Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 23. Michael melamar Floren


__ADS_3

"Baiklah aku akan melamarmu di depan keluarga kita, tapi dengan satu syarat. Kau harus menghapus dan juga membatalkan niatmu untuk menyebarkan video tersebut ke internet," ucap Michael.


Floren mengangguk. "Baiklah aku akan menghapusnya, tapi setelah kau melamarku di depan keluargaku."


Michael menarik nafas dan berusaha menahan amarahnya. "Oke!" balas Michael lalu memalingkan wajahnya dari Floren.


Floren tersenyum senang mendengar hal tersebut, dia menarik dagu Michael agar bertatapan lagi dengannya.


"Mike, jangan tatap aku seperti itu. Ini semua salahmu Mike dan juga si Jelek itu, kau yang memaksaku melakukan ini semua. Seharusnya kau tidak menolakku pada waktu itu, kau juga seharusnya lebih banyak memperhatikanku daripada gadis jelek rendahan itu," balas Floren bergelayut manja di tubuh Michael.


Michael tersenyum tipis lalu melepas tangan Floren dari tubuhnya dan mulai menyindir Floren karena tidak berkaca diri.


"Aku tidak menyangka ternyata ada wanita yang tidak tahu malu seperti mu. Menurutku kau lah yang lebih rendahan daripada si dia, kau berani merayu dan juga menggoda pria di depan umum. Menggunakan berbagai tipuan dan juga trik rendahan untuk menarik perhatianku bahkan tega menjebak dan menggunakan kelemahanku demi memenuhi ambisimu."


Floren menarik senyum. "Wah, apa kau marah gara-gara aku menyalahi dan juga mengatai si Jelek itu ya? ... Mike jangan samakan aku dengan dia, karena dia beda level denganku. Dia hanya gadis miskin rendahan tidak punya status dan juga latar belakang yang tidak jelas. Entah dia dari keluarga baik-baik atau tidak, ibu nya yang penyakitan mungkin karena masa lalunya yang tidak baik."


Michael bertambah geram dan mencengkram kedua bahu Floren hingga meringis. "Dia lebih baik dari mu, kau tidak ada apa-apanya jika dibanding dengan dirinya. Jika aku harus memilih antara dirimu atau dia, maka aku akan pilih dia Flo!"


Floren berdecak kesal. "Kau ini ... atas dasar apa membela gadis hina itu hah! Dia sama sekali tidak pantas mendapat perhatianmu karena dia itu hanya lah gadis miskin berwajah jelek. Dia hanya belum menampakkan wajah aslinya saja kepadamu Mike, bisa jadi dia lebih parah dariku."


"Terserah kau mau bilang apa, tapi ingat lah ini Floren. Aku menyetujui hubungan ini semua karena paksaan darimu, bukan dari hatiku. Jadi bersikaplah lebih baik kepadaku, atau setidaknya jagalah ucapanmu. Jika tidak aku tidak akan segan-segan berlaku kasar kepadamu!" ucap Michael.


Michael melepaskan cengkramannya lalu berbalik meninggalkan Floren dan kembali kepada keluarganya yang masih menunggu mereka untuk kembali dimeja makan.


"Mike, kau akan menerima akibatnya. Kau orang gila jika tidak menerimaku!" teriak Floren, namun Michael terus berjalan tak menanggapi perkataan Floren yang menghina dirinya.


***


Di meja makan.


Kedua orang tua Michael menunggu anaknya dengan sedikit kecemasan.


"Kemana mereka pergi sayang, kenapa lama sekali. Apa yang sedang mereka bicarakan? Sayang aku sangat mencemaskan Michael, ada apa dengan dia hari ini. Dia nampak sangat kesal sekali," ucap Nyonya Caca bertanya-tanya.


Melihat istrinya sangat cemas, Tuan Nael berusaha menenangkan istrinya. "Tidak perlu dikhawatirkan sayang, mungkin mereka hanya membahas masalah anak muda jaman sekarang. Kau tenanglah, mereka sebentar lagi juga akan kembali."


Nyonya Caca menghela nafas dan berusaha tenang, lalu mengangguk sambil menatap wajah suaminya yang tersenyum kepadanya.


Sementara itu Nyonya Berta dan suaminya hanya tersenyum saja, mereka berbisik membicarakan sesuatu.

__ADS_1


"Ku yakin Floren pasti berhasil," ucap Nyonya Berta.


"Dia pasti berhasil karena dia adalah putriku. Putri Wijaksana yang selalu mendapatkan apa saja yang kita mau," balas Tuan Wijaksana.


Mereka tersenyum smirk, lalu berpura-pura menenangkan Nyonya Caca.


"Yang dikatakan Suamimu benar Nyonya Caca, mereka anak muda pasti sedang menyelesaikan masalah anak muda. Kalian tenanglah lebih baik kita duduk saja dan menunggu mereka kembali kesini," ucap Nyonya Berta.


