Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 86. Sebuah pengakuan.


__ADS_3

Mobil yang dikendarai oleh Jason sudah sampai di depan Mansion, namun sebelum kendaraan itu masuk ke dalam pekarangan rumah, Jason di minta keluar terlebih dahulu oleh Michael karena pria itu ingin berbicara empat mata dengan Jelita.


"Jason ... Bolehkah kau meninggalkan ku dan Jelita di dalam mobil sebentar saja. Ada yang ingin ku bicarakan secara pribadi dengannya," pinta Michael.


"Kau ingin bicara apa, kenapa harus berduaan saja? Lagi pula ini sudah malam, kita bicara besok lagi saja ya. Aku lelah sekali," tolak Jelita.


Merasa yakin jika Michael akan mencecar dirinya dengan berbagai pertanyaan yang akan menambah rasa pusing di kepalanya.


"Tidak! Aku tidak akan mengijinkanmu masuk ke dalam, sebelum aku selesai berbicara denganmu dan mendapat semua jawaban darimu," balas Michael sambil menahan Jelita yang ingin membuka pintu mobil.


"Tapi Michael, aku cape sekali. Kita bicara besok saja ya, lagian kalau Bi Sari tahu kita sedang berdua, dia akan melapor kepada ibu asuh dan itu akan menambah masalah baru bagiku," balas Jelita.


"Justru itu Jelita, kau kan tahu jika kita tidak diijinkan untuk bertemu karena perintah dari Mamy. Mumpung ada kesempatan seperti ini, aku tidak ingin melewatkannya dan juga besok adalah hari terakhirmu tinggal dirumahku karena kau akan pulang keesokan harinya. Entah kapan aku bisa bertemu atau berbicara denganmu lagi," ucap Michael lirih.


"Baiklah tapi jangan lama-lama ya. Aku tidak enak dengan ibu dan juga orang-orang di rumah yang sudah menunggu kita," balas Jelita.


"Terima kasih." Michael tersenyum lalu menoleh ke arah Jason yang sudah menunggu sedari tadi.


"Jason ... Please hanya sebentar," pinta Michael.


Jason yang mengerti hanya bisa menghela nafas, membiarkan Michael menghabiskan waktu berdua dengan Jelita.


"Baik ... Jika sudah selesai, kalian berdua keluarlah dari mobilku," ucapnya kesal karena terusir dari mobilnya sendiri lalu pergi ke suatu tempat untuk beristirahat.


"Harusnya mereka yang keluar, kenapa jadi aku yang keluar, heh!" gerutunya sembari berjalan.


...***...


"Apa yang ingin kau bicarakan? Cepatlah," pinta Jelita. Dia merasa tidak nyaman karena Michael menggeser duduknya terlalu dekat.


"Jelita ... Tolong jujurlah padaku, apa pria itu benar-benar tidak melakukan hal kotor kepadamu? Maaf jika aku bertanya seperti ini, karena aku dapat info jika dia adalah seorang pemain wanita dan aku hanya ingin memastikan saja jika dia tidak berbuat macam-macam denganmu," tanya Michael.

__ADS_1


"Dia tidak melakukan apapun kepadaku," balas Jelita.


"Lalu ... Apa yang dia lakukan sebelum kau pergi ke acara makan malam itu, apa dia membawamu ke suatu tempat?" tanya Michael lagi.


Jelita beringsut merasa Michael terlalu mendesaknya. "D-dia membawaku ke mansionnya," jawabnya gugup.


"Apa yang dia perbuat disana, apa dia mengancam atau berani menyentuhmu? Dimana ponselmu, mengapa kau sangat sulit dihubungi tadi dan juga ada dimana seragammu?" tanya Michael.


"D-dia tidak menyentuhku percayalah. Seragam ku tertinggal di rumahnya dan ponselku baterainya habis jadi tidak bisa dihubungi," balas Jelita.


"Jika benar dia tidak menyentuhmu, mengapa kau bergetar ketakutan seperti itu? Kau pasti menyembunyikan sesuatu dariku, bicaralah Jelita," ucap Michael dia masih merasa kalau Jelita menyembunyikan sesuatu darinya.


"Michael menjauhlah dariku," Jelita mendorong Michael karena terus saja mendesaknya.


"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau menceritakan yang sebenarnya kepadaku, kenapa kau begitu ketakutan saat aku tanyakan dia menyentuhmu atau tidak. Kenapa kau begitu bimbang setelah mengikuti perjamuan tadi. Apa yang kau sembunyikan, jangan takut aku akan membantumu menyingkirkan pria itu jika dia benar-benar telah menyusahkanmu Jelita," ujar Michael.


Jelita menelan ludahnya dan dia mulai menitikkan air mata. Michael yang melihat hal tersebut pun merasa yakin jika Wiliam melakukan sesuatu kepada Jelita.


