Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 92. Kembali ke Mansion Wiliam.


__ADS_3

Sementara itu Wiliam dan Jelita baru saja tiba di Mansion Chandra Putra. Rasa kecewa terlihat begitu jelas di kedua mata semua orang di dalam keluarga itu, hingga semua orang di dalam sana pun segera memalingkan wajah, ketika melihat kedatangan Jelita dan juga Wiliam.


"Ibu ... Bukalah pintunya!" Jelita memanggil ibu asuhnya.


Dia menangis dan terus mengetuk pintu, meminta agar Ibu asuh sudi bertemu dengannya walau hanya sebentar.


"Ibu jangan seperti ini, bagaimana aku bisa menjelaskan semuanya kepadamu kalau semua ini hanya salah paham dan aku berjanji akan memperbaiki semuanya. Aku minta maaf, aku salah. Ibu buka pintunya," Jelita menarik gagang pintu yang terkunci dengan paksa.


Ibu Maria menghampiri Jelita dan meminta putrinya untuk tidak menganggu Nyonya Caca.


"Mari kita pergi Jelita," ajak Ibu Maria setelah selesai berkemas barang.


"Tidak Ibu! Aku belum melihat ibu asuh, aku belum mendapat maaf dari nya. Aku tidak akan pergi sebelum ibu asuh memaafkanku," Jelita kembali menangis. Lalu memohon kepada semua orang di dalam Mansion termasuk Tuan Nael.


"Tuan ... Aku mohon beritahu ibu asuh, ijinkanlah aku untuk bertemu dengannya," mohon Jelita namun Tuan Nael hanya bisa terdiam.


"Bibi ... Tolong beritahu ibu asuh aku ingin sekali menemuinya," pinta Jelita kepada Bi Sari, namun Bi Sari hanya bisa tertunduk.


"Maaf Non, Bibi tidak bisa membantu Non Jelita," ucap Bi Sari pelan.


Melihat anaknya begitu memelas, Ibu Maria ikut merasa sedih dan tidak tega. Dia segera memeluk putrinya itu dan menarik Jelita agar menjauh dari keluarga Chandra Putra. "Sudah sayang, mari kita pergi dari sini," ucapnya.


Ibu Maria berpamitan kepada semua orang dan membawa Jelita yang masih saja terus memohon.


"Ibu ..." ucapnya lirih.


Sedangkan Michael tertunduk lesu di dalam kamarnya, semua barang pun telah habis dilemparnya ke sembarang arah.


Merasa kesal dengan semua yang terjadi karena bukan seperti ini yang dia harapkan. Dengan sekuat tenaga Michael menerobos kedua ajudan Nyonya Caca yang sedang menjaga dirinya di depan pintu dan dia berhasil kabur.


Michael terus berlari, agar bisa bertemu dengan Jelita untuk yang terakhir kalinya.


"Jelita!" pekik Michael.


Semua mata pun tertuju kepada Michael, begitu pula dengan Jelita. Dia menangis melihat Michael yang masih sudi menemuinya.


"Michael ..." ucap Jelita lirih.


Dengan segera Michael memeluk Jelita, walau semua orang di kanan kirinya itu telah menarik tangan Michael agar melepas pelukannya.


"Jangan pergi. Aku mencintaimu," ucap Michael begitu sedih, dia terisak ketika harus kehilangan cinta pertamanya.


Jelita membalas pelukan Michael dan menangis di dalam pelukannya. "Michael ... Aku .. Aku juga mencintaimu," balasnya memberanikan diri, untuk mengungkapkan perasaannya sebelum terlambat.


Mendengar hal tersebut sontak saja membuat hati semua orang di sana merasa terenyuh. Merasa sakit ketika melihat sepasang kekasih saling mencintai harus dipisahkan begitu saja.


Bahkan tak sedikit dari mereka yang melihat kejadian itu pun ikut menangis, merasa seperti sedang patah hati.

__ADS_1


Semua mata bergiliran menatap tajam Wiliam, yang sedang berdiri di depan pintu utama.


Pria itu begitu tenang melihat kejadian mengharu biru di depan matanya sendiri, tanpa sedikit pun berkata akan menyerah atau melepaskan Jelita.


Mereka tidak habis pikir dan merutuki keegoisan Wiliam, mengapa ada orang yang tega memisahkan sepasang kekasih yang saling mencintai.


Michael mengurai pelukaannya itu, kemudian menatap wajah Jelita. "Ingatlah ini Jelita ... Tunggulah aku, aku akan menjemputmu nanti," ucapnya sebelum melepas kepergian Jelita.


...***...


"Ikutlah bersamaku," pinta Wiliam ketika melihat Ibu Maria dan Jelita setelah keluar dari Mansion Chandra Putra.


"Aku tidak mau ikut dengan mu!" tolak Jelita mentah-mentah sambil memapah Ibunya berjalan.


"Kau tunanganku, mana mungkin aku membiarkan kau dan ibumu terlantar begitu saja di jalanan," balas Wiliam.


"Tidak perlu, biarkan saja aku terlantar di jalanan. Aku bisa mengurus diri sendiri," balas Jelita.


"Keras kepala sekali, apa kau tidak kasihan pada Ibumu. Dia masih tidak cukup kuat berjalan jauh," balas Wiliam.


