Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 89. Tidak mau mengalah.


__ADS_3

Yayasan Djuanda Foundation.


Seorang pembawa pesan memberi kabar kepada Nyonya Caca mengenai keributan yang sedang terjadi di perusahaan Wijaya Group.


Dirinya begitu terkejut ketika mengetahui jika Michael dan juga suaminya tengah berada di dalam keributan tersebut.


"Apa pemicunya?" tanya Nyonya Caca.


"Tidak tahu pasti Nyonya, dengar-dengar ada hubungannya dengan anak asuh pribadi Nyonya," balas si pembawa pesan.


Nyonya Caca memijat pelipis, merasa pusing dengan masalah yang terus saja terjadi pada keluarganya, dan masalah itu selalu saja ada kaitannya dengan Jelita.


"Ada masalah apa lagi ini?" gumamnya dalam hati.


Akhirnya dia memutuskan untuk menutup pekerjaannya lalu memanggil dan meminta sang supir pribadi agar mengantar dirinya mengunjungi perusahaan Wijaya Group.


Berharap tidak timbul keributan besar yang dapat merugikan semua pihak, mengingat bahwa keluarganya baru saja berhasil keluar dari masalah foto memalukan yang membuat geger dan kegaduhan kemarin lalu.


...----------------...


Mansion Wijaksana.


Sementara itu, Nyonya Berta dan Floren mendapat kabar dari anak buah suruhannya Tuan Wijaksana. Mereka begitu senang, karena berhasil memicu keributan di dalam perusahaan tersebut yang melibatkan keluarga besar Chandra Putra.


Mereka di minta datang oleh Tuan Wijaksana, untuk memperkeruh suasana. Dan jika rencana mereka itu berhasil, maka ibarat peribahasa "Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui", yang berarti satu kali pekerjaan, bisa mendapatkan hasil beberapa kali."


Dimana bisa jadi hasilnya antara lain, penolakan terhadap posisi tinggi Wiliam melalui orang berpengaruh yaitu Tuan Nael. Pencemaran nama baik dan juga penghinaan kepada keluarga Chandra Putra melalui anak asuhnya. Bahkan bisa jadi akan dipecatnya Jelita dari gelar anak asuh pribadi Nyonya Caca secara tidak hormat.


Mereka tertawa dan bergegas pergi ke perusahaan Wijaya Group untuk menambah bumbu pedas agar situasi semakin memanas, demi tercapainya rencana mereka.


Karena dengan begitu mereka bisa masuk untuk mengambil kesempatan yang ada, demi keuntungan diri mereka sendiri.


...----------------...


Perusahaan Wijaya Group.


"Wijaksana!" tegas Opa Wijaya berdiri di depan pintu dengan memegang tongkatnya.


"Papa!" seru Tuan Wijaksana.


"Opa! Mengapa kau datang kesini, istirahat saja di ruanganmu," ucap Wiliam, dia menuntun Opa agar kembali ke dalam ruangannya.

__ADS_1


Namun dengan segera Opa Wijaya menepis tangan Wiliam, menolak untuk pergi. "Tidak bisa, jangan larang aku untuk bicara," ucapnya lalu memasuki ruangan sambil menatap semua orang.


Dia berdiri dihadapan Wijaksana dan menatap tajam anak bawaan dari istri keduanya itu.


"Wijaksana ... Beraninya kau meragukan keputusanku!" ucap lantang Opa Wijaya seraya menunjuk dada sang penghasut.


"Papa, apa kau tidak tahu apa yang dilakukan oleh cucu mu yang memalukan itu? Dia telah berani menghina keluarga Tuan besar bahkan dia telah berani membawa anak asuh keluarga nya itu tanpa ijin. Jika kau tidak percaya tanyakan langsung kepada mereka yang berada disini," balas Tuan Wijaksana.


Dia kemudian mendekati Wiliam dan menunjuk-nunjuk kesalahannya di depan semua orang.


