Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 137. Makan siang yang membara.


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Mansion Wiliam.


Suasana bahagia dan juga sibuk terjadi di dalam mansion Wiliam, pasalnya mereka mendapat kabar jika tuan dan nyonya rumah itu akan segera pulang dari berbulan madu.


Bi Nina beserta Ibu Maria memberi perintah langsung kepada semua maid di dalam sana, agar segera merapihkan dan juga mengubah kamar utama yaitu kamar Wiliam sesuai kebutuhan demi kenyamanan sang penghuninya nanti.


Mereka mengganti suasana kamar Wiliam, mulai dari mengganti tempat tidur yang lebih besar, kain hordeng bahkan mengganti seluruh barang yang berada di kamar tersebut dengan yang baru.


"Aku sudah tidak sabar menyambut mereka berdua datang kesini," ucap Ibu Maria begitu antusias.


"Benar Nyonya, saya juga sama tidak sabar ingin melihat mereka kembali ke rumah. Tuan Wiliam dan nyonya Jelita pasti menghabiskan waktu disana dengan bersenang-senang. Semoga saja mereka bisa cepat mendapatkan momongan," celoteh Bi Nina tidak kalah antusias.


"Amin ... Kau benar Nina, aku juga sudah tidak sabar mendengar kabar baik itu dari mereka," balas Ibu Maria. Lalu mereka pergi dari kamar Wiliam.


...***...


Beberapa jam kemudian.


Sebuah mobil mewah memasuki halaman Mansion, para maid telah berbaris rapi. Menyambut kedatangan pasangan pengantin baru alias tuan dan nyonya mereka.


Para penjaga keamanan membukakan pintu mobil dan tidak lama setelah itu, Wiliam dan Jelita mulai menampakkan batang hidungnya.


Mereka saling bergandengan tangan sambil tersenyum kepada semua orang, lalu bersamaan dengan hal itu, para maid segera menyambut kepulangan mereka berdua.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya," sambut seluruh maid dan para pekerja disana.


"Terima kasih," balas Wiliam dan Jelita bersamaan.


"Jelitaku," sapa Ibu Maria.


"Ibu," sahut Jelita dan ia segera menghampiri dan memeluk ibunya.


"Wiliam," sapa Ibu Maria juga.


"Iya Ibu," balas Wiliam.


Ibu Maria tersenyum kepada putri dan juga menantunya, ia begitu senang karena melihat keduanya begitu berseri-seri setelah pergi berbulan madu.


"Bagaimana dengan bulan madu kalian disana? Apa lancar?" tanya Ibu Maria menggoda keduanya.


"Sudah pasti lancar Ibu, kami berdua menghabiskan waktu dengan bersenang-senang. Benarkan sayang," balas Wiliam sambil menyenggol Jelita dengan bahunya.


Alhasil Jelita pun tertunduk malu dan hanya bisa tersenyum sambil menyembunyikan wajahnya.


Ibu Maria dan semua maid disana turut senang, merasa yakin jika Wiliam telah mendapatkan apa yang menjadi haknya sebagai seorang suami.


"Sudahlah jangan dibahas, kalian baru saja sampai di rumah, sudah pasti kalian sangat lelah. Bagaimana jika kalian berdua istirahat saja dulu di kamar. Setelah itu turunlah untuk makan siang bersama kami," ucap Ibu Maria.


Wiliam dan Jelita menurut, kemudian pergi menuju kamar mereka.


...***...


Setibanya di lantai atas, Jelita memasuki kamar lamanya dan memandangi sejenak kamar itu sebelum pergi ke kamar Wiliam.


"Ah kamar ku yang nyaman," gumam Jelita sambil meraba-raba kasurnya yang lama dan menatapi semua yang ada di dalam kamarnya itu.



"Aku pasti merindukan kamar ini," ucapnya pelan lalu menghampiri Wiliam di muka pintu.


"Apa sudah selesai melihatnya? Ayolah sayang, kita ke kamar. Kau bisa lihat kamar ini lagi nanti, aku sudah tidak sabar ingin berdua denganmu di dalam kamar kita," balas Wiliam sambil menarik lengan Jelita.

__ADS_1


"Wiliam, kenapa kau tidak ada puas-puasnya sih," cebik Jelita.


"Karena aku suka melakukan itu denganmu sayang, kau selalu membuatku kecanduan," balas pria itu enteng banget.


