
Jelita telah sampai di Beauty Skin Care Clinic, dimana tempat itu merupakan salon sekaligus klinik kecantikan terbaik di ibu kota. Dia merasa aneh saat dirinya mulai masuk ke dalam, karena merasa minder dengan penampilannya yang begitu jauh diatas rata-rata.
Kaum wanita kalangan atas mendominasi klinik kecantikkan tersebut, mereka begitu cantik dan berkelas. Berbeda dengan penampilan Jelita yang pas-pasan, membuat karyawan tidak memandangnya sama sekali.
"Maaf Mbak, disini sedang tidak ada lowongan," ucap seorang resepsionis, berwajah cantik bernama Lu Cinta Enggak.
"Hem ... Maaf Mbak saya kesini mau perawatan," balas Jelita dan Mbak itu seketika melebarkan bola matanya.
"Perawatan ya ... Hem, tapi maaf Mbak, mungkin Mbak belom tahu, kalau perawatan disini itu cukup mahal loh. Takutnya Mbak syok pas denger harganya," cerosos Mbak resepsionis sambil memainkan jari jemarinya tanpa mau tahu kejelasan lebih lanjut.
Jelita menelan ludahnya kasar, padahal dia sama sekali tidak ingin menunjukkan sebuah kartu AS di depan semua orang. Tapi nampaknya dia harus melakukan itu, dengan membawa seorang nama besar yang tak lain dan tak bukan adalah Nyonya Caca.
Jelita menghela nafas, lalu mengeluarkan sebuah kartu keanggotaan VVIP milik Nyonya Caca dan menyodorkan kartu tersebut kepada Mbak cantik di depannya.
"Apa kartu ini sudah cukup, untuk membuktikan kalau saya datang kesini untuk menjalani perawatan? Coba tolong di cek jadwal Nyonya Caca sebelumnya," tanya Jelita sambil tersenyum.
Mbak Lu Cinta Enggak seketika terbelalak, saat melihat kartu edisi terbatas yang hanya dimiliki oleh 2 orang di salonnya. Termasuk para pelanggan lain yang sedang duduk menunggu antrian.
"Oh maaf Mbak, pasti Mbak Nona Jelita ya. Maaf saya menghambat waktu anda," ucap Mbak itu membungkukkan badannya berkali-kali, lalu dia meminta seseorang mengantarkan Jelita ke tempat khusus.
"Heh, cepet anter Nona ini ke tempat VVIP. Jangan sampai membuat Nona ini kecewa," titah Mbak itu kepada seorang karyawan klinik dengan suara khodam nya yang menggema.
"Mari Nona, ikut saya kesini," pinta wanita tersebut kepada Jelita untuk mengikuti dirinya.
"Baik, terima kasih," balas Jelita lalu mengekor di belakang wanita tersebut.
"Huh, untung aku tidak mengusir wanita itu, jika tidak. Bisa dipecat aku," batin Mbak Lu Cinta Enggak sambil mengusap peluh di dahi mulusnya.
…………………………………………………………………………
Mansion Chandra Putra.
Sementara Jelita sedang melakukan perawatan disalon, beda halnya dengan Floren. Dia baru saja tiba di rumah Michael.
Floren tersenyum-senyum sendiri, memikirkan masa depan, saat dirinya menatap gedung besar nan megah dihadapannya itu.
Dia berangan-angan sangat tinggi, akan menjadi seorang Nyonya besar di rumah tersebut. Kekuasaan dan juga kekuatan yang akan dia dapat, jika berhasil menjadi menantu keluarga Chandra Putra.
Dia akan berusaha sebaik mungkin, menjadi yang terbaik di mata keluarga Chandra Putra, yang tercantik, yang terhebat dan yang tercepat memiliki keturunan dari Michael.
Pokoknya, begitu sangat indah mimpinya itu.
__ADS_1
Di depan pintu masuk utama, sederet asisten rumah tangga berjejer rapih. Menyambut kedatangan Floren yang baru saja tiba.
"Selamat siang Nona Floren," sapa para asisten rumah tangga Mansion itu begitu hormat dan sopan.
Floren lalu menatapi satu persatu para asisten rumah tangga rumah Michael dan tersenyum ala kadarnya.
"Siang," balas Floren. Dia lalu mendongakkan kepalanya saat melangkah masuk ke dalam dan berjalan layaknya seorang tuan rumah sendiri.
"Mari ikut saya Nona," ucap Bi Sari lalu menunjukkan tempat dimana Nyonya Caca sedang menunggu kedatangan Floren.
Floren lalu mengikuti langkah Bi Sari sambil tersenyum memikirkan sesuatu.
"Para Asisten rumah tangga di rumah ini begitu sopan dan baik, aku pasti akan nyaman jika tinggal disini."
Tak berapa lama kemudian Floren masuk ke dalam sebuah ruangan besar, dimana Nyonya Caca dan Michael sedang duduk di sofa besar.
Michael langsung memalingkan wajahnya, tapi tidak dengan Nyonya Caca. Dia segera menyambut Floren dengan begitu hangat.
Mereka bercipika cipiki dan saling melemparkan senyuman.
