
"Aku mencintaimu Jelita ...."
Deg! ...
Senyum indah di wajah Jelita perlahan runtuh, kedua matanya yang terpejam pun dia hentak dengan kasar. Dirinya terbangun dari mimpi dan tersadar saat mendengar untaian kata indah terlontar dari mulut Michael.
Jelita menengadah ke atas, menatap wajah Michael yang tersenyum lembut padanya.
"Aku mencintaimu," ucap Michael sekali lagi.
Sontak Jelita mengurai pelukannya dan segera menarik diri, menatap tidak percaya dengan apa yang telah diucapkan oleh pria dihadapannya itu.
"Tidak ... Itu tidak mungkin ... Kau tidak boleh mencintaiku, kau tidak boleh mengatakan hal itu kepadaku Michael." Jelita menggeleng cepat, dengan kedua telapak tangan terus menutup rapat-rapat telinganya.
"Kau pasti salah mengatakannya, kau pasti salah orang. Kau pasti sedang bercanda. Ya kan," ucap Jelita sambil terus melangkah mundur, menjauhkan diri dari Michael.
Sementara itu Michael merasakan sesak pada dada, nafasnya seakan berhenti. Dia berusaha menahan sakit ketika melihat kenyataan di depan matanya sendiri, saat Jelita berusaha menjauh darinya dan menolak menerima kenyataan yang ada, bahwa dirinya begitu mencintai Jelita.
"Jelita ..." ucap Michael begitu lirih.
"Tidak! Jangan mendekat! Jangan mendekatiku Michael," balas Jelita dan melarang Michael untuk mendekatinya.
Michael terpaku, seakan-akan dunianya berhenti berputar, ketika kata-kata terlarang itu tidak sengaja ia lontarkan. Tapi apalah daya hal itu telah terucap dan Jelita pun sudah mengetahuinya.
Kedua tangannya terkepal kuat dan dia memberanikan diri, mengutarakan isi hatinya kepada Jelita sesegera mungkin. Michael pun mendekatkan diri pada Jelita yang terus saja menjauh darinya.
Langkah Jelita telah terhenti, saat tubuhnya terbentur tiang penyangga. Gadis itu pun terdiam untuk menoleh ke belakang, memastikan apa yang membuat langkahnya terhenti.
Dan ternyata kesempatan itu dimanfaatkan oleh Michael untuk mendekat, dia bergegas menghampiri Jelita saat gadis itu sedang lengah.
Dan dengan satu gerakan cepat, Michael berhasil mengunci tubuh Jelita.
Pria itu mengunci Jelita dengan tubuh kekarnya, menahan gadis itu agar tidak melarikan diri dengan sedikit menghimpit bagian tengah tubuhnya sementara waktu hanya untuk mengutarakan perasaan.
Tubuh Jelita terjepit, menghindar pun dirasa tidak mungkin. Karena di sisi kanan dan juga di sisi kiri gadis itu ada lengan Michael, seperti portal besi yang sedang menghalangi jalan.
Dan kini yang bisa dia lakukan Jelita hanyalah menahan dada bidang Michael dengan kedua tangannya, agar tidak terlalu menempel pada tubuh bagian atasnya itu dan memalingkan wajah dengan kedua mata terpejam.
***
Tak berapa lama kemudian, Michael menangkup kedua sisi wajah Jelita dan menarik lembut wajah gadis itu dengan kedua tangannya. Dia mengarahkan wajah Jelita sedikit menengadah ke atas agar bisa menatap wajahnya dengan jelas.
Michael terus menundukkan kepala, sambil terus menahan wajah Jelita agar tidak berpaling darinya dan dengan sabar dia terus menunggu Jelita membuka kedua mata.
__ADS_1
"Michael ..." ucap Jelita lirih kemudian membuka kedua matanya perlahan dan kini pandangan mereka pun bertemu.
Michael tersenyum dan menatap serius wajah gadis dihadapannya itu, lalu dengan tegas dia mengulang kembali perkataannya.
"Jelita ... Aku mencintaimu, aku benar-benar menyukaimu," ucap Michael sambil terus menahan wajah Jelita agar terus menatapnya.
"K-kau pasti sedang bercanda kan?" balas Jelita kemudian mencekal kedua tangan Michael, sekuat tenaga dia menjauhkan tangan besar itu pada kedua sisi wajahnya.
Namun Michael tidak ingin melepaskan Jelita begitu saja, sebelum mendapatkan jawaban akan pertanyaannya.
"Aku serius, aku mencintaimu. Jelita ... Apa kau mau menjadi kekasihku, apa kau mau menerima cintaku?" tanya Michael dengan raut wajah penuh keseriusan.
Sorot mata Michael yang menatap tajam Jelita, serta pengakuan cinta dari pria tampan itu yang terbilang dadakan.
Membuat gadis berparas cantik nan manis itu hanya bisa terdiam, tubuhnya mendadak lemas seperti jeli dan bergetar hebat, dengan jantung yang terus berdegub kencang.
Wajahnya pun pucat pasi, nafasnya mulai tidak beraturan dan dadanya naik turun mengatur nafas.
Jelita menelan ludahnya susah payah saat Michael terus saja mendesak dan juga menghimpitnya.