Jelita hanya bisa menghela nafas, rasa lelah dari berbulan madu kemarin saja masih membekas belum hilang pada dirinya dan sekarang, pria itu sudah menginginkannya lagi.


"Kau benar-benar membuatku lelah, apa kau tidak capek bermain terus," ucap Jelita.


"Aku pria kuat, mana mungkin lelah." balas Wiliam lalu menutup pintu kamar.


Sesampainya didalam kamar Wiliam, Jelita memandangi sejenak kamar tersebut. Nuansa kaku dan juga membosankan telah diubah menjadi lebih hidup.


"Kamarmu jadi lebih bagus ya," ucap Jelita.


"Sudah pasti, karena ini kamar kita berdua. Sudah pasti harus berubah, sekarang lebih baik kita berbaring di sana," ajak Wiliam menggiring ke ranjang.


Jelita memutar bola matanya lelah, entah sudah berapa banyak Wiliam menidurinya selama beberapa hari saat berbulan madu kemarin, dengan bermacam-macam gaya telah dilakukan.


Bermain sampai pagi hingga ia kelelahan, bahkan kesulitan bergerak saat bangun tidur di pagi harinya. Sampai Jelita dibuat bingung, mengapa stamina pria itu tidak pernah ada habisnya.


"Tidak mau! Aku ingin istirahat, ada banyak tugas yang harus ku kerjakan hari ini, karena besok aku sudah mulai masuk kuliah!" tolak Jelita ketika Wiliam ingin membuka kembali bajunya.


"Sayang, kau marah hem?" bujuk rayu Wiliam.


Jelita memalingkan wajahnya dan tidak mengindahkan pertanyaan dari Wiliam.


"Ah kamu ternyata marah, manis sekali. Baiklah, hari ini aku tidak akan menganggumu," balas Wiliam.


Jelita menatap tajam Wiliam. "Kemarin kau juga berkata seperti itu padaku, tidak akan mengangguku. Tapi kenyataannya kau selalu saja meniduriku berkali-kali."


Wiliam tersenyum dan merapatkan dirinya dengan Jelita. "Sayang, maaf. Aku selalu tidak bisa mengendalikan diriku jika sedang bersamamu. Jangan marah ya," bujuknya lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut di bibir.


Jelita mendorong dada Wiliam saat merasakan ada sesuatu yang mengeras dibawah sana. "Tuh kah, ularmu itu sudah bangun lagi. Entah berapa kali dia muntah di dalam perutku ini, tapi ularmu itu tidak pernah merasa puas."


Jelita terdiam. "Wiliam suamiku yang tampan, yang namanya anak itu akan datang jika Tuhan sudah memberikannya kepada kita, bukan dari seberapa banyak kita bermain."


Wiliam menarik senyum. "Jelita istriku yang selalu memabukkanku, Tuhan memang akan memberikan pada kita seorang bayi jika sudah tiba pada waktunya. Akan tetapi, Dia akan memberikan kepada hambanya yang selalu berusaha dan bekerja keras," balasnya tidak mau kalah.


"Oh Tuhan, kenapa aku selalu kalah berdebat dengannya. Dan itu si ular itu, kapan dia akan merasa puas?" Jelita memijat pelipisnya yang berdenyut.


"Sudahlah jangan banyak mengeluh, kau juga selalu menikmatinya jika kita bermain bukan?" Wiliam mulai mengerayangi Jelita.


"Tidak mau!" cegah Jelita.


"Hayolah sayang, sekali saja. Aku berjanji akan bermain dengan cepat," bujuk maut babang Wiliam kembali lagi.


"Tidak mau, jangan tatap aku seperti itu!" balas Jelita memalingkan wajahnya takut terhipnotis.


Wiliam tersenyum dan menggendong Jelita yang ingin kabur. "Tidak semudah itu Baby," ucapnya seksiii sekali.


"Oh tidak jangan lagi," balas Jelita.


Wiliam kembali membaringkan raga istrinya di pembaringan dengan segera membuka bajunya. Namun saat ingin mengerayangi, seseorang datang mengetuk pintunya.


"Siapa?" sahut Jelita dan Wiliam bersamaan.


"Maaf Tuan dan Nyonya, Nyonya Maria meminta anda untuk turun. Karena makan siang sudah siap!" sahut Maid tersebut.


