Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 117. Datang bulan


__ADS_3

Keesokan harinya.


Semenjak kejadian kemarin lusa yang menimpah Jelita, membuat Wiliam selalu ekstra waspada akan bahaya disekitar.


Pria itu mengantar wanitanya sendiri ke kampus dan menunggunya hingga Jelita benar-benar telah masuk ke dalam kelas.


"Jangan pergi kemana pun tanpa ijin dariku, jangan ikut hal atau kegiatan semacamnya yang tidak penting dan mencurigakan," begitulah pesan Wiliam kepada Jelita sebelum dirinya pergi ke kantor.


Sedangkan Jelita hanya bisa tersenyum, berusaha menuruti semua perintah dan juga saran dari Wiliam, walau itu sedikit berlebihan untuknya.


Namun entah mengapa Jelita merasa senang, karena pria itu semakin hari semakin perhatian kepada dirinya.


...----------------...


Kampus Michael.


Sudah beberapa hari ini Floren tidak masuk kuliah, beredar kabar jika gadis itu sedang mengalami depresi berat karena patah hati yang sedang dialaminya akibat tidak berhasil mendapatkan Michael.


Hal itu pun membuat Clara sedikit khawatir dan dia hanya bisa melamun memikirkan Floren di dalam kelas.


"Clara, kenapa melamun. Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Michael.


Clara menghela nafas. "Michael, sudah seminggu ini Floren tidak masuk kuliah. Aku juga belum mendapat kabar pasti mengenai dirinya."


Michael berdecak kesal, mood nya seketika menurun saat mendengar ada yang menyebut nama Floren di depannya.


"Jangan sebut nama wanita jahat itu lagi, dia pantas menderita akibat perbuatannya sendiri," ucap Michael.


"Kau benar, dia memang pantas mendapatkan hukuman. Tapi, ada satu hal yang aku takutkan dari dirinya," balas Clara.


"Untuk apa takut, dia tidak akan berani lagi mengganggu siapa pun atau dirimu. Wanita jahat itu sudah tidak punya muka dan kekuasaan disini lagi," balas Michael.


"Michael, ada yang belum sepenuhnya kau ketahui tentang Floren. Dia adalah tipe orang yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan sesuatu yang dia inginkan."


"Dia juga punya ambisi besar dalam menggapai sesuatu dan aku takut dia akan berbuat nekad, yang bisa merugikan orang lain maupun dirinya sendiri," ujar Clara menjelaskan.


Michael mengusap punggung Clara. "Jangan takut, ada aku disampingmu," balasnya spontan.


Hal itu membuat Clara terjingkat karena terkejut, dia menatap lengan Michael yang tanpa permisi lagi mengusap punggungnya hingga ke bagian bawah.


Keduanya pun menjadi kikuk, terlebih lagi Michael. Karena pria itu telah sembarangan menyentuh bokong seorang gadis tanpa ijin.


"Maaf, aku tidak sengaja. Tanganku bergerak begitu saja." Michael menurunkan lengan lancangnya.


"Tidak apa Michael, aku tahu kau tidak sengaja menyentuhnya," ucap Clara malu-malu.


Michael tersenyum. "Kau ternyata baik hati juga, mau memaafkan kesalahanku."


"Aku memang baik hati, apalagi yang berkaitan dengan pria tampan," balas Clara keceplosan. "Ups!" dia langsung menutup mulutnya dan menunduk karena malu.


Sedangkan Michael hanya terkekeh. "Aku memang tampan dan kau ... Hei lihat wajahmu merah sekali seperti kepiting rebus," ucapnya sambil menyenggol genit bahu Clara.


"A-apa kepiting rebus, apa wajahku semerah itu." Clara segera mencari kaca untuk bercermin dan dia menatap tajam Michael. "Kau berbohong padaku."

__ADS_1


Michael tertawa. "Kau mudah sekali untuk ditipu, padahal aku hanya bergurau. Maaf jangan marah, aku minta maaf padamu."


Clara pun tersenyum, tidak disangka dia dapat membuat Michael tertawa kembali. "Tidak apa, aku memaafkanmu," balasnya lalu menikmati pemandangan indah dihadapannya sendiri.


...----------------...


Perusahaan Wijaya Group.


"Bagaimana Riko, apa kau sudah berhasil mencari si pemilik tanah itu?" tanya Wiliam.


"Sudah Wil, dia setuju menjual tanahnya kepadamu," balas Riko.


"Berapa harga tanah yang dia mau, per meter perseginya?" tanya Wiliam kembali.


"Dia ingin 1,55 juta permeter, tapi aku telah menegonya karena itu masih daerah sepi dan juga masih di daerah pegunungan yang jauh dari kota. Jadi dia mau melepas harga 1,5 juta rupiah per meternya," balas Riko.


"Itu berarti kita membutuhkan dana sekitar 225 milyar rupiah," balas Wiliam.


"Benar, itu hanya biaya tanahnya saja. Kita juga harus mengurus beberapa dokumen untuk kepemilikan tanah tersebut," balas Riko.


"Ya aku mengerti, jika sudah ditanda tangani kesepakatan ini dengan si pemilik tanah. Kau harus carikan notaris terbagus di dekat daerah sana, aku ingin kau yang mengurus semua ini hingga selesai," titah Wiliam.


"Baik bos Wil!" patuh Riko.