Jelita berdengus kesal dan menatap Wiliam dengan tajam. "Kau bilang aku keras kepala, lalu siapa yang selalu memaksaku agar terus menuruti setiap keinginanmu. Siapa yang tidak mau melepaskan ku atau sedikit saja mengerti akan ketidak berdayaanku. Kau bilang aku tidak kasihan kepada ibuku, lalu siapa yang membuat aku dan ibuku menjadi seperti ini!"


"Minggir!" bentak Jelita yang merasa emosi sambil menepis tangan Wiliam dari lengan Ibunya.


Sedangkan Wiliam mendesis dan menghela nafasnya panjang, dia merasa benar-benar butuh kesabaran ekstra dalam menghadapi gadis manis satu ini.


"Sekarang masuklah!" titah Wiliam.


"Tidak mau!" tolak Jelita dan berusaha mengambil tasnya kembali.


Melihat aksi keduanya yang tidak mau mengalah membuat Ibu Maria sakit kepala, dia pun terhuyung dan ingin terjatuh. Namun Wiliam yang menyadari akan hal tersebut dengan sigap menangkap tubuh Ibu Maria, agar tidak jatuh tersungkur. Kemudian membawanya masuk ke dalam mobil.


Setelah mendudukkan Ibu Maria pada jok mobil, Wiliam berganti membopong Jelita agar ikut dengannya.


"Turunkan aku! Dasar pria menyebalkan, aku membencimu!" bentak Jelita sambil terus memukuli punggung Wiliam.


"Diamlah ... Jika kau memberontak dan terus ingin kabur, maka jangan salahkan aku membungkam mulutmu itu!" bisik Wiliam di telinga Jelita, hingga gadis itu pun langsung menutup mulutnya dan terdiam.


Wiliam tersenyum. "Bagus," ucapnya lalu melajukan kendaraan, membawa Jelita dan Ibu Maria menuju Mansion tempat tinggalnya.


...***...


Mansion Wiliam.


Setibanya di rumah, Wiliam segera memanggil para pelayannya untuk memapah Ibu Maria, membantunya berjalan agar bisa masuk ke dalam rumah dengan aman.


Sementara itu dirinya dibuat sibuk oleh aksi pemberontakan Jelita yang terus saja menolak untuk keluar dari dalam mobilnya.

__ADS_1


Sampai-sampai dirinya harus rela menggotong Jelita agar bisa membawa gadis itu ke dalam rumahnya sendiri.


Walau sebenarnya dia merasa tidak keberatan akan hal tersebut, menahan bobot tubuh Jelita dan juga perlawanan dari wanita yang dia sukai setiap hari.


"Aku tidak mau masuk ke dalam rumah itu, aku takut kau akan melakukan hal yang tidak-tidak kepadaku!" tolak Jelita.


Wiliam berdecih. "Kau pikir aku pria seperti apa?" tanyanya merasa kesal, selalu di cap tidak baik oleh Jelita.


"Kau pria mesum, aku tidak ingin bersamamu!" tolaknya sambil terus meminta diturunkan.


Wiliam menghela nafas, dan membiarkan Jelita mencaci atau memaki dirinya sepuas hati, karena dia tidak peduli akan hal tersebut.


Setidaknya dia merasa senang sekarang, karena dapat membawa Jelita kembali ke dalam Mansionnya.


Dan kali ini bukan sebagai seorang penculik, tetapi sebagai calon suaminya.


...----------------...


Sementara itu di dalam kamar, Michael sedang memandangi foto dirinya bersama Jelita. Pria patah hati itu menangis tersedu, dirinya mendadak begitu lemah dan rapuh.


Tidak mau makan maupun minum, tidak mau apapun selain bersama Jelita. Dia mengurung dirinya di kamar, meratapi kesedihannya sendiri sambil mengingat setiap kenangannya bersama dengan Jelita.


Mengingat awal pertemuannya dengan Jelita di kampus, hingga akhir perpisahan yang menyedihkan sekarang ini.


Terkadang Michael memarahi dirinya sendiri, ketika mengingat kelakuan buruknya kepada Jelita dimasa lalu.


"Cewek jelek tidak punya mata."


"Selain tidak punya mata, kau juga tidak punya telinga."


"Apa gadis itu berwajah jelek dan seperti orang gembel yang terlihat menjijikkan?"


"Nasib ku selalu saja sial jika bertemu denganmu."


"Singkirkan dia dari tempat ini, buat agar dia dipecat dari pekerjaannya."


Michael terpejam sambil menitikkan air mata, ketika mengingat begitu jahat dirinya kepada Jelita.


Perilaku buruk maupun perkataannya yang kasar kepada gadis itu dan dia berpikir, mungkin ini adalah hukuman atas perilaku buruknya kepada Jelita dimasa lalu.


"Aku yang selalu membuatmu dalam masalah, karena diriku, kau di bully satu kampus. Karena diriku, kau dibenci oleh semua orang. Karena diriku, kau di cap buruk oleh yayasan dan karena diriku juga kau dipecat secara tidak hormat secara langsung oleh Mamy."


"Aku memang pantas untuk kau tinggalkan," gumam Michael dalam hati.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2