"Baiklah, aku akan datang!" sahut Jelita kegirangan. Lalu mendorong Wiliam sekuat tenaga agar menyingkir dari tubuhnya. "Minggir sana, huh!" umpatnya lalu pergi menuju pintu keluar kamar.


Wiliam tersenyum sambil memandangi bagian belakang Jelita dari kejauhan, lalu memakai pakaiannya kembali. "Dia selalu membuatku ketagihan," gumamnya menggeleng.


...***...

__ADS_1


Di ruang makan.


"Sayang, mana suamimu. Kenapa turun sendiri dan kenapa wajahmu pucat seperti itu?" tanya Ibu Maria melihat putrinya seperti habis berlari.


"Sebentar lagi dia akan turun Ibu," balas Jelita lalu menarik kursi dan duduk.


Tak lama setelah itu Wiliam datang menuju meja makan, dia tersenyum menatap Jelita yang sudah mendahuluinya.


"Wiliam, ayo duduklah. Kita makan bersama," titah Ibu Maria.


"Baik Ibu," balasnya lalu duduk di sebelah Jelita dan menggeser kursinya agar lebih dekat.


Mereka memulai ritual makan siang, menyendok nasi dengan beberapa lauk dan juga sayur yang tersaji di atas meja.


Selama menyantap makanan Wiliam selalu menjahili istrinya, mulai dari menggesekkan kakinya ke kaki Jelita.


Pria itu juga tidak segan-segan menyelusupkan tangan nakalnya ke dalam dress. Mengelus lembut, bahkan mencubit gemas pahaa mulus Jelita, hingga ia terjingkat kaget.


"Wil!" bisik Jelita penuh penekanan, sambil memperhatikan sekeliling takut ada yang melihat. Namun Wiliam tidak menghiraukan peringatan tersebut, dia malah asik mengelus hingga ke pangkal pahaa bagian dalam.


"Ah!" Jelita bergelinjang geli, membuat semua orang yang ada di sana serempak menengok kearahnya.


"Ada apa sayang?" tanya Ibu Maria.


"T-tidak ada Ibu, hanya makananmu ini sangat enak sekali," balasnya mencari alasan lalu segera menepis tangan Wiliam dari area sensitifnya.


Wiliam terkekeh. "Benar Ibu ini enak sekali," serobotnya sambil menatap Jelita dan menyelusupkan kembali lengan usilnya.


Jelita segera berdiri da menyudahi makan siang. "Ibu, aku sudah selesai makan siang dan aku harus segera kembali ke kamar karena ingin mengerjakan tugas."


Wiliam menarik tangan Jelita dan membuatnya terduduk kembali. "Jangan pergi sayang, temani aku makan sampai selesai," balasnya menyeringai tipis.


"Benar Jelita, temani suamimu makan hingga selesai. Itu juga termasuk kewajibanmu," balas Ibu Maria.


Jelita mengangguk pasrah. "Baiklah Ibu," balasnya lalu duduk anteng kembali.


Wiliam tersenyum smirk senang sekali dengan ketidakberdayaan istrinya. Dia kembali meremas-remass bahkan mengelus area sensitif Jelita hingga wanita ktu meremang tidak karuan.


"Oh Wil jangan," lirihnya.


"Kenapa sayang?" tanya Wiliam tanpa dosa sedikitpun.


"Sudah belum makannya, aku ingin memijat kepalamu di kamar. Kau tadi bilang ingin dipijat bukan?" Jelita mencari alasan agar bisa kabur.


"Hem ... Boleh juga," balasnya lalu segera menyudahi makan siang yang membara itu.


Jelita segera bangkit dan membereskan dress bawahnya yang berantakan dengan jantung berdebar hebat dan nafas kian memburu tidak karuan.


Ibu Maria memperhatikan tingkah laku putrinya yang aneh dan dia langsung tertawa saat Bi Nina memberitahu yang sebenarnya.


"Benar kah itu Nina?" tanya Ibu Maria.


"Benar, Tuan Wiliam usil sekali kepada Nyonya Jelita dan kebetulan saya menangkap itu semua," balas Bi Nina.


"Pantas saja, mereka aneh sekali di meja makan."


Bi Nina dan Ibu Maria cekikikan bersama, sambil menggeleng-geleng kepala. Ketika melihat tingkah sepasang pengantin baru yang sedang hot-hotnya.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2