Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 127. Surat undangan pernikahan.


__ADS_3

Perusahaan Wijaya Group.


Ulang tahun Jelita telah berlalu seminggu lamanya, namun kenangan di hati masing-masing keduanya masih terbayang dengan jelas.


Malam yang indah, kata-kata cinta nan manis selalu terngiang di kepala Wiliam akan kejadian romantis yang sukses ia ciptakan untuk Jelita.


Pria itu terkekeh dan menggeleng dalam lamunannya sendiri. "Tidak ku sangka aku bisa bersikap romantis terhadap seorang gadis."


Wiliam menghela nafas. "Mungkinkah aku sudah jatuh cinta terlalu dalam padanya."


Ia bergumam sendiri sambil memandangi undangan pernikahannya dengan Jelita yang baru saja selesai dicetak.


"Wiliam Wijaya dan Jelita ... Aku menyukai guratan nama ini," gumamnya seraya meraba lembut ukiran nama bertinta emas pada surat undangan dengan ujung jarinya.


"Aku tidak sabar ingin memiliki dirimu seutuhnya Jelita."


Tiba-tiba Wiliam berkhayal dan membayangkan dirinya tengah beradu bersama Jelita, melakukan adegan malam pertamanya bersama di atas peraduan.


Otak pria itu mulai terkontaminasi dengan imajinasi liarnya, hingga tanpa sadar wajahnya telah memerah karena malu.


"Oh tidak, apa yang sedang aku pikirkan."


Dia terus saja tersenyum, memikirkan wajah kekasihnya jika hal itu terjadi di saat malam pertama mereka.


"Jelita pasti akan terkejut dan takut setengah mati ketika melihat seluruh tubuhku tanpa penutup," kekeh Wiliam sambil mengusap-usap janggutnya yang baru saja tumbuh.


Lantas pria itu terdiam ketika mengingat sepatah kata dari Jelita, yang membuat ia harus mengubur dalam-dalam niat keinginannya itu untuk sementara waktu.


Iya! Sebuah pernyataan Jelita yang masih terngiang dikepala Wiliam.


Sebuah pernyataan yang mengatakan jika gadis itu masih saja takut kepadanya jika didekati, karena masih belum bisa melupakan kejadian waktu lalu, ketika dirinya berusaha merenggut kesucian Jelita secara paksa.


Sungguh tidak disangka jika ulahnya itu, bisa meninggalkan bekas trauma mendalam pada hati wanitanya sendiri.


Wiliam menghela nafas panjang sambil merenungi kembali kelakuan buruknya saat pertama kali bertemu dengan Jelita.


"Benar, ini semua adalah kesalahanku. Tapi jika aku tidak melakukan pemaksaan kepadanya waktu itu, bagaimana bisa dia menjadi milikku sekarang ini," gumam Wiliam masih terus menyemangati dirinya sendiri.


Setelah cukup lama ia berjuang mendapatkan Jelita, bahkan telah menyakiti diri sendiri dengan cara merelakan gadis itu berjalan dan berkencan dengan pria lain, demi mendapatkan kepercayaan dari wanitanya.


Membebaskan Jelita agar memilih sendiri apa yang terbaik untuk masa depannya dan ketika gadis itu telah menetapkan hati untuk memilih dirinya. Maka dari itu Wiliam tidak akan menyerah begitu saja ditengah jalan.


Membangun kepercayaan agar bisa hidup bersama dengan wanita terkasih dan berjuang menyakinkan Jelita bahwa dirinya adalah pria terbaik untuk ia seorang dimasa depan.


Wiliam akan terus berusaha mencari cara untuk merebut hati Jelita, membuat wanitanya senyaman mungkin saat berada di dekatnya, serta melunturkan semua ketakutan akan dirinya saat diatas kasur nanti.


"Aku harus menghilangkan semua rasa takut itu padanya," gumam Wiliam.


Kemudian pria itu mencari cara agar Jelita tidak takut lagi kepadanya dalam masalah hubungan berbau sensitif, karena sebentar lagi mereka akan menikah.


Lalu pria itu mulai cemas kembali, bagaimana jika malam pertamanya bersama Jelita itu gagal hanya karena masalah sepele.


Anggap saja mereka bisa menunda beberapa waktu, tapi entah sampai kapan?


Wiliam mengusak rambutnya hingga berantakan, namun tidak mengurangi ketampanannya sama sekali. Lalu ia bangkit dari kursinya dan mulai mondar-mandir di dalam ruangannya sendiri sambil memikirkan sesuatu.


Bagaimana suatu saat nanti, jika dia ingin menyentuh istrinya dan ingin melakukan hubungan suami istri, tetapi Jelita menolaknya terus.

__ADS_1


Bagaimana hubungan itu bisa berhasil, jika Jelita terus saja menjauh, karena masih takut pada dirinya dan jika dia melakukan pemaksaan kembali karena hasratnya tidak terpenuhi, maka itu akan memperparah ketakutan Jelita akan dirinya.


Sudah pasti itu merupakan bencana bagi Wiliam sendiri, karena tidak akan bisa mendekati Jelita apalagi memiliki gadis itu seutuhnya.


"Hah, tenang Wiliam. Kau pasti bisa menyakinkan dia, bahwa tidak ada yang perlu ditakuti dari diriku ini."


Lelaki itu hampir setengah gila memikirkan masalahnya sendiri, hingga tidak terdengar langkah kaki yang sedang mendekat ke arahnya.


"Bos!" sapa Riko.


Wiliam tersadar lalu bergegas duduk kembali di kursinya.