"Tuan besar, dia datang kesini agar Wiliam meminta maaf atas penghinaan yang dia lakukan terhadap keluarga maupun anak asuh pribadinya. Tapi apa yang di lakukan anak ini, dia malah berpura-pura tidak bersalah, bahkan berani menantang dengan sikapnya yang tidak baik. Jika dia duduk di posisi kepemimpinan perusahaan ini lebih lama lagi, maka aku yakin dia akan menghancurkan nama baik perusahaan kita papa," ucap Tuan Wijaksana menimpali.


"Bagaimana denganmu Tuan Besar, apa kau setuju dengan perkataan ku ini? Jika anak kurang ajar ini tidak pantas memimpin sebuah perusahaan besar, karena bisa saja dia melakukan hal buruk lainnya. Dengan orang besar sepertimu saja dia begitu berani, bagaimana dengan perusahaan kecil lain yang berada dibawah kepemimpinan mu Tuan Besar," ucapnya menghasut.


"Tuan Wijaya, maaf jika aku lancang mengatakan ini. Aku juga tidak ingin ikut campur masalah internal kalian, tapi kurasa perkataan Tuan Wijaksana ada benarnya juga. Cucu mu itu masih perlu banyak belajar dalam memimpin perusahaan dan yang paling penting dia harus belajar bagaimana bersikap yang baik terhadap orang lain," ucap Tuan Nael.


Opa Wijaya tidak mengubris perkataan dari Tuan Wijaksana maupun Tuan Nael. Dia berjalan menuju kursi dan meminta semua orang untuk meninggalkan ruangan tersebut, kecuali Tuan Nael dan juga Tuan Wijaksana.


"Ada hal yang ingin ku bicarakan dengan Nael dan juga Wijaksana, jadi Wiliam keluarlah terlebih dahulu. Ajak calon cucu menantuku dan juga temannya untuk menyelesaikan masalah kalian diluar sana," titah Tuan Wijaya.


"Baik Opa!" patuh Wiliam. Dia menghampiri Jelita dan mengajaknya untuk keluar dari ruangan tersebut.


"Ikutlah denganku, kita makan malam," pinta Wiliam.


"Apa cucu menantu katanya?" Michael mengepal erat tangannya merasa kesal dengan pernyataan Tuan Wijaya. Dia menatap Wiliam yang tersenyum tipis kepadanya lalu menatap Jelita.


"Kau milikku bukan dirinya," ucap Michael dengan tegas.


Wiliam berdecih mendengar perkataan Michael. "Relakan lah dia menjadi milikku, aku berjanji akan selalu membahagiakan dirinya."


"Jangan bermimpi, sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan dia menjadi milikmu," balas Michael tidak kalah sengit.


Jelita menatap Wiliam dan juga Michael, dia begitu sedih melihat keduanya bertengkar hanya karena dirinya. Gadis itu perlahan melangkah mundur dan menjauhi keduanya, keluar dari ruangan tersebut secara diam-diam agar tidak ada yang mengikuti dirinya.


Tidak disangka akan terjadi seperti ini dan Jelita berpikir ini semua terjadi karena kesalahan dirinya, seharusnya dia tidak menceritakan apapun kepada Michael.


Harusnya dia juga tidak menyanggupi permintaan Wiliam untuk menikah dan menolaknya saja kala itu agar kejadian seperti ini tidak terjadi dan menjelaskan kepada Opa Wijaya jika dia adalah seorang anak asuh milik keluarga Chandra Putra.


"Aku harus pergi dari kehidupan mereka," gumam Jelita yang merasa bersalah.


...***...

__ADS_1


"Kalian berdua duduklah!" titah Tuan Wijaya kepada Tuan Nael dan Tuan Wijaksana.


Sebagai sesepuh di dalam dunia bisnis, wibawa Opa Wijaya bisa dibilang begitu kuat. Dan sebagai sesama rekan bisnis Tuan Nael mematuhi perintah tersebut.


"Baiklah Tuan Wijaya," patuh Tuan Nael lalu duduk di sofa begitu pula dengan Tuan Wijaksana.


"Boby, bawakan mereka minum!" titahnya kepada sang asisten pribadi serba mau miliknya.


"Baik Tuan," patuh Pak Boby.


"Aku sudah mendengar semua keluhanmu tentang cucuku Wiliam dari asisten ku Boby. Aku mewakili cucuku meminta maaf atas perilaku tidak sopannya kepadamu Nael," ucap Opa Wijaya.