"Jangan beritahu rencana ku kepada orang lain, apalagi kepada orang-orang Wijaksana. Biarkan mereka membangun terlebih dahulu hotel dan restorannya itu, karena setelah 70% bangunan itu rampung, kita akan meminta pusat pemerintahan dari sana untuk menjadikan tanah kita sebagai tempat pembuangan sampah," ucap Wiliam.


"Baik," balas Riko sambil menggeleng kepala mendengar ide gila dari Wiliam.


Bukan tanpa alasan, rencana Wiliam bisa membuat usaha restoran dan juga hotel tuan Wijaksana hancur sehancur-hancurnya.


Tidak terasa hari sudah sore, Wiliam menatap benda bulat berdetak pada dinding ruangannya. Dia tersenyum dan segera membereskan beberapa pekerjaan, untuk menjemput Jelita di kampus.


...***...


Setibanya dikampus, seperti biasa pria tampan dan pemberani itu menunggu Jelita di depan pintu gerbang.


Dia memakai jas putih dengan celana berwarna senada dengan jasnya, menggerai rambut gondrongnya yang sedikit bergelombang dan mengusaknya agar terlihat lebih seksii.


Pria yang selalu memakai baju warna hitam atau putih itu pun menunggu dengan sabar dan bersandar pada badan mobil sambil menghisap candu kesukaannya.


Wiliam memandangi batang candunya itu dan tersenyum.


"Ternyata bukan hanya kau saja yang membuatku kecanduan, tetapi gadis itu juga. Jika suatu hari dia meminta ku untuk melepaskanmu, maka jangan salahkan aku. Karena aku sudah pasti akan memilihnya dan membuangmu jauh-jauh," gumam Wiliam berbicara sendiri dan menjawab sendiri.


Berapa saat kemudian penantian pria itu pun berakhir, setelah gadis manis nan cantik pujaan hatinya menampakkan diri di depan pintu gerbang kampus.


Wiliam menyugar rambutnya ke belakang dan tersenyum tertanda senang.


"Kau sudah lama menungguku?" tanya Jelita.


"Belum lama," balas Wiliam seambil memhukakan pintu mobil untuk Jelita.


"Syukurlah kalau begitu, terima kasih." Jelita masuk dan duduk di dalam mobil.

__ADS_1


"Sama-sama," balas Wiliam seraya menutup pintu mobil dan dia beralih ke bangkunya.


"Katakan kau ingin kemana?" tanya Wiliam.


"Kemana apanya. Kau tidak kembali ke perusahaaan?" balas Jelita dengan bertanya.


"Tidak, karena urusan pekerjaan ku sudah selesai dan kali ini aku akan menemanimu jalan-jalan," balas Wiliam.


"Oh begitu, baiklah. Bagaimana kalau kita pulang dulu ke rumah dan berganti pakaian," saran Jelita.


"Untuk apa, begini juga sudah bagus." Wiliam melihat penampilannya di depan kaca spion dalam mobil. "Lihat aku masih tampan dan keren sekali," gumam Wiliam.


"Aku ingin mandi dan tukar pakaian dulu," balas Jelita.


"Menurut ku kau masih oke, dan coba mana sini ku cium dulu." Wiliam mendekat dan mengendus. "Kau juga masih wangi," sambungnya.


Jelita mendorong wajah Wiliam yang terus saja mendekat.


"Menjauh sana, aku ingin pulang dulu dan mandi sebentar. Soalnya aku sedang datang bulan dan kebetulan aku tidak bawa stok lebih. Jadi antar aku pulang dulu ya, setelah itu tolong antarkan aku belanja bulanan," balas Jelita.


"Datang bulan ... Apa maksudnya itu?" tanya Wiliam belagak polos.


"Hem ... Itu seperti, tamu yang datang setiap bulannya. Akan ada darah kotor yang keluar dari hem anu. Ah sudah lah! Kau kan bukan wanita mana mungkin mengerti," cebik Jelita.


"Kau marah ya, ternyata memang benar. Jika wanita sedang datang bulan dia akan selalu emosian," balas Wiliam.


"Sudah tahu pakai tanya. Akh perut ku juga sakit sekali," Jelita memegang perutnya yang sakit.


"Kenapa dengan perutmu itu?" tanya Wiliam cemas.


"Tidak apa, hanya nyeri biasa. Nanti juga hilang," balas Jelita.


Wiliam membulatkan bibir dan muncul ide iseng dalam kepalanya tiba-tiba.


"Oh begitu ... Hem, Jelita apa kau ingin nyeri perutmu itu hilang atau lebih tepatnya tidak datang bulan lagi untuk sementara waktu?" goda Wiliam.


Jelita menaikkan alisnya. "Bagaimana caranya, itu menyalahi kodrat. Setiap wanita apalagi seorang gadis ya harus datang bulan setiap bulannya."


Wiliam terkekeh. "Ada ... Ada 1 cara."


"1 cara? Cara apa itu?" tanya Jelita.


"Caranya, aku harus menghamili mu terlebih dahulu dan aku jamin kau tidak akan merasakan datang bulan itu lagi selama 9 bulan lamanya."


Hah?


Wiliam tertawa kencang, karena senang sekali melihat Jelita yang tiba-tiba cemberut mendengar jawaban darinya.


"Wiliam! Kau itu menyebalkan sekali!" cebik Jelita, sambil memukul bahu kekar Wiliam sekencang-kencangnya.


Wiliam terkekeh. "Maaf sayang ... Aku becanda, baiklah kita pulang dulu. Setelah itu kita akan belanja ke supermarket."


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2