Terlebih ketika Michael melihat luka gigitan di bibir Wiliam yang masih basah dan juga sekelibat luka cakaran pada tubuh pria itu yang tertangkap oleh indera penglihatannya, oleh karena itu dia sangat penasaran sekali. Apakah luka pada Wiliam tersebut disebabkan oleh Jelita atau bukan.


"Kau ingin apa hah?" Jelita membelalakkan mata ketika Michael mendekatkan wajah ingin menciumnya.


"Aku ingin jawaban darimu, atau aku akan menciummu," ancam Michael.


Jelita terpejam sambil mengepal erat dresnya, desakan dan juga pertanyaan menyulitkan membuatnya lepas kendali, hingga dirinya geram dan terpancing emosi.


"Pergilah! Menjauhlah dariku! Mengapa pria selalu saja memaksa seorang wanita jika menginginkan sesuatu. Aku benci sekali pria seperti itu! ... Kau dan Wiliam ternyata sama saja, kalian berdua suka sekali memaksa ku! Kenapa kalian selalu mengancam akan mencium ku atau melakukan hal lain dengan sebuah paksaan, hah!" bentak Jelita, dia mulai menangis sesungukkan saat mengungkapkan sebuah pengakuan.


"Wiliam menciummu?" tanya Michael, dia terlihat kesal dan sakit hati. "Ternyata benar dugaanku," gumamnya.


"Iya Michael, dia telah menciumku! Bahkan ciumannya itu lebih menakutkan darimu, dia memaksaku dan menciumku sampai aku nyaris mati dibuatnya. Dan karena itu aku pun terpaksa harus mengigit bibirnya agar terlepas dari ciuman menakutkan itu!" bentaknya lagi.

__ADS_1


Nafas Jelita terdengar memburu, merasakan sesak di dada karena menahan emosi. Jelita menatap Michael dan dia menangis.


"Wiliam ... Dia juga sempat ingin menodaiku, tapi aku bersyukur disaat itu akan terjadi, Opa Wijaya ... Dia menghubungi Wiliam dan akhirnya hal menakutkan itu pun tidak terjadi padaku. Dan apa yang membuat aku bimbang adalah pria itu, ingin aku menikah dengannya."


Jelita terisak dan Michael segera memeluknya, dia ikut merasakan ketakutan Jelita saat itu terjadi padanya.


"Michael ... Apa yang harus aku lakukan? Dia ingin aku melepaskan status anak asuhku, karena dia ingin aku menikah dengannya. Tapi bukan itu yang membuatku tidak berdaya Michael. Opanya itu ... Kakek baik hati itu, dia begitu senang melihatku bersama dengan cucunya. Dia ingin melihat aku dan Wiliam menikah di sisa masa hidupnya, dan aku tidak tega membuatnya patah hati. Hingga aku menyanggupi akan menikah dengan Wiliam saat lulus perguruan tinggi nantinya. Dan dia begitu tulus meminta padaku untuk tidak meninggalkan cucunya sampai hari itu tiba."


Michael mengeratkan pelukannya dan mengecup puncak kepala Jelita. "Aku senang kau mau jujur padaku, dan aku bersyukur tidak terjadi hal buruk kepadamu."


"Jelita ... Aku tidak akan membiarkan dia membawa mu pergi, tidak akan! Aku akan menemui kakeknya itu dan menjelaskan jika kau hanya terpaksa menyanggupi semua permintaannya. Kau adalah seorang anak asuh, kau juga milik keluarga Chandra Putra dan satu lagi yang terpenting adalah kalau aku sangat mencintaimu dan aku tidak akan memberikanmu pada orang lain."


Jelita mendongak. "Michael ... Bagaimana jika dia tidak mempercayaimu atau pernyataanmu itu membuat hati Opa Wijaya terluka. Kau tahu aku paling tidak tega menyakiti hati siapapun."


"Kau tega, buktinya kau menolak cintaku," Michael tersenyum dan mencubit pucuk hidung Jelita.


"Heh! Kau benar, aku tega menolak mu. Tapi aku tidak bisa menyakiti hati Opa, dia begitu baik dan banyak berharap dariku agar bisa hidup bersama dengan Wiliam," ucap Jelita.


"Apa kau percaya padaku?" tanya Michael.


"Aku percaya padamu, tapi apa yang akan kau lakukan?" tanya Jelita.


"Terima kasih karena kau masih mempercayaiku. Kita akan datang ke perusahaan itu lagi besok dan menjelaskan semua pada Kakeknya Wiliam agar dia mengerti dan meminta kepadanya agar Wiliam mau melepaskanmu," balas Michael.


"Baiklah," balas Jelita.


"Tapi bagaimana jika Wiliam marah dan mengamuk?" tanya Jelita.


"Kita hadapi bersama," jawab Michael.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2