Hingga akhirnya suasana hening itu dipecahkan oleh Pak Selamet yang duduk di sebelah Jason.


"Nak Jelita, kenapa diam saja, wajah kamu juga terlihat pucat?" tanya Pak Selamet melihat Jelita dari kaca spion dalam mobil.


Jelita menggeleng. "Tidak apa-apa Pak Selamet, hanya tidak terbiasa saja naik mobil." Jelita lalu menutup mulutnya.


Pak Selamet berputar badan untuk mengecek sesuatu. "Kamu ternyata mabuk darat ya," ucapnya lalu dengan segera memberikan minyak angin kayu putih.


"Terima kasih," ucapnya dan dengan segera Jelita mengambil minyak angin tersebut dari tangan Pak Selamet.


Jelita bernafas lega, rasa mual dan pusing sedikit menghilang. "Dasar orang susah, naik mobil sedikit saja langsung mabuk," celetuk Jelita sambil mengusap perutnya yang mual.

__ADS_1


Pak Selamet dan Jason hanya tersenyum mendengar Jelita yang mengoceh menyalahkan dirinya sendiri di bangku belakang.


……………………………………………………………………………


Mansion Chandra Putra.


Setelah hampir satu jam perjalanan, akhirnya mobil yang dikendari oleh Jason telah tiba di depan pintu gerbang masuk. Sebuah mansion mewah dimana keluarga Chandra Putra itu tinggal di dalamnya.


Dengan gerak cepat Pak Bokir berlari menghampiri dan memberi hormat pada saat mobil itu mulai melaju memasuki halaman depan.


Jendela mobil depan bergeser kebawah, membuat Jelita kebingungan sendiri. Lalu dengan sopan Pak Selamet dan Jason menyapa security yang dikenal memiliki gigi paling maju dan termuktahir di sana. Berwarna kuning emas.


"Pagi Pak Bokir," sapa Pak Selamet dan Jason bersamaan.


"Selamat pagi!" sahutnya dengan semangat empat lima.


Pak Bokir melihat Jelita sekilas, diapun menerka-nerka gadis yang berada di dalam mobil, seperti pernah melihat namun entah kapan dan dimana lebih tepatnya.


Dengan terus menggaruk bibir atasnya yang tidak gatal Pak Bokir bertanya-tanya dalam hati.


"Kayak pernah lihat!"


***


Dia terus terperangah dan tidak berhenti mengangga, hingga menepuk wajahnya berkali-kali sambil berceloteh tiada henti.


"Ini rumah, atau surga?" tanyanya pada diri sendiri. Begitu norak pokoknya.


***


Mobil itu berhenti di depan pintu masuk rumah besar dan Jelita sekali lagi tertegun, menatap semuanya dari dekat. Entah manusia jenis apa yang memiliki rumah semewah itu pikirnya.


Di dalam rumah, mereka disambut hangat oleh beberapa asisten rumah tangga, dengan cepat mereka membantu Jelita membawakan semua barang pribadinya.


"Terima kasih," ucap Jelita kepada semua orang.


Jelita mendorong kursi roda dengan mata yang masih tertuju ke sekeliling rumah, dia lalu menunduk dan menatap pantulan dirinya di atas lantai marmer yang mengkilap.


"Ya Tuhan aku jelek sekali," ucapnya polos tanpa malu, membuat semua yang mendengar melipat bibir mereka ke dalam.

__ADS_1


***


Kepala asisten rumah tangga keluarga itu mengantarkan Jelita dan ibunya untuk beristirahat di dalam kamar terlebih dahulu sesuai dari perintah Nyonya Besar sebelumnya.


Bu Sari lalu membantu Jelita membaringkan Ibu Maria di atas kasur untuk beristirahat.


"Terima kasih Bibi," ucap Jelita.


"Sama-sama, jika butuh sesuatu jangan ragu meminta kepada Bibi atau asisten rumah tangga yang lainnya," balas Bi Sari lalu Jelita mengangguk patuh.


Bi Sari pun mundur keluar dari kamar tersebut, membiarkan anak asuh baru Nyonya besar itu beristirahat bersama dengan ibunya, dan membiarkan Jelita menyesuaikan dirinya pada kamar itu terlebih dulu.


***


Jelita menatap kamar nya yang begitu luas, bersih dan lengkap. Dia menyentuh semua barang yang berada disana, merasa belum pernah memiliki. Diapun menghela nafas dan mengucap syukur.


"Luas kamar ini seperti luas satu rumah ku saja," gumam Jelita.


Ruangan itu telah tersedia beragam benda, seperti satu kasur besar yang empuk dan nyaman, sebuah lemari pendingin dan juga televisi. Ada pula lemari baju lumayan besar, pendingin ruangan dan kamar mandi di dalam ruangan.


Jelita menghampiri sebuah benda yang ingin dia miliki sedari dulu.


"Itu ... itu meja belajar!" seru Jelita dengan bola mata yang berbinar.


Keharuannya itu bertambah saat Jelita melihat meja tersebut begitu lengkap dengan peralatan belajar, buku-buku tersusun rapi bahkan Nyonya rumah itu telah menyiapkan sebuah Laptop untuk Jelita menuntut ilmu.


"Bagaimana apa kamu suka Jelita?" ucap Nyonya Caca yang datang menemui Jelita.


Jelita dengan segera menyeka air matanya lalu dia berbalik dan menghampiri Nyonya Caca.


"Terima kasih Ibu, Jelita suka," balas Jelita.


Nyonya Caca menghela nafas, "Syukurlah jika kamu suka, ku harap kau betah tinggal disini."


Jelita mengulum senyum, walau dirinya suka namun, dirinya merasa tidak enak. Apa ini semua tidak berlebihan pikirnya.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2