"Riko!" sahut Wiliam.


"Tolong donk bos ... Jangan mentang-mentang bentar lagi mau kawin, pikiran sudah mulai traveling kemana-mana. Dibawa santai saja," ledek Riko.


Wiliam memerah karena malu, tidak disangka pikirannya terbaca oleh anak buahnya sendiri.


"Banyak bacot! Mau apa kesini, ganggu kesenangan orang lain saja," balas Wiliam ketus.


"Ada kabar," jawab Riko.


"Kabar apa?" tanya Wiliam seraya menarik candu dari sakunya.


"Pembangun hotel dan restoran Wijaksana sudah berjalan hampir 20%, apa langkahmu selanjutnya?" balas Riko menjelaskan.


"Hem ... Apa dia menanyakan tentang tanah sisa yang sudah kita beli?" tanya Wiliam.


"Belum, mereka tidak menanyakan tanah itu," balas Riko.


"Bagus, lalu bagaimana pembangunan tempat wisata alam disana. Apa sudah jadi?" tanya Wiliam.


Wiliam menghembusakan asap candunya ke udara dan menatap keluar jendela.


"Riko, awasi terus pembangunan disana. Kabari aku jika usaha Wijaksana sudah di tas 70%," balas Wiliam.


"Baik Wil! Oiya ada kabar lagi," ucap Riko.


"Apa itu?" tanya Wiliam dengan bibir mengapit candunya.


"Floren akan di nikahkan dengan pengusaha muda bernama Mark," balas Riko.


"Mark?" tanya Wiliam seperti pernah mendengar.


"Iya, dia pengusaha muda yang baru saja di tunjuk untuk menggantikan perusahaan ayahnya terdahulu. Perusahaan Cakrawala," balas Riko.


Wiliam mengangguk samar. "Ya aku ingat ... Riko, Apa menurutmu dia bisa menjadi ancaman bagi kita?" tanyanya.


"Bisa iya bisa tidak," jawab Riko singkat.


"Benar juga, dia bisa menjadi ancaman jika ingin menguasai perusahaan Wijaksana. Tap itu tidak akan aku biarkan. Riko, tolong awasi dia juga!" titah Wiliam.


"Siap bos!" patuh Riko.


"Hem ... Ada lagi?" tanya Wiliam sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


"Tidak ada," jawab Riko.

__ADS_1


"Ya sudah, jika keluar dari sini tolong suruh Siska sebar undanganku kepada seluruh perusahaan yang ada di negeri ini lewat email," balas Wiliam.


"Oke Bos!" sahut Riko lalu menjalankan perintah.


Wiliam tersenyum dan kembali lagi mengkhayalkan dirinya bersama dengan Jelita.


...----------------...


Mansion Wiliam.


Sementara itu Jelita bersama dengan Ibu Maria sedang mencatat nama-nama tamu pada surat undangan. Mereka menyebarkan undangan melalui dua metode yaitu melalui virtual dan juga manual.


"Ibu, siapa lagi nama tamu yang harus kita undang?" tanya Jelita.


"Hem, Ibu rasa kita harus mengundang tetangga kita yang dulu. Seperti Pak Budi beserta keluarganya, Ibu Riana dan teman Ibu bekerja," balas Ibu Maria.


Jelita terdiam jika mengingat masa lalunya, tapi dia juga tidak boleh melupakan semua orang yang pernah dekat dalam hidupnya.


"Ibu benar, kita harus mengundang mereka," seru Jelita.


Wanita itu bergegas menulis nama pada surat undangan tersebut, lalu berinisiatif sendiri mengantarkannya langsung kepada orang yang bersangkutan.


...***...


Setelah selesai menuliskan nama tamu yang akan diundang pada surat undangannya, Jelita memasukan semua undangan tersebut ke dalam tasnya.


Ketika gadis itu melangkah keluar rumah, dia berpapasan dengan Wiliam yang baru saja pulang dari kantor.


"Kau ingin kemana?" cegah Wiliam melihat calon istrinya keluar sendiri.


"Aku mau mengantar surat undangan kita," balas Jelita.


"Kenapa harus kau yang mengantarnya, kenapa tidak suruh orang saja yang antar atau memakai jasa kurir?" tanya Wiliam.


"Tidak Wiliam, aku harus menyerahkannya langsung sekalian akubingin bertemu dengan mereka karena sudah lama tidak jumpa," balas Jelita.


Wiliam menghentikan laju kendaraannya dan meminta Jelita untuk masuk ke dalam mobil, karena dirinya yang akan mengantar Jelita mengirim surat undangan.


"Mari aku temani," saran Wiliam.


Jelita tersenyum. "Baiklah," balasnya lalu naik ke dalam mobil.


Mereka bersama-sama mengantarkan surat undangan pernikahan kepada salah satu kerabat Ibunya.


.


.


Bersambung.


...----------------...


Next \=\=>> Jelita akan berkunjung ke rumah Pak Budi sekaligus mengantarkan surat undangan pernikahannya dengan Wiliam.


Pak Budi adalah tetangga Jelita sewaktu dirinya susah dulu, tinggal bersebelahan dengan keluarga Jelita dan sering membantu Jelita jika sedang kesusahan.


Disana mereka akan bertemu dengan putri Pak Budi yang bernama Ayu. Gadis cantik namun tidak suka dan juga iri kepada Jelita.

__ADS_1


Bagaimanakah reaksi Ayu ketika bertemu dengan Jelita dan juga Wiliam?


Tunggu di episode berikutnya ya.


__ADS_2