"Baiklah Nyonya Berta," balas Nyonya Caca walau hatinya sedikit ragu untuk itu.


***


Beberapa saat kemudian Michael dan Floren telah kembali dengan saling bergandengan.


"Mike ... Ku harap kau ingat dengan janjimu tadi, maka akan ku penuhi janjiku," bisik Floren ke telinga Michael lalu tersenyum dan menghampiri keluarga mereka.


Michael tak bergeming, dia hanya berusaha menutupi kekesalannya dihadapan kedua orang tuanya.


"Michael, kalian habis dari mana?" tanya Nyonya Caca berdiri dan mengusap bahu anaknya.


"Kami habis mencari udara segar Tante," serobot Floren menjawab pertanyaan Nyonya Caca lalu duduk kembali disamping Ibunya.


"Sayang, ceritakan kepada Mamy masalahmu. Jangan murung seperti itu."


Michael menatap wajah Ibunya yang cemas, lalu berusaha tersenyum. "Tidak Mamy, aku hanya lelah."


"Kau lelah, bagaimana kalau kita pulang saja sekarang. Mamy akan bilang kepada mereka untuk pulang cepat," ucap Nyonya Caca lalu berbicara kepada Nyonya Berta.


"Nyonya Berta, anakku bilang dia lelah. Kami harus segera pulang, lagipula ini sudah malam dan besok dia harus kuliah. Urusan bisnis mu dengan keluarga kami bisa dilanjutkan besok."


Nyonya Caca kemudian berbicara kepada suaminya. "Sayang, kita pulang sekarang ya."


Tuan Nael mengangguk lalu berbicara kepada Tuan Wijaksana. "Baiklah Tuan Wijaksana, istriku benar. Urusan bisnis bisa kita lanjutkan besok dan lain kali kami lah yang akan mengundang kalian untuk makan bersama."


Floren menatap tajam Michael, lalu berdiri dan melarang keluarga Michael untuk pergi. "Maaf Tante ... Om ... Apa kalian tidak ingin mendengar perkataan Mike? kenapa kami pergi agak lama tadi."


Floren mengatur nafasnya karena emosi melihat Michael yang diam saja. "Mike, ku harap kau ingat janjimu."


"Janji apa sayang, kau berjanji apa kepada Floren?" tanya Nyonya Caca.

__ADS_1


"Benar Floren, apa yang Michael janjikan kepadamu? jawablah Michael. Apa kau melukainya?" tanya Nyonya Berta mendesak Michael.


"A-aku ...." Michael terdiam, lidahnya mendadak terasa berat. Dia mengepal tangannya dengan kuat.


Floren mengangguk tidak sabar menunggu ucapan dari Michael, lalu dia dengan segera mengatakan apa yang harus dikatakan oleh Michael.


"Om ... Tante ... Sepertinya Mike malu mengutarakannya kepada kalian," ucap Floren menatap keluarga Michael yang terdiam.


"Apa maksudmu Floren, kenapa Michael malu?" tanya Nyonya Berta kepada putrinya.


Floren tersenyum dia meraih tangan ibunya dan berkata, "Iya Mami, Mike ... tadi dia melamarku ditaman."


Michael menegang, dia menatap tajam Floren sambil membelalakan kedua mata. Dia mengepal tangan lebih kuat dari sebelumnya.


Nyonya Berta tersenyum lebar dan bersorak kegirangan, lalu menatap kedua orang tua Michael yang terdiam karena syok mendengar itu semua.


"Apa itu benar sayang? Apa Michael melamarmu tadi." Floren mengangguk lalu memeluk Ibunya.


Nyonya dan Tuan Nael menatap putranya lalu bertanya kepada Michael. "Apa itu benar sayang?" tanya Tuan Nael.


Michael mengangguk pelan lalu menatap kedua orang tuanya yang tidak percaya.


"Apa itu benar-benar keluar dari dalam hatimu?" tanya Nyonya Caca kembali.


Michael menarik nafas lalu meraih kedua tangan Ibunya. "Mamy ... Daddy ... Percayalah, apa yang ku lakukan adalah demi kebaikan keluarga kita," balas Michael kemudian menatap keluarga Floren.


"Om ... Tante ... Aku Michael Chandra Putra melamar putrimu Floren Wijaksana."


Suara Michael bergema, hingga membuat mereka terdiam sejenak lalu perlahan senyuman yang begitu lebar terlukis di wajah mereka karena senang.


Namun tidak dengan Nyonya Caca, dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh putranya. Dia menatap tangan putranya yang mengepal dan bergetar hebat lalu memandangi wajah putranya yang tertekan sambil bergumam dalam hati.


"Miki, apa yang kau sembunyikan dari kami. Baiklah ... jika kau tidak ingin menceritakannya, maka aku yang akan mencari tahu sendiri."


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2