
Beberapa bulan kemudian.
Kejadian kandasnya cinta Michael dan juga Jelita beberapa bulan yang lalu telah berakhir dan kini keduanya telah memasuki babak baru. Walau masih sulit rasanya untuk membuka hati kepada pasangan baru dan terkadang masih saja terlintas keinginan untuk kembali bersama.
Namun Michael maupun Jelita terus bertekad melupakan cinta mereka dan berusaha menempuh kehidupan masing-masing dengan kebiasaan baru.
Menjalin sebuah hubungan, hanya sebagai seorang teman biasa yang telah mempunyai calon pendamping sendiri di masa depan yang akan datang.
Seperti saat sekarang ini, pria ganteng belum mateng itu sudah memasuki semester ketiga. Dia seruangan dengan sosok wanita yang akan menjadi tunangannya dalam waktu dekat nanti.
Clara.
Michael menganggap Clara hanya sebatas teman biasa, karena hatinya masih belum bisa menerima kenyataan yang ada. Dan Clara mengerti akan hal itu, diapun tidak memaksa Michael untuk menerimanya dengan cepat.
Namun Michael tetap memperlakukan Clara dengan baik, mulai dari keinginan untuk duduk bersebelahan dengannya atau juga berbincang bersama walau hanya sebentar dan hal itu tertangkap mata oleh Floren.
Gadis cantik seksi dan menggoda itu pun mulai curiga dengan kedekatan Michael dan juga Clara.
"Mengapa mereka sangat dekat sekali, apa ada hal yang mereka sembunyikan dariku?" gumam Floren merasa aneh.
Karena menurut wanita itu, selain Jelita tidak ada wanita lain lagi yang bisa mendekati Michael, bahkan menjadi teman mengobrolnya.
Itu dikarenakan Floren masih belum mengetahui jika Clara telah dijodohkan oleh Michael beberapa bulan yang lalu saat mereka bertemu dirumah sakit. Yang seharusnya pertunangan mereka dilaksanakan bulan lalu.
Namun karena kejadian jatuhnya nyonya Caca dari tangga beberapa bulan yang lalu, mau tidak mau akhirnya dua keluarga itu pun memutuskan untuk menunda acara pertunangan putra putri mereka sampai nyonya besar benar-benar merasa pulih sepenuhnya.
Selain karena menunggu waktu pertunangan mereka yang akan tiba sebulan lagi, keduanya memang sengaja menyembunyikan rencana pertunangannya itu karena tidak ingin menimbulkan kegaduhan dimana-mana.
Terlebih lagi karena Michael merupakan salah satu idola di kampus tersebut, sudah pasti akan membuat Clara di tekan oleh para mahasiswi lain disana.
Dan Michael, tidak ingin ada wanita lain yang bernasib sama dengan Jelita.
...***...
Sementara itu Jelita baru saja menjadi seorang mahasiwi baru disebuah universitas terkemuka, tidak kalah bagus dengan universitas ternama tempat Michael menimba ilmu.
Gadis itu semakin hari semakin terlihat cantik saja, bukan hanya karena melakukan perawatan tubuh yang berkala, melainkan karena wanita itu memang sudah cantik dari sananya.
Ditambah lagi Wiliam selalu memperlakukan Jelita, bagai seorang ratu di Mansionnya sendiri.
Tidak mengijinkan wanitanya itu memegang pekerjaan rumah, pekerjaan dapur, pekerjaan kotor, pekerjaan berat, maupun pekerjaan-pekerjaan lainnya yang membuat calon istrinya kelelahan.
__ADS_1
Yang boleh dilakukan Jelita hanyalah berada di dalam kamar, menemani dirinya berjalan bersama kemana pun yang dia mau atau melakukan sesuatu yang Jelita suka, asalkan jangan pekerjaan rumah.
Karena Wiliam sudah pasti akan memarahi semua pekerja di dalam rumahnya sendiri, jika mendapati Jelita sedang memegang pekerjaan rumah, walau hanya sebatas mencuci piring bekas dia makan seorang.
Seperti saat sekarang ini, Jelita tertangkap basah oleh Wiliam sedang mencuci piring bekas sarapan paginya. Pria itu mendesis karena merasa lelah setiap hari memarahi semua orang, hanya karena kebiasaan buruk Jelita yang baik itu.
Akan tetapi Wiliam tidak habis akal, dia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membuat efek jera kepada Jelita dengan caranya yang menggoda.
Kedua lengan pria itu melingkar cepat di pinggang Jelita, hingga gadis itu pun terjingkrak karena terkejut.
Deg!
"Ah Wiliam lepaskan tanganmu!" kejut Jelita.
"Sudah berapa kali aku katakan Jelita, kau tidak boleh melakukan pekerjaan rumah. Karena pekerjaan ini sudah ada yang mengerjakannya. Kau belajar saja yang rajin dan jangan sampai kelelahan mengurus rumah," ujar Wiliam sambil mengecup lembut ceruk leher gadis di hadapannya.
"Sebelum menasehatiku, tolong lepaskan dulu tangan kurang ajarmu itu dari pinggangku Wiliam," Jelita mengurai pelukan Wiliam yang tidak tahu malu itu.