"Selamat datang cantik, mari sini masuk," ucap Nyonya Caca lalu menggandeng tangan Floren dan menggiringnya masuk ke dalam.
Kini mereka bertiga telah duduk, kedua netra Floren senantiasa memandangi kagum sekeliling ruangan tersebut.
"Wah Tante, rumahmu sangat indah dan juga luas. Rumah ku sepertinya kalah denganmu," ucap Floren.
Nyonya Caca mengulum senyum. "Rumah ku biasa saja, tidak ada bedanya dengan yang lain. Sama-sama punya pintu dan jendela," balas Nyonya Caca sambil bergurau.
Floren tersenyum dan menatapi wajah Nyonya Caca begitu lekat. "Tante kamu begitu cantik, apa rahasianya? Sering perawatan dimana, aku ingin sekali seperti mu," ucap Floren basa basi membuat Michael seketika berdecih. "Ck!"
Dia lalu menyerobot bicara saat Nyonya Caca ingin menjawab. "Ingin seperti Mamy ku, kau mana mungkin bisa," balas Michael dengan santainya, hingga Floren berdecak kesal namun dia segera menahannya.
"Mike, Mamy mu cantik pasti karena perawatannya yang mahal dan juga pasti di salon yang berkelas. Bukan begitu Tante?" tanya Floren kepada Nyonya Caca.
Nyonya Caca lalu tersenyum, namun belum sempat dirinya menjawab pertanyaan Floren, lagi-lagi Michael yang menjawabnya dengan sedikit menyindir.
"Mamy ku itu tidak perlu perawatan mahal atau ke salon yang berkelas. Karena dia sudah cantik alami, tidak seperti dia yang tidak tahu malu," balas Michael dengan ketus. Membuat gadis ini semakin kesal dengan jawaban Michael yang begitu menyindirnya.
Dia menahan sesak di dadanya karna ingin marah, namun sekuat tenaga dia kembali tersenyum.
"Wah, jika memang tidak pernah perawatan ke salon, pasti Tante punya resep rahasia nya donk? Mau kan kalau Tante membagi resepnya kepada Floren," ucap Floren dengan gaya begitu sopan santun, tapi dalam hati sudah dongkol dengan tingkah Michael.
__ADS_1
Namun, lagi-lagi pria tampan ini terus saja yang menyerobot jawaban dari Mamynya. Hingga Nyonya Caca hanya bisa mangap-mangap tanpa bisa berbicara.
"Resep rahasianya adalah hati yang baik, jika hatinya jahat, secantik apapun wajah wanita itu. Tetaplah jelek," balas Michael.
Floren seketika cemberut, merasa kesal dengan ulah Michael yang selalu menyerobot ucapan Nyonya Caca.
"Mike, aku bicara dengan Tante bukan denganmu!" sentak Floren sambil meremas bantal sofa di atas pangkuannya.
Nyonya Caca menghela nafas, dia menjadi tidak enak hati kepada Floren.
"Michael ... Jangan bersikap seperti itu kepada tamu. Lagi pula dia juga teman kuliahmu dan bersikaplah sopan kepada orang lain," tegur Nyonya Caca kepada putranya.
Michael berdecak dan memutar bola matanya merasa malas. "Ck! Mamy, Mike malas jika disini terus, yang kalian bahas adalah kecantikkan dan kecantikkan," balas Michael lalu menatap Floren.
"Heh Flo, jika ingin menanyakan rahasia kecantikkan jangan disini. Kau sudah salah tempat, jadi pergilah ke dokter estetika atau tidak ke salon kecantikkan!" Michael berdiri lalu keluar dari ruangan tersebut hingga menyisakan Floren dan juga Nyonya Caca.
Di luar ruangan Michael menghela nafas panjang, "Dasar membosankan, huh! lebih baik kembali ke dalam kamar."
***
Floren mengepal tangannya begitu kuat, merasa kesal dengan perilaku Michael.
"Floren sayang, maaf dengan ucapan Michael ya," ucap Nyonya Caca merasa tidak enak hati.
Floren hanya tersenyum getir. "Tidak apa Tante, mungkin Mike sedang tidak mood bertemu denganku. Padahal dia begitu mesra jika di dalam kelas," balas Floren sedikit terisak seperti kucing minta di kasihani.
Nyonya Caca kemudian mengusap bahu Floren dan berusaha menenangkannya. "Sudah jangan terlalu dipikirkan, nanti Tante akan minta dia menemani mu lagi."
Floren seketika mengangguk dan menarik senyum. Sebuah senyuman yang tidak diketahui oleh siapapun. "Tidak apa Tante, tidak perlu memaksanya. Dia mungkin malu jika di depan Mamynya."
"Begitu ya. Oiya ... apa kamu sudah makan siang?" tanya Nyonya Caca dan Floren menggeleng. "Belum Tan."
"Bagus, jika begitu lebih baik kita makan siang dulu ya. Setelah makan kita ngobrol lagi Ok," ucap Nyonya Caca dan Floren mengangguk. "Oke tante."
Mereka kemudian keluar dari ruangan dan menuju ruang makan untuk menyantap makan siang bersama.
.
.
Bersambung.
__ADS_1