Oh Tidak!
"Jawablah Jelita!" ucap Michael lembut namun penuh penekanan saat melihat Jelita diam saja tidak bersuara.
"Aku ingin jawabanmu sekarang juga," balas Michael dan sedikit menarik wajah Jelita agar mendekat pada wajahnya.
Jelita menarik nafas dalam-dalam, mengisi oksigen pada paru-parunya yang semakin mengempis. Dia menelan ludahnya yang tercekat dan membalas tatapan tajam itu dengan berani.
"Maaf Michael ... Aku tidak bisa menerima cintamu," balas Jelita dengan kedua tangannya terkepal kuat.
Duer
Bak tersambar petir dari atas kepala, seketika menembus dan menusuk jantung serta hatinya. Pada saat itu juga, Michael mendadak lemas. Hatinya perih bagai tertusuk sembilu. Dia memejamkan kedua mata dan menyugar rambutnya ke belakang.
Wajahnya menengadah ke atas, Michael juga menghembuskan nafasnya begitu kasar dan cepat.
"M-michael ..." ucap Jelita cemas saat melihat keadaan Michael yang tiba-tiba berubah.
Michael kemudian membuka matanya kembali dan menatap Jelita tak kalah tajam dari sebelumnya. Dan kini lengannya berganti mencengkram kedua bahu Jelita, hingga gadis itu pun tersentak kaget.
"M-michael sakit!" lirih Jelita merasakan sakit pada kedua bahunya yang tercengkram kuat.
"Aku tahu, kau menjawab seperti itu pasti karena ada alasannya bukan dan aku tahu alasannya itu adalah karena sebuah peraturan konyol yayasan itu bukan." Michael mulai tidak menerima penolakan dari Jelita.
__ADS_1
Kedua netra Michael memerah dan berkaca-kaca, tanpa terasa pria itu pun mulai menitikkan air mata, lalu dengan segera dia menghapusnya dan memalingkan wajah dari Jelita.
Jelita menghela nafas panjang, walau dirinya sangat takut akan reaksi tidak terduga dari pria itu. Akan tetapi dia harus memberanikan diri untuk membalas pertanyaan Michael.
"M-michael ... Ketahuilah ini, bukan hanya itu saja alasannya. Tapi aku memang sudah berjanji pada diriku sendiri di depan ibu dan juga ibu asuh, bahwa aku tidak akan menerima ajakan berpacaran atau ajakan menikah dari pria manapun, sebelum aku dapat meraih cita-citaku," balas Jelita sambil terus berusaha menenangkan Michael agar tidak berubah memarahinya.
"Jadi kau menolakku?" tanya Michael dengan raut wajah penuh kesedihan dan Jelita mengangguk pelan.
"Maaf, aku tidak bisa menerimamu." Jelita menunduk dan memalingkan wajahnya dari Michael.
Sementara itu Michael merasa frustasi, dia menjambak rambutnya dan berdecak kesal. Kemudian dia melayangkan tinju kepada besi tiang penyangga dengan kencang.
Jelita menghentak kedua bahu saat mendengar suara keras disampingnya, dan ia segera menoleh. Matanya terbelalak dan betapa terkejut dirinya saat melihat kepalan tangan Michael mulai berlumuran berdarah.
Darah segar mengalir, begitu juga air matanya, nafasnya kian lama kian memburu dan tangannya bergetar hebat dan mengepal kuat.
"M-michael, tanganmu ... berdarah," ucap Jelita, secepatnya dia meraih tangan Michael, namun Michael segera menepis tangan Jelita.
"Jangan sentuh ... Menjauhlah dari ku!" Michael berbalik dan menjauh dari Jelita, dia berjalan masuk ke dalam rumahnya dan meninggalkan Jelita sendirian di tepi lapangan.
Jelita pun terkulai lemas, entah mengapa dia merasakan sakit pada dadanya. Terlebih melihat pria itu menangis dan terluka.
"Hiks! ... Michael tolong maafkan aku." Jelita menutup wajahnya dengan kedua tangan, saat bulir bening dipelupuk mata mulai tak terbendung. Dia pun mulai menangis.
Namun dengan segera Jelita bangkit dan menghapus air matanya itu, dia menggeleng samar dan bergumam pada diri sendiri.
"Tidak ... Aku tidak boleh seperti ini," ucapnya lalu berjalan memasuki rumah besar itu sambil memegangi bagian dadanya yang terasa sakit.
***
Sementara itu jauh diujung sana, sesosok ibu tengah menangis haru, ikut merasakan kepedihan saat melihat dua insan tengah saling terluka.
Ada satu hal yang membuat dia tersadar dan akhirnya dia mengetahui setelah melihat jelas kejadian tersebut.
Dimana dirinya kembali merasa bersalah.
"Jelita, ternyata kau juga menaruh hati dan menyimpan rasa pada putraku. Maafkanlah aku yang egois ini."
Nyonya Caca kembali masuk ke dalam rumah, dirinya merenungi kejadian tersebut dan dia akan memperbaiki semuanya dengan cepat sebelum semuanya terlambat.
.
.
__ADS_1
Bersambung.