Wiliam menggeleng. "Tidak mau, aku akan melepaskanmu jika kau sudah selesai mencuci piring bekasmu itu."
"Wiliam ..." Jelita memutar bola matanya, lalu bergegas mencuci piring agar lelaki dibelakangnya itu segera menjauh.
"Hem ... Ternyata memelukmu membuatku merasa sangat bersemangat, seperti tambahan vitamin dipagi hari," ucapnya penuh percaya diri sambil membenamkan wajahnya di ceruk leher Jelita dan mencium aroma tubuh gadis itu dalam-dalam. "Ah harum sekali," gumamnya.
"Hentikan Wiliam itu geli sekali dan lihatlah banyak orang disini!" bentak Jelita sesekali diiringin suara tawa kecilnya karena geli.
"Tidak mau, salahmu sendiri tidak mau mendengarkanku. Sekarang rasakan sendiri akibatnya," balas Wiliam lalu mempererat pelukan dan melanjutkan kembali mengusak wajahnya. Sesekali memberi gigitan kecil pada daun telinga Jelita.
Alhasil gadis itu pun semakin merinding karena ulah nakal Wiliam. Hingga suara lenguhan tanpa ia sadari keluar begitu saja dari bibirnya dan Wiliam begitu menyukai hal tersebut.
Eugh ....
"Wiliam! Ah jangan, kau lihat sendirikan kalau aku hanya mencuci tangan saja dan cuma mencuci satu piring bekas aku sarapan. Lagi pula aku bosan sekali tidak melakukan apapun, selain pergi kuliah dan setelah pulang hanya seharian di dalam rumah," balas Jelita sambil mengurai pelukan pria berlengan kekar pada pinggangnya.
Wiliam mencebik merasa tidak rela saat Jelita mengurai pelukannya itu. Tak ingin gadis itu pergi darinya, Wiliam berganti membalik badan Jelita dan mengikis jarak dengan menarik pinggang wanita dihadapannya itu agar bisa berhimpitan.
"Kalau kau memang merasa bosan disini, baiklah ... Sepulang dari kantor aku akan menemanimu jalan-jalan dan kau tidak boleh menolak ajakanku," ujar Wiliam dengan sejuta bujuk rayuan mautnya.
Jelita menghela nafas dan hanya bisa menuruti ajakan Wiliam, karena jika dia menolak, maka pria itu akan membuat dirinya tidak bisa tidur nyenyak sepanjang malam.
"Baiklah," balas Jelita dengan senyuman terindahnya, lalu melarikan diri dari pelukan Wiliam dengan juluran lidah sebelum menghilang pergi untuk kuliah.
__ADS_1
"Oh siall! Kapan aku bisa memiliki gadis itu seutuhnya," gumam Wiliam merasa tidak sabar sekali, ingin segera menikahi Jelita.
Dia begitu takut akan kehilangan kendali, karena ular pythonnya itu selalu saja mendesak ingin keluar dan berdenyut tidak menentu jika sedang berdekatan dengan Jelita.
...***...
Wiliam menyempatkan diri untuk mengantar Jelita ke kampus, sebelum dirinya pergi bekerja di perusahaan.
Di sepanjang perjalanan pria itu selalu melirik ke arah Jelita, yang sedang fokus melihat jalan.
Bukan tanpa alasan, karena wanita yang sedang duduk disampingnya itu selalu saja berhasil menarik perhatian.
Wiliam menelan ludahnya berkali-kali, saat melihat leher jenjang nan putih mulus Jelita terpampang nyata di kedua indera penglihatannya.
"Ehem! Jelita," panggil Wiliam.
Jelita pun menoleh. "Kenapa Wil?" tanyanya.
"Bisakah kau turunkan ikat rambutmu itu," balas Wiliam.
"Kenapa? Begini kan enak, terasa sejuk sekali," balas Jelita acuh.
Wiliam berdecak kesal, karena tidak ingin kalau leher Jelita sampai di pandangi oleh sekumpulan kaum pria muda di kampus.
Namun rasanya sulit sekali bagi dia untuk menjelaskan kepada Jelita, bahwa hanya dirinyalah, yang boleh melihat leher indah milik calon istrinya itu.
"Tidak apa, angin diluar sepertinya kencang. Aku tidak ingin kau terkena masuk angin," balas Wiliam mencari alasan seadaanya.
"Ohh begitu ... Ya sudah aku lepas saja ikatannya," balas Jelita.
Gadis itu pun patuh, melepas ikatan pada rambutnya yang terikat tinggi. Membuat pria disebelahnya tidak berkedip, memandangi aksi Jelita membuka ikat rambut yang menurutnya semakin seksii saja.
Perlahan namun pasti, helaian demi helaian rambut Jelita pun mulai berjatuhan dan berayun, menutupi leher indahnya dengan sempurna dan tidak lupa gadis itu sedikit mengibaskan rambutnya.
Namun nampaknya Wiliam salah perhitungan, alih-alih ingin leher Jelita agar tidak menjadi tontonan bagi para lelaki di sana. Hal tersebut malah membuat dirinya semakin panik, karena ternyata Jelita semakin terlihat memukau dengan rambut terurainya.
Wiliam menelan ludahnya. "Siall dia semakin cantik saja," umpatnya dalam hati.
.
.
__ADS_1
Bersambung.