"Tuan Wijaya, terima kasih kau sudah sudi menemui ku bahkan mengucapkan kata maaf secara langsung kepadaku. Tapi aku sangat menyayangkan perlakuan Wiliam yang sudah membawa paksa anak asuh istriku tanpa seijin dari keluargaku sendiri," balas Tuan Nael.


"Aku tidak tahu jika gadis itu adalah anak asuh keluargamu Nael, dan aku juga sangat menyayangkan sikap Wiliam yang tidak pantas terhadap anak asuhmu. Akan tetapi setelah melihat keseriusan Wiliam dan juga keceriaan yang kembali pada dirinya saat bersama gadis itu kemarin malam, membuatku berpikir dan yakin pada diriku sendiri untuk menyatukan mereka di dalam satu hubungan serius."


"Oleh karena ini Nael, ijinkanlah Wiliam untuk memiliki anak asuhmu itu," tutur Opa Wijaya menjelaskan.


"Aku tidak akan memberikan anak asuh keluargaku kepada pria pemain wanita seperti Wiliam. Karena aku tidak percaya dengan cucumu itu, aku juga sangat khawatir jika itu sampai terjadi mengenai masa depan dan juga hidupnya pasti akan sia-sia di tangan cucumu itu," tolak Tuan Nael.


"Benar apa kata Tuan Besar, Wiliam itu sesosok pria tidak baik. Info yang beredar dia sering bermain bahkan meniduri banyak wanita diluaran sana dan selalu tidak serius dengan hubungannya. Coba pikirkan Tuan Besar, apa kau ingin anak asuhmu itu menjadi barang buangan setelah di pakai oleh Wiliam," serobot Tuan Wijaksana dengan hasutan agar Tuan Nael menolak.


Karena jika Wiliam sampai berhasil menikah sudah pasti posisi kepemimpinan perusahaan itu akan sulit untuk disingkirkan olehnya.


"Lancang! Jaga ucapanmu Wijaksana, jika kau masih bicara yang bukan-bukan tentang Wiliam, jangan salahkan aku mendepakmu secara tidak hormat dari sini!" bentak Opa Wijaya merasa kesal dengan ucapan tanpa bukti Tuan Wijaksana.


"Tapi itu lah kenyataannya, banyak orang-orang yang melihat Wiliam sering keluar masuk bersama wanita di club malam, entah apa yang dilakukan bocah itu. Terkadang orang-orang pernah melihat Wiliam suka meminum dan menghisap barang haraam," hasut Tuan Wijaksana kembali.


"Boby, antar Tuan Wijaksana keluar dari ruangan ini!" titah Opa Wijaya.


"Baik Tuan," patuh Pak Boby.


Tuan Wijaksana berdecak kesal. "Ck! Lihatlah itu Tuan Besar, sikap Papa ku yang terus saja membela kesalahan cucunya. Aku memang bukan anak kandungmu, tetapi aku lebih bermoral dari pada cucumu itu. Tuan Besar aku sarankan kau untuk tidak mendengar perkataan pria tua ini!" ucap Tuan Wijaksana sebelum keluar dari ruangan tersebut.


Opa Wijaya menghela nafas dan kembali berbicara kepada Tuan Nael. "Cucuku bukanlah orang seperti itu dan aku yakin akan hal tersebut. Jangan kau dengarkan ucapan dari Wijaksana, dia hanya merasa iri dengan Wiliam karena posisinya di perusahaan ini telah tergeser."


Tuan Nael merasa ragu, yang mana perkataan dari mereka yang benar. "Tuan Wijaya, aku tidak peduli akan kelakuan cucumu dan juga iri hati Tuan Wijaksana. Yang aku pedulikan sekarang adalah lepaskanlah anak asuh istriku dari ikatan hubungannya dengan Wiliam," pintanya.


"Nael ... Bukan kau yang meminta aku untuk melepaskan gadis itu dari Wiliam, tetapi aku yang memintamu untuk melepaskan gadis itu untuk Wiliam cucuku," tolak Opa Wijaya tidak mau mengalah.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2